Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
146. tumbuhnya keraguan


__ADS_3

Siang ini, saat tak ada Akmal dan tinggal dirinya bersama sang ibu mertua, Agnia memberanikan diri menyusuri setiap sudut rumah yang akan jadi tempat tinggalnya mulai hari ini. Rumah megah milik Sidiq yang dibangun dengan kerja keras dan pengorbanan.


Ruangan yang tempo hari Agnia datangi bersama Akmal, yang Akmal berjanji untuk meletakan foto pernikahan mereka disana, Agnia berada di ruangan itu. Senyum Agnia tersungging mengingat janji Akmal yang sudah terwujud sempurna di hari ini, Agnia tersanjung, pemuda itu bersungguh-sungguh untuk menikahinya.


"Agni, sini.." Retno datang dari arah dapur, membawa satu toples kecil cookies yang langsung diletakkan di atas meja. Sembari mendudukan bokongnya ke atas kursi kayu antik dalam ruangan itu.


Agnia mengakhiri edaran matanya, segera menurut dan bergabung duduk di kursi satunya.


"Coba, cookies nya.." titah Retno, lantas tersenyum antusias menanti pendapat menantunya.


"Enak, Bun." puji Agnia jujur.


"Kan? Apa kata Bunda.. kamu juga bisa kalo belajar."


Agnia mengangguk, tersenyum. Pasangan mertua dan menantu itu memang menghabiskan siang mereka dengan bercengkrama di dapur sembari membicarakan banyak hal. Retno senang sekali, setelah seumur hidup hanya diapit dua pria di rumahnya, kini kehadiran Agnia tak hanya seperti anak baginya namun juga seorang teman.


Retno tersenyum melihat Agnia cepat berbaur dan terlihat nyaman bersamanya di rumah ini, hingga teringat akan sesuatu. "Oiya, sayang.." Retno membenarkan posisi duduknya, menatap Agnia bak hendak menyampaikan hal penting. "Bunda sama Ayah dari jauh hari udah pikirin ini.. Kalo setelah kalian menikah, lebih baik kalian segera pindah ke rumah kalian sendiri. Tapi Akmal bilang kamu gak begitu semangat tentang itu? Kenapa?"


Kenapa? Agnia tak langsung menjawab, bingung saja harus menjelaskan apa. Ia hanya tak pernah berpikir untuk tinggal di rumah baru saat rumah ayah dan rumah mertuanya saja lebih dari cukup untuk ditinggali. Yang aneh kenapa baik Akmal juga kedua mertuanya tampak ingin sekali supaya mereka pisah rumah.


"Dikeluarga Bunda, tinggal bersama orang tua setelah menikah itu bukan satu hal yang membanggakan." jelas Retno, menjawab batin Agnia yang bingung hingga tak kunjung menjawab. "Kamu ngerti maksud Bunda, kan?"


Agnia mengangguk pelan sembari tersenyum, kini alasannya bisa ia pahami. Kini masuk akal, tanggapan beberapa kerabat Akmal yang memang kaya sejak lahir mungkin jadi pertimbangan penting. Meski sebenarnya Agnia masih dibuat tak habis pikir oleh satu dan dua hal.


"Lebih baik kalian obrolkan lagi, ya?"


Tatapan dan ucapan Retno selalu saja teduh, seperti ada ketulusan yang memang dimilikinya, persis yang selalu ia lihat pada diri Akmal. Agnia mengangguk lagi. "Iya, Bunda."


Hening untuk sesaat, Retno memperhatikan wajah menantunya lama. "Tapi Bunda seneng, lho.. sama kamu Akmal jadi lebih baik. Dia bisa nyenyak tidur sekarang."


"Maksud Bunda?"


.


.


.


Akmal baru saja pulang, segera berlari menuju rumahnya menghindari rintik hujan yang tampak akan semakin besar. Bukan saja hujan, tapi kehadiran istrinya turut membuat Akmal tak sabar untuk pulang.


Sudah pulang sore sekali, jam juga terasa lama bergulirnya seharian ini. Akmal juga dibuat gemas saat pesannya utuh tak berbalas oleh sang istri. Langkah besarnya menuju kamar jadi bukti seberapa tak sabarnya ia. Hingga Sidiq juga Retno dibuat terkekeh melihat itu, saling pandang beberapa saat.


