
Agnia tengah mengepel lantai pagi ini, baru beberapa langkah ia mulai. Mengepel perlahan dengan wajah tenang. Namun wajah tenangnya seketika berubah, kala matanya teralihkan oleh Akbar yang dengan santainya berjalan menuju ruang televisi. Seperti tidak peduli dengan lantai yang masih basah.
"Stop!"
Akbar spontan berhenti, menoleh ke asal suara. "Oh!" Akbar nyengir seketika, baru sadar jika kakaknya berada di sana.
"Kaki kamu mati rasa?" tanya Agnia, tak bergeser dari tempat berdirinya. Memegang pel dengan tatapan datar mengarah pada Akbar.
"Hah?!" Akbar pura-pura tak paham, membuatnya hanya terlihat bodoh di mata Agnia.
"Gak bisa bedain lantai yang masih basah?"
Akbar sekali lagi tersenyum lebar. "Tanggung, Mbak.."
"Kalo gitu harusnya kamu balik ke kamar!" tunjuk Agnia, telunjuknya mengayun dari posisi Akbar berdiri hingga lantai dua di mana kamar Akbar terletak.
Akbar menggela napas, sejenak bertukar tatap dengan Agnia yang menatapnya sengit. Kemudian tersenyum. "Maaf, kakakku sayang.. Lebih dekat ke sopa dibanding ke kamar." ucapnya, lantas melanjutkan langkahnya menuju sopa.
Agnia mendengus pelan, menggeleng takjub. Lihatlah anak itu bahkan sudah duduk santai tanpa menoleh ke arahnya lagi. Begitulah adiknya.
Mengabaikan Akbar, Agnia melanjutkan aktivitasnya, sesekali tanpa disengaja matanya melirik Akbar yang asik menonton televisi. Hal seperti inilah yang secara pribadi membuat Agnia enggan menerima Akmal.
Satu jenis Akbar saja ia rasa sudah cukup baginya.
.
.
.
.
Suara murotal menggema di kamar Akmal, mengalahkan bising dari penyedot debu yang sedang ia gunakan.
Sebab terbiasa, rutinitas semacam ini bukan lagi hal mengejutkan bagi Akmal. Lihatlah setiap sudut kamar yang tampak sempurna itu, bersih tanpa satupun benda yang salah penempatan.
Handuk berada di tempatnya, baju kotor sudah masuk ke mesin cuci, tempat tidur rapih bak belum tersentuh.
Sungguh berbeda dari sosok Akmal yang Agnia bayangkan di pikirannya. Akmal tidak seceroboh Akbar, tidak semalas Akbar, juga tidak iseng seperti Akbar.
Helaan napas lega keluar dari mulut Akmal, setelah menekan tombol off pada penyedot debu, juga mematikan murotal yang mengalun indah itu. Rasanya sudah cukup kegiatan bersih-bersihnya. Saatnya bersiap untuk pergi.
"Akmal?"
"Iya?" tepat sekali saat itu suara ibunya terdengar dari balik pintu. Akmal langsung meletakkan perkakas ditangannya ke tempat semula.
__ADS_1
"Ayo sarapan.." ucap Retno lagi, kala hanya ada jawaban namun anaknya belum juga keluar.
"Iya, Bun.." ucap Akmal setengah berteriak.
Akmal bergegas membuka pintu kamarnya, tersenyum saat melihat ibunya masih di sana.
"Kenapa lama?"
"Kan beres-beres dulu, Bu.."
Retno mengangguk pelan. "Yaudah, ayo.. Ayah udah nunggu."
Akmal mengangguk, tangannya merangkul bahu sang ibu. "Let's go!!" Jadilah sepasang ibu anak itu berjalan sedemikian akrabnya menuju meja makan. Hal yang mungkin tak akan Agnia bayangkan juga dari seorang Akmal. Retno tersenyum, menepuk pelan tangan Akmal yang bertengger di bahunya.
.
.
.
.
"Akbar.. Besok anter mbak ke panti, ya.." Agnia menghampiri Akbar lagi, sudah dua kali ia lupa ingin mengatakan apa pada adiknya.
Akbar mengernyit sejenak. Entah mempertimbangkan apa. "Okkeh.." Akbar mengangguk. "Besok kan?" tanyanya, memastikan.
"Iya.. Awas ya.. Kamu suka lupa kalo gak diingetin."
"Bawel!!"
Agnia mengendik pelan, segera kembali ke halaman belakang setelah sebelumnya mendapat anggukan dan 'okkeh' dari adik tengilnya. Lanjut menyelesaikan menjemur pakaian yang tertunda itu. Tak tahu jika Akbar mengeluarkan seringai lebar sepergi dirinya. Entah apa yang terlintas di pikiran Akbar, entah siasat atau keisengan.
