
Tak semua akan menyakiti,
Lantas mengapa masih menutup diri?
Jika rupa saja tak ada yang sama,
Lalu bagaimana tabiat bisa sama.
Jika ragu, mengapa tak terima penwaranku,
Buka hati dulu, ku janjikan yang terbaik kala bersamaku.
***
Akmal kembali menjemput Agnia ke sekolahnya, selepas dari kampus. Seakan sengaja menjadikan itu sebagai rutinitas. Latihan, jika nantinya memang berjodoh. Dan khusus hari ini, Akmak berbekal informasi dari Akbar.
"Gue yakin, Mbak Agni masih terpengaruh dengan kehadiran dua orang itu.." ujar Akbar di akhir obrolannya.
Dua orang itu? Akmal sebenarnya tak punya bayangan siapa yang dimaksud Akbar. Apa wanita yang kemarin bersama Agnia? Akmal mengingat-ingat peristiwa kemarin.
"Jadi itu sebabnya?" lirih Akmal, menarik kesimpulan. mungkin itu mengapa Agnia menarik tangannya tanpa pertimbangan kemarin, bisa jadi wanita itu yang menjadi alasan. Padahal tarikan tangan Agnia kemarin membuatnya susah untuk tidur. Dirinya sudah terjebak dengan perangkap manis yang dibuat orang tua mereka.
Persangkaan Akmal terbukti, saat tiba di sekolah PAUD itu, perempuan kemarin yang menggandeng seorang anak menghampirinya. Perempuan yang sama.
Akmal yang sadar itu, segera berdiri. Bangkit dari bangku panjang sebuah warung. Spontan saja, ia pikir perempuan itu hendak berbelanja. Berjaga jika dirinya menghalangi.
Perempuan itu justru menghadap ke arahnya. Akmal sejenak menyimpulkan dalam hati.
"Maaf.. Kalo boleh saya tahu, anda punya hubungan apa ya.. Dengan Agnia... Maksud saya, Bu Agni."
Benar saja sangkaannya, Akmal melirik sejenak anak yang mengintil perempuan itu. Tersenyum singkat. lihatlah, buah hati dari masa lalu Agnia yang menyakitkan itu ada di hadapannya. Getir ia rasa, Entah bagaimana dengan perasaan Agnia yang harus melihat anak itu setiap harinya.
"Anda sendiri.. Siapa ya?" tanya Akmal, beralih menatap Alisya.
.
.
Agnia baru melangkahkan kakinya keluar dari gerbang, yang unik pas sekali bersitatap dengan Akmal. Bocah itu berbicara dengan..
Akmal spontan tersenyum melihat Agnia. Tanpa berucap apapun pada seseorang di hadapannya, langsung menghampiri Agnia. Di sana tujuannya berada.
Agnia tampak kecewa, penasaran dengan apa yang mungkin dikatakan Alisya pada Akmal.
"Ayo! Mbak.."
Agnia mendengus pelan. "Siapa suruh kamu kesini?"
"Kemauanku.."
Agnia mengeluh tertahan. Menatap Akmal datar. "Menurut kamu apa pantas, saya dibonceng kamu setiap hari?"
"Tapi gak setiap hari, Mbak.. Cuma diwaktu ini, gak sampai setengah menit. Aku ke sini karena sempat..."
__ADS_1
Gemas sekali, rasanya Agnia ingin mencekik bocah di hadapannya ini. Ya, bocah.
Mendapat tatapan tajam dari Agnia, Akmal membalas dengan senyum pamungkas nya. Mengerti apa yang dikhawatirkan Agnia.
"Kalo Mbak khawatir dengan penilaian orang lain, kenapa kita gak nikah aja?" tanya Akmal santai.
Tak terduga, namun maklum. Ucapan mengejutkan keluar dari orang yang keberadaannya saja mengejutkan. Agnia menatap datar. "Kamu sedang melamar saya?"
Akmal mengangguk. Tersenyum.
"Ulangi!"
Akmal bingung, namun menurut saja. Menghela napas sejenak. "Mbak, kenapa kita gak nikah aja?"
"Ayo! Sekarang? Mana penghulunya?"
Akmal selesai sudah, ucapannya dianggap candaan. Padahal dirinya sudah lebih dari serius. Condong ke nekat malah.
"Aku serius, Mbak.."
"Yakin? Kamu ngajak saya menikah sudah seperti menawarkan kerja sama." ucap Agnia, gemas sekali. "Meskipun kamu mahasiswa bisnis, dua hal itu gak sama."
Akmal mengulum bibirnya, kesekian kalinya ia dimarahi.
"Habisnya Mbak jangankan aku serius melamar, aku datang ke rumah Mbak aja.. Mbak gak pernah peduli.."
"Ya itu karena.." Agnia menggantungkan omongannya, kala mata mereka bertemu. "Gak usah bahas ini lagi.." ucapnya, kini menormalkan nada bicaranya.
"Baiklah.." Akmal setuju saja, tersenyum. Ia tak akan kesal, dan selalu bersabar. Lihat saja, sampai kapan Agnia tak goyah dengan pesonanya. Secara tidak langsung menyebutnya mempesona, Akmal tersenyum geli sendiri.
