
Seberat itu kah yang Indri rasakan? Agnia tak tau, demikian pula Alisya juga yang lainnya. Entahlah, yang ia tau sebagai kawan sekelas di SMP dulu, hanya wujud kasih sayang tanpa pandang bulu yang Agnia tunjukkan. Indri anak yang baik, hanya karena dulu tak pandai bergaul bukan berarti ia mesti dibedakan.
Agnia menghela, menerawang ke luar kaca mobil. Andai tau sesulit itu bagi Indri, sudah tentu ia bersikap lebih baik lagi dulu.
Akmal melajukan mobilnya menuju jalan pulang, baru saja keluar dari parkiran butik baru milik Indri. Tak ada yang bisa diungkapkan kecuali rasa kagum, apa yang dikatakan Fiki tentang kesan pertamanya yang buruk pada Agnia ternyata salah besar. Akmal melirik Agnia sesaat untuk kemudian lurus ke jalanan di depannya, senyumnya tersungging tipis menunjukkan rasa kagumnya.
Beberapa detik berlalu dan Agnia masih tak bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri. Membuat Akmal akhirnya menghela, melirik Agnia untuk kesekian kalinya. Ia fokus melajukan mobilnya namun pikirannya diganggu Agnia.
"Jangan dipikirkan, Mbak. Sekali buruk di mata orang kita memang akan selalu salah." tutur Akmal yang langsung mengalihkan tatapan Agnia.
Bukan soal Alisya yang ia pikirkan, melainkan tentang Indri. Perihal ia di mata Alisya dan Adi, jujur saja sudah tak peduli. Ia sudah ada dalam fase itu bodo amat, sadar jika segala tindak tanduknya akan selalu salah bagi Alisya.
Hal itu yang memupuk tekad Agnia untuk tak merespon Alisya, sekali bebas dari bayangan Adi dan Alisya ia tak mau kembali jatuh.
Anggukan ditunjukkan Agnia, dengan senyum di bibirnya. Tak berniat menyangkal ucapan Akmal.
Alasan terbaik kenapa ia tak pernah membuka mulut baik untuk membela dirinya ataupun menyalahkan Alisya adalah kesadaran jika yang terjadi adalah yang terbaik. Dengan mengeluhkan itu berkepanjangan sama saja dengan kita yang tak bersyukur, lagi pula Adi tak begitu istimewa hingga ia harus menangis darah akannya.
Dan lihatlah sisi baiknya hari ini, semua jelas terbaik.
Jika Adi tak menyakitinya, mungkin ia tak akan pernah menemui Akmal. Pria yang meski lebih muda darinya itu membawa banyak hal baik dalam hidupnya, pun jadi satu dari sekian hal yang menyembuhkan luka hatinya.
Namun yang dilakukan Adi dan Alisya juga tak benar, mereka memilih menyakitinya lebih jauh padahal punya lebih dari dua puluh empat jam untuk berkata jujur.
Jika bisa berandai.. satu hal yang ia pikirkan. Andai Adi mengatakan lebih awal jika menyukai Alisya, maka ia akan menyerah saat itu juga dan pergi tanpa menyimpan sedih atau sakit hati seperti hari ini.
Ia tidak sebucin itu, sekali berpaling silahkan saja pergi.
Namun yang jadi luka abadinya, adalah hari-hari saat ia lihat kedua orang tuanya bersedih. Anak mereka ditinggal menikah, dan itupun ebab diselingkuhi. Adakah kabar baik tentang itu?
Yang ia anggap sahabat ternyata menusuknya dari belakang, dan entah apa yang terjadi jika Akbar tak memergoki dua orang itu. Akankah sampai menikah Adi akan terus menyelingkuhi ya?
Tidak! Agnia menggelengkan kepalanya pelan, pikiran itu sudah basi. Persetan dengan apapun, hari ini ia bebas. Dan ada Akmal di sampingnya.
"Kenapa, Mbak?" tanya Akmal, sejak tadi memperhatikan gelagat Agnia.
"Enggak.." Agnia menggeleng cepat. "Bukan apa-apa."
Akmal mencebik, lantas mengangguk. Bukan saat yang tepat untuk kepo, padahal mereka sedang dalam masa akur-akurnya. "Kita kemana sekarang?" tanyanya kemudian, mengalihkan topik pembicaraan.
"Emhm. Kemana aja boleh. Cari makan dulu boleh, atau langsung pulang boleh.." jawab Agnia, hari ini bebas bagi Akmal. Dengan menemaninya hari ini ia sudah sangat berterima kasih
"Ke pelaminan?"
"Hey!" Agnia mendelik, bukan itu kemana saja yang ia maksud. "Pelaminan tidak termasuk."
