
Malam itu syahdu
Dua orang yang dimabuk menapaki puncaknya
Tak ada ketakutan
Tak ada keraguan
Maha suci Allah dari segala keburukan maksud hati makhluk-Nya.
Maha besar Allah dengan keagungan dan segala nikmat-Nya.
...
Di bawah temaramnya lampu, di detik jam yang terdengar menemani. Akmal dengan seluruh kasih sayangnya menuntun Agnia dengan lembut untuk menjadi wanita seutuhnya.
Do'a telah dibaca, berganti tasbih yang menambah indahnya persatuan. Hasrat itu akhirnya tiba pada kehalalan, Akmal tak bisa mengungkapkan bagaimana senang dan bersyukur dirinya kini. Agnia memberinya lebih dari kenikmatan duniawi, namun kasih sayangnya yang tak terhingga lewat sentuhannya.
Dua orang itu saling menyesap aroma tubuh masing-masing, saling menggelorakan hasrat, saling bertukar peluh bernafaskan suka, saling menuntun menuju puncak dari segala puncak cinta.
Hingga saatnya berakhir, setelah Akmal menanam benih cinta dalam rahim sang istri. Dua orang itu terjaga dalam balutan hangat selimut dengan perasaan dan pikiran mereka masing-masing.
Tiada Tara kebahagiaan Akmal, pria itu bukan hanya mendapat yang didambanya namun mendapat seluruh kepercayaan sang istri. Seorang Agnia yang semula menutup diri, membenci dirinya dan mengutuk seluruh gambaran indahnya hubungan, kini akhirnya tunduk dalam belaian kasih dan janji tulus yang Akmal ucapkan. Akmal pantas berbangga diri, kesabarannya berbuah manis.
Kecupan hangat Akmal berikan ke dahi sang istri, juga usapan lembut mengusir peluh. Hal itu sontak merambatkan rona merah di pipi Agnia, belaian Akmal membuatnya ingat peristiwa yang baru saja terjadi. Malu sekali rasanya, Agnia hanya bisa mngenyahkan pikiran itu dengan menyembunyikan wajahnya di bawah selimut.
"Kenapa?" tanya Akmal lembut, menurunkan selimut itu hingga leher Agnia. Terkekeh, sebab merasa Tak ada hal yang harus membuat istrinya malu. Ayolah.. mereka sudah resmi menjadi seutuhnya dan jadi yang pertama satu sama lain. Bahkan ikatan yang halal harusnya jadi alasan terbaik mereka untuk merasa bahagia saat ini.
Agnia tak bergeming, memundurkan kepalanya sembari menaikkan kembali selimut hingga kepalanya. Membuat Akmal terkekeh sesaat untuk kemudian memajukan tubuhnya dan meraih puncak kepala sang istri, ia kecup singkat meski terhalang selimut.
Agnia sebenarnya tak bisa tak tersenyum di dalam sana, malu namun takjub pula dengan manisnya perlakuan Akmal. Akhirnya menurunkan kembali selimut itu, menampakkan wajahnya yang kini menyuguhkan senyum. Tubuhnya ia dekatkan pada Akmal tanpa paksaan, menyatukan peluknya dalam pelukan sang suami.
"Makasih." kata Akmal lembut, setelah menyesap rambut harum Agnia beberapa saat.
Agnia mendongakkan wajahnya, menatap tajam. "Jangan pernah bilang makasih untuk ini!" ucapnya penuh peringatan namun tampak malu-malu hingga tak menatap Akmal lama.
Aduh! Lucu sekali memang istrinya ini, jika makanan sudah ia lahap saja. Akmal terkekeh pelan. "Kenapa si emangnya?"
__ADS_1
"Pokoknya jangan ungkit soal.." Agnia tergagap, bingung saja mengatakan apa. "Soal.. soal malam ini. Jangan berterimakasih soal itu, hemh?" tanyanya kemudian, menoleh untuk memastikan.
"Lucunya.." Akmal terkikik pelan, sembari memainkan pipi Agnia dengan satu tangannya. "Istriku yang pemalu ini, padahal tadi luar biasa lho.. Mbak kayak pro." ujarnya, tak kapok diperingatkan.
"Hey.." Agnia mendelik tajam sembari mengarahkan cubitan di perut Akmal. "Apa aku bilang tadi?"
"Iya.. maaf. Gak lagi.. janji. Hemh?"
Agnia sekali lagi menatap kesal Akmal, untuk kemudian menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria yang tak melepas pelukannya itu. Terserah saja, ia sedang lelah.
"Oiya Mbak.."
"Apa? Kalo bahas makasih lagi aku gak mau, ya.." tanya Agnia galak.
"Bukan. Ini soal.. maaf."
"Hemh?" Agnia mengangkat wajahnya, mundur sedikit untuk melihat wajah Akmal sepenuhnya. "Ini untuk apa?" tanyanya melembut, usai melihat tatapan serius dari wajah tampan itu.
Akmal menghela, menunjukkan tatapan dalam. Usai melihat keterbukaan dan penerimaan sang istri, Akmal jadi merasa harus untuk memberitahu sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ia juga harus membuka dirinya dengan hal yang sebenarnya hanya tersisa di masa lalunya.
