Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
119. Fiki: Dilamar siapa?


__ADS_3

Cincin pertunangan sudah dipakai, Retno sendiri yang memasangkan cincin itu pada Agnia. Pertanda jika lamaran itu sudah diterima dan Agnia tidak lagi bisa bebas didekati pria lain.


Cincin yang semula sempat membuat kesalah pahaman kini sudah berada pada jari lentik Agnia, siapa sangka jika itu benar-benar terpasang di sana. Akmal lega, cincin yang ia beli item berada pada jari seseorang yang ia inginkan.


Pas sekali cincin itu di jari manis Agnia, Retno sekilas menoleh putranya sembari mesem tipis saat cincin itu selesai ia pasang. Takjub, memuji selera juga ketepatan ukurannya.


Khopipah tersenyum, menoleh Retno dengan tatapan paling bahagia. Akhirnya, harapan mereka terwujud. Harapan yang dulu sekali mereka ucapkan sambil bergurau.


Siapa tau gurauan masa muda mereka benar terjadi, wujud dari definisi ucapan adalah do'a.


Saking senangnya dan kagumnya Retno pada Khopipah saat masa mondok di pesantren dulu, ia selalu memuji bahkan mengutarakan harapannya untuk menikahkan anaknya pada anak Khopipah.


Saat itu Khopipah hanya tertawa, tak tau jika bertahun-tahun kemudian memang terwujud.


Setelah keluar pesantren bahkan menikah mereka tidak lepas komunikasi, bahkan hingga saat ini.


Harapan Retno untuk menjodohkan anaknya pupus begitu saja saat pada kenyatannya mereka tidak melahirkan anak di usia yang cocok. Apa lagi saat Agnia tau-tau sudah akan menikah saja tiga tahun lalu.


Namun tiga bulan kebelakang, saat kembali bertemu Agnia Retno kembali terkesan. Bak melihat Khopipah yang ia kagumi pada diri Agnia.


Saat itu niatnya yang pernah terkubur kembali ia utarakan. Dan reaksi Khopipah? Ibu dari tiga orang anak itu tertawa sumbang.


"Ya maunya seperti itu, tapi baik Akmal atau pun Agnia Mbak rasa gak akan setuju." demikian jawaban Khopipah yang pada awalnya juga mengkhawatirkan perbedaan umur antara Akmal dan Agnia.


Retno kini senang, membalas tatapan Khopipah dengan tak kalah hangat. Kini terbukti lah jika harapannya selangkah lagi akan terwujud, anak Khopipah sebentar lagi akan jadi menantunya.


.


.


.


.


Malam makin larut, langit gelap malam ini disinari bulan. Mencipta terang yang tampak dari jendela kamar, ditambah lampu teras yang menembus melalui celah gorden.


Agnia tak tidur, berbaring memunggungi Yesa yang terlelap di sebelahnya. Mengjadao jendela, matanya mengarah pada terang yang datang dari sana.


Rasanya masih tak percaya, Agnia tak sejauh itu berpikir akan kembali mau untuk jatuh hati. Namun saat ini matanya enggan terpejam, degup jantungnya masih memburu setiap ingat peristiwa bersejarah tadi.


Ya, ia sudah satu langkah untuk menjadi milik Akmal. Ini tak lagi terasa mimpi, sebab Agnia sudah harus bangun dan menjalani kenyataan. Pernikahan mereka sudah ditentukan, sebelum ramadhan waktunya.


Tandanya kurang dari dua bulan, ia dan Akmal akan bersama. Ramadhan ini ia insha Allah sudah menjadi istri.


Agnia menghela, pikirannya sudah terlalu jauh. Dengan penuh kesadaran ia memutuskan untuk tidak dengan mudah jatuh cinta, tidak sebelum benar-benar menikah.


Agnia mengubah posisi tidurnya jadi terlentang, matanya yang masih tak mau bekerja sama mengarah pada langit-langit kamarnya yang lenggang dan gelap itu.


Yesa yang tidur di sebelah Agnia bergerak pelan, tidurnya mudah sekali terganggu. Mungkin sebab kebiasaannya selaam di asrama, hingga gerakan kecil Agnia saja cukup untuk mengusiknya. Matanya perlahan terbuka.


"Emh? Udah subuh?" Yesa bertanya, suara serak khas bangun tidur kentara sekali.


"Belum, masih lama. Tidur lagi aja!"


