
Seorang pria dengan dandanan rapih, namun wajahnya tak pernah santai penuh ketegangan itu tengah berdiri menyesap rokok. Satu tangannya bertumpu pada pagar, sedang matanya menatap lurus ke suguhan pemandangan di depan matanya.
Sebuah tempat wisata, kolam renang luas dengan pemandangan hamparan kebun teh. Banyak pengunjung disana, para ibu menemani anak mereka mencoba banyak wahana. Sedang para bapak sebagian besar naik ke tempat yang ditandai bebas merokok.
Govin salah satunya, ia mendapat panggilan dari Akmal. Karena tak jauh dari tempatnya sedang berada, Govin meminta Akmal menemuinya disana.
Akmal mengenal perawakan Govin dari jauh, segera berdiri di sebelah teman lamanya. Langsung memancing tolehan Govin.
"Dateng juga.." sindir Govin, datar seperti biasa. Ia sudah terlalu lama menunggu, hampir saja pergi jika Akmal tak kunjung datang di rokok ke tiganya.
Akmal menghela, satu sisi sebal dengan Govin yang mencoba merusak rumah tangganya. Namun satu sisi tak bisa menyalahkan sebab harusnya ia lebih pintar dan bijaksana menanggapi perbuatan Govin. Akmal jadi bingung apakah harus marah atau harus menertawakan dirinya sendiri.
"Cepet ngomong! Gue buru-buru.. Lo menghabiskan waktu gue terlalu lama dari lima menit yang gue kasih."
"Jauhi istri gue, Vin!" itu kalimat yang akhirnya terucapkan dari mulut Akmal, menoleh Govin penuh mohon. Ia tak mau marah dan memperpanjang hal ini, jika Govin mau bekerja sama maka itu baik sekali antara mereka.
Govin justru mendengus, menoleh Akmal dengan tatapan heran. "Kita bahkan belum dekat, kenapa sudah harus menjauh?" tanyanya, memancing emosi.
"Lo tau betul maksud omongan gue, Vin! Jauhi istri gue.. Dia lagi ngandung, sikap lo nakutin dia."
Govin mengendikkan bahunya pelan, menyesap rokoknya Dan membuang asap lewat mulut dengan leganya. "Gue gak maksud nyakitin orang gak bersalah, tapi kalo itu membuat Lo menderita.. gue senang."
Akmal mendengus pelan, tak tau sejak kapan Govin berubah tak berbelas kasihan. Akmal masih paham jika sikap Govin padanya dilandasi sakit kepergian Ulya, tapi Agnia? Apa salah wanita itu. "Jadi apa sebenarnya yang lo mau dari gue?" tanya Akmal, lembut.
"Mau gue?" Govin mengakhiri sesapan rokonya, mematikan ujung terbakarnya dan membuang ke tempat yang aman. Beralih menghadapkan tubuhnya ke arah Akmal. "Okay biar gue kasih tau, tapi berusahalah penuhi keinginan itu.. mau gue adalah.. hidupkan Ulya kembali." terang Govin dengan emosional. Di saat ini Akmal bisa melihat kesepian di wajah pemuda itu, kesepian yang pernah pula ia alami. Namun sirna sejak bertemu Agnia.
Persetan dengan keinginan Govin, siapa yang bisa mewujudkan harapan itu? Bahkan Kun fayakunnya Allah tidak akan mewujudkan itu di dunia. Sebab ada saatnya, bertemu lagi dengan orang-orang yang sudah mendahului diri.
Govin tersenyum miring melihat wajah Akmal saat ini. "Gak bisa, kan? Karena itu gue minta jangan banyak pertanyaan! Nikmati karma Lo, okay?"
"Ah! Gue tau, Lo mau gue menderita kan?"
"Exactly."
"Tapi harus gimana gue kasih tau Lo.. Vin, gue gak salah. Kenapa lo terus berpikir kalo gue jadi sebab kecelakaan itu? Hah?!"