Akmal terkekeh dengan ucapan tegas Agnia, menoleh gadis di sebelahnya sekilas. "Becanda.."
Agnia memutus tatapan tajamnya, kini mengendikkan bahunya. "Lupakan itu! Aku lapar.."
"Hemh?"
"Saya lapar.." ulang Agnia.
Akmal mengangguk, ia mendengar dengan jelas ucapan Agnia. Namun bukan itu yang membuatnya kaget.
Apa ia salah dengar? Agnia mengatakan aku. Atau hanya telinganya yang salah dengar? Padahal itu luar biasa baginya. Saya? Aku? itu akan jadi perubahan besar jika benar terjadi.
"Iya?" Agnia memastikan, membuyarkan lamunan Akmal.
"Iya, Mbak." jawab Akmal cepat.
Agnia mencebik, dahinya berkerut. Ada apa dengan pria di hadapannya ini? Aneh sekali! batinnya.
...
Akmal membawa Agnia ke sebuah Kedai yang menjual makanan khas Jogja legendaris sekitar sana, tak jauh dari lokasi butik Indri. Tentu saja, menuju rumah Agnia masih jauh. Namun makan di waktu yang tepat adalah tenaga. Mana bisa Akmal menahan laparnya sementara cacing di perutnya berontak sejak tadi.
Cukup ramai, tempatnya yang tak terlalu luas penuh sesak. Namun Akmal dan Agnia beruntung sebab masih mendapat posisi nyaman untuk mengganjal perut, pas sekali tiga orang pergi dari sana dan mereka tiba.
Mereka sudah duduk berhadapan, berdampingan dengan dua orang lainnya yang tampak seperti pasangan suami istri. Akmal berpikir begitu sebab melihat mereka yang tak sungkan mengelap sekitar bibir satu sama lain, Akmal mencebik tipis melihat itu. Heran kenapa orang-orang bisa bersikap seperti itu di tempat umum seperti ini, ia jadi geli sendiri.
__ADS_1
Agnia yang baru saja mendiktekan pesanannya pada pelayan, langsung menoleh Akmal dan melihat arah pandangnya. Sedetik kemudian Agnia berdehem, menarik Akmal untuk menatapnya.
Akmal menoleh dengan polosnya, alisnya naik. Tak paham Agnia berusaha mengatakan apa dengan pelototannya.
Agnia mendengus sebal. Matanya membulat, berusaha memberi tahu Akmal untuk tak menatap begitu pada orang lain atau mereka akan kena masalah. "Liat kesini!" titah Agnia, akhirnya. Baru setelah itu Akmal paham dan tersenyum lebar.
Keheranan Akmal dengan pasangan di sebelahnya berlanjut. Bahkan makanan yang dipesankan tak berhasil mengalihkan kegelian Akmal, dua orang yang romantis itu lebih menarik dari gudeg, sate klatak, juga mangut lele di hadapannya.
Agnia ikut menoleh dua orang yang mengalihkan fokus Akmal, tak merasa aneh dengan hal itu. Sama sekali. Justru satu-satunya yang membuatnya heran adalah Akmal sendiri, bisa-bisanya gagal fokus dengan pemandangan seperti itu.
Hanya dua orang normal, entah pasangan suami istri atau kekasih. Agnia mengangguk sopan saat salah satu mereka menoleh. Untuk kemudian menoleh pada Akmal yang sudah beralih menatapnya.
"Ayo makan!"
Akmal mengangguk.
...
"Tadi itu gak sopan!" ucap Agnia datar, menatap Akmal yang sudah fokus pada makanan di piringnya.
"Hemh?" Akmal mengangkat pandangannya, balas menatap tak paham.
"Kamu liatin mereka tadi.."
"Oh!" Akmal baru ingat, menoleh ke dua kursi di sebelahnya yang sudah kosong itu. Sekarang tersenyum lebar. "Aku cuma heran aja, Mbak."
"Heran?" Agnia mengernyit, apa Akmal tidak pernah melihat orang pacaran?
"Iya, gimana mereka bisa.. kayak gitu di tempat umum."
"Apa?"
"Ya.. kayak gitu..." Akmal tergagap, tak bisa menjelaskan keluhan di hatinya. Apalagi dengan tatapan mengintimidasi Agnia. "Mbak ngerti kan?"
Agnia mencebikkan bibirnya untuk jawaban, tangannya mengulur menarik tisu yang tak jauh dari jangkauan tangannya. Tingkahnya itu diperhatikan Akmal dengan seksama.
Seperdetik kemudian Akmal terkejut, saat ujung bibirnya bersentuhan dengan tisu di tangan Agnia. Bukan mimpi, Agnia baru saja menyeka ujung bibirnya tanpa peringatan.
.
.
.
.
