Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
77. Ada kemajuan?


__ADS_3

Detak itu makin berderu,


Menyambutmu di setiap temu.


Membuatku setiap saat membeku,


Kala matamu menyelami mataku.


°°°


Akbar menghentikan langkahnya di hadapan Agnia, tak melihat kemanapun kecuali Agnia. Hingga rasa serba salah hinggap pada Ripda, bak nyamuk. Meski dua orang itu belum berucap sama sekali, tapi atmosfernya terasa berbeda saja bagi Ripda yang kini hanya bisa berdehem memecah hening.


"Ehhem."


Dua orang yang saling tatap itu spontan menoleh bersamaan, masa saling pandang mereka langsung berakhir. Berganti menatap Ripda yang sudah memasang senyum penuh arti.


"Oh!" Akmal langsung mengenali Ripda, tersenyum pada gadis seusianya itu. "Hai?"


Ripda balas tersenyum, Akmal benar-benar teralihkan Agnia hingga tak melihatnya sejak tadi. Menoleh Agnia sejenak, seakan ingin menunjukkan jika mereka beneran kawan lama, seperti sebelumnya ia katakan pada Agnia.


"Hai, apa kabar?" tanya Ripda kini, puas tersenyum. Nyaman saja bertanya pada Akmal.


"Baik, Alhamdulillah.." jawab Akmal. " Emh.. disini? Ngajar juga?"


"Iyalah, apa lagi? Sedangkan kamu, kenapa kesini?" Ripda memasang wajah curiga, sesekali melirik Agnia. Jiwa mudanya sudah bisa membaca situasi seperti ini. "Bukan mau belajar disini juga, kan?" goda Ripda.


"Kamu belum tau kayaknya.. aku, sekarang supir pribadi Mbak Agni." jawab Akmal seraya menoleh Agnia di sebelah Ripda.


"Oiya?" Ripda melirik Agnia, tersenyum serupa dengan senyumnya semula pada Akmal. Membuat Agnia takut dengan senyum itu.


"Oh! jemputan aku udah dateng. Mbak aku duluan, ya.." Ripda tiba-tiba saja mengakhiri obrolannya, terburu-buru mengatakan hal lain.


Gadis pecicilan itu pergi bahkan sebelum mendapat jawaban ataupun anggukan dari dua orang di depannya. Pemandangan itu membuat Agnia kembali dibuat terkekeh, senyumnya tersunging seiring langkah Ripda yang menjauh.


Akmal tak peduli, sekarang sedang fokus memperhatikan senyum tipis Agnia. Merasakan hangat meski hanya melihat senyum tipis nan tulus itu. Hingga saat Agnia beralih menatapnya, Akbar kembali tersenyum.


"Ayo!"


Agnia mendengus, tak menyahut ajakan pulang Akmal. Wajahnya datar kembali seperti biasa, seakan senyum bagi Ripda tadi menghabiskan stok senyum seumur hidupnya.


"Kenapa?" Akmal jadi salah tingkah, bangga dengan tatapan sinis calon istrinya.


"Kamu ngapain disini?" tanya Agnia singkat, tanpa senyum sama sekali.


"Mbak kok nanyanya gitu? Emangnya gak boleh?" Akmal memajukan bibirnya, berlagak merajuk. Namun itu tak mempan bagi Agnia, tak tertarik untuk senyum.


"Bukannya kamu kuliah? Stop buang-buang waktu dengan seperti ini."


"Oh.. sebenernya, aku belum kasih tau Mbak, aku.. di skors." ucap Akmal santai, setengah berbisik. Mendekatkan wajahnya pada telinga Agnia, tersenyum seperti biasa.


Agnia mengernyit, bukan soal jawaban Akmal yang mengganggunya. Melainkan heran dengan senyuman Akmal yang sabar sekali dan tanpa beban membahas itu. "Kamu senang? Bisa-bisanya kamu senyum."


"Aku juga sedih, Mbak. Tapi bisa apa? Aku cuma bisa nunggu sampe hukumannya selesai. Jadi.. selagi itu, aku mau memanfaatkan waktu dari pada berkumul dengan kesalan."


"Cih!" Agnia mendelik. "Harusnya sekarang kamu pikirin temen-temen kamu. Pikirmu mereka akan aman gitu aja? Kamu sama Akbar bener-bener.. Dan ngapain juga kamu harus terlibat hah?! Dasar ceroboh."


Akmal entah kenapa justru tersipu, senang dengan omelan Agnia. Membuat Agnia merasa sia-sia saja berbicara pada Akmal.


"Malah senyum! Kamu becanda?"


