Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
79. Janji Akmal


__ADS_3

Aku tak pernah berjanji,


Meski sering menepati.


Tak pernah bersumpah,


Meski sering mewujudkan.


Maka saat dua hal itu terucap,


Silahkan percaya sepenuh hati..


Biar sekuat tenaga aku akan tepati.


°°°


Akbar masih bermalas-malasan di sopa panjang, bertumpang kaki sambil memainkan ponsel. Jadi berlipat kali malas setelah masalah itu, bahkan adzan dhuhur yang berkumandang tak membuatnya cepat-cepat pergi shalat.


"Bosen!" Akbar mengeluh lagi pada dirinya sendiri, untuk kesekian kalinya mengucapkan hal yang sama. Sesaat meregangkan tubuhnya sebelum pergi ke kamar, tergugah untuk shalat setelah menungga lima belas menit.


Namun langkahnya entah kenapa berbelok menuju kamar Agnia, iseng saja ingin tau apa yang sedang dilakukan kakak perempuannya itu.


"Mbak?!" panggil Akbar, seraya membuka pintu kamar Agnia tanpa dipersilahkan seperti biasanya.


Agnia menoleh, menatap kikuk adiknya. Masih bermukena lengkap saat kedapatan mengobrak abrik kasurnya.


Akbar meloloskan dirinya ke kamar itu, menatap penuh pertanyaan.


"Cari sesuatu?"


Agnia mengakhiri cari mencarinya saat Akbar masuk, menghela pelan seraya berdiri menghadap Akbar. Siap mengeluarkan keluhan sama di hatinya.


"Berapa kali harus mbak kasih tau, sebelum masuk itu ketuk pintu dulu."


Akbar tak menyahut, justru tersenyum tipis. Bosan sekali mengatakan maaf, ia masih penasaran dengan jawaban Agnia.


"Cari apa?" ulang Akbar. "Masih cari yang waktu itu?"


"Ada pokoknya." singkat Agnia, suaranya terdengar malas.


Akbar mencebik. "Ih ditanya! Jawab yang bener dong Mbak, siapa tau aku bisa bantu cariin."


Agnia mengulum bibirnya, ia memang pernah berpikir untuk bertanya pada Akbar, tapi sekarang tidak lagi. Jika ia saja tak menemukan cincin itu, bagaimana Akbar bisa? Dan andai Akbar yang lebih dulu menemukan cincin itu sudah pasti ia akan mengganggunya setiap saat.


"Bros." singkat Agnia, hanya itu yang terlintas di kepalanya.


Akbar langsung terkekeh. "Bros? Bros yang mana? Kayaknya istimewa banget sampe dicariin."


Tawa Akbar membuat Agnia aneh, entah apa maksudnya. Merasa ada sindiran tersirat disana.


"Gak usah ketawa, itu gak membantu."


"Orang mau dibantu juga gak jelas, beneran bros?"


Agnia tak bisa berucap hal lain lagi, tak mau semakin berbohong. Menatap tajam Akbar, yang terkesan meragukan ucapannya.


"Kalo gak mau dibantu, yaudah.." Akbar mengendik acuh tak acuh. Beranjak menuju ranjang Agnia.


"Yaudah." Agnia tak mau kalah, mengendik tak peduli. Melihat Akbar yang malah mendudukkan bokongnya di kasur, Agnia jadi terheran. "Terus ngapain masih disini?" tanyanya malas. "Keluar! Bukannya shalat malah kesini."

__ADS_1


Akbar manyun, tak terima diusir padahal ingin membantu. Namun tak bisa menafikan jika dirinya memang belum shalat.


"Mbak tau aku belum shalat?"


"Tau, keliatan." ketus Agnia, yang sebenarnya bohong. Ia hanya asal bicara tadi.


Jawaban Agnia itu hanya membuat Akbar bingung, mana bisa sudah dan belumnya seseorang shalat bisa terlihat secara lahiriah.


Akbar menghela sesaat kemudian, bergumam pelan. "Males."


Gumaman itu berhasil membuat Agnia heran luar biasa. Menatap tak percaya adik tengilnya itu. Bisanya berucap semacam itu. "Astaghfirullah.. Ngomong apa tadi?"


"Apa? Ngomong apa? Aku gak ngomong apapun sampe Mbak harus istighfar." protes Akbar.


"Ish ni anak!" Agnia melotot, siap meninggikan suaranya. "Ya, Mbak memang gak seharusnya istighfar. Karena yang harusnya istighfar itu kamu."


Akbar mendecak, tak terima pelototan Agnia. "Apa si Mbak, toh aku gak bilang gak akan shalat."


"Denger ya, adikku sayang.. jangan karena kamu sedang ada masalah, terus kamu biarin keimanan kamu itu juga bermasalah. Gimana kalo Allah bukannya mempermudah, malah mempersulit karena kamu begini?"


"Ngomongnya.."


"Ya makanya.. cepet shalat sana! Udah gak berjamaah, shalatnya dinanti nanti lagi."


.


.


.


.


"Bunda suka deh, sama Agnia." ucap Retno.


Retno tersenyum. "Kamu juga kan?"


Akmal balas tersenyum, tentu saja. Tak perlu ditanya lagi.


"Kayaknya kita klop, Bunda gak pernah lho kayaknya seumur hidup bisa akrab sama anak gadis."


Akmal terkekeh. "Itu karena Bunda sama Tante Khopipah berteman, jangan berlebihan."


"Gitu ya?" Retno ikut terkekeh, benar juga. "Tapi bunda serius lho, Bunda gak mau yang lain. Cukup Agnia."


"Keinginan Bunda adalah perintah." ucap Akmal.


