Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
66. seratus persen


__ADS_3

"Ana gak ngerti, dan gak peduli apa yang kalian obrolin. Tapi.. Ana bingung gimana ceritanya Mbak Agni bisa kesini? Kebetulan atau..." Ardi mengernyit, menatap tiga temannya bergantian.


"Entahlah, yang pasti datangnya sama Akmal." jawab Fiki, tak kapok menyulut rasa gemas Akbar.


"Ish! Ni anak bener-bener.." Akbar melotot ke arah Fiki, menendangkan kakinya. "Heran, padahal baru aja kena sindir Mbak Agni.."


"Gue cuma bantu jawab. Sorry." ujar Fiki, berucap santai.


Akmal tersenyum saja seperti biasa, tak ikut menambahkan atau berpikir untuk mengklarifikasi sesuatu. Terserah apa yang mau mereka percaya dan pikirkan, tak merasa harus menjelaskan apapun.


"Jadi.. Urusan yang ente maksud itu.. memang jalan sama Mbak Agni dulu atau gimana?" Ardi yang kini bertanya, menatap Akmal. "Emh.. Ana cuma nanya, tapi gak perlu dijawab kalo ente keberatan."


Akmal mengendikkan bahunya, tak pernah masalah dengan pertanyaan seperti itu.


"Kita ketemu disini, sama sekali gak janjian." jawab Akmal. "Itu jawaban yang pengen kalian denger, kan?"


"Oiya?" kini Akbar yang menatap curiga, tak yakin saja.


"Lo tau gimana kakak lo.. apa mungkin dia mau gue ajak ketemu di tempat yang jauh dari rumahnya? Dan cuma berdua?"


Akbar mengangguk pelan. Iya juga. "Kalo gitu gue percaya.." cicitnya, sembari menyandarkan kembali punggungnya di kursi. Saat itu ekor matanya teralihkan sesuatu. "Ini.." Akbar teralihkan oleh sekantong belanjaan di kursi yang tadi di duduki Agnia. Tiga orang lainnya ikut memastikan, penasaran.


"Dasar ceroboh!" ucap Akbar, diselingi kekehan. "Pasti dia dengan nyamannya nyimpen ini di kursi waktu bangkit mau pergi tadi." tambahnya seraya menirukan gaya Agnia.


"Ih! Durhaka lo! Sama kakak sendiri.." ujar Fiki dengan tatapan heran.


Akbar nyengir lebar. Sekalian saja terpikirkan sebuah rencana. "Kira-kira Mbak Agni masih di depan gak?"


"Periksa aja! Siapa tahu belum cabut." saran Fiki yang langsung diangguki Ardi.


"Biar gue yang periksa." tawar Akmal, seraya mengambil kresek yang cukup besar itu bersamanya. Melangkah keluar.


Ardi tersenyum melihat langkah besar Akmal, beralih menatap Akbar. "Padahal ente bisa bawa itu pulang, kenapa biarin Akmal cape-cape kejar Mbak Agni."


"Stt! Biarin aja! Gue sengaja.."


Akmal polosnya tak tahu itu siasat Akbar, melangkah cepat mencari Agnia. Berjaga-jaga jika barang yang tertinggal itu sangat penting.


Yang dikejar masih di sana, hanya saja Agnia baru saja masuk ke dalam sebuah mobil. Membuat Akmal jadi tak sempat memanggil. Akhirnya memilih mengikuti Agnia dengan angkot saja. Yang paling efisien waktu datangnya, ada saat dibutuhkan.


Akmal heran sendiri dalam angkot, baru sadar. Padahal kantong belanjaan itu bisa diberikan pada Akbar, kenapa juga dirinya malah mengejar Agnia. Namun apalagi, sudah terlanjur.


Seorang ibu yang sedang menggendong anaknya dalam angkot yang sama memperhatikan Akmal. Menatap dari atas hingga bawah. Bahkan sesaat menilik bawaan yang Akmal bawa. Tersenyum.


"Masnya baik banget, mau belanja. Demi istri ya Mas?"


Akmal tersenyum, mengangguk. Entah apa yang membuat ibu itu tertarik berbicara dengannya.


Mobil yang Agnia tumpangi tak melaju pulang ternyata, justru berhenti di satu tempat. Tak lama keluar dari mobil dan masuk ke sebuah cafe.


Akmal mengekor dari jauh, sepenuh hati ikhlas membawa serta kantung belanjaan yang mencolok itu.


