Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
80. Gian.


__ADS_3

Salah sekali jika semua menganggap Akbar tak terpengaruh, toh Akbar saat ini kembali berpikir keras mencari jalan keluar. Ia tak bisa kehilangan harga dirinya sebab kesalahan itu, tak terima citra baiknya tercoreng begitu saja.


Belum lagi Akmal yang sama sekali tak bersalah, juga Asma yang ikutan kena imbas membuat Akbar semakin merasa bersalah.


Kepala Akbar bergejolak, dipaksa untuk memikirkan jalan keluar.


Nihil, kata maaf nyatanya tak mempan, sabarnya tak berguna, kebijaksanaan pun tidak berhasil. Pada akhirnya hal terburuk terlintas di kepala Akbar.


"Haruskah gue kasih dia pelajaran sekali lagi?" gumam Akbar.


.


.


.


.


Malam dengan deretan bintang tersaji diatas sana, gemulai lembut angin malam memeluk tubuh setiap insan.


Ardi yang rapih berjaket malam ini menyambangi Fiki, terlihat kacau dengan wajah tertekuk.


Fiki menghela dari jauh, menyuguhkan satu porsi sate ke hadapan Ardi. Sudah dipesan sebelumnya, Ardi yang tak bersemangat memberi kode supaya Fiki duduk, sate bukanlah alasan sesungguhnya ia kesana.


Fiki menoleh sekitar terlebih dulu, lantas duduk setelah memastikan tak ada pelanggan yang datang lagi.


"Masih masalah yang sama?" tanya Fiki.


Ardi mengangguk samar, matanya menatap lurus ke arah meja.


"Udahlah, biarin aja. Kita terlanjur hancur, terserah mau dibilang pengecut atau apapun tapi gue gak mau bertaruh dan membuat kita semua terseret."


"Ana setuju. Tapi soal mereka bertiga?" tanya Ardi, yang dimaksud trio Asma, Akbar dan Akmal.


"Gak akan lama, setelah mereka balik ngampus juga normal lagi." jawab Fiki, yakin.


"Tapi?"


"Apa? Lo yakin bisa meluluhkan hati seorang profesor Wiryo? Jangankan itu, selama ini apa pernah kita dianggap? Dan relasi dia.." Fiki menggeleng takjub, menjeda kalimatnya. "Sekarang gue jelas kenapa Wildan selalu lolos dari kesalahannya, karena ini gua jadi hilang respect sama orang itu."


Ardi tak menjawab, sibuk juga dengan pikirannya. Sebagai pemimpin ia tentu merasa bersalah sebab harus merelakan organisasi yang mereka bangun susah payah itu hancur dengan mudahnya.


"Biasanya lo yang ngasih saran buat gue, tapi sekarang gue yang akan kasih saran. Lebih baik kita turutin apa mau mereka, biarkan semua ini berlalu dan terlupakan."


Ardi sudah akan membuka mulut, namun tai sempat sebab Fiki segera mengangkat tangannya mengisyaratkan untuk diam. Bukan masalah besar, ponsel Fiki bergetar saat itu, susah payah ia mengeluarkan ponsel itu dari saku depan celananya.


Menghela pelan setelah nama Akbar yang muncul. "Halo? Masa depan buruk, yang berbicara."


"Bacot!"


"Dih! Apa? Kenapa nelpon gue di hari libur lo yang berharga ini?"


Akbar mendecak dari sebrang. "Lo udah kayak Mbak Agni tau gak, main sindir bisanya."


"Jodoh kayaknya!"


"Bacot!"


"Cutcatcot aja.. cepetan, ada perlu apa. Gue masih kerja ini."


"Soal Wildan."


"Anak itu lagi, kenapa semua datang mengkonsultasikan dia Hah?!"


"Gue belum selesai ngomong."


"Tinggal lanjutin!"


"Tapi emang siapa yang dateng nemuin lo?"


"Ardi. Kenapa? Mau kesini ju.." Fiki mendengus, panggilannya diputuskan begitu saja.


"Jangan dulu pulang, kayaknya Akbar mau kesini."


...


Benar saja, saat sate di piring Ardi tandas, Akbar baru saja datang. Langsung duduk bersebrangan dengan Ardi tanpa permisi.


"Dateng juga." Ardi mengangkat kepalanya, menoleh Akbar malas.


"Hemh.. gue pikir lo udah balik."


"Tadinya.." singkat Ardi, seraya memperhatikan wajah Akbar yang terlihat santai tak banyak keluhan.


Akbar melirik Fiki. "Woi.. satu porsi disini, satu lagi dibungkus."