.
.
.
.
Suasana ramai penuh tawa mengisi setiap sudut sekolah PAUD, Agnia sudah berdiri paling depan menghadap anak muridnya. Anak-anak memperhatikan gurunya sambil tak henti saling mengganggu, sebagian mengikuti setiap gerakan pemanasan yang ditunjukan Agnia.
Hari ini, mereka akan bersenam.
Agnia menghela pelan, tersenyum tipis. Matanya tertuju pada dua orang yang tak berhenti tertawa sambil mendorong satu sama lain.
__ADS_1
"Doni! Putra! Lihat sini..." Agnia menghentikan gerakannya, memanggil pelan dua anak muridnya.
Dua anak itu tentu diam saat nama mereka disebut. Agnia menatap lembut dua anak itu, merendahkan tubuhnya di hadapan mereka.
"Gak boleh dorong-dorong.. Nanti temennya jatuh, lho.. Ya?"
Dua anak itu mengangguk. Agnia tersenyum, namun dirinya tentu tak sepenuhnya percaya. Tidak akan terperdaya oleh kesempatan.
Sebab kejadian ini pernah terjadi sebelumnya, Agnia menarik salah satu mereka untuk berdiri terpisah, berjaga-jaga tak ada pertengkaran lanjutan antara keduanya.
Ini bukan kali pertama. Dua anak itu, Doni dan Putra pernah bertengkar dan menangis tak mau kalah keras. Dan pertengkaran itu terjadi setelah bercandaan kecil macam tadi. Emosi anak-anak memang tak bisa ditebak, tadi baik-baik saja dan beberapa saat kemudian saling salahkan.
Sebab itu berjaga-jaga sebelum terjadi pertemgkaran akan lebih baik atau semua bisa pusing akan ulah mereka.
Senam itu dilakukan di halaman sekolah yang lumayan luas, para wali murid memperhatikan dari koridor kelas. Duduk di tempat paling nyaman, menggelar tikar seperti biasa. Alisya salah satunya, memperhatikan cara Agnia mengambil langkah terbaik untuk anak muridnya, Tersenyum tipis. Sejak dulu Agnia memang paling pandai dalam mengambil hati seseorang.
"Mamanya Raina.."
"Ya?" Alisya menoleh saat nama anaknya disebut. Mengalihkan matanya dari anak-anak yang senam ke para ibu yang sejak tadi tak berhenti berbincang. Membicarakan apa saja dari mulai menu sarapan, mahalnya bahan baku makanan, sulitnya mengatur waktu antara suami dan anak, dan teranyar membahas pelatihan keterampilan mingguan para wali murid yang baru sekali dilaksanakan.
"Hari minggu, kita kesini lagi ya.. Kita ikut pelatihan keterampilan."
"Latihan keterampilan?"
"Iya.. Jadi guru disini mengadakan pelatihan. Semacam masak, buat kue, merajut.. Emh.. Dan ada juga parentingnya."
Alisya mengangguk, takjub. Tak menyangka ternyata se produktif itu para guru di sini. Namun itu tak cukup menarik baginya, hari minggu waktu sempurna untuk menghabiskan waktu bersama suami dan anak semata wayangnya. Apalagi hubungannya dengan Adi terasa berbeda beberapa hari ini.
"Insya Allah.." ucapnya kemudian, tersenyum.
Kegiatan itu sama sekali tidak menarik bagi Alisya, hingga nama Agnia disebut.
"Minggu kemarin sayangnya aku langsung pulang, gak sempat nyimak pembahasan parenting dari Bu Agni.." ucap seorang ibu dengan hijab hitam yang santai menyuap cemilan.
"Oiya..? Padahal Mamanya Naya yang paling semangat kan kemarin.." timbal wali murid lainnya.
"Iya.. Cuman si ade kemarin itu tiba-tiba ngadat. Jenuh kayaknya, jadi terpaksa pulang..."
Alisya menyimak obrolan itu, dengan matanya yang tak pergi dari Agnia.
Jadi Agnia menjadi salah satu pelopor kegiatan itu? Alisya menghela napas pelan, di lain sisi menimbang. Entah kenapa mendengar nama Agnia membuat Alisya tiba-tiba merasa harus ikut serta.
"Emh.. Hari minggu, ya?" tanya Alisya, kembali menoleh seseorang di sebelahnya. "Mulainya jam berapa?"
....
__ADS_1