Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
157. Rumah baru untuk rumah tangga baru


__ADS_3

Agnia terdiam dengan pikirannya sendiri di pelukan Akmal, hingga tak mendengarkan sang suami yang tengah asik bercerita. Meski belum lama naik ke atas ranjang dan berbincang, namun Agnia melewatkan banyak hal sebab lamunannya.


"Menurut Mbak baiknya gimana?" tanya Akmal, meminta pendapat setelah penjelasannya. Sesaat hening, tanya itu tak terjawab. Hingga Akmal memutuskan menoleh dan mendapati Agnia sibuk memainkan kancing piyama miliknya tanpa menoleh sedikitpun. "Sayang.." panggil Akmal, menarik tangan Agnia dari kancing piyamanya.


"Hem?"


"Gak dengerin aku ngomong?"


Agnia mendongakkan wajahnya, mengernyit. "Emh.. Ngomong apa?"


Subhanallah.. Akmal mendengus sebal, menatap gemas sang istri yang dengan santainya bertanya begitu. "Apa? Kamu dari tadi cerita emangnya?" tanya Agnia lagi.


"Berani, ya.. gak dengerin aku ngomong?" tanya Akmal gemas. "Mikirin apa?" tanyanya, balik bertanya sebab malas jika harus menjelaskan ulang ceritanya yang panjang lebar barusan.


"Kamu tadi ngomongin apa?"


"Gak penting, aku gak selera cerita lagi."


"Maaf.. kamu marah?" Agnia meraih dagu Akmal, menghadapkan pria itu ke arahnya. Menilik wajah itu.


"Marah aku.." kata Akmal tak menafikan sama sekali, memasang wajah pura-pura ngambek yang justru membuat Agnia terkekeh.


Cup


Kecupan singkat Agnia berikan ke rahang Akmal. "Kalo sekarang masih marah?"


"Emh.. boleh deh, ditunda." jawab Akmal diiringi cengiran.


"Gak jelas!" cibir Agnia. "Mana ada marah ditunda."


Hening sesaat, Agnia kembali ke dalam pelukan Akmal sembari pria itu mengelus puncak kepalanya.


"Oiya.. Mbak ngelamunin apa tadi?"


Agnia mengubah posisi tidurnya, kini beranjak duduk bersila menghadap Akmal. Sejak tadi menunggu Akmal bertanya hal ini. "Aku laki mertimbangin soal rumah."


"Soal rumah?" Akmal ikut membenarkan posisinya, mengganjal punggungnya dengan bantal.


"Iya. Sekarang aku setuju deh, kalo kita pindah ke rumah kita sendiri."


"Bener?"


"Iya."


Akmal mengangguk, mesem. Tau sekali jika keputusan Agnia saat ini dipengaruhi oleh kejadian sore tadi, saat mereka ke-gap Bunda.


Ampuh sekali, sekali Agnia mengisyaratkan keinginannya pindah ke rumah milik mereka sendiri, besoknya rumah itu disiapkan. Rumah yang memang sudah jauh-jauh hari ditargetkan Akmal. Rencananya hari ini juga Akmal membawa Agnia melihat kondisi rumah itu. Sembari mencari apa saja yang harus diperbaiki dan disusun.

__ADS_1


Agnia sudah kembali mengajar, begitu pula Akmal sibuk memanfaatkan masa kuliahnya. Sembari mengurus satu dua hal penting di toko.


Keduanya bak sibuk beradaptasi dengan lingkungan sama namun dengan tanggung jawab yang bertambah. Sayang sekali Agnia tak bisa lagi mengajar ngaji di lingkungan rumahnya, itu satu-satunya keluhan yang ia sampaikan pada Akmal setelah pernikahan mereka.


Pulang kuliah Akmal menyempatkan waktunya menjemput Agnia, menepati janjinya untuk membawa sang istri pergi berbelanja dan melihat rumah yang akan mereka tempati itu.


"Belanja dulu, atau liat rumahnya dulu?"


"Liat rumahnya dulu, nanti biar ketemu apa aja yang harus dibeli." jawab Agnia yang langsung dituruti Akmal, mobilnya langsung ia kemudikan menuju lokasi.


"Wow.." Agnia terkesan, menoleh Akmal penuh kagum. Bukan karena wujud rumahnya melainkan jarak rumah itu yang cukup dekat menuju kediaman sang Ayah.