Yesa untuk sesaat diam, ia linglung dan sempat mencerna sedang dimana dan dengan siapa ia. Setelah nyawanya kumpul sempurna, Yesa lantas meraba keberadaan ponselnya dalam kegelapan.


Matanya memicing, memastikan angka yang tertera di layar ponselnya. Benar saja, masih pukul sepuluh ternyata. Ia yang cepat tidur sebab lelah menyangka jika tidurnya sudah cukup lama, tapi nyatanya tidak.


Yesa tak tidur lagi, setelah kantuknya benar-benar hilang memilih bangkit dan menyelonjorkan kakinya di atas kasur bulu yang ia tiduri.


Agnia memperhatikan tingkah Yesa, demi melihat itu memutuskan ikut bangkit dan duduk bersila. "Kenapa?" tanyanya setengah berbisik, tak mau membangunkan Zain juga Puspa yang tidur di ranjang miliknya.


"Mbak gak tidur?" Yesa balik bertanya, mulutnya terbuka menguap bebas.


"Baru mau."


"Emh.." Yesa mengangguk, sesaat mengulum senyumnya. Paham jika kakak sepupunya ini pasti tak bisa tidur sebab efek lamaran tadi.


Agnia tak melihat senyum yang diulas Yesa, keadaan kamar yang gelap jadi penyebabnya.


"Mbak.. masak mi yukk.." ajak Yesa. Jika biasanya saat bangun tengah malam ingat untuk shalat tahajud, kali ini ia justru ingat dengan makanan.


Saat yang langka ini harus dimanfaatkan, tak setiap saat ia bisa menghabiskan waktu bersama Agnia. Sebelum pulang dan kembali ke pondok, setidaknya ia harus menikmati saat seperti ini.


...

__ADS_1


"Emh.. ini yang terbaik!" pekik Yesa saat mie goreng berminyak tersuguh di hadapannya, dan sudah ia sendok saja ke dalam mulut. setelah cukup lama menunggu Agnia sat set sat set di dapur sambil mengotak atik ponselnya, makanan yang menggunggah selera dan tak mengecewakan akhirnya datang.


"Ah! Lupa.. belum foto.." Yesa rusuh sendiri, mi yang sudah ia garpu dan siap mauk ke mulutnya ia letakan kembali. Buru-buru mengarahkan kamera ponselnya sembari menata kembali mi itu. "Sini, punya Mbak juga.."


Agnia terkekeh memperhatikan kelakuan Yesa, mi nya ia pasrahkan untuk sesaat jadi objek foto Yesa.


Yesa nyengir, membalas tatapan Agnia yang seakan memeberi tahu jika ia sedang menunggu. Tak lama setelah menyodorkan semangkuk mi kuah milik Agnia, Yesa kembali fokus pada mi nya.


"Ini apa namanya, Mbak? Seblak?" tanya Yesa, masih belum menyuap dan sibuk membolak balik mi di piringnya. Mencari tahu apa yang sebenarnya membuat mi instan itu terasa berbeda. Cincangan bawang putih, bawang merah, juga cabai terlihat di dalam sana.


"Mie nyemek."


"Oh! Iya, aku liat tuh.. di toktok.."


Agnia mengangguk, tau betul jika Yesa pecinta pedas. Malam ini spesial ia buatkan, toh cara buatnya tak memakan waktu yang banyak.


"Dan ini lebih baik dari itu.." ucap Yesa sembari menunjuk dengan dagunya mi kuah Agnia yang standar sekali di matanya.


Agnia mencebik tipis. "Ini soal selera, jangan menghakimi!"


"Hemh.." Yesa hanya bergumam demikian, memilih menikmati mi nya sementara Agnia berjalan ke arah kulkas hendak membawa sesuatu.


Tak lama Agnia kembali dengan dua gelas teh dingin dibawanya, seakan mengerti isi hati Yesa. Yesa makin berbinar, sempurna lah bangunnya ia malam ini.


"Makasih.." ucap Yesa manis setelah segelas teh manis dingin disodorkan ke arahnya, menerima dengan senang hati.


Itu seperti pelayanan khusus, demi adik sepupu yang jarang bisa ia temui itu. Agnia beranjak duduk setelahnya, mulai menyendok kuah mi yang masih mengepul itu. Sempurna, malam dingin dihangatkan kuah pedas dan diakhiri teh manis dingin.


