Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
194.


__ADS_3

Belum lama sejak terlelap jatuh ke alam mimpi, Agnia terbangun begitu tersentuh silau yang masuk sebab gorden yang bergoyang karena angin. Begitu tak menemukan Akmal di dekatnya, segera melangkah keluar kamar sembari berkerudung handuk.


Mbak Nur tengah bolak-balik sofa, dapur saat Agnia terlihat menuruni tangga. Langsung berseru dengan hebohnya, sembari berlari menaiki tangga. "Agni, tunggu! Gak usah turun, Mbak yang kesana."


Agnia tersenyum singkat melihat itu, baru bertanya setelah wanita paruh baya itu sudah berdiri tepat di hadapannya. "Lihat suamiku gak, Mbak?"


"Aduh, suamiku.." Mbak Nur tak langsung menjawab, tersenyum menggoda sembari menyenggol bahu Agnia. "Suami mu pergi, mau ke rumah Bunda, katanya."


"Oh.." Agnia mengangguk. "Udah lama?"


"Udah, kayaknya.." jawab Mbak Nur tak begitu yakin, sesaat mengira-ngira waktu dari dirinya mengiyakan permintaan Akmal hingga dirinya sibuk memasak di dapur. "Sebentar lagi juga pulang, soalnya tadi bilangnya gak lama." jelas Mbak Nur, yang lantas terkikik sendiri selepas mengatakan jawabannya. Menatap Agnia gemas. "Udah kengen, ya?"


"Emh.." Agnia mengangguk, balas tersenyum. Tak menafikan, toh siapa lagi yang akan ia cari sesaat matanya terbuka dari tidur.


"Lucunya kalian.. yang satu bangun-bangun langsung nyariin, satunya lagi gak bisa pergi sebelum memastikan kamu berada di tangan yang tepat." ujar Mbak Nur, sembari menepuk bahunya sendiri. "Oiya, gimana? Nyenyak tidurnya?"


"Hem.."


"Bagus. Nah.. mbak ada buatin minuman herbal, dari jage.. plus.. ada telur rebus. Mau ya.. makan?"


"Boleh, mana?"


Dua orang itu duduk di meja makan berdua, menikmati minuman jahe bersama telur rebus. Agnia mulanya berpikir itu tak cocok, namun setelah dinikmati memang enak-enak saja. Justru lahap, lebih ke lapar sebenarnya.


"Tuh, suamimu.." kata Mbak Nur pada Agnia, ketika mendengar deru motor yang belum tentu milik siapa dari halaman.


Agnia tersenyum, tak menunjukkan antusiasnya. Hingga akhirnya pria itu masuk dan menghampiri ke meja makan, langsung mendekat dan memberi kecupan di puncak kepalanya. Mbak Nur sampai mendelik tipis, melihat itu. "Gak sopan, romantis begitu di hadapan ibu-ibu yang lagi gak ada suaminya.." ujarnya bercanda.

__ADS_1


Akmal tersenyum lebar, tak menanggapi dengan ucapan. Beralih menoleh Agnia lembut. "Makan apa?"


Mbak Nur mendengus pelan mendengar pertanyaan itu, pertama iri dengan kelembutan Akmal juga heran dengan pertanyaan yang sebenarnya sudah nyata jawabannya.


"Telur rebus. Mau?"


Akmal segera menggeleng sembari mendudukkan bokongnya di kursi sebelah sang istri. Wajahnya menunjukkan ekspresi tak berselera. "Enggak, Mbak aja.."


"Mbak?!" Mbak Nur berseru kaget, menatap Akmal dan Agnia bergantian. "Kalian.." helaan keluar dari mulut ibu-ibu petakilan itu, kini tatapannya berganti heran. "Mbak paham di hubungan kalian memang kamu yang lebih muda." ucapnya pada Akmal. "Tapi apa gak sebaiknya kamu gak panggil Agnia begitu? Itu terlalu formal, dan terdengar seperti Akbar sedang memanggil kakaknya."


"Emh.." Akmal menoleh Agnia, berlagak berpikir untuk tak lama tersenyum kecil. Sebenarnya soal hal sederhana ini, mereka sudah pernah membahasnya. "Keberatan aku panggil gitu? Atau.. mau panggilan lain?"


Agnia menggeleng cepat. "Gak usah, yang semula udah paling keren." ucapnya, lantas menoleh Mbak Nur. "Jangan salah paham, Mbak.. panggilan itu memang aku yang setuju dan mau. Lagi pula lucu.." terangnya lantas menoleh Akmal. "Coba.."


