Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
128


__ADS_3

"Akbar.. bisa kita bicara sebentar?" pertanyaan yang keluar dari mulut Asma itu jadi titik balik, Akbar yang semula sudah patah arang kini bak mendapat asupan tenaga. Gadis yang sekian lama disukainya itu kini menghampirinya dengan suka rela.


Akmal benar untuk satu hal ini, dan lihatlah pemuda itu yang kini tersenyum penuh kemenangan.


Ingin sekali rasanya Akbar meloncat kegirangan, jika bisa ingin menjawab ia siap bicara dengan Asma bahkan jika lebih dari sebentar. Namun mengingat yang sempat Akmal pesankan sebelumnya, ia mencubit pahanya sendiri dan membisikan diri untuk mempertahankan sisi acuhnya.


Meski masih jauh untuk merasa bahagia, namun ini awal yang besar. Setelah ini Akbar akan mendengar apa kata Akmal, saran pria itu akan turuti tanpa mengeluh.


.


.


.


.


Agnia dihantui tanda tanya besar, ketakutan mengiringi tanda tanya itu. Hidupnya pernah hancur bahkan bisa lebih buruk sebab satu orang itu. Agnia takut orang itu datang untuk kembali mengulang luka sama. Ia tak bisa lupa begitu saja, dan kini ingatan itu membuatnya duduk tak nyaman di bibir ranjang.


Helaan napas keluar dari mulut Agnia, rasanya berat sekali. Setelah beberapa saat merasakan ketenangan, disebutnya nama itu kembali serta merta membuatnya gelisah.


Saat ini, mengabaikan rasa gengsinya. Agnia berinisiatif sendiri mengirimi Akmal pesan.


[Kamu ada waktu untuk bertemu?]


Pesan itu tak butuh waktu lama untuk dibalas. Berbeda dengan Agnia yang cuek dan identik dengan mode diam, Akmal tak pernah abai mengecek notifikasi yang masuk ke ponselnya.


^^^[Selalu ada, kenapa? Mbak rindu aku?]^^^


Agnia tersenyum tipis di sela kekhawatirannya. Mendecih pelan.


[Bukan, tapi ada yang perlu saya tanyakan.]


^^^[Boleh.. tapi sebelumnya.. tolong katakan iya setiap aku tanya Mbak rindu aku atau tidak..]^^^


Dih! Agnia mendengus pelan, pemuda itu sepertinya makin berani mengiriminya pesan tak jelas.


Yang padahal jika Agnia menyebut Akmal makin berani, Akmal menyebut itu sebagai makin nyaman.


^^^[Setuju?]^^^


[Hey!!!!]


...


Salah satu cafe ternyaman yang selalu jadi tempat langganan Agnia, kini disana Akmal berada. Datang jauh lebih dulu dari Agnia yang entah sudah dijalan entah belum.


Jika menunggu hal paling menyebalkan, tidak bagi Akmal saat ini. Hatinya masih sangat tenang dan penuh rasa syukur, jangan tanya tentang bahagia. Ungkapan kata takkan cukup menjelaskan segalanya.


Menunggu terasa indah, debaran sesekali memburu mengingat gadis itu. Rasanya luar biasa, meski disertai kesadaran jika bahagia masih belum waktunya. Masih ada jarak antara mereka. Jarak tipis yang hukumnya antara halal juga haram.


Senyum di wajah Akmal tersungging lama, matanya mengarah pada jendela besar yang menyuguh pemandangan di luar sana. Sembari menanti datangnya Agnia, Akmal sesekali menyesap kopinya.

__ADS_1


Hingga ketika sosok yang dinantinya datang, Akmal spontan mengangkat punggungnya dari sandaran kursi. Mengawasi gadis itu hingga mendekat dan duduk di kursi seberangnya.


Wajah manis Agnia terlihat berbeda, jelas mengguratkan keluhan disana. Akmal mengenali sorot seperti itu, ia terbiasa mendalami setiap perubahan pada diri seseorang.