Fiki malas sekali untuk mendekat, bukannya mencatat pesanan, hal peetama yang ia lakukan adalah menoyor kepala Akbar.


"Woi woi aja.. mana ada pembeli kayak gitu." protes Fiki, namun tetap pergi untuk menyampaikan pesanan itu.


Ardi tersenyum tipis, seakan momen dua orang itu langka sekali dua hari ini. "Apa kabar ente?"


"Baik, Alhamdulillah.."


"Syukur deh, ana pikir ente bakal terpuruk."


"Kenapa juga gue terpuruk? Mending gue hajar lagi aja tu anak supaya sadar." Akbar mengendikkan bahunya, seakan semua itu bukan beban saja baginya.


"Jangan. Gak akan merubah apapun."


Akbar nyengir, terkekeh pelan. "Itu perbandingan. Gue gak bilang akan hajar dia."


"Entahlah.. tapi ente itu penuh kejutan. Apalagi kalo tau berita ini viral dengan berbagai versi."


"Maksudnya?"


"Ente gak tau? Postingan itu belum dihapus sampe sekarang. Semua berkomentar dengan liarnya, disanalah tumbuh banyak versi."


Akbar menyimak.


"Ada yang bilang ente sebagai pacarnya Asma gak terima Asma deket sama cowok lain yang adalah Wildan, ada juga yang bilang ente, Asma, Akmal sama Wildan terlibat cinta segi empat.."


"Segitiga." potong Akbar.

__ADS_1


"Ente, Asma, Akmal, Wildan. Empat orang."


"Ah.. iya juga."


"Dan ada berita kalo kalian bertiga memang sengaja menjebak Wildan, tapi berakhir kalian yang salah. Versi itu memperburuk citra organisasi kita."


"Wow.." tanpa disangka reaksi Akbar justru menarik, malah menyeringai. "Gue gak tau gue akan sepopuler itu sekarang. Tapi.. apa gak ada satupun berita yang sesuai fakta?"


Ardi menghela, mengangguk. "Ada sih, cuman.. itu hanya dipikiran kita."


Akbar mendecak, sudah berharap jawaban menyenangkan padahal. Namun jawaban Ardi ternyata menyebalkan sekali.


"Udah, jangan ngobrolin hal itu lagi. Nih.." Fiki yang akhir-akhir ini bersikeras melupakan masalah ini kembali memotong, menawarkan hal lain yaitu menikmati sate. Tangannya menarik salah satu kursi di sebelah Ardi, duduk di sana. Merenggangkan badan sesaat.


Akbar mulai fokus dengan makanannya, benar-benar tak lagi mengungkit soal itu. Fiki entah kenapa memperhatikan dengan seksama.


"Makan yang banyak!" ucap Fiki tiba-tiba. "Berat badan lo kayaknya turun."


"Jangan ngadi ngadi lo! Mentang-mentang gue lagi stres.." protes Akbar, merasa Fiki dmterlalu dramatis kali ini.


.


.


.


.


Agnia yang tidak mengantuk namun juga tak bisa konsentrasi untuk mengerjakan hal lain memilih duduk menghadap televisi, menonton sinetron di pukul sepuluh malam.


Sebuah bel yang berbunyi diiringi ketukan cepat mengalihkan Agnia, langsung mengernyit. Siapa juga yang berkunjung di malam hari seperti ini, juga.. ketukan itu, Agnia seperti mengenalinya.


Yakin sekali, Agnia tau itu Akbar.


"Ha!" Teriak Akbar, berniat mengejutkan Agnia.


Agnia sama sekali tak terganggu, balas menatapnya penuh tanya.


Hanya bisa mendecak, Akbar memilih melangkahkan kakinya ke dalam rumah. Tanpa mengindahkan tatapan Agnia yang berubah tajam, langsung lurus menuju sopa empuk yang seakan melambai minta dicumbui bokongnya.


Tak lupa sate yang ia minta bungkus diberikan pada Agnia, membuat Agnia tak sempat mencebik atau berucap sepatah kapapun. Sate itu jadi jawaban, Akbar baru kembali setelah menemui Fiki.


"Mbak kok belum tidur?"


"Kalo Mbak tidur siapa yang bukain kamu pintu, Hah?! Lagian jam segini baru pulang.."


"Kan Mbak yang nyuruh aku semangat, kumpul sama temenku, jadi aku gak mumet. Lupa?"


"Ish! Ni anak, jawab terus.."


"Iya, nanti kalo aku gak jawab Mbak bilngangnya. Diem terus! Pura-pura gak denger.."


"Hih.. kapan Mbak kayak gitu?"


.


.


.


.


Dan pagi ini Agnia dikejutkan dengan ketidakadaan Akbar di meja makan, setelah ia periksa ke kamarnya pun manusia itu tak ada.