"Cowok itu.." Akmal bisa melihat dari luar kehadiran Rizwan di dalam sana. Langsung penasaran, lantas ikut masuk juga. Namun tak berniat mengganggu, duduk di meja paling dekat dengan meja Agnia berada. Diam-diam mendengarkan, duduk memunggungi dua orang itu.


"Aku beberapa kali lihat kamu bersama pria itu. Apa.. dia seseorang yang istimewa, buat kamu?"


"Emh.. Aku gak ngerti kenapa kamu tertarik dengan hal itu. Tapi.. Jika dia memang orang yang istimewa buat aku, apa reaksimu?"


.


.


.


.


Akmal tersenyum mengingat jawaban yang ia dengar dari mulut Agnia. Senang sekali, merasa dirinya diakui oleh Agnia. Dianggap seseorang yang istimewa. Meski tak tahu apakah jawaban itu hanya bualan atau memang keluar dari hati.


"Kenapa?"


Akmal menoleh, membalas tatapan heran Agnia. Menggeleng.


Agnia bergeser dari duduknya, matanya mendelik. "Dasar aneh!" ucapnya pelan.

__ADS_1


"Aneh?"


"Lupakan!" Agnia mengalihkan pandangannya ke luar jendela mobil. "Harusnya kamu gak usah anterin saya, kamu buat saya malu!"


Akmal tersneyum lebar. "Masalahnya, aku gak tau siapa yang akan menghubungi dan membuat Mbak kembali urung pulang. Jadi.. aku merasa harus memastikan Mbak sampe ke rumah dengan selamat."


Agnia mengeluh tertahan, entahlah membayangkan mereka tiba di rumah dan keluar dari mobil yang sama mungkin membuat sesisi rumah berisik nantinya. Dan bahkan para tetangga, mereka akan gila dengan itu. Seakan mendapat topik baru dalam pergosipan.


"Apalagi aku gak tau pria mana lagi yang akan menawarkan tumpangan untuk Mbak." tambah Akmal.


"Terserah.." ucap Agnia pelan, sudah lelah dengan Akmal.


Akmal tersenyum, mengangguk. Senang.


.


.


.


.


Ketidak hadiran Agnia berarti beban besar bagi guru yang menggantinya. Ripda, guru yang mengganti Agnia hari ini tak bisa menutupi wajah paniknya menyaksikan keributan yang dibuat anak-anak. Mereka berteriak, berebut, berlarian, bahkan merenggek saat diperingatkan.


Ripda, guru berkaca mata itu pada akhirnya hanya bisa menghela napas panjang.


"Kenapa, Bu?" tanya seorang guru lainnya, menatap bingung Ripda yang menyandarkan tubuhnya di kursi seakan kehabisan tenaga.


Ripda menghela napas dalam, menoleh rekannya. "Sepertinya diusia saya sekarang ini, sulit mengendalikan dan sulit disukai anak-anak."


"Oh!" ucapan Ripda itu membuat rekan sesama gurunya terkekeh. Langsung paham apa yang dimaksud. "Usia apanya? Ibu masih sangat muda. Anak-anak hanya tidak terbiasa."


"Begitu?" Ripda menaikan sudut bibirnya, mungkin benar juga. "Kalo gitu.. Lain kali kamu mau coba?"


Guru yang tampak sangat muda itu langsung menggeleng, tersenyum lebar. Tentu bukan rahasia lagi sulitnya menghadapi anak-anak yang baru pertama kali masuk, ia merasa tak akan sesanggup Agnia.


.


.


.


.


"Kenapa disini?"


"Aku gak ikut sampe rumah Mbak. Mau langsung pulang."


"Tapi.."


"Kenapa? Mbak mau aku mampir?"


"Bukan.." Agnia menjawab cepat. "Tapi apa gak sebaiknya kamu pulang dengan taksi ini juga?"


"Gak papa, Mbak. Banyak kendaraan umum di sekitar sini."


"Pak, tolong pastikan calon istri saya tiba dengan selamat ke tempat tujuan.."


"Siap, Mas. Saya jamin."


Agnia meringis dalam hati, menatap Akmal tajam. Kata itu lagi.


Akmal hanya tersenyum. "Sampai jumpa.." ucapnya, kemudian turun dan menutup pintu mobil. Mengabaikan wajah sebal Agnia.


"Kita lanjut jalan sekarang, Mbak?"


"Iya pak."


Akmal tak melepas tatapannya dari mobil itu, melambai sekali lagi saat mobil itu bergerak maju. Tak tahu saja Agnia di dalam sana, menatap kesal.


.


.

__ADS_1


.


.


Agnia duduk melamun di ranjang kamar lamanya, tangannya memegang sebuah cincin. Mengingat saat Akmal tanpa diduga memberinya sebuah cincin.


