
Gemuruh hujan menyertai malam yang tenang, Akmal kembali ke atas kasur setelah melaksanakan shalat malam. Bukan untuk tidur, tapi seperti rutinitasnya beberapa malam ini, hanya untuk berbaring nyaman sembari memeluk sang istri.
Wajah itu begitu tenang, Akmal tersenyum kecil memperhatikan wajah mungil Agnia yang tertekuk tiap tertidur. Napasnya teratur, entah mimpi apa yang sedang menyapa istrinya saat ini.
Manis sekali, wajah ini tak pernah membosankan dan selalu menyihirnya tiap saat. Akmal menyampingkan anak rambut yang mengganggu dari wajah sang istri, memastikan objeknya tak terhalang apapun sebelum mengecup pipi yang kini makin gembul itu.
Senyuman puas tersungging di wajah Akmal kala istrinya sama sekali tak terganggu dengan itu, membuatnya dengan nyaman memainkan rambut sang istri.
Apa yang lebih indah dari bangun dalam pelukan seseorang terkasih?
Agnia dibuat tersipu begitu membuka mata dan mendapati tatapan Akmal padanya, spontan menarik selimut menutupi setengah wajahnya.
Akmal tersenyum kecil, tetap meluncurkan bibirnya mengecup sang istri meski terhalang selimut. "Bangun! Sayang.."
Agnia mengeluarkan tangannya dari bawah selimut, meraih rahang Akmal. Mengelus pipi suaminya sembari tersenyum setengah mengantuk, matanya tertutup sempurna.
Melihatnya Akmal hanya menghela, Seperdetik kemudian menyibak selimut yang menyelimuti sang istri dan memberondong kecupan di seluruh wajahnya. Hingga Agnia akhirnya terganggu, menggeliat dan membuka matanya.
"Udah sadar sekarang?" tanya Akmal diselingi kekehan, mengacak puncak kepala istrinya singkat.
Agnia mengerjapkan matanya beberapa kali, menunjukkan pada sang suami jika dirinya sudah sepenuhnya bangun dari tidur. Tapi tak langsung bangkit, masih berbaring di tempat sembari memikirkan sesuatu.
"Kenapa?" Akmal akan takjub jika baru bangun begini istrinya sudah punya sesuatu yang dipikirkan, menatap penasaran.
Agnia menghela, menatap Akmal dengan senyum tipis. "Kayaknya kesulitan kamu akan cepat berakhir." tuturnya tiba-tiba.
"Hem?!" Akmal menaikkan sebelah alisnya, curiga jika Agnia sedang mengigau.
"Aku mimpi kamu nyebrang di sungai dangkal tapi airnya deras."
"Terus?"
"Kamu berhasil."
Akmal terkekeh. "Mana ada kayak gitu? Apa hubungannya dengan masalah aku?"
Agnia memgendik pelan. "Entah, tapi menurut aku kita terhubung satu sama lain. Yang kamu rasa aku turut rasakan, sampe bawah sadarku bisa tau sejauh mana yang kamu rasa. Masalah ini sederhana, bak sungai yang dangkal.. namun arusnya deras, persis kesulitan yang berkali-kali kamu rasakan."
"Emh.." Akmal mengangguk menanggapi penjelasan istrinya, mengulas senyum. "Dan disana aku berhasil?"
Agnia mengangguk. Kantuknya tampak pergi setelah mengakhiri cerita.
__ADS_1
"Pasti, Sayang.. semua ini pasti dilewati dengan mudah. Allah gak ngasih beban lebih dari yang kita mampu. Dan semoga ucapan Mbak terwujud, sebab ucapan adalah do'a."
.
.
.
.
Setelah berumah tangga, segalanya berubah. Bahkan hari Minggu yang biasa Agnia habiskan seharian di Panti, kini berubah drastis.
Ada saja pekerjaan rumah yang tak pernah selesai dan menuntut waktu lebih, herannya timpang sekali dari dirinya saat masih gadis meski pekerjaannya sebenarnya masih sama, itu-itu saja.
Bahkan hari ini, Agnia hanya memberi waktu tak sampai satu jam untuk adik-adik kesayangannya. Bercengkrama singkat, lalu memutuskan segera pulang. Bersiap untuk menghadiri tasyakuran empat bulanan kehamilan kakak iparnya.
Uniknya, saat pasangan suami istri itu hendak pulang. Satu mobil asing datang dan parkir di sebelah mobil mereka.
Sebelumnya Agnia berniat untuk tidak memberi perhatian khusus pada siapapun itu, hingga sosok yang turun seketika mengunci tatapannya juga tatapan Akmal.
"Kak Gian?!" sapa Agnia senang, setelah sekian lama akhirnya kembali berjumpa dengan kakak kelasnya ini.
"Agnia.." Gian tak kalah senang, wajah kulkasnya mencair beberapa saat. Sampai Akmal tak bisa menyembunyikan ketidak sukaannya atas keakraban itu. Dari setiap jam, hari dan detik kenapa harus berpapasan? Bahkan dari banyaknya panti asuhan, kenapa harus panti yang sama?
"Kamu.." Gian melihat kondisi Agnia dari atas ke bawah, tersenyum lega melihat cinta pertamanya ini sehat dan tampak bahagia. "Berapa bulan?"
"Tiga bulan, Kak." jawab Agnia tanpa ragu, tersenyum senang setiap kali orang-orang menyadari kehamilannya.
"Emh.." Gian mengangguk, lantas menghela pelan. Sebagai orang lain ia hanya bisa memberi selamat dan menjaga ucapan, tatapan juga perilakunya bagi wanita di hadapannya ini. "Kakak seneng liat kamu begini, bahagia dan tampak sehat." ujarnya tulus, menatao Agnia lantas Akmal bergantian.
