
Akmal berusaha keras untuk mengabaikan tatapan sekitar, ia yang berdiri sendirian tepat di depan pintu gedung menjadi perhatian khusus bagi para perempuan berkebaya yang mungkin keluarga pengantin.
Entah apa yang sedang dibisikkan para gadis itu, Akmal memejamkan matanya beberapa kali menetralkan sedikit malu yang ia rasa. Tak tau saja, jika para gadis itu sebenarnya mengagumi sosok Akmal. Mereka saling tunjuk meledek satu sama lain.
Retno rese sekali, untuk pertama kalinya Akmal bisa mengatakan begitu. Heboh sekali ibunya, setelah mengajaknya pulang dan langkah mereka di ambang pintu gedung, justru urung sebab bertemu lagi dengan teman lamanya.
Sudah tiga kali terulang, dan untuk kali ini Akmal tak menaruh harapan. Menatap santai sang Bunda yang baru saja menepuk bahunya, keluar dari pintu dengan senyum.
"Udah?" tanya Akmal malas, yang langsung diangguki Retno sembari terkekeh pelan. Tau jika putranya ini sudah bosan menunggu.
"Udah, kok." jawab Retno, tersenyum menegaskan. "Dan yang sekarang beneran.." tandasnya, menanggapi tatapan tak percaya dari Akmal.
Akmal akhirnya menghela, kini mengangguk. "Maaf, Bun.. Abisnya Bunda banyak banget acara." keluhnya.
Tangan Retno terulur meraih lengan Akmal, membawa putranya berjalan bersebelahan menuju mobil. "Ya maklum.. namanya juga perempuan, rata-rata juga gitu kok." dalih Retno. "Lagi pula ini itung-itung latihan.. sebelum kamu direpotkan istrimu seperti ini."
Begitu? Akmal mengernyitkan dahinya demi mendengar kalimat terakhir dari ucapan Sang Bunda, ia tak percaya. Mana ada Agnia seperti itu? Calon istrinya itu tak seperti Bundanya yang rempong, Akmal yakin sekali.
"Kenapa? Gak percaya?" tanya Retno, langkah mereka berhenti tepat di depan mobil mereka. tatapan meragukan yang ditujukan Akmal mendasari pertanyaan itu. "Kita lihat aja nanti, ibu jamin seratus persen."
Akmal mengendikkan bahunya acuh, terserah saja. Kedua ibu anak itu tak tau jika mereka masih jadi perhatian para gadis berkebaya di belakamg sana, menatap kagum sedikit salah tingkah.
"Sedeket itu sama ibunya, lho.. idaman banget!" ujar salah satu mereka yang serempak diangguki dengan sorot mata kagum.
.
.
.
.
Situasi sebaliknya terjadi antara Gian dan Agnia, tak mengerti ia kenapa Gian menjadi murung. Hanya tersenyum seadanya sejak masuk ke dalam mobil, membuat Agnia jadi serba salah dibuatnya. Ragu-ragu menoleh pria itu sembari mengenakan seatbelt.
Kalimat mana yang menyinggung Gian? Agnia mulai mengingat lagi setiap kalimat dari ucapannya tadi. Saat membahas Sila kah? Atau mungkin perihal Wildan? Masalahnya dari sudut pandang Agnia, dua topik itu sama sekali tidak sensitif hingga Gian harus bersikap begitu.
"Sudah?" tanya Gian, menoleh Agnia dengan senyum lebih baik. Ia sadar dengan ketidaknyamanan Agnia, yang mungkin timbul sebab sikapnya tak jelasnya.
Padahal Agnia hanya berkata jujur tentang sesuatu dari sudut pandangnya, itu saja.
Agnia mengangguk, membalas dengan senyuman tipis. Untuk kemudian meluruskan tatapannya ke arah jalan, dan kembali merenungkan kesalahannya.
Gian sudah melakukan mobilnya diantara keheningan itu, menimbulkan deru mobil juga ramainya jalanan di telinga.
Keheningan padahal sedang bersama orang lain itu membunuh, membangkitkan prasangka berlebih yang membumbui hal sederhana menjadi bom waktu yang siap meledak kapan saja.
Gian tak mau begitu, hingga setelah menghela napas dalam ia lantas menoleh gadis di sebelahnya melalui kaca spion. Memutuskan untuk memecah hening. "Maaf.." lirihnya.
Tak lama tolehan itu terjadi, Gian sudah fokus lagi pada jalanan saat Agnia balas menoleh. Ucapan maaf yang tiba-tiba itu membuat Agnia yakin jika ada sesuatu mengganjal namun tidak mau Gian katakan.