Govin mendengus pelan, menghela panjang. Lihatlah waktu yang belum mau merubah dirinya dan perasaanya, dan bagaimana waktu mampu merubah kondisi dan perasaan Akmal. "Jadi lo ngerasa gak salah?" tanya Govin, menatap Akmal lekat. "Kalo gitu ini gak bener, Mal! Lo harus merasa bersalah! Lo.. harus.. merasa bersalah! Lo gak bisa bahagia, Lo harus menderita setelah kepergian Ulya. Lo harus sama terpuruknya dengan gue." ujar pemuda itu penuh penekanan. Tampak emosional.
Akmal hanya bisa menggelengkan kepalanya, heran luar biasa. "Ini gak bisa dimengerti. Gue gak tau dari mana dendam Lo itu berasal, apa dari rasa menyesal Lo sama Ulya atau ego justru dari ego Lo."
Govin menyeringai, seringai pertama semenjak berhadapan dengan Akmal. "Gue gak punya keluhan, gue gak menyesal. Gue yang ada di hati Ulya, bodoh! Bukan lo.. satu-satunya kesalahan gue adalah, membiarkan dia pergi menemui Lo. Membiarkan dia menjaga hati Lo! Padahal lo pantas untuk disakiti.."
.
.
.
.
Agnia yang tengah harap-harap cemas mencari keberadaan Akmal kini tersenyum riang, mendekat ke mobil sang suami. Hingga saat kaca mobil turun, sudut bibir Agnia juga ikut turun.
"Kenapa? Gak berharap aku yang jemput?" tanya Akbar, melihat ekspresi Agnia yang perlahan hilang senyum. Tak terima, padahal dirinya pun tak suka disuruh menjemput sang kakak.
"Iya." jawab Agnia singkat, tak menafikan. Melanjutkan langkah melingkari mobil sang suami, masuk ke jok sebelah kemudi.
__ADS_1
"Bukan cuma Mbak, aku juga males kalo bukan karena permintaan Akmal." Belanya pada diri sendiri.
Agnia mencebik, sudah masuk ke dalam mobil. "Apa iya? Karena permintaan Akmal, atau karena naik mobil ini.." cibirnya
"Yah! You know me so well." jawab Akbar, tak menafikan.
Agnia mendengus pelan, tentu saja. Semua tau Akbar penggila kendaraan beroda empat ini, bahkan beberapa bulan kebelakang masih sering mengajak perang Hafidz kakak sulung mereka hanya untuk meminjam mobil. Tak tau sejak kapan kebiasaan itu hilang.
"Em.. De, jangan langsung pulang deh.."
"De?" Akbar mengernyit, mencebik tipis. "Setelah sekian lama? Mbak nyebut panggilan itu lagi. Pasti ada maunya.."
"Memang. Mbak lagi pengen cari rujak."
"Boleh.. buat ibu hamil, siap laksanakan.." ujar Akbar, membelokkan mobil menuju jalan lainnya di persimpangan. "Rujak apa?"
"Apa ya.. kedondong enak kayaknya, seger kalo panas kayak gini." tutur Agnia, sembari menengok sepanjang jalan yang dilaluinya, membayangkan saja sudah membuat lidahnya mengecap. Kontras sekali, Akbar di sebelahnya justru meringis, mana ada segar-segarnya. Lidahnya sudah terasa masam meski hanya membayangkan.
Mobil itu berhenti, tepat di satu-satunya gerobak rujak yang mereka temukan setelah berkendara cukup jauh. Tampak bersih dan segar buah-buahan uang ada, Agnia segera mengiyakan saat ditawarkan.
"Kenapa masih disini?" tanya Agnia, bingung saat Akbar tak peka dan tak beranjak keluar. Mereka justru saling tatap dengan bingungnya.
"Apa?"
"Masak cuaca panas-panas gini, Mbak harus turun.. kamu gak tega?" Agnia mengeluarkan jurus merayunya, langsung dibalas helaan oleh Akbar. Pemuda itu lantas mengangguk, membuka pintu mobil. "Okay. Tunggu sebentar, tuan putri."
Agnia tersenyum senang, meski tau sebutan itu menyindirnya. Segera menyerahkan uang dari dompetnya. "Rujak kedondong doang, tapi jngan banyak cabenya. Dikit aja."