.
.
.
"Ma.." Raina menarik ujung dress yang dikenakan ibunya. Memberi tunjuk jika yang ingin ia beli sudah terpenuhi. Menunggu untuk dibayar.
"Iya sayang?" Alisya beralih menunduk, menatap anaknya. Matanya teralihkan dengan kebersamaan Agnia bersama pria yang tak sempat menjawabnya barusan. Sekali lagi Alisya menoleh ke arah Agnia setelah menyerahkan uang pada pemilik warung. Menatap kecewa. Agnia pergi, dan sama sekali tak menghiraukan kehadirannya.
.
.
.
Ada sesuatu yang mengganggu pikiran Agnia, Tiba-tiba saja terlintas. Namun ragu untuk ia tanyakan, takut dianggap macam-macam oleh Akmal.
Akmal menyadari itu, melihat wajah gelisah Agnia dari spion motornya yang ia atur sedemikian untuk bisa melihat wajah yang ia bonceng.
"Kenapa, Mbak?" tanya Akmal.
Agnia spontan memalingkan wajahnya ke arah lain, sadar tatapan Akmal melalui kaca spion.
__ADS_1
"Apa spion itu sudah beralih fungsi?" sindir Agnia. "Lihat saja kedepan!"
Akmal terkekeh pelan, mengalihkan pandangannya. Meski kemudian kembali melirik Agnia lewat kaca spion itu.
"Mbak penasaran apa yang aku obrolin sama ibu-ibu tadi?"
Agnia mengernyit, ibu-ibu? Sedikit tak terima dengan sebutan itu. Akmal tidak tahu saja dirinya seusia dengan Alisya yang ia panggil ibu-ibu.
"Mbak keberatan?" tanya Akmal, mendapati Agnia diam dan makin mengerutkan dahinya. "Ibu-ibu kan? Sudah punya anak dia.."
"Lupakan.." ucap Agnia, mengontrol kembali ekspresinya. "Apa yang dia katakan?"
"Mbak penasaran?"
Agnia mendecak, ingin sekali menoyor kepala Akmal. "Jawab saja!" desisnya, geram.
"Ibu-ibu itu nanya, apa hubungan aku sama Mbak.. "
"Jawaban kamu?"
Akmal tersenyum lebar. "Apa lagi?" balik bertanya. "Aku bilang.. Mbak calon istri aku.." bohongnya, padahal tak sempat ia berbual demikian.
Agnia diam, sebal sekali. Tapi jika demikian dikatakan Akmal pada Alisya, biarlah.. Setidaknya Alisya akan berpikir jika dirinya sudah move on. Helaan napas pelan keluar dari mulut Agnia. Akmal memperhatikan itu melalui kaca spionnya.
"Memangnya Mbak kenal sama perempuan itu?" tanya Akmal, entah disengaja atau tidak tak lagi menyebut Alisya dengan sebutan ibu-ibu.
"Kenal." jawab Agnia. "dia salah satu wali murid, pasti saya kenal." jelasnya, terkesan menafikan kaitan antara dirinya dan Alisya. Akmal tersenyum tipis, di telinganya terdengar seperti pengakuan.
"Sebatas itu? Aneh.. Padahal dia bilang sahabat Mbak." ucap Akmal, Pura-pura tidak tahu. Berusaha melihat reaksi Agnia jika ia katakan demikian.
Agnia diam, mengalihkan pandangannya. Mendengus pelan. Sahabat?
.
.
"Mbak.."
"Apa?" tanya Agnia, berbalik. menatap jengkel. Sepanjang jalan bocah ini tak henti membuka mulutnya. Dirinya justru cape sendiri meski hanya mendengar. Dan sekarang? Tampaknya ada saja yang terlintas di pikiran Akmal.
"Mbak yakin?"
Agnia masih berdiri di depan motor Akmal, meski sebenarnya bisa pergi mengabaikan Akmal jika mau. Entah kenapa ia masih berdiri dan menunggu omong kosong Akmal.
"Yakin." tegas Agnia, terus saja Akmal mengungkit tentang jika ia melamar ke rumah apakah ia lantas akan ditolak? Tentu saja Agnia takkan lelah mengatakan iya.
"Alhamdulillah.." ucap Akmal, tersenyum. Membuat Agnia langsung gelagapan.
"Yakin apa ini.."
"Yakin mau nikah sama aku, apa lagi?" ucap Akmal, mengendikan bahunya.
"Akmal!" Agnia gemas sekali, dan lihatlah senyum senang bocah itu. Senang sekali tampaknya menggoda dirinya.
__ADS_1
"Aku pulang ya, Mbak.. Dan gak usah terimakasih..." ucapnya, terkesan menyindir. Agnia jangankan tersenyum, berkata terimakasih padanya saja lupa. "Aku sebagai calon suami, ikhlas.." tandasnya, membuat mata Agnia membulat.
Agnia tak sempat mengomel, Akmal sudah melajukan motornya kembali. Meninggalkan dirinya yang gemas luar biasa, menghela napas gusar. jika begini. Bagaimana ia menghindari bujang kurang kerjaan itu. Bahkan Akmal berani sekali berbual, kurang ajar sekali.