Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
167.


__ADS_3

"Mbak tau, kecelakaan itu terjadi saat Ulya mau nemuin Akmal. Hanya saja gadis itu tidak sampai menemui Akmal, dan tidak pula kembali ke rumahnya."


Kisah itu ternyata, Agnia menghela panjang di bibir ranjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Kini jelaslah alasan sulitnya tidur bagi Akmal. Bukan saja rasa kehilangan, namun rasa bersalah mungkin saja dirasakannya sepanjang waktu.


Tak tau serumit itu, tak tau beban hati Akmal seberat itu. Pria itu memang tak boleh kesepian, Agnia merasa harus menyembuhkan lukanya. Meyakinkan jika ia tak sendiri dalam lukanya, ada dirinya. Seperti Akmal yang menemaninya melalui masa sulit, pria itu tak seharusnya merasa sendiri.


Pintu kamar mandi terbuka, Akmal keluar sembari mengeringkan rambutnya. Langsung menghampiri Agnia, duduk di sebelahnya. Agnia paham, mengambil alih handuk, membantu mengeringkan rambut Akmal.


Akmal tersenyum, ini jadi kebiasannya sejak beberapa hari ini. "Oiya, Mbak.. aku liat ada bingkisan di meja. Dari siapa?"


"Dari Ripda, tadi pagi gak lama kamu berangkat.. dia dateng."


"Oh.." Akmal mengangguk singkat. "Tumben, ada apa?"


"Main aja. Kenapa emangnya?" tanya Agnia, dengan nada curiga.


"Takut aja, kalo dia ngadu soal aku yang enggak-enggak.."


Agnia mencebik. "Kamu bicara seakan punya masa lalu yang jelek. Atau.. jangan-jangan kamu waktu SMA memang nakal?"


"Enggak kok." Akmal menahan tangan Agnia. "Justru Mbak harus bangga.. suami Mbak itu dari kecil sampai sekarang baik, di sekolahnya punya reputasi baik, terus rajin, pinter, kesayangan semua.."


"Kesayangan semua? Aku gak suka ya.. gak bangga soal itu. Dasar idola sekolah.." cibir Agnia tak senang, bangkit dari duduknya. Meninggalkan handuk di kepala Akmal begitu saja.


"Bagus dong. Kalo ayahnya banyak yang sayang, nanti anaknya juga banyak yang sayang.." ujar Akmal, nyengir. Memperhatikan Agnia yang berjalan menuju meja rias, mengambil seperangkat alat cukur.


"Sayang.."


"Apa? Aku gak mau ya.. Mbak pakein masker."


"Enggak ih!" Akmal salah lihat, Agnia datang dengan peralatan miliknya. "Besok lebaran, kamu harus keliatan lebih baik. Jangan sampe Bunda liat kamu berkumis begini, apa kata Bunda nanti."


"Kenapa? Aku bukan pemuda lagi. Aku pria yang sebentar lagi punya anak." kata Akmal bangga, menatap wajah fokus Agnia. "Akan gawat kalo aku keliatan lebih muda dari statusku."


Agnia menghentikan gerakan tangannya, paham sekali arti ucapan juga cengiran lebar Akmal. "Kenapa? Kamu berencana macam-macam?"


Akmal terkekeh. "Kalo Mbak marah biasanya makin cantik. Tapi untuk kali ini.."


"Ini bukan kemarahan, sayang.. tapi peringatan. jangan macam-macam atau.. aku cukur habis hidung mu."

__ADS_1


Akmal terkikik. "Lucunya.."


"Aku serius.." pelotot Agnia. "Dan jangan gerak!"


Ayolah, mana bisa Akmal serius meski dipelototi. Baginya wajah kesal Agnia menggemaskan, membuat sudut bibirnya naik dengan sempurna.


"Jangan senyum, dong.. nanti idung kamu beneran kecukur."


"Tapi.."


"Apa?" galak Agnia, kesal terus diinterupsi.


"Kenapa Mbak cukur kumisku? Aku suka kumis ini."


"Aku yang gak suka." singkat Agnia, asal.


"Aduh!" Akmal kembali dibuat terkekeh dengan jawaban istrinya. "Kenapa? Geli, ya?" tanyanya diiringi cengiran.


"Ih!"


Lagi dan lagi, Akmal suka sekali mengganggu Agnia dengan kalimat-kalimat seperti itu. Ditengah takbir yang menggema di luar sana, mereka sibuk menghangatkan malam dengan candaan.


...


Agnia menghela, mendapati suaminya melamun tak jelas di meja makan. Dengan muka bantal beserta mata sayunya. "Sayang?"


"Hemh?"


"Kenapa? Masih ngantuk?"


Akmal mengangguk, sembari menatap lurus ke arah meja. "Aku penasaran." gumamnya.


"Apa?"


"Kenapa Mbak selalu masak sayur sop ceker?" tanya Akmal datar, terlihat lipatan kali lebih ngantuk dari biasanya.


Agnia terkekeh, dikiranya pertanyaan yang penting. "Kolagen, sayang.. bagus untuk kulit."


