Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
91. Penyekapan Agnia


__ADS_3

Sesaat akan memanggil Akmal, Agnia dibuat tak bisa menolak satu panggilan yang entah dari siapa. No asing yang tertera di sana. Sesaat Agnia mengernyit, sedikit tak nyaman sebab artinya no miliknya sudah dimiliki banyak orang.


Agnia yang ragu-ragu tetap menjawab juga, berjaga-jaga jika penting. Saat suara seorang pria terdengar dari sana, ia sibuk mengira-ngira. Siapa gerangan pemilik suara yang satu atau dua kali ini sepertinya pernah ia dengar.


"Halo?"


"Halo, siapa?"


"Ini benar dengan Agnia?"


"Ya.." jawab Agnia ragu-ragu.


"Saya dari ekspedisi, ingin mengantar paket."


"Paket?" Agnia spontan membeo, yakin sekali tak memesan apapun dalam waktu dekat ini. "Tapi saya gak pesan sesuatu.."


"Ah.. ini kiriman dari.. sebentar, pengirimnya Akmal."


"Akmal?"


"Betul. Saya sebentar lagi menuju alamat anda, jadi mohon tunggu."


Agnia tak sempat meragukan, sedikit percaya sebab mungkin saja. Pria itu memang penuh kejutan.


Untuk memastikan, Agnia segera memenuhi tujuan awalnya untuk menelpon Akmal. Saat itu, ia lupa akan keresahannya untuk sesaat.


Hingga panggilan itu tak kunjung mendapat jawaban, Agnia seketika ragu. Ini rencananya? Semacam kejutan? Pria itu sendiri sudah penuh kejutan.


Baiklah, Agnia menghela. Berhenti menghubungi Akmal, beranjak ke depan rumahnya. Ingin memastikan sendiri apa isi paket itu, apa benar Akmal sedang merencanakan sesuatu.


"Agnia.."


"Iya, Bu." Agnia menoleh, dari ambang pintu Khopipah memanggilnya. Dengan Zain di pangkuan.


"Ngapain disitu?"


"Nunggu paket."


Khopipah mencebik. "Paket apa sampe kamu semangat nunggu disana? Tunggu di dalem aja, kita makan siang bareng."


Agnia tersenyum, iya juga. Jelas sekali ia terlalu bersemangat. "Okay. Sebentar, Bu." Agnia akhirnya mengangguk, untuk sesaat menoleh sekitar memastikan kurir yang membawa paket misterius itu.


Tak berselang lama sebuah mobil datang, membuat Agnia mengurungkan niatnya. Beranjak mendekati mobil itu, dengan rasa penasaran yang menggodanya.


"Apa paketnya sebesar itu?" gumam Agnia, hingga mobil ekspedisinya langsung yang mengantar.


Khopipah yang masih disana mengernyit, memperhatikan anak gadisya yang justru melangkah ke arah berlawanan hingga hilang dari pandnagannya. Sejenak menghela, untu kemudian memutuskan masuk sebab Zain sudah merenggek minta diturunkan.


Seseorang di kursi kemudi menoleh, menurunkan kacanya. Tersenyum ramah.


"Atas nama Agnia?"


Agnia mengangguk. Terlalu penasaran dengan paket itu, Agnia abai jika suara kurir ini dan kurir yang menelponnya tadi sangat berbeda.


Kurir itu berlagak kesulitan untuk keluar, lalu tersenyum ke arah Agnia. "Mbak, maaf sekali. Bisa ambil sendiri paketnya?"


Agnia paham, mengangguk. Baru saat pintu mini bus itu terbuka, meloloskan kepalanya. Anehnya hanya ada satu paket disana, itupun kecil sekali. Membuat Agnia seketika merinding, mematung untuk sesaat. Baru sadar ada yang tidak beres.


Agnia sudah akan mundur, hanya saja tak sempat. Sebuah tangan lebih dulu menariknya, membuat Agnia tak butuh satu detik sudah masuk kesana. Seseorang yang tak terlihat sebelumnya, duduk di jok belakang menyeringai setelah berhasil membuat Agnia tak sadarkan diri.


Wildan kini menegakkan tubuhnya, cukup lama meringkuk dan bersembunyi. Senyum miringnya tercetak jelas, juga helaan lega dari mulutnya terdengar hingga supir di depan sana.


"Jalan!' titahnya, yang langsung diangguki supir yang terlihat takut itu, tangannya bergetar.


...


Khopipah yang heran saat Agnia tak kunjung datang memutuskan mengecek, jadi resah tiba-tiba. Meninggalkan Zain bermain sendiri di meja makan untuk sesaat.


Kerutan di dahinya makin terlihat, kala Agnia tak ia lihat dimanapun. Dadanya mulai bergemuruh, riak khawatir seketika memenuhi hatinya. Apalagi setelah berjalan ke tempat Agnia berdiri tadi, justru bukan Agnia yang ditemukan melainkan ponselnya yang tergeletak bebas di jalanan beraspal.


.


.


.