Kamar itu kosong, Agnia tak ada disana. Akmal beranjak menuju kamar mandi, dan masih tak ada Agnia disana. Akmal memutuskan keluar mencari keberadaan sang istri setelah di balkon kamar mahluk itu tak juga ia temukan. Beruntungnya pintu kamar terbuka dan menunjukkan sosok cantik itu sesaat sebelum dirinya melangkah keluar.


Agnia mengernyit, di tangannya nampan berisi satu teko beserta dua gelas. "Kenapa?" tanyanya, melihat kepanikan di wajah sang suami.


"Kenapa gak balas pesan ku?" tanya Akmal, sembari memperhatikan Agnia yang meletakkan benda yang dibawanya ke atas meja.


"Kamu kirim pesan?"


Pertanyaan itu memancing helaan Akmal, ditambah tatapan Agnia yang tampak tak berdosa itu membuatnya sedikit kesal. Agnia segera menangkap reaksi itu, paham dan lekas mendekat dengan senyum dan tatapan lembut andalannya. "Aku gak buka Hp, maaf."


Akmal urung kesal, menerima tatapan begitu membuatnya luluh kembali. "Lain kali jangan abaikan pesan aku, Hem?" tanyanya seraya memberikan pelukan hangat.


Sesaat itu cukup mengherankan, tak ada perlawanan dari Agnia, sama sekali. Istrinya itu bahkan membalas pelukannya, Akmal seketika dibuat penasaran dengan apa yang terjadi saat ia tak ada tadi.


Agnia mengangguk setelah Akmal melepas pelukannya. "Butuh sesuatu? Atau mau langsung mandi?"


"Jangan tanya apa yang aku butuhkan.. toh Mbak gak pernah mau memenuhi itu."

__ADS_1


"Dih! Jangan mulai!" Agnia melotot, tak suka pertanyaan seriusnya ditanggapi begitu. Bibirnya kini maju.


"Becanda." Akmal menyungging senyum tipis sembari mencubit pelan pipi Agnia. "Jangan tanya, yang aku butuh sekarang udah ada di hadapanku."


"Dih!" Agnia menolak tersipu, balas mencebik. "Yaudah, kalo gak butuh apa-apa.. cepet mandi, ya? Kamu bau."


"Oiya?" Akmal bergerak mencium pakaiannya, beralih pada ketiaknya. "Emggak, kok." cicitnya sambil terus memastikan.


"Enggak, tapi kamu gak sewangi tadi pagi."


Akmal mengernyit, menghentikan gerakannya. Perlahan mendekat sembari mengeluarkan seringainya. "Jadi Mbak diam-diam memperhatikan aku?"


Agnia menahan wajah Akmal untuk tak semakin mendekat, menutup bibir pria itu dengan lengannya. "Mandi sekarang atau jangan tidur satu ranjang."


Akmal spontan menghentikan gerakannya, sekali mengancam yang dipertaruhkan tak main-main. Akmal memegang lengan Agnia, membubuhkan ciuman disana untuk kemudian berlalu mengambil handuk untuk mandi.


...


Akmal baru saja kembali dari mesjid, mendapati istrinya sudah terlelap berselimut hingga leher. Akmal tersenyum, bisa melihat kelelahan di wajah sang istri. Setelah melepas jam tangan dari lengannya, beranjak menuju ranjang.


Akmal masuk ke dalam selimut sama yang dikenakan Agnia, langsung memiringkan tubuhnya menghadap sang istri. Gerakan itu membuat Agnia mengerjap bangun.


"Kebangun, karena gerakan ku, ya?" tanya Akmal lembut.


"Enggak, aku belum tidur. Nunggu kamu pulang."


Akmal tersenyum mendengar jawaban jujur sang istri, rasanya hubungan mereka mendekat lebih cepat dan mudah dari yang ia pikirkan. Agnia mulai nyaman dengan perlakuan manisnya, itu kemajuan luar biasa.


Akmal menghela, memperhatikan wajah manis istrinya. Tangannya terulur membelai rambut hitam milik Agnia dengan sayang. "Kenapa masih melotot kalo udah ngantuk?" tanyanya, bisa melihat jika Agnia berusaha untuk tak tertidur saat ini.


Agnia tak menjawab, menyamankan posisinya untuk kemudian mengerjapkan matanya tanda hilangnya kantuk.


"Kenapa? Perutnya sakit?" tanya Akmal yang langsung dibalas gelengan oleh Agnia. "Terus kenapa?"


Mendengar itu Akmal segera membenarkan posisi bantalnya, lantas mengulurkan lengannya untuk ditiduri Agnia.


