Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
147. Tumbuhnya keraguan part2


__ADS_3

Buaian hangat Agnia berhasil membawa lelap bagi pria yang sempat kehilangan nyenyak itu, tindakan sederhananya perlahan menggerus trauma yang sejak lama bercokol di sudut hati Akmal.


Dengkuran halus Akmal menjadi tanda jika pria itu benar-benar terbuai, lelap tanpa khawatir dan takut apapun. Tidur yang ia butuhkan tak lagi terasa menakutkan.


Hingga beberapa saat setelah Agnia beranjak dari ranjang, Akmal bergerak dari tidurnya. Perlahan membuka mata, menoleh ke sebelahnya. Helaan berat keluar dari mulut Akmal, pria itu baru menyadari tidurnya yang nyaman dan panjang. Matanya menoleh ke arah kamar mandi yang lampunya menyala, Agnia dipastikan berada disana.


Tak lama pintu kamar mandi terbuka, mahluk cantik favorit Akmal itu keluar bersama aroma wangi khas yang selalu menguar dari tubuhnya. Seketika seluruh kamar jadi wangi Agnia.


Agnia tampak segar, kembali menuju ranjang sembari melepas ikatan rambutnya, membiarkan rambut lurusnya tergerai cantik. Tangannya menyibak selimut, untuk detik itu juga mengernyit mendapati mata terbuka Akmal. "Kenapa bangun?" tanya Agnia. "Subuh masih lama, padahal."


Akmal tersenyum, bangkit dari tidrunya. Kantuknya hilang setelah mencium aroma segar Agnia, apa lagi dengan tampilan istrinya dengan piyama berkerah terbuka itu. Matanya dimanjakan seketika. "Gak papa, mau shalat dulu."


"Emh.." Agnia mengangguk, sesaat mereka saling diam. Hingga seperdetik kemudian Agnia menutupkan selimut hingga lehernya, dalam temaramnya lampu bisa melihat arah tatapan Akmal. "Apa? kalo mau shalat kenapa masih diem?" tanya Agnia gugup, yang lantas membuat Akmal terkekeh gemas. Segera menyingkirkan selimut yang menutupi tubuh Agnia, lantas membaringkan kepalanya ke atas paha sang istri tanpa peringatan.


Agnia mengerjap, sedikit terkejut. Hendak menjatuhkan kepala Akmal, namun tak tega saat suaminya itu memejamkan mata. Agnia tak tau seberapa sulitnya tidur bagi Akmal, dan tak tau seberapa berharganya Ulya bagi dia. Biar saja begini untuk beberapa saat, Agnia tak mau cepat-cepat menghancurkan kesenangan suaminya.


Belaian lembut diarahkan Agnia pada pipi Akmal, senyum kecil tersungging seiring gerakan sayang itu. Matanya tak lepas memperhatikan wajah pria di pangkuannya dengan seksama. Tampan dan teduh, siapa sangka pemilik wajah itu justru jatuh ke pelukannya.


Saat senang begitu, gerakan tangan Agnia berhenti seketika kala Akmal tiba-tiba menahan tangan Agnia dan ditariknya ke atas dada. Posisi ini mulai sekarang jadi favorit Akmal, sedangkan Agnia ikut berderu merasakan degup nyata tak karuan yang tangannya rasakan di dada sang suami.


"Masih ngantuk?" tanya Agnia akhirnya, tak betah juga jika lama-lama begitu.


Akmal bergerak pelan. "Sama Mbak aku ngantuk terus." jawabnya dengan suara serak diambang kantuk, tanpa sama sekali membuka matanya.


"Oiya?" Agnia mencebik tipis. "Sekarang gimana?" tanyanya setelah melayangkan kecupan singkat ke dahi Akmal.


Akmal kembali membuka matanya, memicing ngantuk. "Masih.. maunya disini." ujarnya sembari menunjuk bibir.

__ADS_1


Agnia berdecih. "Dikasih hati minta jantung." cibirnya, sengaja dibuat ketus.


Benar saja, Akmal segera bangkit menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu. Ia tak bisa begitu saja lalai sebab kehadiran Agnia, justru bersatunya mereka seharusnya jadi jalan mereka menjadi lebih baik. Bersama meraih surga, tak mau hanya sehidup namun juga ingin sesurga.


Tanpa menghilangkan ketengilannya, Akmal keluar dari kamar mandi dengan senyuman sok ganteng. Sengaja sekali begitu sebab Agnia memperhatikan.


Hingga langkahnya tiba ke atas sejadah, khusyuknya mengambil alih. Shalat tahajud dua rakaat, setelah itu mengaji ditemani tatapan Agnia.