"Iya.." kata Akbar datar, berlalu. Entah telinganya mendengar dengan jelas entah tidak. Untuk setelah cukup lama kembali, segera menyerahkan rujak itu pada Agnia yang menatapnya antusias. "Berapa cabenya?"
"Lima."
"Iya. Yang banyak kan?"
"Mbak bilang jangan banyak, Akbar.." Agnia menatap kecewa. "Beli lagi!" titahnya, bak tak mau dibantah. "Cabenya satu! Ya?"
Baru saja duduk di kursi mobil, Akbar kembali melangkah keluar dengan terpaksa. "Iya.. makanya ngomong yang jelas ah!" keluhnya.
"Satu lagi!"
"Apa?" Akbar menatap sebal, sudah melotot. Kenapa kakaknya mendadak banyak permintaan? Menjengkelkan sekali bagi dirinya yang sedang sensitif.
"Tanyain, apa bisa beli kedondong utuhnya."
"Tanyain doang?"
"Ya beli dong, kalo bisa tapi."
"Ngomong itu yang jelas, Mbak.. apa susahnya nyuruh beli kedondong utuh, gitu."
"Ya tanyain dulu, dong! Gimana si kamu."
"Ish!" harus sabar memang, dirinya. Gara-gara tergiur mengendarai mobil mengkilap Akmal ia jadi kena jekpot melayani bumil yang rese. Ia yakin, jika dengan Akmal kakaknya ini tak akan serewel ini. Karena dengannya saja, sengaja mengerjai sepertinya. Heran, tak tau kenapa jadi banyak menuntut dan senang menyuruh.
...
__ADS_1
Akbar mengeluh tertahan, kala didapatinya motor Akmal sudah lebih dulu datang. Tau begini ia tak akan mau menjemput dan berepot-repot melayani si Bumil. Sumpah ia kesal, apa susahnya padahal bagi Akmal untuk pergi sendiri?
"De, bawa rujaknya sekalian!" pinta Agnia, yang sekali lagi menambah keluhan di hati Akbar. Egonya, terluka setelah disuruh-suruh begitu. Ingin rasanya berteriak, atau paling tidak menggigit sang kakak dengan gemas.
"Sayang.." Agnia berseru senang, menunjukkan satu wadah rujak bersama satu kresek kecil buah kedondong mentah di tangannya. Tak seperti Akbar, ia tak mengeluh meski mendapati suaminya tak menjemput padahal sampai di rumah lebih dulu.
Akmal tersenyum kecil, memberi tanggapan manis. Pantas saja Akbar lama sekali menjemput, ia sudah berburuk sangka jika pemuda itu mangkir ke mana dulu. Tapi ternyata ini alasannya, ia tak jadi suudzon.
"Kenapa nyuruh Akbar? Kenapa gak jemput kalo udah pulang?" tanya Agnia, persis pertanyaan yang melintang di kepala Akbar saat ini. Hingga Akbar yang masuk belakangan urung bertanya, kini menanti jawaban.
"Aku ada janji dulu tadi." jawab Akmal, beralih menoleh Akbar. "Maaf Akbar." tuturnya dengan cengiran, paham arti wajah kecut adik iparnya.
"Ya. Terserah." jawab Akbar malas, melemparkan tubuhnya di sofa. Meletakkan rujak yang kebanyakan cabainya itu di atas meja, menarik perhatian Akmal.
"Apa itu?"
"Rujak, sama yang dibawa Mbak Agni. Cuman cabenya kebanyakan." jelas Akbar ketus, membuat Agnia mengulum senyum menoleh suaminya. Siapa yang salah? Akbar sendiri yang keliru padahal.
Akmal mengangguk paham, makin jelas alasan tertekuknya wajah Akbar sepulang menjemput Agnia. Kini beralihmenatap sang istri sembari tersenyum, membelai puncak kepalanya. "Mbak ngerepotin Akbar?"
"Enggak." sangkal Agnia cepat. "Dia nya aja yang berlebihan. Gak sadar diri kalo biasanya nyusahin Mbaknya." jawab Agnia, setengah menyindir.
"Udah.." Akmal merangkul bahu istrinya, membawa Agnia pergi beranjak ke kamar. Tak mau memperburuk perasaan Akbar yang terlihat sudah kacau. Sesaat menoleh pemuda itu. "Jangan dulu pergi, ada yang mau gue obrolin." ujarnya, dibalas iyaan malas oleh Akbar.
