Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
113. Yang menggunung di hati Indri


__ADS_3

Acara itu ditutup dengan sempurna, Indri tampil di akhir sebagai penutup diringi riuh tepuk tangan. Semua tersenyum bangga, termasuk Agnia. Itulah Indri, pemilik butik, si pekerja keras yang kini berhasil. wajahnya cerah sekali, penuh bangga. Rambut lurusnya melambai kala membungkukkan badan memberi penghormatan terakhir sebelum event itu berakhir.


Pakaian-pakaian yang ditampilkan memukau, terlihat sekali dibuat dengan keseriusan dan tentu tidak dalam waktu yang singkat. Agnia beberapa kali mengeluarkan ponselnya untuk memotret, ia serius. Indri mengeksekusi acara hari ini dengan baik.


Akmal mengernyit menyadari sesuatu, perutnya bersuara berbarengan dengan riuh tepuk tangan. Spontan menoleh Agnia yang sepertinya tak mendengar gonggongan perutnya, kepalanya ia miringkan ke arah Agnia. "Mbak, setelah ini kita pulang?" tanyanya setengah berbisik, jaraknya cukup dekat hingga pasti sudah terdengar.


Agnia belum sempat menjawab ataupun menoleh, sesaat pertanyaan itu berakhir sebuah tangan lebih dulu muncul dan memisah antara ia dan Akmal. Agnia menoleh ke kursi belakang, menatap pemilik tangan itu.


Tentu saja, itu Algi dengan senyum tengilnya yang sekarang menatap penuh peringatan. "Bukan mahrom! Jangan deket-deket.." ujarnya, sembari mendorong bahu Akmal lebih jauh.


Hal itu memancing tatapan istri Algi, spontan ia memukul pelan lengan suaminya. Memang dasarnya Algi rese, perilakunya yang iseng memancing tatapan beberapa orang. Lucunya sepasang suami istri itu malah saling lempar tatapan peringatan, Algi tak mau kalah dengan sang istri meski tau setelahnya ia akan habis dimarahi


Kecuali Adi, paling gagal fokus dari yang lainnya. Malah memperhatikan wajah Agnia yang penuh senyum ditujukan pada Algi.


Tak terlihat kesedihan atau ketidaknyamanan di guratan wajah Agnia, Adi kini tau jika mantan pacarnya itu sudah benar-benar bahagia dengan pilihannya.


Agnia terkekeh melihat aksi Algi yang mengingatkannya pada Akbar, mereka persis Akbar dan Ibunya saat saling kode begitu.


"Udah, hey.. kalian udah punya anak! Jangan kayak anak kecil." kata Agnia, tak henti senyum.


Istri Algi yang manis itu lantas tersenyum canggung. "Maaf ya, Mbak.. Mas Algi memang gitu, kadang malu-maluin.." ujarnya jujur, terakhir mendelikkan matanya pada arah sang suami.


"Udah maklum kok, sekarang justru giliran kamu yang harus banyak sabarnya ngadepin dia."


Algi mencebik, ucapan Agnia menghinakannya sekali. Namun demi melanjutkan protes pada istrinya, ia malah mengabaikan hal itu. Kini kembali memprotes istrinya sementara Agnia yang kembali dipeluk sepi dan hendak berbalik.


Saat itu tanpa disengaja matanya bersitatap dengan Adi. Buru-buru Agnia mengalihkan pandangannya, sungguh detik yang sangat tidak baginya.


Adi tertangkap basah, ia pun baru sadar sudah memperhatikan Agnia begitu. Jelas, ini salah. Kenapa sekarang terkesan ia sedang merindukan sorot gadis itu? Bagaimana jika Alisya tau tentang ini?


"Yah!" Tangan Raina membuyarkan lamunan Adi ditengah rasa bersalahnya, gadis menggemaskan itu meraih wajah ayahnya dari pangkuan Alisya. Minta pindah tempat.


Adi tersenyum lembut, sembari menjulurkan tangannya. Menuruti apa mau putri kecilnya itu.


Jika bisa, Akmal sudah akan meraih tangan Agnia, menempatkan tangannya di atas punggung tangan Agnia, meraih jemari lentik itu seraya menggenggamnya erat. Ia sadar ketidak sengajaan yang terjadi antara Agnia dan Akmal, dadanya sedikit bergemuruh sebab itu.


Akmal tau, jika bertemu Adi tak sepenuhnya baik-baik saja bagi Agnia. Apalagi dengan tatapan Adi, entah kenapa ia merasa jika pria itu masih memperhatikan Agnia. Benar-benar membuat tidak nyaman. Bukan bagi Agnia saja, tapi juga baginya.


...


