
Mari bersama,
Sehidup sesurga.
Satu cinta, satu bahtera
yang menyatukan dua raga dalam satu nama.
Bernapaskan kasih dan suka.
Yang kita sebut cinta.
°°°
Akmal duduk bersandar dengan mata yang entah kemana, pandangannya. Duduk di kursi sendirian saja, Melamunkan sesuatu. Tampak payah sekali, sesaat kemudian menghela panjang. Berucap agak keras. "Ahh! Membosankan!" keluhnya.
Dari dapur, Agnia yang bergelut dengan pisau dan beberapa buah-buahan menoleh ke arah suara. Meski tak melihat sosok yang mengeluh itu, ia tetap mencebik. "Baru dua hari, jangan terburu-buru bilang bosan." sindir Agnia.
Akbar mendecak, benar-benar kakaknya ini. Reaksiacam apa itu.
Tak mendapat jawaban, Agnia kembali berucap. Lebih keras supaya didengar adiknya. "Kamu bukan satu-satunya yang di skors, jadi jangan berlebihan!"
"Hemh?" Akbar tanpa sadar menaikkan alisnya, tak mengerti apa yang hendak diberitahukan Agnia padanya.
"Kalian bertiga kayaknya memang gak bisa dipisahkan, selalu berkaitan." ucap Agnia lagi yang makin membuat Akbar tak paham.
"Maksud Mbak apa sih? Siapa yang di skors? Wildan? Tapi sama siapa?"
Agnia untuk sesaat terheran. " Lho! Akmal sama Asma juga di skors, kamu gak tau?" tanya Agnia, sudah berjalan menuju meja makan kali ini. Membawa semangkuk potongan dadu campuran buah.
Akbar masih dalam proses mencerna, pasalnya tak ada satupun kawannya yang memberi tahu. Di lain sisi merasa kecewa luar biasa.
"Akmal sama Asma juga?" Akbar kembali bertanya, sekali lagi memastikan.
Agnia mengangguk. "Ya." tangannya sibuk menuangkan dua cairan putih yang berbeda ke dalam campuran buah segarnya.
Akbar menghela gusar, frustasi. Geram sekali kenapa semua semakin rumit dan merambah banyak orang.
"Mbak ngerasa aneh gak sih?" Akbar mengernyit, menoleh Agnia. "Segampang itu kampus ngasih putusan sesaat setelah Wildan mengancam Akmal. Seakan.. dia punya seseorang berpengaruh di belakangnya. Ya kan?"
Agnia mengendikkan bahunya sesaat setelah pura-pura berpikir, tak tertarik menambahkan persangkaan Akbar yang memang tepat sekali.
"Ahh! Kenapa gak satupun yang ngasih tau?" Akbar mengeluhkan hal lain lagi. "Dan Akmal.. sialan dia, lebih milih ngasih tau Mbak dibanding aku."
Agnia tak menyahut, membiarkan Akbar bersama pikirannya yang kacau itu. Masih diam dengan apa yang sedang dikerjakannya.
Sesaat kemudian Agnia menghela napas pelan, menoleh Akbar sudah diam dan tampak berpikir keras. Melangkah mendekat, menyodorkan salad buah pesanan Akbar.
"Udah, jangan over thinking! Makan saladnya."
__ADS_1
Akbar mencebik, menatap Agnia dengan delikan khasnya. Makin yakin jika kakaknya ini memang ahli dalam mengabaikan orang lain.
"Tega banget, padahal adik, calon adik ipar, sama calon suaminya kena musibah." cicit Akbar, seraya tangannya mulus meraih salad buah buatan Agnia. Wajahnya lebih mulus lagi, tanpa dosa berucap demikian.
Agnia gemas sekali, bisa-bisanya Akbar berkata sepercaya diri itu saat menamakan Asma sebagai calon adik iparnya. Kini tangannya sudah berkacak pinggang, tanda siap mengomel.
"Musibah? Mungkin yang kamu maksud itu masalah. Masalah yang berasal dari ulah tangan kamu sendiri." pelotot Agnia, yang kini giliran tersungut sebal, tak paham mengapa adiknya ini tak pernah belajar.
