
Perpisahan itu nyata, meski diri menghendaki sebaliknya.
Namun hidup adalah ajang pertunjukan, semua disana fana dan palsu
Setiap kesedihan hanya hiasan, tiap kebahagiaan hanya ujian.
Semua akan terlewati, hingga waktu berlalu dan duka terasa singkat masanya.
Sebab suka duka berganti sesuai skenarionya,
Maka bertahanlah hingga diri yang luka membaik dan kembali siap berjuang.
...
Malam itu rasanya berbeda, seperti hampanya hati tergambar menjadi gelap yang tak menyenangkan mata, dan dingin yang menusuk memaksa masuk meski tubuh dibalut pakaian hangat.
Agnia diam-diam menghela, menengok ke arah jendela. Akmal menyuruhnya tidur sepanjang perjalanan, namun hingga menjelang subuh dan tak lama tiba di tempat tujuan ia sama sekali tak bisa menutup matanya. Mengantuk namun tak bisa terlelap, tubuhnya lelah namun tak cukup alasan untuk bisa tidur. Bahkan pemandangan gemerlap kota sepanjang jalan yang biasanya ia sukai, kini tak cukup menghibur.
Mobil baru saja memasuki jalanan kecil pedesaan, dua mobil yang melaju beriringan itu bak sinar diantara gelap yang memanjang tiada habis. Akmal menoleh Agnia begitu mereka bebas dari jalan raya yang sibuk dan penuh kecepatan, tersenyum tipis seraya mengulurkan tangan membelai puncak kepalanyanya yang tertutup kerudung.
Agnia menoleh, tersenyum singkat. Meraih tangan suaminya itu untuk ia cium.
"Sebentar lagi nyampe, bersiap.." kata Akmal.
"Hem.. Makasih.."
"Jangan makasih, aku juga.. aku juga mau ketemu nenek. Kita berdo'a semoga nenek baik, bisa pulih, bisa kumpul dan ketawa lagi sama kita.. "
"Hem.." Agnia mengangguk.
"Tapi yang paling penting, adalah.. berdo'a yang terbaik. Apapun takdirnya nanti, jangan bersedih. Mbak harus lebih kuat dari siapapun, Ya?"
Agnia sekali lagi mengangguk, tersenyum tipis.
__ADS_1
...
Kabar duka itu bergema, dikumandangkan di tiap mesjid masing-masing kampung. Ini adalah nyata. Telinga yang normal mendengar itu bersahutan secara langsung. Agnia melihat ketakutan itu nyata terjadi, kumandang kabar duka itu lebih dulu menyapa mereka dibandingkan pelukan hangat sang nenek.
Ya, tubuh tua itu telah hilang nyawanya.
Tolehan Agnia segera Akmal balas genggaman, sesaat sebelum turun dari mobil. Siapa menyangka? Akmal yang baru beberapa bulan mengenal wanita tua itu, juga merasa kehilangan yang dalam. Apa lagi Agnia juga seluruh keluarga besar.
Khopipah tak langsung masuk, begitu melihat beberapa tetangga sudah berkumpul di rumah duka. Ia menunggu Agnia turun dari mobil, apapun yang terjadi ia sudah berjanji akan menggenggam tangan putrinya.
"Baru aja." jawab kerabat yang menemani hingga detik terakhir, saat ditanya kapan tepatnya seseorang yang terbujur kaku itu berpulang.
Tandanya memang saat mereka di perjalanan, Agnia berusaha tak menangis. lagi pula ini adalah satu dari sekian duka di perjalanan hidup yang ia sadari akan terlewati sekarang ataupun nanti, ia tak mungkin berlarut dalam kecewa ataupun sedih.
Hari itu masih jelas, saat sang nenek mengelus puncak kepalanya dan mengatakan nasihat. Mengatakan bagaimana inginnya beliau untuk segera bertemu cicit darinya, Agnia menghela berat mengingat itu. Allah maha baik, ternyata sang nenek memang akan menemui cicitnya. Mungkin sudah, dua orang yang pergi itu mungkin kini sudah bersama.
Beruntung Agnia sempat memberi kecupan terakhir pada tubuh yang sudah tak bernyawa itu, tak kurang apapun, ia pasrah menerima kenyataan dirinya yang menemui sang nenek dalam kondisi begini. Ikhlas, ternyata semudah itu hadir. Kenyataannya hatinya lega, sebab neneknya dipanggil dalam keadaan baik.
Amat baik, kesan itu yang semua dapat. Hingga diri tak ada keluhan dan kekhawatiran, semua yang terbaik. Berjalan sesuai takdir, dan semoga do'ana, do'a mereka semua sampai untuk meminta tempat terbaik untuk seseorang yang tersayang itu.
Agnia mengangguk, mencium punggung suaminya singkat. Ia tengah duduk di teras saat itu, memperhatikan iring-iringan keranda yang memanjang menuju mesjid.