"Aku gak tau apakah Mbak akan marah, atau kecewa soal ini. Tapi.. Mbak harus tau.. hari ini aku gak peduli apapun selain yang kita jalani sekarang, dan aku gak bohong soal mau sehidup sesurga sama Mbak. Jadi apa yang aku katakan sekarang aku mau ini jangan sampai nyakitin Mbak.."
"Hemh?"
"Bunda nyuruh Ibu nanya aku soal itu.. dan dari sana aku tau betapa bodohnya kamu yang gak terbuka sama aku."
"Terus? Ibu marah gak?"
"Enggak. Sama sekali. Ibu taunya aku tau soal itu, dan biarin aja begitu."
Akmal menghela pelan, menatap sayu Agnia. Meraih tangan Agnia dan menciumi tangan itu beberapa kali. "Maaf.."
"Ya. Kamu memang harus minta maaf." kata Agnia bernada sebal, untuk seperdetik kemudian kembali memberi tatapan lembut. "Tapi sayang.. menurut kamu seperti apa pernikahan? Seperti apa hubungan suami istri? Juga Keluarga? Hemh? Kamu gak bisa nyembunyiin hal sebesar itu dari aku. Kamu gak tau kan betapa buruknya perasaan aku saat kamu tiba-tiba jadi pendiam? Aku kesel. Seakan kamu gak nganggap aku sama sekali."
"Maaf."
Agnia menggeleng, menatap penuh sayang Akmal. Tak mau membuat kekasih halalnya itu merasa lebih buruk. "Setidaknya kamu bisa belajar setelah ini, hemh? Aku cinta kamu. Jadi jangan simpan luka kamu sendiri." lirih Agnia. "Dan kamu harus tau sesuatu bisa makin buruk saat kamu gak terus terang. Diam kamu menimbulkan persangkaan buruk di hati aku."
__ADS_1
"Maaf.."
Agnia menyungging senyum, kembali mengarahkan kecupan pada Akmal. "Udah, ya.. mulutnya udah aku kunci."
Akmal jelas merasa lebih baik, Agnia berhasil mengembalikan perasan dan menghilangkan rasa bersalahnya dengan kalimat menenangkannya. "Terus? Ibu ngobrolin apa lagi?" Akmal mendekatkan tubuhnya, bertanya hal lain demi mengalihkan obrolan. Benar-benar bertekad untuk tak mengungkit dua hal itu.. baik terimakasih maupun maaf yang detik ini dua hal itu Agnia tidak suka.
"Emh.. soal rumah."
.
.
.
.
Akbar berjalan tak semangat dari kamarnya, lelah sekali setelah tidur nyenyak hampir tak ingat waktu shalat. Setelah shalat tidur, setelah shalat, makan, kembali tidur. Dan beginilah hasilnya ia justru makin lelah.
Tepat sekali langkahnya bertepatan dengan Akmal yang juga keluar dari kamar lainnya. Dua orang itu keluar untuk berangkat menuju mesjid.
Sesaat hening, keduanya tanpa sebab mematung. Dua orang itu sibuk dengan pikiran mereka masing-masing, dengan suara adzan subuh yang syahdu jadi temannya.
Akbar memasang tatapan curiga kala pada akhirnya setelah sekian purnama mendapati rambut suami kakaknya itu basah, sementara Akmal dalam diamnya penasaran dengan apa yang dipikirkan Akbar.
Bujang tengil dengan pikiran kotornya sudah menggila saja, wajahnya berubah segar tiba-tiba. Segera mengintip ke dalam kamar, senyum jahilnya langsung terbit kala melihat Agnia di bibir ranjang tengah menyisir rambut setengah basahnya. "Wah.. Mbak.."
Agnia menoleh, kerja tangannya terhenti seketika. Menatap bingung, apakah gerangan kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Akbar setelah ungkapan terkejut itu.
"Gak bosen dari kemarin keramas terus?"
Sial! Akbar memang gila! Agnia tak tau kenapa Akbar selalu mengganggunya perihal urusan begitu, bukankah soal kamar tak seharusnya dijadikan becandaan? Apa hanya ada soal itu di pikiran adiknya? Agnia heran sekali.
Dan lihatlah Akmal yang justru mesem saat Agnia mendelik tajam ke arah adiknya, baru saat istrinya itu giliran mendeliknya. Langsung merangkul Akbar pergi sebelum adik kakak itu cekcok. "Udah, ya.. jangan buat kakak lo sebel, atau gue juga jadi sasaran nanti."
Akbar mencebik, lihatlah pria yang sudah 'dapat jatah' ini. Tampak bahagia dan.. wangi sekali. "Iya deh, pengantin baru yang lagi bahagia karena baru dapet jatah." cibirnya.
Akmal mana peduli, mengendik saja. Pokoknya apapun yang dipikirkan Akbar ia terima saja. Toh dirinya memang bahagia bukan saja tentang yang ia dapat malam tadi, namun kata maaf juga kebesaran hati Agnia. Lupakan saja, Akbar mana paham meski dijelaskan.
__ADS_1
...