Akmal lengsung menggeleng, tak ingin calon istrinya yang menggemaskan ini salah paham. "Enggak, aku cuma seneng aja diomelin Mbak." jawabnya jujur, kembali nyengir. "Gemes, jadi pengen bawa pulang."


"Terserah.." Agnia tak mau meladeni godaan Akmal, kini manyun dam melangkah pergi. "Kamu sama Akbar sama aja!" keluhnya lagi, seraya menjauh.


Melihat Agnia mengerucutkan bibirnya, Akmal makin senang. Terkekeh pelan. "Jangan masang ekspresi itu, Mbak.. itu makin menggemaskan."


.

__ADS_1


.


.


.


"Ayo, Mbak. Turun!" ucap Akmal, yang dirinya pun belum turun dari motornya. Menunggu Agnia turun lebih dulu, sebab demikian urutannya.


Agnia tak bergeming, betah duduk di motor Akmal. Marah sebenarnya, sebab Akmal memaksa dan mengabaikan penolakannya. Malah terus sesuka hati membawanya ke kediaman luas keluarga Akmal.


Akmal dibuat kembali gemas, tersenyum lagi. "Yaudah, Mbak diem aja. Nanti aku gendong."


Decakan keluar dari mulut Agnia, meskipun tak percaya dengan ucapan Akmal tetap saja ia takut sendiri. Akhirnya turun tanpa harus diminta lagi.


"Ini pemaksaan!" pelotot Agnia, mendelik tajam. Berucap penuh penekanan.


Akmal hanya mengendik, berdiri menatap Agnia yang manyun itu. "Emangnya kenapa? Aku gak ngajak Mbak ke tempat aneh, kok. Lagi pula rumah ini tampak sepi diluarnya aja, Bunda ada kok di rumah. Dan jangan lupa Mbak tadi bilang terserah."


Penjelasan Akbar yang seenaknya itu kembali dibalas helaan napas pelan oleh Agnia. Sekali lagi menatap Akmal dengan gemas.


Kapan ia setuju ikut ke rumah ini? Dan ini bukan soal sepi atau tidak, mana siap ia diajak menemui orang tua Akmal sendirian saja. Semua ada di pikiran Agnia.


"Udah, jangan banyak mikir. Banyak mikir buat orang semakin sesat." ucap Akmal, tersenyum sebelum kemudian melangkah lebih dulu.


Tak ada pilihan, Agnia mengekor Akmal saja. Sudah terlanjur juga ia disana.


"Assalamu'alaikum.." Akmal menerobos bebas pintu besar itu seraya mengucap salam dengan suara keras, sengaja supaya didengar oleh ibunya yang entah sedang dimana.


Agnia ragu-ragu masuk ke rumah itu, matanya langsung mengedar kiri kanan.


"Mbak, silahkan duduk. Anggap rumah sendiri.. aku cari Bunda dulu."


"Hemh.."


Sesuai perintah, Agnia duduk di sopa panjang ruang tamu itu. Membiarkan Akmal pergi sambil berteriak memanggil ibunya.


"Itu diambil tujuh tahun lalu, waktu Akmal masih SMP." Retno yang berbicara, seakan mendengar apa yang dipikirkan Agnia.


Agnia langsung menoleh ke arah suara, tersenyum. "Tante.." serunya, seraya bangkit dari duduk hendak menyalami.


"Foto lama ini, belum sempat diganti. Soalnya sekarang Akmal dan ayahnya sulit disatukan untuk momentum seperti ini." jelas Retno, tanpa diminta. Masih melangkah mendekat.


"Apa kabar sayang?" tanya Retno, setelah menyambut uluran tangan Agnia. Memeluk calon menantunya itu beberapa saat.


"Alhamdulillah, baik Tante."


"Yasudah, duduk lagi."


Agnia kembali mendudukkan bokongnya, di hadapannya Retno pun demikian. Kini saling berhadapan di satu meja.


"Harusnya kalian kabarin tante kaloau kesini. Tante jadi gak sempet masakin karena gak tau. "


Agnia menggeleng cepat. "Gak papa, Tante. Aku gak lama kok. Masih.. harus ngajar ba'da dhuhur."


"lho! Gak boleh dong, Gak boleh pulang begitu aja! Masih ada waktu sebelum dhuhur, jadi jangan pulang sebelum makan disini."


Agnia hanya bisa tersenyum, tak menemukan kalimat untuk menolak ataupun bersikeras.


"Jadi, selagi Tante masak.. kamu boleh keliling rumah ini sama Akmal, ya?"


"Gimana kalo ikut bantu aja, Tante?" usul Agnia.


"Ide bagus, tapi.. gak usah lah. Kamu tunggu Akmal aja disini, biar tante panggilkan sebentar. Ya? Jangan nolak atau mendebat."