"Maaf lama, aku ada sedikit kendala tadi." ucap Agnia sembari menarik kursi dan mendudukkan bokongnya.


Akmal yang semula memperhatikan mimik wajah Agnia, untuk sesaat mengerjap. "Gimana, Mbak?"


"Hemh?"


"Mbak Agni bilang apa tadi?"


"Emh.. saya bilang, saya ada kendala tadi."


"Ah!" Akmal mengangguk cepat. Tentu saja. Dilihat dari kebingungan pada wajah Agnia, gadis itu sudah pasti tak begitu sadar saat mengatakan kalimat pertamanya tadi.


"Kenapa emangnya?" tanya Agnia.


Akmal menggeleng, tersenyum. Lupakan saja, toh hanya hal kecil. Ya, ini kesekian kalinya Agnia tanpa sadar mengatakan aku dibanding saya. Itu hal kecil, hal kecil yang Akmal tak bisa protes tentangnya sedikit pun.


"Mau pesan sesuatu dulu?" Agnia membuka obrolan, ia masih canggung sebenarnya duduk berdua seperti ini bersama Akmal. Apalagi pemuda ini selalu saja mengulas senyum yang tak ia pahami siratan di dalamnya.


"Boleh.."


"Emh.." Agnia mengangguk samar, rasanya masih saja canggung. Dan Akmal tampaknya sengaja mempersingkat ucapannya.


...


Namun tidak di mata Akmal, hanya saja meski tidak suka santapan berbau coklat Akmal iseng saja mengikuti apa yang dipesan Agnia. Bukankah itu tingkah yang manis di kencan pertama? Emh.. atau justru bodoh?


"Aku diajak kesini, beneran bukan karena Mbak lagi kangen sama aku?" tanya Akmal, sikap isengnya kembali muncul. Pun ia tak kuat dengan Agnia yang canggung, diomeli rasanya lebih baik.


"Hey!!" jawaban Agnia persis dengan yang ia tulis di pesan tadi, Akmal terkekeh mendengar jawaban itu. Dan lihatlah delikan tajam yang sudah mulai muncul itu di wajah manis Agnia, sempurna.


Omelan dan delikan itu luar biasa, bisa berarti jika Agnia sudah merasa nyaman di sekitarnya. Beda dengan yang dirasa Agnia, baginya hal-hal yang membuatnya tersudut adalah menyebalkan.


Bagaimana bisa ia disudutkan untuk kemudian dibuat tersipu? Tidak! Ini masih belum waktunya untuk jadi lebih dekat.


"Becanda, Mbak.." tukas Akmal, setelahnya merubah ekspresi wajahnya jadi serius. "Memangnya ada apa?"


Sorot tajam Agnia kembali mengendur, kini kembali mengingat tujuan awalnya meminta Akmal bertemu. Wajah serius Akmal begitu dua kali lebih tampan dan menyenangkan baginya.


"Emh.." Agnia sesaat mengulum bibirnya, lantas beralih menatap Akmal yang tak mengalihkan pandangannya sejak semula. "Ini soal cerita Akbar.. dia bilang, kamu mengenal.. Emh.." Agnia dibuat bingung untuk menanyakan sosok itu, menyebutkan namanya sama sekali tidak menyenangkan.


"Pak Basit?" tanya Akmal, memotong keragu-raguan dari ucaoan Agnia.


Agnia mengangguk perlahan, masih menatap Akmal yang kini berubah menyorot tak percaya. Ternyata benar.. sosok itu. "Tapi.. gimana bisa kalian.."


Akmal menghela pelan, sudah ia duga. Ada kaitan khsus antara Agnia dengan Basit, terbukti dari reaksi Agnia saat ini juga reaksi Akbar semalam. Tak tau apa, namun dari yang ia lihat bukan sesuatu yang menyenangkan.


.

__ADS_1


.


.


.