Akbar nyengir lebar menunjukkan gigi rapihnya, seram juga jika seperti ini. Menatap lembut Agnia yang kurang merespon, namun sekalinya bicara bisa membuat orang lain ketar ketir.
"Udah, jangan marah! Kita makan sama-sama." ucap Akbar kemudian, meniru cara bicara Agnia tadi seraya menepuk kursi di sebelahnya. Kode supaya Agnia duduk disana.
Agnia tentu tak tertarik, menggeleng segera. Sekarang dirinya berada di kondisi yang tidak tertarik dengan makanan apapun, kenyang sekali setelah makan siang di rumah Akmal. Ditambah Akbar yang rese sekali dan banyak minta.
"Kenapa? Ngambek?"
"Kenyang." jawab Agnia segera, setengah berteriak. "Kamu buat Mbak gak berselera." ucapnya lagi, ketus sekali. Langsung pergi setelah berucap demikian.
Akbar jadi bingung sendiri setelah Agnia pergi begitu saja, Merasa ada yang salah. "Lho! Kenapa jadi gue yang dimarahin?" gumamnya seraya menghela pelan.
Agnia kembali ke kamarnya, langsung merebahkan diri di ranjang empuknya. Menghela napas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Sesaat ingin menyamankan dirinya.
Senyuman tiba-tiba saja muncul di wajah Agnia, beberapa ingatan baik yang baru saja tercipta melintas kembali di kepalanya saat ini. Kontras dengan wajah jengkelnya pada Akbar tadi, senyumnya begitu indah tersuguh.
...
Hidangan yang penuh memenuhi meja membuat Agnia tak bisa berkata-kata, hanya bisa melempar tatapan pada Akmal. Bohong sekali saat Retno mengatakan tidak sempat memasak, dengan waktu yang singkat mana mungkin semua masakan ini terhidang.
Retno datang lagi bersama satu piring lainnya, untuk kemudian duduk di kursinya bersebrangan dengan Agnia. senyumnya seperti biasa begitu cerah, terlebih saat kedatangan Agnia.
"Maaf ya, Agni.. Tante cuma bisa masakin seadanya." bohong Retno, namun tak sepenuhnya bohong sebab Akmal tergesa-gesa memaksanya bersiap. Anak tunggalnya itu yakin sekali berjanji akan membawa Agnia ke rumah mereka, jadilah semuanya harus diurus dengan pengiriman makanan.
"Gak papa, Tante." Agnia tersenyum canggung. "Ini.. cukup.. banyak." Agnia sedikit tergagap, dalam hati bingung bagian mana yang disebut seadanya. Padahal dari mulai sambal, lalapan, lauk, juga kerupuk ada. Seakan semua makanan ini disuguhkan untuk beberapa orang.
Retno yang tak mengerti gurat wajah Agnia kembali tersenyum tanpa beban. "Lain kali, ajak ibumu. Tante janji masakin menu yang lebih dari ini." ucap Retno sungguh-sungguh, yang membuat Agnia panik di saat bersamaan. Lebih dari ini? Kini Agnia tau jika keluarga Akmal bukan main-main, sederhana diluar namun royal di dalamnya.
Akmal kembali tersenyum, melihat dua orang itu. Menggemaskan sekali, membuatnya semakin yakin jika Agnia akan cocok jika masuk ke keluarga ini. Meskipun canggung, namun senyum yang dipancarkan Agnia tak bisa berbohong.
"Ayo makan, sayang.. Akmal, ayo!"
"Iya, Tante."
Semua pasti mengalami proses seperti ini, Agnia pun sekali pernah merasakan ketegangan yang sama bertahun lalu ketika pertama kalinya dipertemukan dengan orang tua Adi. Hanya saja, berbeda dengan dulu, saat ini Agnia merasa sangat nyaman bersama keluarga ini. Entah kenapa.
Makan siang penuh kehangatan itu akhirnya selesai, Agnia meneguk airnya untuk terakhir kali. Sedetik kemudian jadi bingung lagi, mengulum bibirnya ragu untuk bicara.
Akmal yang seakan tau saja apa yang dipikirkan dan jadi resah bagi Agnia, kembali menatap penuh pengertian. Langsung berucap lembut.