...


Akmal selalu berdiri tak jauh dari Agnia. Saat Agnia sibuk memperhatikan banyak hal, Akmal memperhatikan hanya satu hal. Agnia. Senang sekali melihat wajah kecil Agnia dari dekat, bibir Akmal dibuat tersungging setiap saat.


Mata Akmal jatuh pada jari lentik Agnia, terpasang satu cincin di telunjuknya. Akmal jadi teringat sesuatu, tangannya merogoh saku belakang celananya. Mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kotak dari sana.


"Oiya Mbak.. aku teringat sesuatu." ucapnya, belum menunjukan apa yang ada di tangannya.


"Apa?" Agnia menoleh sejenak, seperti biasa tak menaruh konsentrasi pada apapun yang diucapkan Akmal.


"Ikut aku sebentar. Ada yang mau aku tunjukin." ajak Akmal.


"Apa?" Agnia mengernyit.


Akmal menarik lengan Agnia sedikit menjauh dari keramaian, menunjukkan kotak cincin di tangannya. Mata Agnia sontak saja membulat saat itu. Tak lama kemudian mendongak, matanya penuh pertanyaan.


"Ini?"


"Sebenarnya aku kesini untuk membeli ini. Tadinya aku gak berniat nunjukin ini sekarang, tapi aku berubah pikiran."


"Maksudnya?" Agnia tentu tahu arti pemberian cincin, namun apa Akmal bersungguh-sungguh tentang itu? Secepat ini?


Akmal mengulum bibirnya, menatap wajah bingung Agnia.


"Jangan becanda! Apa kamu begitu gampangnya ngasih cincin untuk perempuan?"


Akmal menggeleng. "Ini pertama kalinya."


"Lalu?"


Akmal menghela napas, membuka kotak cincin itu. Mengambil isinya dan menyimpan kembali kotak cincin yang kosong itu ke sakunya semula.


Tanpa bicara Akmal meraih tangan Agnia, meletakan cincin itu di telapak tangannya.


"Ambil ini, Mbak."


Agnia mendengus pelan, menatap Akmal tak percaya. Bocah ini memang penuh kejutan.


"Saya gak terima pemberian dari siapapun. Apalagi barang seperti ini.."


"Mbak gak perlu pakai itu." potong Akmal. "Setidaknya untuk sekarang, sampe Mbak cukup yakin untuk menerima aku."


"Wah.. anak ini.." Agnia dibuat pusing lagi oleh tingkah Akmal, tak mengerti apa yang ada dipikirannya.


"Mbak cukup jaga benda itu dengan baik."


Agnia menghela napas pelan, sempat menimbang. Namun akhirnya mengangguk samar. "Baiklah.. kamu minta simpankan, akan saya simpan." jawan Agnia kemudian, Akmal dibuat lega akannya.


"Tapi.. Seberapa yakin kamu tentang hubungan ini? Maksud saya.. seberapa yakin cincin ini akan terpasang di jari saya?"


"Emh.. seratus persen?" jawab Akmal, terdengar seperti pertanyaan.


Agnia mencebik, jelas sekali keraguan dari ucapan Akmal. "Kamu bahkan ragu."


"Itu bukan keraguan, itu pertanyaan. Mbak yang harus menentukan jawabannya, apakah seratus persen itu terwujud atau tidak."


...


Agni memandang cincin itu seksama, mulai berpikir akankah seratus persen itu memang akan ia wujudkan atau tidak.


Helaan napas keluar dari mulut Agnia, cincin itu perlahan ia arahkan ke jari manisnya. Namun sesaat cincin itu terpasang di jarinya, ingatan saat Adi memasang cincin tunangan ke tangannya berkelebat.


Bayangan itu membuat Agnia kembali menarik cincin itu dengan cepat. Ternyata kenangan lama itu masih mengganggunya hingga saat ini.


Agnia mengulum bibirnya, sekali lagi Akmal berhasil mengingatkannya pada sosok Adi. Tak pernah diakui, namun dua orang itu memiliki beberapa hal yang sama kala memperlakukannya.


Mungkin itu pula yang membuat Akmal bisa dengan mudah mendapatkan hatinya. Jika diingat-ingat, beberapa pria yang pernah mendekatinya tak pernah bisa membuatnya luluh kecuali Adi dan Akmal.

__ADS_1


"Kenapa mereka harus memiliki kesamaan.." lirih Agnia, menghela napas panjang. Dengan begini akan sulit sekali menjauhkan sosok sempurna Adi dari ingatannya.


__ADS_2