Agnia ikut menoleh ke arah sang suami, bisa merasakan perubahan sikap Akmal saat ini. Segera paham. Lekas menautkan jarinya di jemari sang suami, tanpa ragu menunjukkan di hadapan Gian. "Iya Kak, dia menjaga ku dengan baik."
Gian menghela, menoleh Akmal sekali lagi lantas mengangguk. "Bagus lah, pokoknya kalian kompak terus. Kakak do'ain kehamilan kamu lancar, sehat sampe lahiran nanti."
...
"Cemburu?" tanya Agnia, sembari mencebik. Menatap wajah Akmal yang tertekuk, fokus sekali menyetir. Bahkan tak mengatakan apapun setelah masuk ke dalam mobil, padahal hanya mereka berdua.
"Enggak lah. Kata Dilan cemburu itu untuk orang yang tidak percaya diri." dalih Akbar, tanpa sama sekali mengalihkan tatapannya dari jalan.
"Berarti iya. Kamu kan insecure sama Kak Gian. Hampir.. aja dulu nyerah merjuangin aku karena dia, kan?"
__ADS_1
Akmal tak bisa menyangkal soal yang satu itu, sebab memang terjadi. Balas menoleh Agnia sekilas, mendapati istrinya nyengir puas. "Untuk yang itu aku ngaku, sayang.. tapi sekarang aku percaya diri dalam satu hal."
"Apa?" tanya Agnia dengan nada meledek, wajah ngambek itu lucu sekali baginya.
"Istriku gak akan berpaling, meskipun banyak pria yang lebih sempurna di luar sana."
Agnia mencebik mendengar itu, terpikirkan untuk menggoda sang suami. "Gitu? Tapi kok Govin datang ngancam gak jelas, kamu udah ketar-ketir." tanya Agnia, yang spontan memancing tolehan sebal suaminya.
"Kalo itu beda, Mbak.." ujar Akmal penuh penekanan.
Agnia terkekeh, meraih dagu Akmal. Memainkan dagu berjenggot halus itu dengan sebelah tangannya. "Gak papa kok, cemburu. Wajar.. tandanya kamu cinta. Jadi gak usah malu nunjukin itu. Baru mulai salah kalo kamu penuh curiga sama aku. Hem?"
"Hem." Akmal bergeming singkat, kesal sekali. Sudah tanpa angin tanpa hujan bertemu Gian, kini nama Govin dibahas. Entahlah.. sebenarnya apa salah dirinya pada para pemuda berinisial G.
"Love you.." Agnia menilik wajah Akmal, berusaha semanis mungkin mengatakan itu.
"Hem.."
Agnia terkekeh, tersenyum puas dengan tanggapan suaminya. Entahlah untuk yang satu ini ia suka, marahnya Akmal terlihat manis. Lucu saja, jarang sekali Akmal begini.
Akmal sengaja tak menggandeng Agnia saat turun dari mobil, berusaha menunjukkan jika dirinya kini sedang benar-benar kesal. Lucunya Agnia justru tak peduli dan senyum-senyum tak jelas sembari menyamakan langkahnya dengan langkah sang suami.
"Sayang.." Agnia berhenti di tempat, nada suaranya setengah merenggek. Akmal menoleh segera, tau nada bicara itu hanya keluar saat istrinya kesal. Tetap menoleh meski tatapannya datar, dan masih sangat sebal.
Wajah tertekuk Agnia kembali berganti senyum, tampaknya memang sedang bahagia hingga moodnya sekuat baja meski diabaikan. Yang biasanya balas lebih marah, kini berjalan mendekat dengan riang. Menggelantungkan tangannya di lengan Akmal yang sengaja dilipat di depan dada. "Jangan lama-lama ngambeknya, Ah!" bujuk Agnia. "Masa gitu aja marah?!"
"Terserah ku.."
Agnia menatap lama suaminya setelah jawaban datar itu, tampak kesal dengan jawaban yang satu ini. "Kamu udah kayak remaja puber, tau gak!" keluhnya, benar sekali.. memang beralih ngambek. Langsung beranjak mendahului Akmal, menaiki tangga dengan langkah cepat. Membuat Akmal lantas menghela, alurnya memang selalu begini. Hanya istri yang boleh ngambek, tidak baginya. Yang nantinya harus diakhiri dengan kata maaf dari dirinya.
Wanita itu entah sedang becanda lagi, atau benar-benar marah. Yang jelas pergi tanpa menoleh, hingga di anak tangga terakhir tiba-tiba berhenti dan berpegangan pada pagar. Akmal langsung mendekat sebab khawatir. "Kenapa?"
Agnia menarik napas panjang, lantas menghembuskan perlahan sembari memegangi perutnya. Tak bergerak dari tempatnya, untuk tak lama menoleh setelah kram di perutnya berakhir. Menoleh Akmal dengan senyum bak tak terjadi apapun, tak mau suaminya khawatir. "Gak papa, cuma kram."
Akmal menghela berat, menatap khawatir. "Karena aku, ya?"
"Bukan, kok. Memangnya kamu ngapain?! Ini kram biasa, gak aneh kok kayak gini."
"Gak aneh gimana? Itu akibatnya kalo Mbak ledekin suaminya terus, sok ngambek!"
Agnia hanya bisa tersenyum, memang salahnya. Setelah ini ia tak akan menjawab dan hanya akan mendengar setiap omelan sang suami.
__ADS_1
"Ayo! Mbak istirahat dulu, dan jangan harap bisa lolos setelah ini. Mbak harus dengerin apa kata ku."