"Maaf Nak Akmal, ini mungkin terkesan lancang namun.. apa calon yang Nak Akmal maksud itu namanya Agnia?"


Keterkejutan tampak di wajah Akmal sesaat Basit bertanya demikian, ia cukup terkejut pria paruh baya itu mengenali calon istrinya.


"Bapak mengenal calon istri saya?" tanya Akmal, yang sekaligus penegas jika jawaban pertanyaan Basit bukan apapun selain iya.


Basit tersenyum, meski hatinya terganggu rasa kecewa namun dirinya merasa harus ikut senang. Mengingat Agnia yang pernah hampir jadi menantunya, membuat Basit berbesar hati. Gadis itu berhak bahagia, dan berhak mendapat pria baik seperti Akmal.


"Agnia gadis yang baik.. setau saya begitu. Dia masuk pada kriteria istri yang sempurna, saya yakin begitu. Jadi jaga dia baik-baik.."


...


Akmal mengulas senyum, melihat reaksi tak nyaman yang ditunjukkan Agnia setelah disebut nama Basit membuatnya merasa harus menenangkan gadis itu. Sesaat tatapan teduh ia tunjukkan.


"Pak Basit jadi murid ku, Mbak. Satu bulan ini beliau minta aku untuk jadi guru ngajinya." terang Akmal kemudian.


Beliau? Agnia tak tau apakah pria itu cukup terhormat untuk ia pakai kata ganti beliau, namun mengabaikan fakta mengejutkan ini ternyata ada hal baik. sekian lama jadi menyebalkan pria itu akhirnya memperdalam agama.


"Mbak?"


"Hemh?"


"Kenapa?"


Agnia segera menggeleng, untuk sesaat diam dan mencipta hening di antara mereka. Jujur saja masih ada yang mengganjal di hatinya mengenai pria itu. "Emh.. apa dia mengatakan sesuatu? Maksud saya, tentang.. tentang saya? Mungkin?" tanya Agnia kemudian, sedikit terbata tampak bingung.


Akmal tentu saja mengangguk.


"Apa katanya?"


"Ini mungkin terdengar berlebihan, tapi Pak Basit bilang kalo Mbak itu.. calon istri yang sempurna, katanya Mbak gadis yang baik. Dan dia nyuruh aku jagain Mbak.."


Apa? Sulit dipercaya, waktu berlalu dan sudah banyak hal yang berubah. Pria yang pernah habis-habisan memakinya kini memujinya? Agnia menghela napas pelan, jika begitu maka tandanya ia sudah berburuk sangka.


"Berlebihan kan? Harusnya dia gak perlu mengatakan sebuah rahasia umum. Calon istriku memang terbaik.."


Maunya tersipu, atau setidaknya senang. Namun Agnia tak bersemangat untuk keduanya hingga hanya membalas tatapan Akmal dengan biasa saja.


"Sekarang apa? Ada apa dengan reaksi itu? Mbak gak suka bahas pria itu?"


Agnia tak langsung menjawab, tangannya terulur mengambil segelas jus stroberinya. Sembari menyesap minumannya itu, pikirannya mulai bekerja mencari cara terbaik mengatakan situasinya pada Akmal. Calon suaminya ini juga harus tau, bukan?


"Emh.. pria yang kamu sebut beliau itu, dia.. ayah dari Adi. Mantan.." Agnia menjeda, ia jadi bingung menyebut Adi sebagai apa. "Ya, Pak Basit itu ayah dari Adi."


Akmal mengangguk perlahan, ini ternyata alasan kenapa Akbar menyuruh dirinya supaya bertanya langsung pada Agnia. Fakta ini baru membuatnya paham, kini alasan ketidak nyamanan Agnia bisa ia pahami.

__ADS_1


Betapa sempit keterkaitan anatara manusia, Akmal tak menyangka hal semacam ini terjadi. Basit mantan calon mertua Agnia? setelah ini tak tau bagaimana jika orang tuanya mengetahui ini.


__ADS_2