
Makan malam dilanjutkan obrolan hangat itu berakhir sebelum pukul sepuluh, Fauzan sudah meminta Akbar dan Agnia bersiap pulang.
Saat calon besan itu masih asik berbincang, Agnia dan Akbar izin lebih dulu keluar. Sudah berjalan berdampingan menuju teras, disaksikan Akmal yang duduk tak tenang ingin ikut keluar dan mengajak Agnia berbincang setidaknya sesaat.
"Mbak, tunggu dulu disini.. aku nyalain mobil dulu." Akbar berucap sembari berlalu, Agnia menurut dan diam di teras.
Pemuda itu melangkah cepat, membuka pintu mobil melempar bokongnya di jok supir. Segera meraih ponsel di dashboard, lanjut berlarut pada benda kecil menyala itu.
Terlupa, Akbar tak sempat membawa ponselnya tadi hingga pemberitahuan dan pesan menumpuk minta dilirik.
Pandangan Akbar seketika lepas dari layar ponselnya, beralih ke depan sana. Matanya memicing saat melihat Akmal keluar dan kini berdiri di dekat kakaknya, meski ingin sekali keluar Akbar menanti penasaran apa yang akan dilakukan dua orang itu saat hanya berdua.
...
"Mbak.." panggil Akmal, sudah berdiri di sebelah Agnia saja. Membuat gadis di sebelahnya spontan menoleh.
Agnia tak cepat-cepat mengalihkan pandangannya seperti semula, justru menoleh lama pemuda yang menyungging senyum manis itu. Takjub juga heran bersatu di kepala Agnia, itu yang muncul saat melihat Akmal.
Pemuda dengan 'dua ibu ini memang menawan sejak kecil, manis juga penuh kasih sayang. Hal itu membuat rasa bahagia dan syukur memenuhi hati Agnia, pemuda yang dipilihkan Allah melalui ibunya ini memang seseorang yang tepat. Jika dia bisa memuliakan ibunya, pun menyayangi seseorang yang sudah seperti ibunya sendiri, maka tak diragukan caranya memperlakukan istrinya kelak.
Dan lihatlah Akmal yang masih mengulas senyum, tangannya ia letakan di saku celananya. Menatap lurus ke depan, menarik napas lega. Tak terlihat hendak menyampaikan apapun kecuali menunjukkan ketenangan yang ada di hatinya kini.
Agnia ikut menyungging senyum tipis, tak lama. Saat Akmal menoleh ke arahnya, Agnia kembali mengalihkan tatapannya.
"Mbak nyaman di rumah aku?" tanya Akmal, Agnia dibuat menoleh kaget dengannya. Pria ini memang ahlinya mengatakan hal-hal mengejutkan.
"Emh.. kenapa nanya?" Agnia tak mau begitu saja mengiyakan, pertanyaan ini bisa saja jebakan baginya. Bisa-bisa ia salah tingkah sendiri, atau terpojok nantinya.
"Soalnya.. kalo gak nyaman, kita bisa beli rumah sendiri." jawab Akmal santai, tanpa beban.
Agnia mengerjap, tanpa Akmal sadari ucapannya membuatnya Agnia terjebak pikirannya. Rumah? Tentu saja. Agnia lupa akan dinikahi seseorang yang keluarganya tak kesulitan ekonomi. Namun bukan tempat tinggal yang dipikirkannya saat ini, Agnia sudah senang bisa disandingkan dengan seseorang yang luar biasa.
"Gimana?" Akmal menoleh, bertanya untuk memastikan.
"Emh.. tentang rumah, apa itu gak terlalu buru-buru?"
Akmal mengernyit, Agnia membalas pertanyaannya dengan pertanyaan lagi. Ini aneh, kenapa dari sekian banyak yang membayangkan hidup dengan serba tersedia Agnia justru terlihat tak semangat tentang rumah?
Agnia tak kalah heran dengan sosok Akmal, hal lain terlintas di kepalanya. "Kamu.. rela tinggal jauh dari Bunda mu?"
Pertanyaan Agnia membuat Akmal seketika terkekeh. Ternyata itu yang dipikirkan Agnia, tentang ia yang harus rela meninggalkan rumah penuh kenyamanannya ini.
__ADS_1
Akan ada perasaan sepi memang, tak hanya ia namun bagi orang tuanya juga jika harus keluar dari rumah ini. Namun sebenernya menjalani rumah tangga baru di rumah yang terpisah lebih baik, itu yang ia pikirkan. Akmal tersenyum, saat Agnia menatap bingung pada kekehannya barusan.
"Tinggal jauh, bukan berarti gak bisa ketemu kan? Toh.. Bunda itu pengertian."
"Pengertian?"
Akmal mengangguk. "Bunda tau kita butuh banyak waktu untuk.. berdua." ujarnya, sedikit berbisik.
Wajah Agnia seketika berubah tegang, kalimat itu membuat hatinya yang sudah tenang kembali dilanda perasaan aneh. Akmal yang apa adanya selalu berhasil membuat pikirannya terbang jauh, Agnia mengerjap untuk sesaat.