Mbak Nur akhirnya hanya bisa menggeleng takjub, memperhatikan dua orang yang sudah seperti remaja puber pacaran itu.


Kebahagiaan tak selalu datang selepas kesulitan, kadang kesulitan lainnya harus dihadapi dengan sadar dan meski penuh tangis. Untuk nantinya diri bertanya, apa kebahagiaan yang akan didapat setelah kesedihan ini?


Akbar yang datang, membawa kabar paling menakutkan yang paling enggan didengar Agnia. Senyum Agnia seketika hilang, jantungnya berdegup kencang tak tentu sesaat kabar itu terucap dari mulut adiknya. Ini kabar paling buruk yang ia dengar selepas kegugurannya. Bak ditampar setelah ditimpa beban berat, yang semakin membuatnya pengap setelah berusaha sekuat mungkin tegar setelah kehilangan yang dirasanya.


"Nenek kritis, Mbak.. Ibu, ayah, aku, sama Mas Hafidz hari ini juga berangkat ke Tasik."


Agnia tak bergeming selepas Akbar memberi tahunya, masih mencerna yang terjadi. Takut sekali rasanya, mengingat kabar terakhir sang nenek yang memang sudah sakit-sakitan.


Akbar menghela. "Ayah berpesan, Mbak sama Mbak Puspa gak usah ikut. Apapun yang terjadi nantinya."


Agnia menoleh tanpa berucap sepatah katapun, tampak kacau lebih dari saat kehilangan janin di perutnya. Menggeleng. "Enggak, Mbak mau ikut." tukasnya pada sang adik, beralih menoleh Akmal. "Ya?"

__ADS_1


"Tapi.." Akmal melirik Akbar, ia setuju untuk tak pergi ke manapun saat ini mengingat kondisi sang istri. Namun bingung bagaimana menolak saat Agnia menatapnya penuh harap. "Apa gak sebaiknya.."


Agnia menggeleng, apapun itu ia tak mau dengar. Menggenggam tangan Akmal, memberi isyarat ingin pergi bagaimana pun resikonya.


Akmal menelan salivanya, menoleh Akbar. "Gue kabarin lagi nanti, sekarang gue mau ngobrol sama istri gue.."


Akbar mengangguk, sama resahnya dengan yang dirasa sang kakak. "Yaudah, Mbak.. aku pulang."


Agnia tak bergeming, kini tampak kesal tanpa alasan. Bagaimana bisa dirinya tak pergi saat kondisi sang nenek tengah kritis? Apa semua berpikir jika perasaannya tak penting, jika kerinduan dirinya pada sang nenek juga tak penting?


Akmal membelai kepala Agnia, menyampingkan anak rambut yang menghalang di pipi sang istri. Turun membelai rahang hingga dagu Agnia, memajukan wajah itu untuk menatapnya. Sudah lima menit setelah Akbar pergi, namun Agnia tak kunjung bergeming.


"Mbak beneran mau pergi?"


"Hem.."


"Meskipun aku larang?"


Agnia hendak mengangguk, tapi urung untuk kemudian menggeleng pelan. Izin suami tentu saja yang utama, jika Akmal setega itu maka ia akan pasrah saja. Ya, ia memang tengah berpikir jika Akmal sedang tega padanya.


"Mbak sadar kondisi Mbak saat ini?"


"Ya." jawab Agnia lemah, sangat terbebani dengan keinginan juga kesadaran atas kondisinya.


Akmal menghela, kenapa rasanya jika tidak mengijinkan akan membuat istrinya semakin tertekan? Akmal menggenggamkan tangannya di tangan Agnia, mengelus lembut. "Aku paling gak bisa liat Mbak kayak gini, jadi aku ijinkan. kita pergi, tapi janji jangan sedih, ya? Mbak harus cepet pulih."


Agnia mengangguk, masuk ke pelukan Akmal. Ia tak takut atau khawatir dengan dirinya, hanya takut jika melewatkan pertemuannya dengan sang nenek. Meski tak berubah meski ia datang, namun hatinya begitu teringin pergi.

__ADS_1


Sebuah harapan dimiliki Agnia, juga seluruh keluarganya. Semua sudah pasrah mendengar kata "Kritis" namun tak ada yang mau disuguhi kabar duka, saat semua masih ingin bertemu bahkan lebih dari itu, masih ingin berbakti. Hanya saja diri tak bisa mendahului Takdir-Nya, pasrah, sabar juga sadar adalah jalan paling mudah menghindari kecewa dan keterpurukan.


__ADS_2