Ada perasaan yang tak bisa didefinisikan soal kecemburuannya semalam, Agnia sempat merasa sedih namun saat ini teramat senang. Menyaksikan betapa indahnya awal kehidupan rumah tangganya bersama Akmal.


Pria ini baik, menyayanginya, memiliki segalanya, Agnia tak pernah menyangka jika ganti dari seorang Adi adalah Akmal yang lebih segalanya.


Agnia detik ini jadi lega, yakin jika sepanjang tak bisa tidurnya, Akmal habiskan dengan seperti ini. Ia jadi kagum, itu luar biasa. Rasa sakit itu berharga saat membuat diri menjadi lebih baik dan dekat pada-Nya.


Bacaan Akmal merdu Agnia memanjakan mata dan telinganya sembari telungkup nyaman di bawah selimut hingga tanpa sadar terlelap.


Surah almu' minum yang dibaca Akmal, surah ke 23 tepat pembuka juz 18. Surah yang tak hanya menjelaskan ciri orang-orang beriman, namun juga menjelaskan secara singkat namun jelas bagaimana membangkangnya umat-umat beberapa Nabi yang kemudian mereka ditimpa balasan atas perilakunya.


Akmal bergabung ke atas ranjang setelah menyimpan qur'an pada tempatnya, juga setelah memastikan pukul berapa detik ini. Melihat mata yang tertutup rapat itu, Akmal lekas membubuhkan kecupan kecil di pipi juga dahi Agnia. Agnia yang terganggu melenguh pelan, lantas memalingkan wajahnya.


"Mau gitu? Suaminya mau diabaikan?" tanya Akmal dengan nada ngambek.


Agnia mana peduli, justru terdengar merenggek. "Sebentar lagi subuh, jangan aneh-aneh ah.."


Akmal menghela pelan, istrinya ini memang sulit diajak bekerja sama. Dan sebagai hukumannya, Akmal menyibak rambut Agnia dan mengecupi leher juga bahu istrinya dengan gemas.


Agnia tak bergeming, terlanjur mengantuk juga pasrah. Lebih baik biarkan saja, toh Akmal tak kan bisa berbuat lebih.

__ADS_1


...


Agnia tak bergabung sarapan, sebagai ibu dapur yang selalu kenyang sebab sibuk mencoba ia lekas kekenyangan. Sesaat menu tersaji di meja makan, dirinya bergegas ke kamar untuk bersiap, antusias dengan ajakan jalan-jalan Akmal.


"Jadi ikut ke tasik?" tanya Retno, sembari tangannya menyendok nasi bersama lauk pauknya di atas piring.


Akmal mengangguk. "Jadi, Bun. Mumpung kita ada waktu luang."


Retno mengangguk. "Bagus deh, memang harusnya begitu. Kalian butuh waktu sama-sama, momen pengantin baru itu gak akan terulang rasanya." timpal Sidiq.


Akmal tersenyum mendengar itu, sepenuhnya setuju. Hanya saja kurang tepat jika jalan-jalan ini disebut ajang berduaan, toh perjalanan ini direncanakan bersama keluarga besar Agnia.


"Oiya, sayang.." Retno baru saja teringat, kini menatap Akmal dengan guratan serius. "Kamu udah cerita soal Ulya kan sama istrimu?"


"Emh.." Akmal memperlambat kunyahannya, hanya heran kenapa Bundanya bertanya soal itu. Lantas mengangguk pelan. "Udah, Bun."


"Syukurlah.." Retno tersenyum lega, kontras dengan Akmal yang wajahnya berubah setelah ditanya soal Ulya.


"Emangnya kenapa, Bun?"


"Kemarin Bunda keceplosan, bilang soal Ulya sama Agnia."


Akmal mengernyit, hatinya tiba-tiba tak nyaman, namun berusaha menyembunyikan itu. "Keceplosan gimana, Bun?"


"Iya, Bunda bilang kalo semenjak Ulya meninggal kamu jadi susah tidur. Bunda awalnya cuma mastiin kalo kamu gak gitu sekarang, tapi.. yasudahlah!"


Akmal mengernyit untuk waktu yang lama, tangannya spontan berhenti. Kepalanya kembali mengulang bagaimana berubahnya sikap Agnia, meski jadi lebih manis namun itu mengherankan dan kini terjawab sudah.

__ADS_1


Ia jadi takut Agnia salah sangka, atau terbebani setelah mengetahui itu. Yang padahal dirinya belum sempat menceritakan detail yang terjadi, juga bagaimana ia sempat bersedih hingga akhirnya lebih baik hari ini.


Akmal menghela pelan, tangannya meraih gelas. Meneguk air sembari meredam sesuatu yang mengganjal di hatinya, jelaslah kini jika sikap Agnia terpengaruh oleh cerita ibundanya.


__ADS_2