Algi, istri dan anaknya pulang lebih dulu, buru-buru sekali. Membawa anak semata wayang bersama mereka di event seperti ini nyatanya bukan ide yang bagus.


Anak Algi yang sudah dua tahun itu terus merenggek, mungkin sudah mengantuk atau bisa jadi bosan.


Tersisa sembilan orang lagi disana, yang semua langsung bertukar kalimat berpisah sedatangnya Indri. Mereka tak mau menunda lebih lama, berbeda dengan Agnia yang tak sabar pulang namun masih juga ditahan oleh Indri.


"Kak.."


Indri mendesah pelan, ia kembali diinterupsi. Heran sekali kenapa stafnya betah sekali mengganggu dalam situasi ini, padahal sudah diperingatkan.


Sodoran kertas ditolak Indri, dari pada membacanya dengan bosan lebih baik segera pergi dan mencari puncak kesalahannya sendiri. "Bentar, Ya.. jangan dulu pulang.." sekali lagi Indri menggenggam tangan Agnia, kemudian pergi ditelan pintu.


Agnia menghela, mengangguk. Wajahnya langsung berubah seperginya semua orang termasuk Indri, lelah sekali ia tersenyum sepanjang waktu. Matanya menoleh Akmal kini, pria itu tersenyum santai. Tak terburu-buru meski dikejar rasa lapar juga kelasnya siang ini.

__ADS_1


"Tunggu bentar, ya.." ucap Agnia yang langsung diangguki Akmal, tak keberatan sama sekali meski perutnya sudah mulai terasa seperti diperas.


Alisya sedikit lebih terlambat dari yang lain, baru bisa keluar sebab Raina tidur di pangkuanmya tadi. Menunggu sesaat hingga Adi mengambil alih putrinya.


Langkahnya sedikit tersendat saat melihat Agnia yang ternyata juga belum pulang, berdiri di depan pintu bersebelahan dengan Akmal. Pikirannya langsung berkelana melihat itu, rasa malunya tadi seakan ingin membuncah seketika.


"Kenapa?" Adi bertanya, tak fokus pada jalannya namun heran istrinya malah berhenti begitu saja.


"Emh.. Gak papa, Mas." bohong Alisya sembari tersenyum. "Kamu duluan aja, aku mau.. nemuin temenku dulu."


Adi tak sempat bertanya atau melihat sekitar, tak tau jika teman yang dimaksud adalah Agnia. Ia melangkah saja menuju mobil, tak bisa lebih lama menggendong Raina dengan posisi ini. Bisa-bisa anaknya pegal saat bangun nanti.


Cuaca yang makin panas itu menimbulkan pantulan silau dari mobil yang terparkir, Agnia melirik jam di layar ponselnya sekilas. Masih pukul sebelas ternyata, tandanya event itu hanya memakan waktu dua jam. Matanya menelisik jauh ke arah mobil, itu Adi yang menggendong Raina. Sedangkan Alisya? Dimana wanita itu?


"Agni.." panggilan itu menjawab tanya di hati Agnia, saat ditoleh sosok Alisya lah yang datang.


Akmal sedikit curiga, langkahnya sedikit ia rapatkan pada Agnia saat Alisya makin dekat. Perempuan itu menakutkan, kini tersenyum melirik Akmal dan beralih pada Agnia dengan bergantian.


"Kita gak sempat ngobrol di dalam.."


Agnia balas menyunggingkan senyum tipisnya, sedikit heran kenapa Alisya menyempatkan diri untuk menemuinya. Tak kapokkah Alisya dengan tanggapannya sebelum ini?


"Kalian terlihat cocok.." puji Alisya yang menyiratkan sesuatu, Akmal menaikkan alisnya sebab itu. Ia pandai menilai perangai seseorang. "Harusnya kamu datang lebih awal, jadi Agnia gak perlu bersedih lama." tambahnya sembari menoleh Akmal.


"Maaf?!"


Agnia langsung menoleh Akmal, memberi isyarat supaya pria itu diam. Inilah harinya, ia mungkin akan tau apa yang sebenarnya Alisya rasakan tentang dirinya. Semua pertanyaan yang mengganggu Agnia selama ini mungkin akan terjawab.


Akmal mendengus pelan, baru satu kalimat saja sudah memancing kekesalan. Apa dia pikir yang terjadi pada Agnia itu semacam lelucon atau hal sederhana? Ah! Demi tatapan melarang Agnia, ia memutuskan diam.


Agnia tak bergeming, matanya membalas tatapan Alisya. Sama sekali tak tersinggung atau pun balas berusaha mengintimidasi. Ia mau tau sejauh mana Alisya akan bertindak, dan sejauh mana mata Alisya berkata jujur.