Agnia menuruni tangga dengan perasaan aneh, tiba-tiba khawatir dengan adik satu-satunya itu. Kepalanya mulai bekerja, mengira-ngira kemana pemuda payah itu pergi.


"Gimana Mbak? Akbarnya mana?" tanya Khopipah, datang dari arah dapur.


"Emh.. udah pergi deh kayaknya Bu.."


"Kampus?"


Agnia menggeleng pelan. "Gak tau, kayaknya kalo jam segini ketemu sama temennya kali."


"Dasar anak itu! Yaudah, coba telpon Akmal!"


"Hemh? Akmal? Kenapa.." Agnia berucap pelan, heran saja dari banyaknya teman Akbar.


"Iya. Telpon Akmal, siapa tau lagi sama dia." jawab Khopipah.


"Ah! Iya.. bentar, Bu." Agnia tersenyum canggung, ragu-ragu. Mana pernah ia mau lebih dulu menghubungi Akmal.


"Ayo!" Khopipah menatap Agnia, heran kenapa anaknya itu masih diam saja.


Agnia tak paham saja kenapa Ibunya masih disana, seakan sengaja ingin ia menghubungi Akmal. Namun akhirnya Agnia mengangguk untuk jawaban dari tatapan menunggu sang ibu.


"Ya."


Beberapa saat panggilan itu belum ada jawaban, hingga akhirnya suara Akmal terdengar.


"Halo, Assalamua'laikum.."


Agnia menoleh sang ibu, menjawab ragu-ragu.


"Wa'alaikumsalam.."


"Ada apa Mbak? Tumben?"


"Emh.. ini, kamu lagi sama Akbar?"


"Enggak. Aku bahkan gak bertukar kabar sama Akbar sejak kemarin."


"Oh.. gitu ya?" Agnia menoleh sang ibu, menggeleng. "Yaudah, makasih.."


Begitu saja? Di seberang sana Akmal dibuat tak bisa berkata-kata. Padahal ia berharap lebih saat melihat nama Agnia di layar ponselnya.


Sejenak Akmal menjauhkan ponselnya, menatap tak percaya. Untuk kemudian kembali mendekatkan ponsel itu ke telinganya.


"Yaudah, telpon temennya yang lain." ucap Khopipah sebelum kemudian beranjak pergi.


Agnia menghela pelan , masih menanti hingga Ibunya hilang dari pandangan. Sesaat matanya kembali ke layar ponselnya, Agnia terheran sebab panggilannya pada Akmal ternyata belum terputus.


"Kamu masih disana?" tanya Agnia, kembali mendekatkan ponselnya ke telinga.

__ADS_1


"Iya. Aku masih penasaran."


"Penasaran apa?"


"Mbak nelpon aku cuma karena itu?"


"Ya. Apalagi? Kamu berharap apa?"


"Siapa tau. Mbak mau ucapin selamat pagi, atau semangat.. hari ini."


Agnia mencebik meski tak terlihat lawan bicaranya. "Memang kamu siapanya saya?"


"Emh.. tapi bukannya untuk menyebar kalimat positif gak perlu pandang bulu? Apalagi aku..."


"Baiklah.." Agnia segera memotong, panik dengan kata selanjutnya yang mungkin akan dikatakan Akmal. "Semangat."


"Cih! Terdengar sangat tidak tulus." protes Akmal, membuat Agnia tersenyum tipis sekali. "Oiya Mbak.. aku gak yakin, tapi apa harus kita cek ke rumah Wildan?"


"Wildan?" Agnia mengernyit. "Kenapa?"


"Fiki ngasih tau aku kalo Akbar bersikeras nanya tentang orang tua Wildan. Kemungkinannya sedikit, tapi aku rasa dia nekat kesana."


Agnia menghela pelan, adiknya itu.


"Gimana, Mbak?"


"Emh? Gak usah deh. Biar saya sendiri yang kesana."


"Tapi.."


Suara Akmal tak terdengar lagi, Agnia segera memutuskan panggilan itu. Mau bergegas.


.


.


.


.


Kekhawatiran Agnia beralasan, lihatlah Akbar yang kini mendengus kesal kala ia didorong kasar oleh dua orang bertubuh besar dengan seragam hitam.


Sejenak Akbar melangkah mundur untuk kemudian mencoba menerobos lagi. Mencoba meski kemudian seiasia.


"Lepasin gue!" teriak Akbar. "Biarin gue ngobrol sekali lagi sama orang terhormat itu."


Bukan sulit bagi pria bertubuh besar itu untuk mendorong Akbar jauh. "Jangan keras kepala, silahkan pergi atau kami akan bersikap kasar."