"Mbak seneng?"


Agnia mengangguk, tersenyum simpul. Tentu saja, tanpa harus memeriksa isi di dalam sana hatinya sudah penuh terima kasih.


"Ayo.."


Rumah itu tidak terlalu besar, namun masih terlalu besar bagi Agnia. Ia tak meminta lebih sebab menghuni rumah itu berdua saja sepertinya akan merepotkan. "Karena Mbak maunya yang sederhana, aku carikan yang paling sederhana di lingkungan ini." terang Akmal. "Hemh?"


Agnia kembali mengangguk, berada di lokasi yang sempurna rasanya sudah cukup. Ia tak akan mengomplain atau menuntut apapun lagi.


"Ada dua kamar utama di atas, dan satu lagi kamar tamu di sana." jelas Akmal setelah melangkahkan kaki ke rumah itu, menunjuk ke salah satu ruangan yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Sudah menjelaskan semua ruangan kecuali dua kamar di lantai atas. "Mau liat ke atas?"


"Nah.. kamar utama. Satu untuk kita, satu lagi untuk anak kita." ujar Akmal setibanya di lantai atas, tangannya terulur mengelus perut datar sang istri. Membuat Agnia terkekeh seketika dengan tingkah sang suami, padahal yakin sekali jika belum ada bayi di dalam sana.


Sebenarnya sudah sempurna, semuanya bersih. Rumah itu siap ditinggali. Kamar utama itu juga persis dengan kamar lama Agnia. Luas dan terdapat jendela besar hingga cahaya masuk dengan sempurna. Tak seperti kamar Akmal yang lebih persis ruangan khusus penyimpanan piagam.


"Selesai? Kalo gitu kita langsung belanja?" tanya Akmal lembut, memasang wajah manis. Kembali mengelus perut Agnia.


Agnia mengangguk, lucu sekali bagaimana Akmal memepelakukannya seakan ia sedang mengandung. Tampaknya suami bocilnya ini memang ingin segera menimang bayi.


Rumah itu siap dua hari kemudian, Akmal resmi membawa Agnia ke rumah itu. Tak cukup jika membawa semua pakaian mereka, hingga keduanya hanya membawa masing-masing satu koper. Kehidupan mereka akan dimulai, dari satu baju yang nantinya beranak-pinak, dari dua orang bertambah anggota. Sempurna.


Agnia baru paham kenapa semua menyuruh mereka untuk memiliki rumah sendiri. Sempurna sekali memang. Dengan kebiasan dan kehidupan baru yang mereka pelajari bersama, dimana hanya ada mereka berdua, menakjubkan.


"Ramadhan pertama kita berdua, ramadhan kedua nanti bertiga ya.." kata Akmal, tiba-tiba saja saat memperhatikan Agnia memasukkan pakaian mereka berdua ke dalam lemari. Agnia sampai menoleh dan menghentikan gerakan tangannya, mendekat dengan tatapan heran.


"Kamu mau cepet punya anak?" tanya Agnia, duduk di pangkuan Akmal. Tangannya melingkar di leher pria itu. Dibalas anggukan oleh Akmal.


"Gak mau pacaran dulu?"


"Emangnya kalo punya anak udah gak bisa pacaran lagi, gitu?" tanya Akmal, tersenyum kecil.


Agnia mengendikkan bahunya pelan, ia hanya bertanya untuk memastikan. Karena yang dibawah umur saat ini bukan dirinya, melainkan Akmal sendiri. "Bener, ya? Kalo gitu ayo.. punya anak." kata Agnia, tersenyum senang.


"Sekarang? Masih siang Mbak.."

__ADS_1


"Ih!" Agnia mendelik tajam. "Maksudnya ayo jangan nunda, bukan.."


Akmal terkekeh. "Aku pikir Mbak ngajak aku.. Aw." kalimat brengsek itu putus seketika, saat Agnia mengarahkan cubitannya ke perutnya.


Rumah baru Akmal dan Agnia malam ini ramai, pengajian dalam rangka syukuran diadakan. Fauzan yang memimpin langsung pengajian itu, diikuti tetangga baru, kerabat, juga anak-anak panti kesayangan Agnia. Tak lupa Fiki dan Ardi yang setia membersamai Akmal juga Akbar, tak bisa dilewatkan. Hingga acara itu selesai dan menyisakan Akmal dan Agnia berdua, Akbar yang kekeh ingin menginap tak jadi sebab dilarang Khopipah.