Siapa yang sebenarnya punya motif? Agnia tak merasa terancam sehingga harus menunjukkan sesuatu. Bukankah Alisya sedang menyinggung dirinya sendiri? Ketakutan akan kehilangan Gian masih terlihat di mata Alisya, sama saat dulu setelah ketahuan selingkuh tapi justru Alisya lah yang memohon untuk membiarkan mereka hidup bahagia.


"Sudahlah.. aku gak bermaksud menyinggung." Alisya resmi bermonolog. "Tapi, aku sedikit kecewa dengan tanggapan teman-teman kita. Mereka masih sama.. menatapku bak musuh dan menatapmu bak kawan." ujarnya getir, sorot matanya berubah sebal.


"Menyedihkan untukku, tidak bagimu. Aku.. tetap sama di mata mereka, bahkan setelah tiga tahun ini berlalu. Seakan.. kesedihan yang aku rasa selama ini tak cukup untuk jadi hukuman."


Agnia masih tak bergeming, sibuk memperhatikan Alisya yang baginya jelas sekali hanya butuh seseorang untuk mendengar. Sebab itu, demi masa lalu yang baik-baik saja antaranya dan Alisya, Agnia memilih diam.


"Selamat, untuk sekali lagi kamu mendapat iba dari semua orang. Meski sebenarnya kamu tampak bahagia di hari ini. Tentunya bersama kekasih berondong mu ini."


Tatapan Alisya tak seperti biasanya, tanpa ragu menunjukkan kesinisan yang sebenarnya sama sekali bukan gayanya. Ia terlampau sakit, sesal setelah datang ke acara ini bahkan tak sebanding dengan kehampaan hatinya selama ini.


Berondong? Akmal sebal sendiri mendengarnya, itu fakta namun tak bisa mengabaikan jika Alisya tengah berusaha menyudutkan Agnia. Di lain sisi ia merasa direndahkan, kenapa dengan jadi lebih muda? Apa mereka tidak bisa menjadi imam yang baik?


Akmal sudah akan membuka mulut jika tidak ada Indri yang lebih dulu menarik bahu Alisya. Itu terjadi sangat cepat, tak ada yang tau jika Indri berdiri tak jauh dari mereka saat larut dalam monolog keterlaluan Alisya.


"Apa kamu bilang?" tatapan datar diarahkan Indri pada Alisya, ia yang lebih tinggi dari Alisya menatap lekat dari mata ke mata.


"Indri.." Agnia berusaha memanggil Indri dengan lembut, tau jika Indri tidak dalam kondisi yang tepay untuk marah-marah. Bisa-bisa Alisya jadi pelampiasan setelah berkali-kali Indri gagal menumpahkan emosinya pada para staf.


"Apa?" Alisya balas menatap sengit. "Ini salah kamu.." lirihnya. "Kamu sengaja kan mengundang aku kesini hanya untuk mempermalukan aku? Hem? Disuruh Agni?"

__ADS_1


"Kamu keterlaluan! Aku yang ngundang kamu kesini, kalo memang ada keluhan kenapa menyasar Agni? Aku yang harusnya kamu salahkan."


"Lagi.." Alisya menganggukkan kepalanya. "Agnia kembali mendapat pembelaan dari temannya. Katakan, apa yang kamu dapat dari itu? Kamu benar-benar menyukai dia atau sama seperti aku? Punya motif pribadi?"


"Alisya!"


"Kenapa? Kenapa kamu segitunya membela Agnia? Hanya dia menunjukkan kebaikan dengan merangkul anakku, kalian melihat kebesaran hati dia tapi menyudutkan aku?"


"Itu hanya ada di pikiran kamu, Alisya!"


"Termasuk kalian yang kembali berusaha mengungkit kesalahan aku? Kalian mungkin berpikir kalian itu suci sampe bisa mendikte kesalahan aku."


Agnia meraih tangan Indri. "Udah, kalian! Malu diliatin orang.."


Indri menoleh sinis tanpa ampun pada Agnia, tangannya ia tarik. Benar saja, ia akan melampiaskan semua lelahnya pada perdebatan ini.


"Okay. biar aku jawab. Kamu mau tau kenapa aku bersikeras membela Agni?"


"Karena dia satu-satunya yang nganggap aku ada. Ingat jaman sekolah? Ingat apa yang kamu dan yang lainnya lakukan? Itu kisah lama. Jaman SMP malah, tapi lukanya masih perih sampe hari ini."


"Yakin mau dengar kejujuran? Kalo begitu dengarkan. Kamu.." Indri mengarahkan telunjuknya pada bahu Alisya. "Adalah salah satu tujuan aku untuk sukses hari ini."


