Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
137. menangani ngidamnya Silmi


__ADS_3

...


Silmi, wanita yang sebentar lagi menginjak babak baru dalam hidupnya sebagai seorang ibu itu langsung tersenyum saat dilihatnya Agnia datang tak lama sejak dirinya tiba. Rangkulan hangat ia arahkan dengan penuh sayang, rangkulan yang untuk sesaat membuat Agnia terheran. Memicing curiga setelah Silmi melepas pelukannya.


"Apa ini?" tanyanya Agnia, masih dengan tatapan penuh curiga. "Bawaan bayi?"


Silmi tersenyum, meraih jari Agnia. Menunjuk dengan mimik wajahnya pada cincin di jari manis temannya itu. "Banyak yang sudah terjadi, ternyata.." sindri Silmi, lanjut memperhatikan wajah salah tingkah Agnia.


Agnia segera menetralkan perasannya, seperti sebelumnya ia harus bersikap biasa saja meski tak diragukan hatinya bergemuruh tak jelas tiap mngingat Akmal. "Dan itu bukan hal mengejutkan di umur kita." ujarnya.


Silmi mengangguk samar, masih tersenyum menggoda. Tentu saja tak mengejutkan, saat melihat untuk pertama kalinya kebersamaan Agnia bersama Akmal ia sudah berpikir hal semacam ini lambat lain akan terjadi.


"Bagaimana pun, senang lihat kamu sebahagia ini. Tandanya kamu sudah benar-benar mengikhlaskan masa lalu kamu, hemh?"


Agnia terdiam, senyumnya tiba-tiba hilang. Berganti tatapan penasaran, sebab ia tak pernah menceritakan secuil pun kisah masa lalunya pada Silmi. Jadi dari mana ia tau?


"Aku tau." terang Silmi, seakan mendengar tanya yang ada pada diri Agnia. "Yang jelas.. aku yakin tidak ada kisah indah dibalik kebencian seseorang pada waktu senggang, dan seseorang itu adalah kamu."


Agnia menyambut tatapan hangat Silmi, kembali tersenyum. "Maaf, aku gak pernah cerita apa-apa sebelumnya.."


Silmi menggeleng cepat. "Hanya katakan sesuatu yang bisa membuat kamu merasa lebih baik. Kalo enggak mending jangan.."


Untuk sesaat Agnia dibuat semakin kagum dengan Silmi, ucapannya terasa melegakan di telinganya. "Makasih.."


...


Silmi bahkan mungkin semua orang bisa melihat itu, senyum Agnia yang kini berbeda dari senyumnya pada hari-hari sebelum ini. Tawa gadis itu terdengar lebih lepas, intensitas bicaranya juga meningkat. Silmi tersenyum lembut, seakan kini telah melihat sosok Agnia yang sebenarnya.


Silmi menghela pelan di kursi yang didudukinya dengan nyaman, dibawah naungan atap. Ia tak banyak bergerak, kehamilannya yang termasuk rewel itu jadi penyebabnya.


Agnia mendirikan kursus mengaji, memasang papan tulis besar di halaman panti. Menuliskan beberapa huruf Arab, mengajarkan anak-anak kecil yang masih belajar mengenal huruf dengan nyanyian.


Hanya saja Silmi senang meski hanya duduk dan melihat Agnia dari jauh. Sejak kenal kurang lebih tiga tahun dirinya tak pernah bertanya mengenai kehidupan Agnia, ia rasa mengenal tanpa mengetahui masa lalu akan lebih baik bagi gadis yang sering kali ia temukan banyak melamun itu.


Agnia menoleh sesaat, tersenyum. Silmi balas tersenyum. Indah sekali pertemanan mereka, bersama dalam kebaikan dan menyaksikan perubahan menakjubkan pada diri masing-masing mereka itu mengesankan.


.


.


.

__ADS_1


.


Silmi tidak bisa bohong, tubuhnya payah sekali saat ini. Meski kehadiran bayi di perutnya tak bisa dijadikan alasan, namun faktanya di kehamilan pertamanya ini beberapa hal yang ia suka mendadak jadi hal paling mengundang mual.


Bau jeruk, bau bawang-bawangan, hungga bau Ac jadi hal paling Silmi hindari saat ini. Bak sesuatu di perutnya memaksa naik setiap kali aroma itu menyapa hidungnya.


Meski begitu, Silmi tetap memaksakan. Tak bilang pada Agnia tentang keluhannya, bahkan menyarankan sendiri kemana sebaiknya mereka pergi mengganjal lapar. Sebagai rutinitas mereka setelah beberapa jam bermain bersama anak-anak panti.


Keduanya sudah masuk di kedai mi ayam langganan mereka, kedai yang meski tak selalu banyak pelanggan namun tak pernah sepi pembeli.


Sesuatu terjadi, sesaat Silmi melangkahkan kakinya masuk kedai itu, ia tiba-tiba menunjukkan wajah tak nyaman. Aroma yang biasanya memanjakan hidung kini justru memancing mual luar biasa. Beruntung belum memesan apapun, Silmi segera menarik lengan Agnia.


Tak perlu bertanya atau penjelasan, Agnia segera paham setelah melihat ekspresi temannya itu. Terlihat sekali berusaha menahan dorongan di perutnya untuk tak keluar san bunyinya mengganggu orang lain.


"Ah, maaf. Pak.. gak jadi, libur dulu untuk hari ini." ucap Agnia dengan senyum kikuk pada pemilik kedai mi ayam itu, lekas mengejar Silmi yang sudah menghilang saja dari sisinya.


"Gimana? Masih mual?" tanya Agnia, khawatir.