Tampaknya melelahkan, batin Agnia. Perasaan semacam itu benar-benar menyiksa, semua tentu oenah merasakan. Termasuk Agnia.
"Untuk?"
"Sikap kakak.." jawab Gian sembari menoleh sekilas. "Ada yang mengganggu pikiran ku, tapi gak perlu kamu pikirkan. Itu.. sama sekali bukan karenamu."
Jawaban pria itu membingungkan, namun tatapannya serius. Membuat Agnia tak tertarik bertanya atau memastika sesuatu, takut akan semakin membuat Gian tak nyaman.
...
Perjalanan hari ini tak berencana secanggung itu, apalagi setelah berkunjung ke panti tadi. Gian merasa hidup dan terisi kembali sebab interaksi manisnya dengan anak-anak itu.
Namun sesuatu yang masih belum bisa Gian ungkapkan mengganggunya, jadilah ia mempertahankan kecanggungan itu bahkan hingga mereka tiba di depan rumah Agnia.
Agnia tentu merasa bersalah, namun ia sendiri tak mengerti apa yang membuat Gian berubah seperti itu. Kepalanya buntu, tak menemukan apapun mengenai kesalahannya.
"Kak, aku.. makasih." cicit Agnia, bukan saja ragu-ragu tapi juga bingung sebab situasi tak jelas ini. Rasanya Agnia ingin cepat-cepat keluar dari mobil itu untuk tak satu udara lagi dengan Gian. Jujur saja, perubahan emosi drastis pria tinggi di sebelahnya sungguh menakutkan.
"Sebentar.." Gian langsung mencegah, menghentikan Agnia yang seakan mau meloncat saja dari mobil itu.
__ADS_1
Agnia diam di tempatnya, urung membuka pintu mobil itu. Tangannya ia tarik ke atas pahanya. Kembali menoleh Gian dengan tatapan siap mendengarkan.
Gian menghela napas panjang, seakan yang akan diucapkannya nanti begitu sulit untuk dijelaskan. Punggungnya terangkat tak lagi bersandar.
Pria itu kembali tersenyum sebelum membuka mulutnya, senyum yang kentara sekali dipaksakan. "Entah bagaimana tanggapan kamu setelah ini.. tapi yang akan kaka sampaikan sekarang, berjanjilah jangan sampai itu membebani kamu."
Agnia tak berkedip, masih akan mendengar penjelasan Gian. Namun hatinya tiba-tiba saja berdesir, hal apa hingga bisa membebaninya?
Mata Gian menatap lurus mata cantik Agnia, berharap bisa mentransfer kedalaman perasannya lewat penjelasannya. "Agni.. yang selama ini kakak sukai itu.. kamu."
Netra Agnia membesar begitu saja kala mendengar pengakuan Gian. Pengakuan ini bukan saja mengejutkan dan berarti banyak hal, tetapi juga menimbulkan pertanyaan tentang banyak hal. Agnia tak tau harus bereaksi apa kali ini, ia langsung menormalkan ekspresinya.
"Ini mungkin mengejutkan, tapi.. kamu gak pernah tergantikan sama sekali." gumam Gian jujur, tak mengalihkan tatapannya dari Agnia.
"Bahkan saat kamu gagal menikah tiga tahun lalu, jujur saja kakak senang.. ada harapan baru setelah harapan sebelumnya hancur. Namun dengan kebodohanku, untuk kedua kalinya.. hari ini.. harapan itu hancur kembali."
Gian menelan salivanya, sesaat menciptakan hening. Tak lama tatapannya berubah bak menerawang jauh. "Sialnya kalian begitu sempurna untuk bersama, dan itu membuat kakak kecewa, sedih, juga menyesal."
"Untuk kedua kalinya, kakak dihadapkan dengan kenyataan yang menyedihkan."
Agnia mematung, mulai memproses banyak hal baru di kepalanya. Mendengar Gian kenapa hatinya ikut sakit? Setiap ucapannya terdengar menyayat namun tegas di waktu bersamaan. Agnia tak mengerti, sesuka itukah Gian padanya? Tapi kenapa.. dan sejak kapan?
"Hanya saja kali ini, tidak ada harapan buruk. Selama kamu bahagia, dan bocah itu memperlakukanmu dengan baik.. aku gak punya keluhan" tutur Gian lebih tenang, setelah beberapa saat terdiam dan mengalihkan pandangannya.
Agnia mengangguk, satu persatu fakta mengejutkan kembali ia temukan dari orang-orang di masa lalunya. Beriringan dengan makin banyaknya pertanyaan yang timbul sebab itu.