"Kalo kamu pikir aku mengundang kamu untuk mempermalukan kamu, itu gak sepenuhnya salah. Tujuan kamu diundang adalah untuk menyaksikan bagaimana seseorang yang pernah kamu buli dulu kini berada jauh diatas kamu." ujar Indri penuh penekanan, membuat perdebatan ini makin menarik. Fakta-fakta baru kembali terungkap.


"Emh.. maksudku kalian.. kamu ingat buku desainku yang bersampul jelek itu? yang gak sengaja kalian buang?" Indri terlarut dalam ceritanya, matanya mulai berkaca-kaca. "Itu amat berharga asal kamu tau. Bukan seberapa murah atau seberapa uang yang kalian ganti saat itu, tapi.."


"Isi dalam buku itu, sangat berharga.. sangat berharga untuk aku. Kamu gak tau kan seberapa kerasnya aku berjuang mengumpulkan desain itu? Enggak. Kalian cuma tau membuang, menghina mimpi aku yang bagi kalian gak mungkin aku gapai. Sebab itu kalian mengukur kemampuan orang lain dengan kemampuan kalian yang padahal.. kalianlah yang nol besar."


Alisya melongo, tak bisa berkata-kata. itu memang kisah lama dan tak sekalipun ia tau sedalam itu membekasnya bagi Indri.


"Ingat itu? Tidak! Bahkan kamu gak ingat kesalahanmu itu sebab terlalu fokus menyalahkan Agnia."


"Dengar, aku benci menangis. Jadi.. biar kukatakan.. apa yang kamu terima hari ini adalah buah dari apa yang kamu lakukan. Jika tidak ingin hidup begini, harusnya pikirkan lagi sikapmu sebelum memacari pacar sahabatmu sendiri."


"Dan apa tadi? Seakan kesedihan yang kamu rasakan tidak cukup sebagai hukuman?" Indri mendengus. "Kalo kamu berpikir begitu, ingat lagi satu hal... Tanya diri kamu.. Kenapa Agnia harus merasakan hukuman sedangkan dia tidak melakukan kesalahan apapun kecuali sudah mengenalmu dan pria itu."


"Dia dihukum bahkan tanpa melakukan kesalahan, pernahkah kamu berpikir hingga kesana? Enggak! Kamu hanya sibuk dengan kebahagiaanmu yang dibayangi penyesalan itu."


"Saat dia terpuruk kamu gak ada, dan saat dia kembali bahagia kamu mulai membandingkan kehidupan kamu dan dia."


Indri menjeda, bermonolog penuh emosi ternyata menguras tenaganya. Kini balas menunjukkan tatapan intimidasinya. "Lihatlah.. kamu yang tadinya semangat ingin menyudutkan kini berakhir diam."


"Biar aku tambahkan.. Entah aku ataupun kamu gak akan bisa melewati apa yang Agnia rasakan dulu. dia hidup dalam kesedihan selama tiga tahun terakhir. bahkan.. enam tahun dia memacari pria bodoh itu, juga sembilan tahun yang kalian habiskan sebagai sahabat menjadi sia-sia dan menyedihkan baginya."


"Tapi dia gak pernah mengatakan keluh kesahnya, dia gak pernah membebani orang tuanya dengan pertanyaan kenapa semua ini terjadi. Kamu tau bagian paling menyedihkan? Cibiran yang orang lontarkan untuk orang tuanya. Sekali lagi.. pernahkah kamu memikirkan itu?"


"Sebab itu, sekarang tolong biarkan Agnia dengan kehidupannya. Jangan pernah lagi menyinggung urusan pribadinya seperti yang pernah kamu lakukan dulu."


Alisya bungkam, matanya mulai berkaca-kaca. Dari satu sudut ini lebih terlihat Alisya yang terdzolimi, sedang Indri sebagai tersangkanya. Namun tidak dengan Indri, ia terlatih untuk ini sejak hari ia dibully. Air matanya mengering seiring langkah menapaki jalan berbatuan menuju kesuksesan.


Ia yang dulu ditertawakan saat mengatakan mimpinya sebagai desainer di depan kelas kini menunjukkan taringnya.


Akmal menghela, semua yang ingin ia sampaikan tersampaikan oleh Indri. Sekali lagi Akmal benar sekali dengan penilainnya, Indri bukan begitu saja sukses. Ia didewasakan proses, hal sama yang ia lihat dari Agnia hari ini.

__ADS_1


Sedangkan Indri tak menoleh sekitar, puas sekali. Yang menggunung di jiwanya sudah perlahan mencair. Bukan tentang Agnia, tapi tentang ia dan luka yang ia bawa seumur hidupnya.


Ia yang dipandang menyedihkan dulu, hari ini membuktikan dirinya. Dan Indri sungguh-sungguh, Agnia satu dari segelintir orang yang menghargainya dari dulu hingga sekarang.


__ADS_2