Padahal bagaimana ia bisa mendebat, bahkan dirinya tak diijinkan bicara dan ditinggal begitu saja sebelum membuka mulut. Agnia menghela, persis sekali dengan Akmal jika sisi ini yang terlihat dari Retno. Menyadari kesamaan itu, Agnia takjub. Sudut bibirnya kembali terangkat.


Tak lama Akmal kembali muncul, membawakan segelas air. "Mbak kenapa senyum?" tanya Akmal tertarik.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, hanya menyadari kalo kamu sama Bunda mu itu sama persis."


"Iyalah, aku anaknya." Akmal berucap bangga. "Tapi.. satu pertanyaan."


"Apa?" Agnia menaikkan alisnya, penasaran dengan pertanyaan yang membuat wajah Akmal jadi serius.


"Mbak suka sama Bunda?"


Agnia mengangguk. Dalam hati bingung kenapa ditanya seperti itu. "Ya.. kenapa enggak?"


"Apa yang Mbak suka dari Bunda?"


"Kamu bilang satu pertanyaan."


"Apa susahnya jawab?"


"Bener-bener, ya.. emangnya kenapa?"


Akmal nyengir sebelum menjawab tanya Agnia, membuat Agnia segera membaca situasi. Merasa curiga dengan senyum itu.


"Gini. Mbak kalo suka sama Bunda ku, harusnya suka juga sama aku. Apa ya.. orang bilang? sebelum melihat siapa orang yang kita cintai, lihat dulu keluarganya."


Agnia mencebik. "Jangan bilang itu juga yang kamu liat dari saya."


"Memang." Tanpa disangka Akmal mengangguk. "Aku liat Om, Tante, apalagi Akbar. Sebab dia temenku" jawab Akmal, menaik turunkan alisnya.


"Dih!! Kalo gitu harusnya kamu nikahin Akbar aja, dasar konyol."


Akmal mengernyit, ia salah bicara? Ada apa dengan wajah tertekuk Agnia yang tiba-tiba itu? Apa Agnia sedang cemburu pada Akbar? pikir Akmal saat ini.


.


.


.


.


Akbar tengah berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di depan dada, ekspresinya luar biasa datar tanda serius. Menanti Agnia yang kini melangkah ke arah rumah. Matanya mulai berkilat sebal saat sosok Agnia makin mengikis jarak, sementara yang ditunggu sama sekali tak sadar. Melangkah tanpa beban.


Sesaat setelah jarak mereka tinggal satu langkah lagi Agnia mendongak, mata mereka bersitatap. Sejenak mematung dan hening.


"Apa?" Agnia bertanya datar, bingung kenapa Akbar menghalangi jalannya. Dan terus menatapnya seperti itu seakan mencari ribut.


Akbar mendengus, memberikan tatapan intimidasi. "Bisa-bisanya jalan sama Akmal, sementara adiknya berjuang sendiri."


Agnia terkekeh, dramatis sekali adiknya. Hingga memakai kata berjuang.


"Aku serius!" Akbar melotot, sebal sekali ucapannya justru dianggap lelucon hingga harus ditertawakan.


"Okay." Agnia mengakhiri senyumnya, menatap adiknya lekat. Ujung matanya melihat telinga Akbar yang merah sekali, membuat Agnia segera tau apa yang dimaksud berjuang oleh Akbar. "Maaf." Agnia menatap lembut Akbar. "Katakan, apa yang terjadi disana?"


Ucapan lembut Agnia tak mempan, Akbar justru makin menggila untuk menghakimi kakak perempuannya yang ia rasa tega sekali saat ini. "Jangan pura-pura gak tau, Mbak udah liat telingaku. Monster itu narik telingaku tanpa ampun, sampe rasanya mau putus."


"Monster? Teganya bilang kayak gitu."


"Mas Hafidz yang tega, Mbak juga."


Agnia tersenyum membalas kemarahan Akbar, mengarahkan jarinya mencubit gemas pipi Akbar yang tentu langsung ditepis.


"Jangan marah! Mas Hafidz baik tujuannya, meskipun.. mungkin sekalian melampiaskan."


"Dih!"


"Udah, jangan marah. Sini.." Agnia mengarahkan pelukan pada Akbar, menepuk pelan punggung Akbar. "Adikku yang malang ini, sudah melewati banyak hal."


Anehnya Akbar diam setelah dipeluk, luluh. Tak lagi berapi-api tak jelas. Namun meski begitu, kekesalan pada kedua kakaknya tak begitu saja lenyap. Dalam hati memikirkan siasat, Agnia harus membayar mahal setelah menjebaknya.

__ADS_1


__ADS_2