"Kenapa Kak Gian gak pernah muncul?" tanya Agnia, membuat Gian kembali menoleh lawan bicaranya. Menatap lama. "Kalo kak Gian merasa begitu.. apa bukan seharusnya kakak mencari aku? Mengabaikan apa yang terjadi dengan aku saat itu. Tapi ini sebaliknya. Sebab itu, pengakuan Kak Gian terdengar tulus tapi juga menggelikan di waktu yang bersamaan "
Gian bungkam, bukan tak bisa menjawab namun.. "Apa itu penting sekarang? Semua sudah berlalu. Dan kakak gak berharap pertanyaan itu dari kamu, menyampaikan itu saja sudah membuat aku merasa lebih baik."
Agnia menghela, mengangguk pelan. Memang, semua sudah sejauh ini. Gain Dan pengakuannya juga Agnia dengan pendiriannya sudah tak bisa disangkut pautkan.
"Kalo begitu berakhir, kesimpulannya.. kita sudah sejauh ini untuk mengambil langkah, tak ada pilihan selain aku menjalani pilihanku dan.. Kakak menjalani hari baru dengan tidak terjebak dengan perasaan ini."
"Cobalah menyukai Sila, itu permintaanku Kak.."
Gian mendesah frustasi, haruskah ia tegaskan sekali lagi? Kenapa Sila dan Sila lagi yang Agnia bahas. Tidak taukah Agnia, bahwa dengan tidak memilikinya saja sudah membuat ia putus asa. Masih haruskah nama Sila dibawa-bawa?
Agnia menghela pelan. "Suka atau tidak, apa pentingnya? Aku pernah mencintai seseorang.. tapi akhirnya apa, Kak? dia membuat aku menyia-nyiakan waktu berhargaku, hari-hari saat aku harusnya tumbuh dewasa dengan bahagia terlewati begitu saja."
"Cinta membuat aku seterpuruk itu, Kak."
Gian mengusap kasar wajahnya. "Jadi apa yang mau kamu sampaikan?" tanyanya.
"Pertimbangkan Sila."
Sila lagi? Agnia memang tak paham. Ini tentang perasaan Gian padanya, namun gadis itu kembali mengungkit Sila tanpa sebab.
"Aku gak melihat kekurangan apapun dari dia, kenapa Kak Gian gak suka sama dia?"
Gian menghela pelan. "Kamu gak ngerti, Agnia.. dia sangat berbeda dari kamu." lirih Gian, terdengar sungguh-sungguh. Pun ini pertama kalinya Gian memanggilnya dengan Agnia bukan Agni, persis cara Gian memanggilnya dulu.
"Dan apa yang aku punya?"
Mata Gian kembali terlihat menerawang jauh, jika hanya menyebutkan apa saja yang ia suka dari Agnia, itu terlalu mudah.
"Kamu menyenangkan, kemarahan kamu yang terbaik, pilihan kamu tentang banyak hal saya sukai. Tapi Sila, dia.. dia bahkan menyukai novel-novel yang membosankan, dia tidak marah, dan selalu gigih meski berkali-kali diperlakukan buruk."
Agnia takjub, jika seperti itu bukankah tandanya Gian begitu menyukainya? Dibanding Sila si protagonis yang menyukainya, Gian lebih memilih mengejar Agnia si antagonis yang tak selalu memusuhinya. Lagi-lagi, Agnia dibuat tak bisa berkata-kata.
"Itulah yang membuatnya aku kesal, kenyataan jika kamu akan bersanding dengan orang lain juga fakta bahwa cinta pertamaku gagal, itu amat menyakitkan."
...
Agnia mengambil waktunya sendiri, di kamar lamanya. Duduk di balkon kamar luas itu sembari memeluk lutut, menghadap pemandangan kota yang tampak kecil dari jauh. Pengakuan Gian cukup mengguncangnya. Seakan penyesalan luar biasa yang terdengar dari pengakuan pria itu menular juga padanya.
Pertanyaan sama timbul di kepalanya. Jika Gian lebih dulu menemuinya dibanding Akmal, akankah hatinya berlabuh pada pria itu?
Tidak! Agnia menghempas pikiran itu, matanya memejam seaat. Ia harus menyapu kengawuran di kepalanya, mana bisa ia oleng pada Gian hanya karena fakta jika pria itu menyukainya sejak lama.
__ADS_1
Sedangkan kini ia tak punya alasan untuk menolak Akmal, Gian benar. Akmal memang tak punya satu hal pun untuk dicela, hingga sempurna saja untuk menjadi imamnya.
Agnia menghembuskan napas panjang, hilang yang satu pemikiran ngawur lainnya ikut muncul.
Ah! Berkat nama Akmal terlintas di pikirannya, Agnia kembali mengingat pesannya tadi. Penasaran seperti apa tanggapan bocah itu saat tau ia pergi bersama Gian.