"Nenek orang baik, berjasa, Mbak jangan khawatir.."
"Iya." Agnia akhirnya tersenyum, itu juga yang berulang ia bisikkan di hatinya. Hingga rasanya diri tak perlu resah. Sebab dinginnya lantai tanah di kuburan tak akan terasa sebab Allah menghangatkan dengan kehendaknya, sepi tak akan terasa sebab amal sepanjang hidup jadi temannya, gelap tak akan terlihat sebab kebaikan dan bacaan Qur'an jadi penerangnya.
Yang paling sedih adalah Yesa, tak bisa pulang dari pondok sama sekali. Beda dengan Agnia yang bisa memaksa sang suami, Yesa tak bisa sebab peraturan. Sekarang pun Agnia tengah menenangkan Yesa yang menangis pilu dalam panggilan video.
"Aku gak bisa pulang, Mbak.." ulang Yesa, menegaskan hal yang sama berulang kali. "Katanya kalau aku pulang pun gak akan mengubah apapun, tapi aku kan.."
"Mbak ngerti, Yesa.. Tapi bagi kamu, menaati peraturan lebih wajib sekarang ini. Jadi do'ain aja dari sana, ya?"
Yesa masih sesenggukan, jelas kehilangan sang nenek yang setiap harinya ia temui saat di rumah. Namun bagaimana gadis itu akan tumbuh dan jadi kuat jika tak diberi pelajaran berharga.
__ADS_1
Perpisahan di dunia itu sederhana, meski menyedihkan. Toh jika Allah menghendaki, dengan kasih sayangnya semua akan kembali bertemu di akhirat kelak. Sama bagi Yesa, yang sekuat mungkin harus dan dituntut tegar.
"Yaudah, Mbak.. aku masih harus ngaji."
"Iya, yang semangat. Kalo gak enak badan jangan dulu dipaksakan, Hem?"
"Iya."
Sesaat panggilan itu terputus, Agnia terenyuh. Lihatlah bagaimana Yesa tak bisa pulang sebab tuntutan sedang dirinya memaksa pergi meski dilarang sebab kebaikan. Helaan napas ia ambil, sungguh miris juga memalukan di sisi lainnya. Padahal memang tak akan ada yang berubah meski ia pergi atau tidak. Yang utama ia disana tak bisa melakukan apapun selain berdiam di rumah dan merapihkan semua.
.
.
.
.
Bahkan tak bisa melihat sang nenek dikubur, Agnia kini duduk termenung menyadari kesia-siaannya datang ke sana. Niatnya baik untuk melihat sang nenek yang terakhir kali, namun tanggapan Hafidz begitu tidak menyenangkan.
Saat membahas Yesa yang tak bisa pulang sebab tak akan ada yang berubah meski ia pulang, Hafidz tipis-tipis menyinggung Agnia. Akmal bisa melihat wajah Agnia berubah tak nyaman setelah Hafidz berucap begitu, padahal istrinya sedang dalam kondisi dan suasana hati yang buruk.
"Itu sebabnya Mas suruh kamu gak usah ikut. Kamu itu sakit, lagi pula apa yang kamu lakukan disini? kamu gak menyolatkan ataupun pergi ke pemakaman."
Agnia menghela pelan, mengangguk pelan. "Aku ke kamar dulu, Mas.." ujarnya di hadapan semua, lantas pergi ke kamar tempatnya beristirahat.
Akmal mengekor, izin pada semua untuk melihat istrinya. Agnia sedang tak boleh sendiri, meski terlihat sangat kuat dan tegar.
Benar saja, tangisnya pecah. tangis yang bahkan tak keluar saat kehilangan bayi juga saat tubuh sang nenek terbujur kaku di hadapannya. Namun kini yang ditahan itu akhirnya memaksa keluar juga.
Tak mengatakan apapun, sebab yang diperlukan Agnia bukan ucapan menenangkan. Akmal menatap istrinya lekat, menghadapkan wajah itu untuk menatapnya sembari mengelus bahu yang layu itu hingga Agnia sendiri yang datang ke pelukannya.
Akmal memberikan pelukan terhangat, menyediakan bahunya jadi sandaran. Menyediakan dirinya untuk jadi tempat tangisan pecah, ia tak akan mengeluh atau melarang. Terkadang, diri memang perlu menangis untuk tenang.
__ADS_1
"Gak papa, keluarkan aja." bisik Akmal, setelah mengecup pipi Agnia singkat. Untuk beberapa saat kemudian, tetap di posisi begitu hingga tangis Agnia mereda dengan sendirinya. Akmal tak bisa melakukan apapun untuk menunjukkan jika dirinya memahami dan tak memprotes keinginan sang istri untuk datang, ia hanya bisa memberi waktu hingga istrinya merasa lebih baik, juga memberi tempat supaya istrinya bisa nyaman mengeluarkan keluh kesahnya.