Alisya tak henti menangis hingga tiba ke rumahnya, yang didengarnya sudah menyakitkan, belum lagi Adi yang sama sekali tak membelanya meski mendengar langsung keluhan Indri terhadapnya.
Mau bagaimana lagi, meski istrinya menangis darah pun Adi di sebelahnya tak bisa berbuat apapun kecuali menenangkan. Semua yang istrinya dapat hari ini tak bisa ia sangkal, biarlah semoga jadi pelajaran.
Adi menghela, menatap penuh perhatian istrinya yang masih saja terisak. "Udah nangisnya, kalo Raina bangun terus nanya kenapa.. kita gak akan bisa jawab." tuturnya lembut lantas mendorong pintu mobil, berjalan keluar lebih dulu.
Alisya demi itu segera menghentikan tangisnya, memang tak bisa terus begitu. Sembari menunggu Adi yang memutar dan mengambil Raina yang terlelap di pangkuannya, Alisya menyeka ujung matanya yang berair memutus tangis panjangnya.
"Apa yang kamu terima hari ini adalah buah dari apa yang kamu lakukan. Jika tidak ingin hidup begini, harusnya pikirkan lagi sikapmu sebelum memacari pacar sahabatmu sendiri."
Kalimat itu terlintas lagi di benak Alisya sesaat sebelum melangkahkan kakinya keluar dari mobil, perasaan tak tentu menyeruak begitu saja. Tak tau perasaan macam apa itu.. malu, kesal, sedih semua menjadi satu. Pun tak ada yang bisa disalahkan kecuali dirinya sendiri, Ia yang salah. Andai tak pergi memenuhi undangan itu, mungkin kalimat menyakitkan yang dilontarkan Indri tak akan pernah ia dengar.
Niatnya untuk membungkam semua dengan menunjukkan keluarga kecilnya yang bahagia berakhir menjadi dirinya sendiri yang dibungkam, harusnya ia sadar bahwa setelah hari dimana ia menyakiti Agnia dihari itulah semua orang tak menginginkannya.
Dan Agnia? Bahkan dia bisa mengalahkannya tanpa harus mengucapkan sepatah kata pun. Harusnya ia sadar diri sebelum ingin menyaingi Agnia, ia bukan siapa-siapa.
Alisya tersenyum getir, runtuhlah kebahagiaan yang diharapkannya selama ini. Bayangan Agnia tak akan pernah hilang dari kehidupannya, selamanya.
.
.
.
Indri menyesap minumannya, setelah marah ini kebiasannya. Menyendiri, menikmati waktunya. Bukan tak menguras tenaga untuk marah, rasa bersalah sering kali muncul. Indri harus memikirkan lagi apa kalimatnya keterlaluan atau tidak, sebab ia bukan mereka yang kejam dan tak berperasaan.
__ADS_1
Alisya lah yang keterlaluan, ia tak paham kenapa bisa mengatakan hal buruk pada Agnia padahal mereka dulu bersahabat. Tak sadarkah Alisya jika demi persahabatan mereka lah Agnia selalu memilih diam meski bisa menyalahkan.
Indri mendengus kesal, mengingat itu emosinya kembali naik. "Dasar gak tau diri!" ketusnya. Ia tak paham, bagaimana Alisya sangat tidak tau diri pada seseorang yang paling berjasa di hidupnya.
Alisya tak kan bisa menyangkal fakta itu, dia yang bukan siapa-siapa bisa bersahabat dengan seorang Agnia adalah sesuatu yang mengejutkan. Kasarnya mereka tak sepadan. Bukan soal harta.. kepopuleran, kepandaian, pangkat, bahkan kepribadian mereka begitu timpang.
Tak perlu biacrakan kesetaraan, semua di pikiran Indri yang tak pernah terucapkan itu diperparah dengan kabar perselingkuhan anatara Alisya dan Adi. Mendengar itu saja, Indri sudah muak. Sempurna lah sudah cacat pada diri Alisya di matanya.
Dengusan keluar dari mulut Indri, makin dipikirkan makin kesal ia rasa. Disinilah letak keanehannya, kenapa justru ia yang berapi-api?
Agnia yang populer, bahkan sudah menarik Gian si murid populer saat pertama kali masa orientasi sekolah. Cantik, pintar juga image yang baik. Poin pentingnya adalah, semua yang dimiliki tak mempengaruhi perangainya.
Dia paling moderat, tak pernah bersikap berat sebelah atau menatap rendah orang lain. Agnia tak terlalu suka bergaul, mungkin itu jadi salah satu penyebab hingga tak satupun yang membuatnya terbawa arus buruk.
Indri mengingat itu, senyum Agnia di bangku paling depan setiap bersitatap dengannya. Dulu ia sampai heran apakah Agnia tak lelah terus mengajaknya tersenyum?