Sudah pulang? begitu isi pesan Akmal yang baru dikirim tiga menit yang lalu, sepertinya memang baru sempat membalas dan entah dari mana ia pergi. Agnia segera mengetikkan jawabannya, singkat saja.
^^^Baru nyampe.^^^
Diantar Kak Gian lagi?
^^^Iya^^^
Oh..
Oh saja? Agnia jadi bingung saat jawaban Akmal hanya dua huruf itu, tanpa berpikir jika sepanjang waktu pesannya pada Akmal sama singkatnya dan bahkan lebih parah. Tangannya urung mengetikkan balasan, tak tau harus menanggapi apa.
Hal itu menjadi pembeda antara Akmal dengan yang lain, sebab tak siapapun bisa membuatnya canggung ataupun gengsi seperti yang Akmal lakukan. Pria itu menguasai emosi Agnia tanpa disadari.
Apa itu sudah cukup menjawab jika ia menyukai pria itu? Bahkan Agnia tak pernah kagok pada Gian, Rizwan atau bahkan Adi dahulu. namun Akmal memberi sensasi berbeda semakin dikenalnya.
"Kamu menyukai dia?" demikian salah satu pertanyaan Gian yang tak bisa dijawabnya dengan gamblang tadi. Agnia tak bisa mengatakan pada Gian jika hari ini cinta atau suka bukan prioritas di hatinya, sebab jika demikian Gian bisa saja berpikir jika ia terpaksa menyetujui perjodohan ini.
Agnia menghela, Menyukai atau tidaknya Agnia rasa bekum tepat untuk dibesar-besarkan sebab masih jauh menuju pernikahan. Pun banyak hal yang bisa terjadi sebelum janur kuning melengkung, Agnia berpengalaman sekali tentang itu.
Gimana hari ini, Mbak? Pesan Akmal datang lagi, Agnia segera mengetikkan balasan sesaat mendapatkan jawaban. Namun tak lama kembali ia hapus, terjadi lagi. Ia baru sadar jika perilakunya terlalu bersemangat dan bisa saja membuat Akmal salah paham, terlalu semangat membalas.
Hal lain datang dan mencipta pertarungan di kepala Agnia, yang satu mendukung gengsinya dan yang lainnya menyuruh untuk lebih santai. Apa arti rasa gengsinya? Padahal kalian sudah akan menikah!! Mana bisa kalian terus secanggung itu? demikian batin Agnia lainnya berteriak.
^^^Baik, anak-anak keliatan bahagia^^^
^^^waktu kita datang.^^^
Bukan.. maksudku, apa Mbak senang?
^^^Tentu, saya yang paling senang^^^
^^^diantara mereka.^^^
...
Tentu, saya yang paling senang diantara mereka.
Dan kamu?
Bagaimana harimu?
Akmal yang sudah setengah mengetik, kini mematung di tempatnya duduk. Apa ini? Sulit dipercaya, pesan yang kembali dikirimkan Agnia membuat Akmal tak berkedip tanpa sadar.
Tunggu! Akmal masih takjub, membaca kembali pertanyaan Agnia. Tak salah, dan Itu luar biasa. Illlla bisa merasakan Agnia melembut lewat kata yang dipilihnya.
Seperdetik kemudian, berhenti takjub namun kini balasan itu membuat Akmal yang tengah sendiri di kamarnya justru tak bisa menahan lagi senyum. Tak bisa disembunyikan, ia sedang salah tingkah.
Akmal sampai harus menunggu beberapa menit lebih lama untuk meneruskan ketikannya membalas Agnia, perasaan hangat bak menjalar mengisi setiap sudut hatinya.
^^^Luar biasa, hari ini menyenangkan.^^^
^^^aku senang.. ditanya begitu sama Mbak.^^^
Siapa sangka, hal sederhana bertanya berhasil melebur keluh kesah yang Akmal rasakan tadi pagi. Kini Akmal paham kenapa pertanyaan sesimpel itu penting bagi perempuan, energi yang ditimbulkannya memang bukan main.
Jangan berlebihan! itu cuma pertanyaan sederhana!!!!
Akmal suka tanda seru banyak yang digunakan Agnia, seakan melihat langsung kemarahan Agnia yang menggemaskan.
Besok saya ada janji ketemu temen,
Kamu bisa nganterin saya?
__ADS_1
Akmal kembali salah tingkah lagi dengan pesan yang dibacanya.. pertanyaan itu membuatnya melayang, bukan soal kalimatnya.
Lebih dari itu, sikap Agnia yang mulai nyaman bertanya dan memintanya berarti hal yang besar. Akmal senang, seperti yang dikatakannya. Hari ini akhirnya terjadi juga.