"Ngobrolin apa?" kepo Agnia, begitu tiba di kamar mereka. Menatap Akmal penasaran, ia tak diberi tahu apapun jika ini tentang sesuatu yang serius.
"Mbak tau Asma?"
"Iya.. kenapa emangnya? Eh! Apa soal dia?"
Akmal mendudukkan Agnia di bibir ranjang, sedang dirinya berdiri tak jauh. Tak akan lama menjelaskan, untuk segera menemui Akbar. "Gini, beberapa bulan kebelakang.. Akbar cerita kalo dia gak tertarik lagi sama Asma. Tapi, hari ini aku baru dapet kabar kalo Asma ternyata udah dilamar."
"Oiya?"
"Iya. Makanya aku minta Mbak jangan cari masalah dulu sama dia, kayaknya memang gak baik-baik aja."
"Siapa yang nyari masalah, juga!" protes Agnia. Untuk tak lama menghela, mengangguk sebab tatapan Akmal yang penuh peringatan padanya. "Iya, yaudah.. sana kalo mau ngobrol. Nanti dia kabur, lagi!"
...
Sulit menebak dalamnya hati seseorang, jika mengukur tinggi menjulang gunung dan dalamnya lautan ada rumusnya, maka tidak dengan hati. Akmal bergabung duduk di sofa dimana Akbar kini bersandar nyaman sembari memainkan ponselnya.
Akbar cepat mengganti posisi duduknya, kini menghadap Akmal. Tak mau membuang waktu, ingin segera pergi melanjutkan aktivitas serunya sebagai bujangan. "Ngobrol soal apa?" tanyanya.
Akmal tak langsung menjawab, menilik wajah adik iparnya sesaat lantas menepuk bahunya. Hal itu membuat Akbar terheran sendiri, mengendikkan bahunya menyingkirkan tangan Akmal. "Apa sih?!"
"Gue penasaran, apa ucapan lo sekitar tiga bulan lalu itu karena kabar hari ini?"
"Oh!" Akbar menghela, segera paham. Ia tau kabar ini akan menimbulkan tanya pada Akmal, ia bahkan sudah mempersiapkan jawaban sebelumnya. "Soal Asma?"
Akmal mendengarkan, memperhatikan perubahan ekspresi di wajah Akbar saat ini. Meski tak jelas namun kekecewaan tak bisa disembunyikan dari wajahnya.
"Sebenernya Asma nemuin gue, Mal. Gak lama sejak gue lakuin saran lo." jelas Akbar, menoleh sekilas dan beralih menatap lurus ke atas meja. "Dia tau gue suka sama dia, mungkin sejak lama."
Ayolah.. tentu saja Asma tau. Akbar tampaknya masih tak sadar jika rasa sukanya pada Asma bahkan bisa semua orang lihat, terkecuali dirinya yang tak sadar.
__ADS_1
"Dia bilang gak punya rasa suka sama siapapun, karena mau satu-satunya yang dia suka adalah suaminya nanti. Mungkin karena trauma suka sama lho." Akbar nyengir, menoleh Akmal sekilas. "Gue pikir jalannya akan seperti yang kita strategikan, tapi.. dia justru ngasih tau kalo dia udah dikenalin oleh keluarganya sama orang lain. Dia gak cepat ngasih jawaban, dia datang dan nanya gue apa sebaiknya dia terima.. atau tidak." jelas Akbar sembari menerawang jauh. "Gue tau maksud pertanyaan itu, tapi seperti yang gue bilang.. gue belum siap memikul beban yang sekarang ini Lo pikul. Jadi gue saranin Asma terima lamaran dari pria itu seandainya hubungan mereka berlanjut."
Akmal mengangguk, seperti yang dipikirkannya. Kisahnya persis yang ada di kepalanya. Ia sudah bisa menebak dari bahasa Akbar sebelum ini. Akmal tak bisa memberi saran atau nasihat, itu sudah final. Akbar sudah memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, ia hanya bisa memberi tepukan penuh dukungan bagi adik iparnya ini.