Indri duduk di meja kedua, tepat di belakang Agnia. Satu kesamaan antara mereka adalah, keduanya sama-sama tak suka bergaul atau lebih tepatnya tak pandai bergaul. Jadilah Indri sibuk dengan buku gambar serta pensilnya dan Agnia sibuk dengan novelnya.
Bahkan saat Alisya juga tiga orang lainnya tak sengaja menjatuhkan buku gambar berisi desain baju yang siang malam ia gambar itu ke dalam selokan, Agnia lah yang membawakan buku itu tanpa mengeluh disaat dirinya malah mematung.
Saat yang lain memilih mengganti dengan sejumlah uang dari pada minta maaf, Agnia lah yang menyayangkan hal itu. Tak ragu dengan kuasanya menyuruh Alisya untuk minta maaf.
"Itu bukan cuma tentang sebuah buku, kalian gak tau karena belum melihat apa isi di dalamnya. Cepat minta maaf!" itulah kalimat yang Agnia katakan pada Alisya setelah melihat Indri menangis tak bersuara.
Meski akhirnya mendapat permintaan maaf, sakit hatinya saat itu membekas hingga hari ini. Pun begitu dengan kehangatan yang Agnia bagi, membekas hingga hari ini dan menjadi satu dari sekian penyemangat dalam mengejar cita-citanya.
Mengingat itu Indri menjadi tenang, ya. Betapa kuatnya kalimat sederhana juga senyum tulus Agnia baginya. Ia yang tak punya siapapun untuk pertama kalinya punya sandaran. Rasa minder yang ia rasa ia jadikan motivasi, ia berjanji untuk menjadi sukses berguna supaya Agnia tak malu mengakuinya sebagai teman.
Saat yang menenangkan kembali, Indri kini menghela napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Marahnya reda tinggal rasa bersalah yang tersisa. Selalu begitu, saat marah seseorang cenderung mengatakan segala hal tanpa pertimbangan hingga diakhir sadar dan menyesalinya.
Haruskah minta maaf pada Alisya? Ia sudah memarahinya di depan banyak orang tadi.
Namun.. sebelum mempertimbangkan untuk minta maaf, Indri merasa harus melakukan hal lain. Tangannya terulur mengambil ponsel di atas meja, jarinya mengetikkan beberapa huruf di tombol kontak mencari nama seseorang yang ia rasa perlu tau tentang hal ini.
.
.
.
.
"Makasih.." ujar Agnia setelah keluar dari mobil Akmal dan menutup pintu mobil yang kacanya terbuka itu, menampilkan Akmal yang mengangguk dengan senyum merekah.
Agnia tetap disana untuk sesaat, tak seperti biasanya yang selalu kabur sesaat turun dari mobil atau motor Akmal. Tampak ingin menyampaikan sesuatu, masih menimbang.
"Emh.. setelah ini langsung ke kampus?"
Akmal mengangguk. "Iya, Mbak. Kenapa?"
"Cuma nanya.."
"Oh!" Akmal mengangguk, tentu saja. Semakin dekat mereka semakin canggung atmosfer yang tercipta. Ia bodohnya berpikir jika Agnia akan mengatakan sesuatu yang lebih dari basa-basi.
"Yaudah, aku pulang ya Mbak."
"Hemh.. salam buat.. Bunda mu.."
Akmal mengangguk, tak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya. Kegugupan Agnia terlihat menggemaskan di matanya.
Agnia tak menunggu hingga Akmal pergi, itu terlalu manis dan terlalu istimewa jika dilakukan. Jadilah Agnia yang sadar dan kembali ke mode gengsinya berbalik dan berjalan menuju rumahnya sambil mengutuk dirinya dalam hati.
Kenapa dirinya jadi salah tingkah dengan perbuatannya sendiri? Bukankah itu berlebihan? Titip salam? Ah! Agnia meringis dalam hati, untung saja tak mengatakan. Hati-hati di jalan.
Akmal sekali lagi tersenyum ke arah perginya Agnia, kaca mobil yang turun itu perlahan naik menutupi sosok Akmal yang seperdetik kemudian menghela pelan.
"Selamat, untuk sekali lagi kamu mendapat iba dari semua orang. Meski sebenarnya kamu tampak bahagia di hari ini. Tentunya bersama kekasih berondong mu ini."
ucapan Alisya yang menyinggungnya kembali melintas, apa dia bilang? Berondong. Apa itu hal yang memalukan? Menikahi pria yang lebih muda apa jadi kesalahan?
Akmal kembali menghela napas, kali ini lebih dalam. Matanya mengarah pada punggung Agnia yang semakin jauh, menatap getir. "Maaf, Mbak..." lirihnya. "Maaf karena terlahir lebih muda.."
__ADS_1