"Mbak, aku tunggu di depan ya. Aku antar pulang segera."
__ADS_1
"Emh.." Agnia bingung, menoleh Retno sejenak. "Iya, tapi.. nanti, saya bantu beresin ini dulu."
"Gak usah." Retno segera menggeleng. "Semua ini nanti ada yang beresin kok, kalian pergi aja. Kamu buru-buru kan?"
Agnia masih bingung, kembali melirik Akmal sejenak. Rasanya tak sopan sekali jika langsung pergi begitu saja.
"Gak papa. Pulang aja." Retno kembali meyakinkan. Tersenyum.
"Emh.. iya, Tante.." Agnia tersenyum canggung.
"Tapi.. ada satu hal yang mengganggu tante." Retno kembali memotong, sesaat sebelum Agnia bangkit dari duduknya.
"Hubungan kalian bukan main-main, jadi. Sebaiknya Akmal gak perlu panggil Agnia dengan sebutan Mbak lagi." ucap Retno, menatap Akmal.
"Dengan senang hati." Akmal bak diberi umpan, langsung menyahut. Mengendikkan bahunya, tak masalah.
"Dan.." kini Retno beralih menatap Agnia. "Tante harap kamu gak terlalu kaku, dari pada memakai saya anda, kenapa gak aku kamu?"
Agnia kembali dibuat tak berkutik, khas Akmal dan ibunya sekali. Keduanya seperti punya kekuatan membuat semua m dengan senang hati menuruti keinginan mereka.
"Ya?"
Agnia tersenyum tipis, malu-malu. Mengangguk pelan.
Akmal melangkah memimpin, sesaat kembali menoleh melihat Agnia yang masih ijin pada ibunya. Sejenak menunggu untuk menyamakan langkah. Curi-curi pandang melirik Agnia dari tempatnya berdiri saat itu.
"Jangan liatin saya kayak gitu!" protes Agnia, kini hanya mereka berdua di halaman.
"Saya?" Akmal mengernyit, Agnia bermain formal lagi dengannya.
"Kenapa? Kamu pikir saya serius dengan anggukan saya tadi?"
Akmal terkekeh pelan, lantas menggeleng. "Enggak kok, aku tau Mbak pasti begitu."
"Mbak?" kini giliran Agnia yang mengernyit, meniru gaya Akmal tadi.
Akmal mengangkat bahunya. "Gimana lagi, kalo panggil sayang kan belum waktunya."
Agnia mendengus pelan, namun tak bisa menutupi senyumnya. Tatapan Akmal bersama kalimat itu adalah paduan sempurna untuk mengobrak abrik hati para wanita.
...
Sebagaimana rapatnya ditutupi pun, luluhnya hati Agnia tak bisa ditutupi serapih itu. Apalagi dari dirinya sendiri. Hati Agnia semakin hari penuh dengan kehangatan, luka masa lalu itu terabaikan perlahan. Hanya saja Agnia masih enggan mengakuinya.
Masih ada perasaan aneh jika mengingat Akmal yang tiga tahun lebih muda darinya. Menikahi seseorang yang usianya sama dengan sang adik? Agnia terhalang pemikiran asing itu.
Hanya saja untuk saat ini, Agnia memilih menjalani saja perasaannya. Perasaan bak remaja baru dimabuk asmara. Perasaan yang sekian lama ia hindari.
Namun ditengah senyuman itu, Agnia kembali diingatkan pada cincin yang belum ia temukan kala menoleh sisi kiri kamarnya. Spontan Agnia bangun, mendudukkan tubuhnya. Menghela frustasi, kembali merutuki kecerobohannya.
__ADS_1
Agnia pusing sekali, apa yang harus ia katakan nanti jika Akmal menagih cincin itu. Belum lagi soal skorsing tiga orang kurang beuntung Akbar Akmal dan Asma yang secepat mungkin ingin ia akhiri.
Satu hal yang pasti, romansa antara Akmal dan Agnia belum diijinkan sekarang ini. Masih ruwet dengan masalah internal dan masalah kecerobohan antara keduanya.