Agnia tak bergeming untuk beberapa saat, guling di sebelahnya ia ambil dan letakkan di tengah-tengah untuk ia jadikan penghalang. Akmal terkekeh melihat itu, istrinya ternyata masih sama. Namun Akmal tak punya pilihan selain membiarkan saja semuanya begitu.


"Katanya kalo haid hari pertama, sakitnya banget. Mbak yakin perutnya gak sakit?"


"Enggak, cuman sedikit pegel disini." tunjuk Agnia pada pinggangnya.


"Mau aku elus pinggangnya supaya enakan?"


"Gak usah, gini aja." jawab Agnia cepat, tak mau Akmal macam-macam dan melakukan hal lebih nantinya.


Akmal kembali terkekeh, setakut itu ternyata Agnia padanya. "Ngapain aja di rumah?" tanyanya sembari mengusap punggung tangan Agnia di atas guling, setelah beberapa saat diam dan mencipta hening.


"Emh.." Agnia yang tidurnya tak sejajar dengan Akmal mendongak sesaat, tampak memutar ulang kejadian hari ini. "Banyak. Aku ngobrol banyak sama Bunda."


"Oiya? Ngobrolin apa aja?"


"Ya banyak. Ngobrolin kamu, Bude, sama.." Agnia menggantung kalimatnya. "Sama.. soal pisah rumah." tandasnya, terdengar tak semangat. Tak lama menghela, kembali menujukan matanya pada Akmal. "Menurut kamu kenapa Bunda mau kita pisah rumah?"


"Hem?" Akmal menoleh lama, melepas tatapannya dari punggung tangan Agnia yang masih betah ia elus.


"Apa yang bisa mereka lakukan di rumah ini, dengan hanya berdua? Bukannya orang tua lain lebih suka berkumpul dengan anak cucunya di masa tua?"


Akmal menyungging senyum, tangannya beralih menuju rambut Agnia. Hangat hatinya, betapa Agnia memikirkan orang tuanya seperti memikirkan orang tua sendiri. "Bunda takut Mbak gak nyaman disini. " jelas Akmal. "Bukannya gak semua menantu nyaman tinggal sama orang tua atau mertua mereka?"

__ADS_1


"Tapi kita gak gitu." sangkal Agnia, menatap netra Akmal lekat.


"Emh.. memangnya Mbak gak papa kalo harus tinggal disini, selamanya? Ini jadi rumah tetap kita?"


Agnia mengernyit sesaat. "Kenapa enggak? Selama kita sama-sama, dimana pun pasti nyaman." jawabnya, yang seketika menarik sudut bibir Akmal untuk tersungging lebih tinggi.


"Jangan khawatir tentang Bunda sama Ayah, Mbak.. mereka berulang kali bilang gitu tandanya memang ingin kita pergi dari rumah ini."


Agnia tak bergeming, masih sibuk dengan tanda tanya di pikirannya hingga tak berkedip. Itu berhasil memantik tawa kecil Akmal, melihat betapa seriusnya wajah Agnia saat ini lucu sekali baginya. "Gak usah dipikirin.. kita lihat nanti aja."


Agnia mengangguk, tanpa sadar bergeser makin dekat pada Akmal. Membuat pria itu leluasa mengarahkan pelukannya.


Hening lagi, Akmal jadi sibuk dengan pikirannya. Masih merasa bersalah sebab statusnya yang masih aktif sebagai mahasiswa membuat mereka tak bisa pergi ke manapun untuk berbulan madu. "Maaf ya Mbak, belum bisa ngajak bulan madu." lirih Akmal.


"Mbak?" Akmal mengangkat kepalanya, melirik Agnia yang tak memberi jawaban pada pertanyaannya.


Agnia entah kapan sudah terlelap saja, Akmal dibuat terkekeh menyadari itu. Lantas meletakkan kepala istrinya di atas bantal dengan posisi lebih nyaman.


Wajah itu tampak pulas, napasnya terdengar teratur. Setelah memastikan Agnia benar-benar terlelap dengan tak bergerak saat diberi ciuman singkat di keningnya, Akmal bergerak mengecup pelan bibir sang istri. Setelahnya tertawa kecil. "Lihat? Aku sudah dapat ciuman pertamaku, istriku sayang." ujarnya diselingi tawa.


Akmal tak lantas tidur, setelah menyelimuti Agnia lantas menekan saklar lampu, beranjak menuju balkon kamarnya.