Idul Fitri selalu syahdu, selalu penuh haru. Akmal meninggalkan rumah sejak subuh sekali, bahkan ikut takbiran di mesjid sampai subuh tadi. Agnia ditinggal, urusan ibu rumah tangga hal yang paling tak pernah berakhir. Baru menyusul bersama Yesa yang datang menjemput.

__ADS_1


Kue-kue dihidangkan, aroma opor dan sambal kacang tercium seisi rumah. Tak langsung ke mesjid, kediaman sang ayah jadi tempat pertama ia datangi.


Syahdu, perasaan tak terbendung yang tak bisa diungkapkan bahagianya mengisi hati. Haru rasanya, manusia harus mengingat momen ini sebagai suatu berkah dan pemberian luar biasa. Siapa tau, jika ramadhan ini adalah terakhir dan idul Fitri yang syahdu nan penuh maaf ini tak lagi diri temui.


Dengar dengan penuh sadar, resapi dengan penuh syukur. "Allahu Akbar . Allah maha besar. Laa ilaha illa Allah.. tiada tuhan selain Allah. Allahu Akbar.. Allah maha besar."


Bahkan takbir yang menggema di setiap mesjid bak berbalasan itu amat dirindukan, seakan tak mau berpisah dengan ramadhan yang penuh berkah.


Agnia kembali lebih cepat, menyambut Akmal di depan pintu. Senyum pria itu cerah, seirama dengan cuaca pagi ini.


Pelukan hangat Akmal berikan, juga kecupan ke dahi sang istri. Tak bisa diungkapkan indahnya, lebaran pertama mereka sebagai suami istri. Itu pun dilengkapi dengan buah hati mereka di rahim Agnia.


"Mohon maaf lahir batin, sayang.." ujar Agnia tulus, dibalas gelengan oleh Akmal.


"Aku, aku yang harus minta maaf. Dan makasih karena menerima aku apa adanya."


Agnia mengangguk, tersenyum. Sebenarnya terimakasih di situasi ini rasanya terdengar kurang tepat. Agnia memilih kembali meleburkan dirinya ke pelukan Akmal. Tak ada yang kurang di hidupnya kini, suami yang baik dan pengertian, kehadiran anak, kehidupannya berbalik indah dalam hitungan jam. Kehidupan yang semula ia rasa penuh pengap, perlahan berubah indah sejak mengenal Akmal. Tak ada yang lain, ia bersyukur.


Haru itu selalu ada, Agnia dan Akmal bertandang ke rumah Fauzan terlebih dulu. Disambut haru Khopipah, bahkan Akbar saja mendadak pendiam, tangisnya tampak baru saja kering. Menyalami Agnia tanpa berucap apapun, langsung berlalu seakan malu ketahuan menangis.


Yesa muncul paling akhir, heboh membawa ponsel. Memotret sana sini. "Mbak.. ayo foto."


"Ayo.."


"Bukan sama aku, dong.. sama Mas Akmal. Aku fotoin."


"Boleh.." Agnia menoleh Akmal. "Sayang sini."


Hafidz dan Puspa baru saja datang, pakaian mereka serasi, bersama Zain dengan setelan mungil yang sama dengan kedua orangtuanya. Semuanya langsung jatuh dalam obrolan hangat setelah momen maaf-maafan, ditemani ketupat dengan opor dan sambal kacang terbaik buatan Khopipah.


...


Satu hari itu cepat berakhir, Akmal bukan saja lelah. Sudah terlelap di sofa sedang Agnia masih melipat baju di sofa lainnya. Setelah hari yang panjang itu semua kembali ke semula, bulan berkah berlalu. Mengunjungi rumah Fauzan, mengunjungi rumah Sidiq, bahkan undangan open house dari Indri mereka penuhi.


Melihat Akmal terlelap, Agnia yang selesai dengan pekerjaannya beranjak mendekat. Bergabung ke sofa sempit itu dengan senyum kecil.


Tak peduli selelah apapun, Akmal tetap terbangun dengan gerakan kecil. Hingga Agnia mematung di posisinya, baru saja meletakan bokongnya di sofa itu. "Ada apa?" tanya Akmal dengan suara serak.


Agnia menggeleng, balas menggeser tubuhnya membuat Akmal spontan membuka tangannya. Sedang kepalanya masih memproses kelakuan Agnia, istrinya itu sudah berada di pelukannya. "Ngapain, Mbak.. nanti jatuh lho.."

__ADS_1


"Ya makanya pegangin." Agnia menarik tangan Akmal melingkari tubuhnya, tak mengurungkan keinginannya berbaring di samping sang suami.


Akmal terkekeh, setengah mengantuk. Mencium puncak kepala Agnia untuk kemudian melanjutkan tidurnya. Agnia mendongak, membelai wajah Akmal. Jangan tanya kenapa, ia sedang ingin begitu. Dan egoiskah jika ia katakan itu sebab keinginan bayi di dalam perutnya?


__ADS_2