Akbar mencebik. "Jadi kalian semua sama seperti ini, Hah?! Kasar dan menutup mata."


"Pergilah!"


Akbar mendengus kasar. "Ok. Gue pergi, tapi kasih tau tuan kalian kalo gue punya rekaman yang bisa membuktikan kebersalahan anaknya. Kalo gue gak bisa bebas dari hukuman ini, anaknya juga harus ikut jatuh."


Akbar berlagak mundur lagi, untuk kembali mencoba menerobos sekuat tenaga. Demikian beberapa kali, hingga Wildan keluar dari rumahnya melangkah santai.


"Biarin aja." ucap Wildan, menyeringai menatap Akbar. "Wah.. lihatlah diri lo.. betapa menyedihkan." ledeknya.


Akbar menarik tubuhnya yang dicekal, kembali menghadap Wildan dengan tatapan sengit.


"Ngaca! Satu-satunya yang menyedihkan disini itu lo. Sangat menyedihkan, sampe ayah lo yang terhormat itu mendukung anaknya untuk berbohong."


Wildan terkekeh, sudah mempersiapkan dirinya untuk tidak tersinggung. Toh ia sudah menang bagaimanapun keadaannya. "Persetan dengan kebenaran dan kebaikan yang lo junjung, silahkan nikmati itu."


"Sialan." Akbar kembali berusaha menyerang Wildan, namun Wildan tak gentar sebab dua orang siap menghalau Akbar yang berapi-api itu.


"Sudahlah, hadapi akibat dari tangan sialan lo itu."


Wildan tersenyum miring, merasa seseorang di hadapannya ini sangat bodoh.


Agnia yang baru saja tiba menatap iba dari jauh, mengapa harus begini.


"Akbar.."


Akbar menoleh, berhenti melawan. Melepaskan dirinya dari cengkraman dua bodyguard itu.


"Mbak ngapain kesini?"


"Kamu sendiri? Udah.. ayo pulang."


Wildan mencebik. "Wahh gue salut, hidup lo dilingkari perempuan cantik." ucapnya seraya menilik wajah Agnia dengan senyum miringnya.


"Diem lo!"


"Biarin aja." Agnia menarik lengan Akbar, ingin segera mengkahiri kebodohan Akbar.


"Biar gue kasih keringanan, hukuman lo berakhir tapi salah satu cewe lo buat gue." ujar Wildan, menawarkan keringanan yang tentu menaikkan amarah Akbar.


Akbar sudah menyergap tak tertahan, menarik kerah baju Wildan tanpa sempat dihalau. Cepat sekali kejadiannya, Agnia mengeluh tertahan dibuatnya. Anak itu memang sulit diredam.


"Jangan ngomong macem-macem soal orang di sekitar gue, atau.."


"Apa?" Wildan memotong, tak takut. Sesaat memberi kode pada dua bodyguard itu untuk tak ikut campur, ingin mendengar apa yang akan diucapkan Akbar.


"Atau.." Akbar melanjutkan kalimatnya dengan bogeman keras di perut Wildan, membuat Wildan mengerang kesakitan.


"Atau gue bisa mengabaikan apapun, hanya untuk menghajar lo."


"Pak, tolong pisahakan mereka." ucap Agnia, saat Akbar sudah siap lagi menarik Wildan.


Keributan itu menarik beberapa orang penghuni deretan rumah mewah lainnya untuk menonton dari balkon rumah masing-masing, sebenarnya mereka tak asing dengan peristiwa seperti ini. Namun selalu dibuat penasaran dengan kelanjutannya.


Keributan itu juga menarik perhatian seorang pria yang keluar dari rumah mewah Wiryo, tampak rapih berkemeja sambil menenteng jas di lengan kanannya. Berjalan cepat memastikan apa yang terjadi.


"Kalian.. ada apa?" tanya pria itu, yang langsung membuat mata semua orang tertuju padanya. Termasuk Akbar yang sudah dicekal dua orang, semua diam.


Pria itu melirik Wildan yang tampak menahan sakit dan berusaha berdiri, beralih melirik Akbar dan terakhir matanya berhenti di Agnia.


"Lho! Kamu.." gumamnya, terpotong. Makin bingung apa yang sedang terjadi.


Agnia tak berkedip, membalas tatapan pria yang juga tak mengalihkan tatapannya dari Agnia, memastikan sesuatu.


Satu sisi Agnia lega, sebab akhirnya bertatap muka dengan Gian. Seseorang yang ia rasa bisa membantu dalam masalah ini.

__ADS_1


...


next; kecemburuan Akmal?


__ADS_2