Silmi menggeleng, tak lama tersenyum seakan tak terjadi apapun. "Udah enggak." jawabnya meski masih menepuk-nepuk dahinya beberapa kali.


"Aku beliin minum?"


"Gak usah, gak papa.. biasa ini."


Silmi menggeleng cepat, wajahnya terlipat untuk sesaat. "Aku gak papa, kita cari makan dulu.." ujarnya sembari berusaha menunjukkan jika dirinya baik-baik saja, tak peduli tataoan Agnia yang tampak khawatir juga kesal di waktu bersamaan.


Agnia tak sempat bersikeras, Ibu hamil yang satu ini lebih bersikeras darinya. Sudah menarik tangannya dengan semangat, menuju kedai selanjutnya yang tak jauh dari sana.


Langkah yang percaya diri itu tiba-tiba ciut, Silmi kembali berbalik dan menunjukkan wajah tak enak. Aroma yang ia cium di kedai berbeda itu sama saja tak menyenangkan di hidungnya, kepalanya ia gelengkan pada Agnia.


Agnia sudah tau, hanya menghela pelan menanggapi hal itu. Tandanya mereka harus pindah tempat atau pulang saja.


Tempat selanjutnya adalah Cafe, meski harus repot memesan mobil untuk pergi Agnia menurut. Pilihan Silmi jatuh pada Cafe yang katanya langganannya, Agnia tak membantah sebab ingat dengan jabang bayi di rahim Silmi.


Agnia memilih berjalan di setelah Silmi, berjaga-jaga hal sama terjadi. Dan tentu saja, kali ini Silmi tiba-tiba menghentikan langkahnya setelah beberapa masuk ke Cafe itu. Segera menoleh Agnia, kembali menunjukkan ekspresi sama seperti sebelumnya.


"Silahkan.."


Agnia tersenyum canggung pada pelayan yang menghampiri mereka, menoleh Silmi yang tampak tak tahan lebih lama disana. "Maaf, Kak.. teman saya lagi ngidam." cicitnya.


...

__ADS_1


Panas terik menjelang dhuhur, Agnia dan Silmi berakhir duduk menanti sop buah. Agnia menatap lama Silmi, takjub bagaimana mereka masuk ke beberapa tempat dan justru ebrakhir di angkringan sederhana.


"Apa?" tanya Silmi, menaikkan kedua alisnya tanda penuh tanya.


"Emh.. kayaknya anak kamu sukanya tempat kayak gini dibanding Cafe."


"Aku takjub.. kamu gak suka bau bawang, masakan, bahkan AC. Kayaknya itu sulit."


"Enggak juga, jarang kok kayak gitu mah.. nih buktinya.." tunjuk Silmi pada dirinya sendiri yang kini lebih baik.


Agnia mau memprotes tadinya, namun dua mangkuk sop buah yang baru saja tersaji, merubah pikiranya. Silmi lagi-lagi membuat takjub dengan segera menyantap sop buah itu dengan semangat.


Beda dengan Agnia, masih memperhatikan Silmi untuk kemudian beralih pada ibu pemilik angkringan. "Bu, tolong air putihnya.."


"Boleh, dua gelas?"


"Satu gelas aja, Bu."


Silmi tersenyum, balas menatap bingung. "Aneh kamu! Makan sop buah sama air putih." ujarnya disertai kekehan. "Eh! Makan apa minumya.. pokoknya itu deh, kamu minum sop buah sama air putih."


Agnia tak bergeming, menanggapi dengan tatapan seadanya. Menghela pelan. "Liat aja nanti, Hem? Kamu yang akan butuh nanti."


Silmi mengendikkan bahunya pelan, kembali fokus menikmati makanan yang jadi salah satu dari beberapa hidangan yang bisa ia lahap.


"Harusnya kamu gak usah pergi-pergi dulu.." ucap Agnia, menatap khawatir pada Silmi yang tengah menghajar sop buah dengan lahapnya.


Silmi balas tersenyum, menoleh sesaat untuk kembali menyedot perlahan kuah putih dengan potongan buah di depannya.


Agnia menghela, masih tak habis pikir. Ini tempat ke empat yang mereka singgahi, sayangnya di tempat-tempat sebelumnya jangankan keburu makan. Baru satu langkah masuk dan mencium aroma aneh-aneh saja, Silmi langsung mual.


Jangankan Agnia, Silmi juga heran sendiri kenapa ia jadi pemilih sekali. Ini itu rasanya tetap sama menciptakan enek di mulutnya.


Kecuali saat ini, Silmi anteng tanpa gangguan menikmati sop buah dengan suasana aman sebab dihembus angin yang menghempas jauh macam-macam bau.


Agnia mengalihkan tatapannya, kini bisa menikmati pesanannya sendiri. Melihat Silmi baik-baik saja sudah cukup ia rasa.


Hingga saat itu, setelah isi mangkoknya hampir tandas, Silmi mulai lagi.. setelah melihat tumpukan sampah tak jauh dari sana, dorongan mualnya kembali mendera.


"Huwek.. Huwek.."


Agnia menghela, kembali memfokuskan tatapannya pada Silmi sembari menyodorkan segelas air putih yang ia minta dari ibu pemilik gerobak angkringan.

__ADS_1


Silmi meraih gelas itu, menenggaknya perlahan lupa sebelumnya mengatakan Agnia aneh sebab meminta segelas air padahal dirinya sendiri yang melakukan itu.


Senyum miring Agnia tunjukkan setelah temannya itu kembali tenang. "Apa aku bilang? Kamu yang akan butuh segelas air itu." ujarnya.


__ADS_2