"Oiya, Mbak.." Yesa kembali membuka mulutnya, menatap penasaran.


"Apa?"


"Mbak.. kenal Akmal dari Akbar?" tebak Yesa, bertanya dengan tatapan serius hingga tangannya berhenti dari mi yang katanya ia sukai itu.


Agnia menggeleng. "Bukan.."


"Oh! Kalian kenal sendirinya?" tanya Yesa, yang kembali dibalas gelengan pelan Agnia. "Terus?" kernyitan kini muncul, tak bisa percaya begitu saja jika mereka murni dijodohkan dan itu berhasil.


Hey! Mana ada jaman sekarang kisah seperti itu? Kuno dan sedikit dipandang rendah. Demikianlah jika bisa dibaca isi kepala Yesa.


Yesa mengangguk, cukup paham namun.. "Tapi Mbak, kok kalian bisa cocok? Maksud aku perjodohan itu kan jaman seka.." Yesa urung meneruskan ucapannya, ia sduah ditatap penuh peringatan oleh Agnia.


Agnia menghela, kenapa Yesa penasaran sekali dengan kisah pertemuannya. Apa pentingnya itu? Pun saat ini ia hanya ingin menikmati makanannya, jadi bisakah Yesa berhenti bertanya?


Saat itu Yesa belum sempat mengeluarkan senyum pamungkasnya, mereka sudah lebih dulu didatangi suara menggelegar Akbar. "Wahh makan-makan gak ngajak.."


Akbar datang, tentu saja terpancing aroma mie yang sampai ke hidungnya. Ia belum tidur dan tengah duduk di depan komputernya saat merasa lapar, jujur saja tak bisa tidur sebab Hafidz juga pamannya numpang tidur di kamarnya. Dengkuran mereka mengganggu, Akbar memutuskan diam-diam bermain game. Tentunya dalam mode silent, jika Hafidz bangun sudah pasti ia dihajar.


Seperti kebiasannya, lapar datang. Namun kali ini datang lebih jadi Akbar segera saja turun. Beruntungnya, aroma sedap yang menyapa hidungnya membuat Akbar yakin jika bukan ia satu-satunya yang lapar.


Akbar mengambil tempat di sebelah Yesa, kursi yang didudukinya ia dekatkan pada kursi Yesa. Membuat Yesa mendelik curiga, segera melindungi mi nyemek yang sama sekali belum habis setengahnya ia makan.


Akbar nyengir. "Bikinin dong.." ucapnya sembari menaik turunkan alisnya.


"Enggak. Buat sendiri aja sana! Ini juga Mbak Agni yang masakin"


"Oiya?" Akbar beralih menatao Agnia. "Mbak.. kok aku gak pernah dibuatin, sih!"


Agnia menghela, sendok yang ia pegang ia lepaskan. "Bentar, Mbak masakin dulu." ujarnya sembari bangkit, terdengar setengah tak ikhlas.


"Coba, dong!"


...


Cukup lama Agnia di dapur, hingga datang dengan sepiring mi goreng nyemek untuk Akbar.


Akbar mengakhiri ledekannya pada Yesa, kini meraih piring yang disodorkan kakaknya. Namun sorotnya tampak tak puas, menoleh ke sisi Yesa untuk sesaat untuk kemudian menatap Agnia.


"Minumnya?"


Agnia yang sudah akan duduk, bahkan belum sampai bokongnya ke atas kursi mendelik. Menghunus tatapan tajam pada Akbar yang tak tau diri. Dikasih hati minta jantung.


"He.. iya, aku ambil sendiri. Mabk silahkan.. makan aja.."


Agnia tak mendengus pelan, rese sekali Akbar. Ia jadi tak benar-benar menikmati mi nya, terganggu dengan keinginan Akbar hingga kuah mi nya baru beberapa kali ia sendok jadi dingin saat ingin disantap.

__ADS_1


Hanya saja giliran hatinya yang menghangat, melihat Akbar yang saling ledek dan berdebat hal bodoh dengan Yesi membuat sudut bibirnya terangkat.


Manis sekali, Akbar terlihat bahagia. Ini seperti melihat sosoknya pada Yesa, seperti itulah jika Agnia bisa melihat perdebatan antara dirinya dan Akbar. Bak cerminan, Yesa memang duplikatnya.


.


.


.


.