"Sayang.." Akmal entah di pukul berapa, memang tak bisa tidur namun tak tega membangunkan Agnia. Tapi kini tak bisa hanya bangun sendiri, membelai lembut pipi Agnia. Membuat yang dibelai pipinya itu langsung mengerjap, menatap Akmal sayu. "Kenapa? Gak bisa tidur ya?" tanya Agnia parau, menyentuh pipi Akmal.


Akmal memberikan kecupan, berusaha membuat istrinya sadar sempurna sebelum mengatakan kehendak hatinya.


Agnia membenarkan posisi tidurnya, bertanya lagi dengan wajah lebih segar. "Kenapa? Gak bisa tidur?"


Akmal mengulum senyum, untuk kemudian memberi kecupan lagi. "Kamu lupa ini malam apa?"


"Emh.. malam.." Agnia langsung membelalak kala paham arah bicara suaminya, mencubit pipi Akmal gemas. Iseng sekali membangunkannya di larut begini.


"Aku mau Mbak malam ini, hemh?" ungkap Akmal lembut, mengusap bibir Agnia. "Ayo kita punya anak." bisiknya.


Agnia tak bergeming, tak juga menunjukkan penolakan. Seperti yang biasa terjadi, biarkan Akmal menuntunnya. Ia hanya perlu menyambut semua sentuhan Akmal yang memabukan. Jadikan malam ini sempurna, jadikan seluruh prosesnya indah dan penuh berkah.


Aroma sedap memenuhi seisi dapur, Akmal langsung terpanggil mendekat bangkit dari duduknya di depan televisi. Decakan kagum keluar dari mulutnya, lihatlah mahluk cantik yang memang selalu cantik dimanapun dan bagaimanapun situasinya. Kini tak ada yang mengganggu, Akmal mendekat, melingkarkan tangannya di perut sang istri tanpa khawatir ke-gap siapapun.


Agnia tersentak kaget, untuk kemudian menghela saat Akmal berucap pelan. "Ini aku, bukan orang lain." Agnia membalikan tubuhnya, balas melingkarkan tangannya di leher Akmal. Kecupan langsung diarahkan pada pipi Akmal, singkat sekali.


"Jangan lagi, aku hari ini ada kelas pagi. Jangan sampai Mbak membangunkan yang di bawah sana." canda Akmal dengan senyum lebar.


"Dih!" Agnia mendengus, kembali melepas tautan tangannya. "Kalo gitu menjauh! Kamu yang mulai.."


Akmal tak menurut, memegang pinggang Agnia erat. Tersenyum miring. "Satu ciuman, baru aku lepas."


Bahkan meski mereka makin dekat, Agnia masih merasa aneh dengan aktivitas begitu. Tangannya berusaha melepas tautan lengan Akmal di pinggangnya. "Jangan aneh-aneh.. ini dapur." pelotot Agnia, panik.


"Memangnya kenapa? Ini rumah kita. Hanya ada kita di rumah ini hingga.. yang kita lakukan di bagian manapun aman dari penglihatan orang." jelas Akmal disertai seringai lebar.


Bagian manapun? Agnia sampai menelan saliva memikirkan ungkapan Akmal. Gila saja, masa iya tak tau tempat untuk memadu kasih, mereka itu apa?


"Satu ciuman." ucap Akmal lagi, menegaskan.


Agnia menghela, meluncurkan kecupan singkat di bibir Akmal. "Udah."


"Lumayan, tapi bukan itu yang aku mau."


Agnia kembali menelan salivanya, jika tidak dipenuhi maka ia tak akan bisa bebas secepatnya. Melirik mata Akmal lantas turun ke bibir pria itu, mulai mendekatkan wajahnya.


Sesaat mata Akmal tertutup, bersiap mendapat keinginannya.. Suara bel berbunyi, Akmal spontan melonggarkan pegangan tangannya di pinggang Agnia.


Agnia berlari. "Sayang, tolong.. itu kompornya matiin." ujarnya seraya pergi.

__ADS_1


Akmal menghela, menggigit bibirnya, hampir sekali barusan. Ya memang tak seharusnya sembarangan beraktivitas di waktu yang salah.


__ADS_2