Dalam situasi yang tidak Akmal sadari ucapannya mengacaukan hati Agnia, Akbar yang anteng mengawasi di dalam mobil dibuat terburu-buru keluar dari mobil.
Berjalan cepat sembari diperhatikan Agnia juga Akmal. Pemuda itu segera berdiri memisahkan dua orang itu, berdiri menghadap Akmal sembari mendorong pelan temannya itu. "Jangan cari kesempatan dalam kesempitan!"
Akbar mencebikkan bibirnya, tanpa berucap apapun lagi meraih tangan sang kakak dan membawanya menuju mobil. Memang semua pria tidak bisa dipercaya, Akbar mana bisa membiarkan dua orang itu lebih lama lagi berduaan.
Akmal tak sempat bereaksi. Melihat adik kakak yang tampak sangat akur itu, ia hanya bisa tersenyum sembari menggeleng takjub.
.
.
.
.
Agnia melempar tubuhnya di atas ranjang, sudah berganti piyama tidur. Siap untuk tidur, namun tidak dengan pikirannya yang menghempas kantuk.
"Bunda tau kita butuh banyak waktu untuk.. berdua."
Ah! Agnia mendesah pelan, mengusap wajahnya gusar. Benci sekali dengan dirinya yang segila itu oleh ucapan dan perilaku Akmal. Dan kesalahan ada pada Akmal, dia tidak menyadari jika tingkahnya itu selalu membuatnya tak nyaman.
Agnia hanya takut jika jatuh hati lebih dalam tidak dalam waktu yang tepat, rasa suka ini seharusnya tumbuh dan berkembang setelah pernikahan.
Namun faktanya, Agnia tak bisa menahan sesuatu yang makin hari semakin membuncah di dadanya. Akmal ternyata mampu meruntuhkan tembok yang ia bangun cukup lama, hatinya tak lagi punya ketakutan untuk mengakui perasan yang menjelma kentara itu.
Ponsel yang Agnia letakan sembarangan berbunyi, membuat sang empunya ponsel spontan mengulurkan tangan mencari letak benda kecil berbunyi itu dengan malas.
Siapa juga yang menelpon di jam seperti ini? Setelah susah payah, Agnia menyibak selimut dan menemukan ponselnya disana. Segera mengangkat benda itu ke depan wajahnya.
Agnia menghela pelan, nomor Akmal yang muncul. Heran, apa belum cukup pemuda itu mengganggu hatinya? Apa obrolan singkat tadi masih tak cukup hingga harus menghubunginya?
__ADS_1
Hanya saja meski punya keluhan, Agnia bergerak membenarkan posisi tidurnya jadi telungkup. Tetap menjawab panggilan itu.
[Halo Mbak?]
Suara lembut Akmal terdengar, Agnia tak langsung menjawab dan menenggelamkan wajahnya ke atas bantal.
[Udah mau tidur, ya?]
[Hemh..] Agnia bergeming malas.
Agnia merasa ada yang salah jika mereka terlalu intens berbicara. Dimana letak berharganya hubungan setelah pernikahan, saat baru lamaran saja mereka sudah sedekat ini?
[Aku cuma mau tanya, besok mau aku temenin ke panti?]
Agnia mengangkat wajahnya, untuk sesaat menimbang. Ia baru ingat sudah hari Minggu saja besok, kesibukan membuatnya untuk pertama kali lupa dengan kegiatannya di panti.
[Emh.. gak usah, deh..]
Hening sesaat, tak tau kenapa Akmal tiba-tiba diam. Agnia menunggu, ingin tau apa yang akan dikatakan pemuda itu. Helaan samar terdengar di sebrang sana, bisa disimpulkan jika Akmal sedikit kecewa akan penolakannya.
[Mbak Agni gak mau aku temenin karena gak nyaman sama aku?]
[Bukan!]
Agnia menjawab cepat, spontan. [Tapi..]
[Tapi aku rasa begitu, itu yang aku lihat..]
Serba salah, tak mungkin ia katakan jika ia iyakan lalu dirinya katakan ketidak nyamanan itu timbul dari hatinya yang takut semakin terlena. Akmal bisa salah paham, dan apa gunanya pengakuan seperti itu. Sudah seharusnya mereka menjaga diri, harus bersabar sedikit lagi hingga tak ada jarak dan hanya ada halal antara mereka.
[Enggak kayak gitu, tapi.. ada hal lain yang lebih baik kamu lakukan..]
[Apa?]
Tanya Akmal terdengar lucu di telinganya, senyuman tipis Agnia sungging seketika. Entah kenapa Agnia merasa dirinya sedang membujuk anak kecil untuk tak merajuk, dengan mengalihkan fokus anak itu pada hal lain. Dan memang itu yang sedang ingin ia lakukan.
[Kamu.. masih harus minta restu satu orang lagi, untuk hubungan kita..]
[Siapa?]
[Ada, pokoknya.. orang ini untuk ku istimewa.. jadi lebih baik lakukan yang terbaik..]
__ADS_1