Mulai pagi ini Akmal tidak akan menjemputnya, tidak diijinkan. Agnia yang langsung melarangnya. Tak mau berita gila menyebar jika mereka terlalu sering bersama, gantinya Akbar yang akan menemaninya ke manapun. Akbar sendiri yang entah kenapa berbaik hati menawarkan diri.


Agnia sudah bersiap, bahkan sudah menunggu di teras rumahnya. Akbar datang tak lama, tak berniat membuat ia dimarahi kakak perempuan satu-satunya itu.


"Ayo, Mbak.."


"Ayo!"


Akbar belum sempat menyalakan motornya, saat itu dua orang dengan motor mereka masing-masing yang sudah familiar itu datang.


Jangankan Akbar, Agnia saja sudah tau. Itu Fiki dan Ardi.


"Mbak.. assalamu'alaikum.."


"Wa'alaikumsalam.." Agnia membalas dengan senyum, bergantian menoleh dua bujang itu.


"Gue nganter Mbak Agni bentar, kalian tunggu aja disini. Gak lama kok."


Fiki langsung membalas dengan sikap hormat, tak ada ucapan menyebalkan bagi Akbar saat ini. Tepatnya belum, mulutnya tau diri sedang berada di depan siapa.


Adik kakak itu hilang dari pandangan, menjauh. Fiki memperhatikan itu untuk sejenak untuk kemudian menoleh Ardi. Keningnya langsung berkerut melihat ekspresi Ardi. "Kenapa?"


"Ente gak sadar?"


"Sadar, lah.. masak mabok." jawab Fiki asal, sembari terkekeh. Puas dengan jawaban bodohnya.


"Bukan itu, Fiki! Ente gak liat jari manis Mbak Agni?"


"Enggak, ada apa emangnya?"


"Mbak Agni.." Ardi sejenak menoleh kiri kanan bak memastikan tak siapapun di dekat mereka. "dia pake cincin, kayaknya cincin tunangan."


"Gak mungkin. Kok kita gak dikasih tau?"


Ardi mendelik, tangannya menoyor nyaman kepala Fiki yang hampir sejajar dengan matanya. "Memangnya ente siapa!! Dasar.. sok ngerasa penting."


Fiki menyentuh sekilas kepalanya, jika Ardi yang berbuat begitu ia tak semangat membalas. Yang jadi perhatiannya hanya posisi rambut yang takut berubah oleh toyoran itu.


...


Akbar kembali, tak lama sesuai ucapannya. Motornya kembali masuk ke halaman rumahnya. Disambut Fiki juga Ardi yang langsung berdiri dari duduknya dan menghampiri.


"Akbar.. gue ada pertanyaan.." aku Fiki, segera setelah Akbar turun dari motornya.


"Apa?" tanya Akbar sembari membenarkan rambutnya yang sedikit kusut sebab helm.


"Mbak Agni itu.. udah tunangan, ya?"


Akbar sesaat menilik wajah Fiki, tercetak penasaran disana. Untuk detik kemudian mengangguk, itu bukan sesuatu yang bisa dirahasiakan apa lagi Fiki dan Ardi pasti sudah melihat dari cincin yang Agnia pakai. "Ya, tepatnya.. dilamar."


"Kapan?"


Ardi langsung menoleh saat Fiki bertanya begitu, ia jadi takut Fiki mengucapkan hal sama tentang mereka yang tidak dikasih tau.


"Semalem, acara mendadak jadi.. gak ada tau dan gak ada yang diundang." jawab Akbar, menjawab seluruh tanya Fiki tanpa harus diungkapkan.


Fiki mengangguk, sesaat tampak berpikir untuk kemudian kembali ingin mengajukan pertanyaan. "Emh.. dilamar siapa?"


Pertanyaan itu sukses membuat Ardi gemas, tujuan mereka kesana apa dan Fiki malah menanyakan hal-hal pribadi keluarga Akbar yang tak ada sangkut-pautnya dengan alasan kedatangan mereka.


Akbar balas menyeringai, pertanyaan serius Fiki menunjukkan jika pria itu benar-benar penasaran. "Menurut lo?" tanya Akbar, masih teka-teki. Sebab Akbar melangkah menuju rumahnya dengan senyum. "Udah, ayo masuk!"


"Gak mungkin Akmal, kan?" tanya Fiki sembari mengekor. Pertanyaan itu berhasil membuahkan teguran dari Ardi.

__ADS_1


__ADS_2