Retno tersenyum senang, puas dengan jawaban itu. "Pinter.." ucapnya, seraya mengacak pelan rambut Akmal. Untuk kemudian bangkit dan berlalu, meninggalkan Akmal yang terheran. Ia dianggap dewasa saat disuruh menikah, namun dianggap bocah manja saat Bundanya itu mengacak rambutnya.


Senyum Akmal tak hilang, mengikuti langkah Retno yang menjauh. Ingatan bersama Agnia terlintas setelah itu.


...


"Maaf ya, Mbak. Bunda memang kayak gitu."


Agnia menoleh dengan alis bertautnya, matanya yang tadi sibuk memperhatikan foto-foto yang dipajang di salah satu ruangan rumah besar Akmal. Kini beralih pada Akmal, menanti penjelasan.


"Maksudnya?"


"Bunda terlalu ekspresif, kadang buat orang disekitarnya canggung. Takutnya itu buat Mbak gak nyaman."

__ADS_1


Agnia mengangkat bahunya. "Siapa bilang? Saya oke aja kok. Justru.. yang buat saya gak nyaman itu kamu, bukan Bunda mu."


Jawaban jujur Agnia berhasil memantik kekehan Akmal.


"Kenapa ketawa? Saya serius."


Akmal mengangguk, mengakhiri kekehannya. Setuju, tatapan Agnia memang menunjukkan keseriusan.


"Baiklah.. tapi meskipun Mbak gak nyaman sama aku, aku gak akan pergi."


"Gak perlu pergi, saya yang akan pergi." timpal Agnia, santai.


Akmal tak bisa menahan senyumnya, gemas sekali dengan ucapan Agnia yang seperti ini. Seakan candu. Namun bukan Akmal jika tersinggung begitu saja.


"Gak masalah kalo sekarang Mbak gak nyaman, aku akan berjuang supaya Mbak nyaman dan gak bisa jauh dari aku. Itu janji aku."


Agnia mendelik tipis, sama sekali tak terkesan dengan ucapan Akmal.


"Baiklah.. Selamat berjuang. Dan semoga berhasil." balas Agnia ketus. Untuk seperdetik kemudian sudah mengalihkan matanya ke foto-foto keluarga Akmal.


Akmal menghela napas panjang, sekilas menoleh arah sama tatapan Agnia. Sesaat kemudian kembali menatap Agnia yang jelas sekali menghindari tatapannya.


"Aku pastiin Mbak, foto pernikahan kita akan terpasang di ruangan ini. Ini janji aku."


Untuk kalimat itu Agnia kembali menoleh dibuatnya, tatapan ketus itu hilang. Cukup lama menatap mata Akmal lekat, hanya saja Akmal tak tau arti tatapan itu, pun tak bisa menebak apakah kalimat sungguh-sungguhnya itu membuat jantung Agnia berdetak lebih cepat atau tidak.


...


Kepala tertunduk anak-anak mengisi indera penglihatan Agnia sekarang, anak anak yang sedang fokus menulis itu anteng seperti biasa. Damai sekali.


Agnia mengulum bibirnya, di situasi senggang yang singkat seperti ini pun hanya satu orang yang mengisi ingatannya.


"Aku pastiin Mbak, foto pernikahan kita akan terpasang di ruangan ini. Ini janji aku."


Kalimat itu terngiang lagi di telinganya, apalagi senyum dan tatapan penuh keyakinan Akmal berhasil membuat hatinya luluh kembali.


"Astaghfirullah.." Agnia menggelengkan kepalanya, mengenyahkan bayangan Akmal yang mengganggu pikirannya. Tak boleh, ia tak bisa seenaknya memikirkan Akmal.


Memang hanya pernikahan yang memberi solusi saat demam cinta menjalar, untuk satu dua hal supaya menghindari zina terlarang yang berawal dari hal kecil seperti yang terjadi pada Agnia sekarang ini.


Apalagi Agnia sudah berada di usia yang ideal sekali untuk menikah, hanya saja jika membicarakan ideal timbul satu pertanyaan;


Apa Akmal sudah siap dan berada di usia ideal untuk menikah?


Tingkat kedewasaan yang berbeda antara pria dan wanita menjadi pertimbangan bagi beberapa wanita. Bukan tanpa sebab, pria cenderung lebih susah untuk dewasa. Meski tak semua hal diukur dengan usia.


Saat ini, Agnia hanya bisa menyerahkan semuanya pada yang kuasa. Dihari lalu ia begitu bersemangat dengan pilihannya, kali ini biar Allah yang tentukan.


Helaan napas panjang keluar dari mulut Agnia, sebal sekali kenapa pikirannya jauh sekali.


Matanya kimi beralih pada jendela madrasah yang cukup rendah itu, kembali teralihkan oleh kerajinan kecil yang terpasang cantik disana. Agnia kembali mendengus, heran sekali kenapa ia lagi dan lagi melihat sesuatu yang berkaitan dengan Akmal.


Entah sebab ia yang memang sudah sangat jatuh hati pada pria itu, atau memang Akmal yang sudah begitu menyelami kehidupannya sehingga pria itu kini ada di setiap hal kecil di sekitar Agnia.


Agnia kembali menggeleng, kenapa dengan dirinya. Satu hal yang pasti, Agnia harus kembali menyibukkan dirinya supaya lupa dengan hal-hal sepele itu.


"Sudah?" tanya Agnia, saat dilihat salah satu muridnya yang sudah mengangkat kepalanya dari buku.


Anak gadis yang duduk paling belakang itu mengangguk, tersenyum. Sebenarnya sudah cukup lama memperhatikan tingkah gurunya yang tampak sedikit aneh hari ini. Ia jadi merasa khawatir.

__ADS_1


...


next; pertemuan dengan Gian?


__ADS_2