Langit berbintang jadi tontonan terbaik, Akmal berdiri berpegangan pagar sembari mengedarkan pandangan. Bintang dengan gemerlap kota menghiasi malam syahdu ini. Sayang sekali, Akmal dibiarkan sendiri. Entahlah, ia tak bisa tidur sebab kehadiran Agnia. Namun istrinya justru sebaliknya, tampak lelap begitu ada di dekatnya.


"Kenapa gak tidur?" pertanyaan itu memancing Akmal segera menoleh, Agnia dengan wajah mengantuknya turun dari ranjang berjalan mendekat.


"Lho.. kenapa? Gak bisa tidur tanpa aku?" Akmal balas bertanya sembari tersenyum, tak tau kenapa sesuai saja dengan pikirannya barusan.


"Kamu yang gak bisa tidur tanpa aku." balas Agnia, ketus. "Ada apa? Kenapa gak tidur?"


Akmal menggeleng, tersenyum. Kini ia paham bagaimana indah dari pernikahan, ada seseorang yang selalu bertanya dan jadi tempat berbagi. Dan baginya itu adalah Agnia.


"Kalo gitu ayo tidur!" ajak Agnia. Setengah merenggek, setengah ketus.


Akmal tak langsung mengiyakan ajakan Agnia, tak sah jika tak menggodanya lebih dulu. "Mbak ngajak aku tidur?" tanyanya sembari mendekat. "Yakin? Bisa menangani itu?"


"Ish!" Agnia mencubit pelan perut Akmal, tak gentar kali ini. Sebal, padahal ia serius sekali hari ini. "Ayo tidur.. Bukannya besok mau jalan-jalan?"


Akmal tersenyum lebar, menahan tangan Agnia untuk kemudian ia genggam. Membawa sang istri kembali ke dalam kamar yang hangat dan bukan balkon yang sepi, yang penuh angin malam.


Agnia tak langsung membaringkan tubuhnya, lebih dulu memastikan jika Akmal tidur dan tidak pergi ke manapun. Menyingkirkan guling yang sebelumnya ia jadikan penghalang. "Sini.." titahnya, menepuk ranjang tepat di sebelahnya.


Akmal menurut, membaringkan tubuhnya sesuai perintah. Sembari memperhatikan wajah istrinya yang luput dari senyum.


Agnia membaringkan tubuhnya dekat dengan Akmal. Sangat dekat, tak ada guling seperti sebelumnya. Kepalanya ia simpan di bahu Akmal, sedang tangannya bertengger nyaman pada dada Akmal. "Tidur!" titahnya tak terbantah.


Akmal mengulum senyum, Agnia seakan tau cara terbaik membuatnya tidur nyenyak. Aroma rambut Agnia dan dekapan hangatnya menenangkan, seperti yang ia ucapkan sebelumnya, yang ia butuhkan sudah ada di hadapannya. Sudah ada di dekapannya.


Selang beberapa saat Agnia bisa merasakan napas Akmal kini mulai teratur khas tidur. Ia mendongak beberapa saat demi memastikan. Ada sedikit sakit saat menyaksikan sendiri kesulitan tidur yang dibahas Retno tadi siang.


"Kalo nanti kamu lihat Akmal sulit tidur, jangan kaget.. dia begitu sepeninggal Ulya. Emh.. Akmal udah cerita tentang Ulya, kan?"


Demikian penjelasan Retno yang membuat Agnia enggan memejam saat ini, kantuknya berganti jadi perasaan yang sulit diterjemahkan.


Agnia hanya menyadari satu hal, bahwa ternyata dirinya menikahi seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Mengingat itu hatinya terusik, Agnia jadi ragu apakah Akmal menikahinya sebab ingin atau terpaksa sebab orang tuanya.


Akmal begitu baik, hingga jika menikahinya terpaksa dan bersikap baik maka itu mungkin saja kebesaran hatinya.


Namun jika itu sebab baktinya Akmal pada orang tuanya, Agnia jadi merasa bersalah. Dan ini membingungkan, sebelumnya antara Adi mencintainya dan sudah tak mencintainya terjelas sama. Agnia takut salah menerjemahkan seperti sebelumnya.

__ADS_1


Hanya saja hari ini, Agnia tiba pada situasi terlanjur. Meski perasaannya tak tentu, namun Akmal adalah suaminya. Yang cinta juga perhatiannya tak boleh berubah apapun yang terjadi.


Hatinya dilanda gundah, kantuk itu hilang seketika. Agnia tak paham kenapa ia bisa cemburu dengan seseorang yang bukan siapa-siapa suaminya, bahkan orang itu sudah meninggal jauh-jauh hari.


__ADS_2