Akbar mulai menghubungkan beberapa hal, masih mematung di tempatnya berdiri. Mulai dari telpon Agnia yang bernada khawatir, juga teka-teki yang ditanyakan Akmal. Satu lagi, Asma tadi mengatakan jika ia melihat Akmal bertemu Wildan sebelumnya.


Deg.


Jangan-jangan..


"Sialan." Akbar segera paham, langsung berlari dengan langkah besarnya mengekor Akmal.


Sebuah panggilan datang saat itu, membuat Akbar segera memelan langkahnya untuk menjawab panggilan itu.


"Halo, Bu?"


"Akbar, Mbak kamu kayaknya diculik."


"Maksud ibu?" Akbar sudah berpikir kesana, hanya saja ia berharap sekali itu tak benar.


"Tadi ada mobil mencurigakan, terus setelah ibu cek lewat CCTV. Mbak kamu itu menghilang saat itu."


Akbar mendengus, benar sekali pirasatnya. Tanpa bicara lagi segera memutuskan panggilan itu dan berlari lebih kencang mengejar Akmal.


Beruntung Akmal belum pergi, justru ribut sebab motornya terparkir paling depan.


"Akmal."


Akmal menoleh dengan wajah ruwetnya.


"Mau kemana?"


"Cari Wildan." singkatnya.


"Jangan! Kita ke rumah gue sekarang, nyokap gue bilang CCTV sempet rekam kejadian itu."


Akmal mengangguk, tanpa minta penjelasan apa arti kejadian itu. Duua orang itu sudah terhubung satu pemikiran tanpa saling menjelaskan situasinya.


...


Rekaman cctv satu arah itu menunjukkan waktu saat mobil itu datang, beberapa saat diam, untuk tak lama kembali melaju. Rekaman lainnya menunjukan Agnia yang celingukan, lalu pergi ke arah mobil. Dan setelah itu tak lagi tampak.


Semua mendadak bungkam, apalagi Khopipah. Hanya saja Akbar meyakinkan jika akan segera mencari keberadaan kakaknya berbekal cctv itu. Terus mengatakan jika menemukan Agnia hal yang mudah, meski sebenarnya tak tau.

__ADS_1


"Cepat lapor polisi!" ucap Khopipah, raut lembutnya berganti tatapan tajam.


Akbar menghela, bagaimana ia mengatakannya. Laporan kehilangan tidak bisa dibuat sebelum dua puluh empat jam. Demi menenangkan Sang Ibu, Akbar mengangguk saja.


"Iya, biar aku yang urus. Sekarang, Ibu istirahat aja. Dan hubungi Mas Hafidz."


Khopipah hendak menentang, namun melihat tatapan yakin Akbar ia memutuskan setuju. Melangkah menuju kamarnya diantar Akbar.


Akmal juga terguncang, dadanya bergemuruh hebat. Rasanya seakan mengulang kejadian yang sama, ketika Ulya tak kunjung datang menemuinya pun tak ada di rumah. Saat itu panggilan dari Ibunya yang menjawab, jika Ulya berada diambang kematian.


Dada Akmal terasa sesak tiba-tiba, takut sekali jika Agnia berada dalam bahaya. Padahal yang diincar Wildan adalah ia, Akbar dan Gian. Rasa bersalah memenuhi hatinya.


Tak lama Akbar kembali sembari tangannya tak berhenti mencoba menghubungi Agnia, meski tau tak kan berhasil tetap saja dilakukan.


Akbar menyadari kegugupan di wajah Akmal, menghela pelan. "Akmal!" panggilnya sembari memperhatikan wajah Akmal yang berkeringat hebat.


Akmal menoleh perlahan, masih merasakan degup jantungnya yang berlomba.


"Lo gak papa?"


Akmal mengangguk.


"Jangan terlalu over thinking. Kita gak akan bisa cari Mbak Agni kalo lo ikut terguncang." terang Akbar. Di situasi seperti ini sorot nakalnya hilang, justru ialah yang terlihat paling bijaksana.


Akmal mengangguk seraya menyeka keringat didahinya.


Akbar sesaat menimbang, untuk kemudian menatap Akmal lagi. "Gue mau cari tau mobil ekspedisi itu, lo.. temui Gian. Cari tau tempat mana aja yang mungkin dia datangi."


Akmal mengangguk, bibirnya kelu tak bisa berkata apapun.


Akbar menghela, menatap Akmal sekali lagi. Tau jika Akmal memiliki sedikit trauma tentang situasi seperti ini, pernah mendengar perihal itu sebelumnya, dan ternyata bukan sekedar rumor.


"Jangan lebih takut dari gue!" ucap Akbar lagi, sesaat kemudian mengulum bibirnya. Lantas mendekat ke arah Akmal hingga tangannya nyaman menepuk bahu Akmal. "Semuanya pasti baik-baik aja."


.


.


.


.


Rasa takut itu ingin sekali Akmal lawan, hingga kini dirinya menghela dalam sembari matanya terpejam. Berusaha menata hatinya dengan meyakinkan diri bahwa rasa takut hanya akan membawanya pada kecerobohan.


Gian baru saja turun dari mobilnya dengan wajah kacau, lelah sekali meski baru setengah dari harinya yang selesai. Sialnya, masih ada jadwal menakjubkan lainnya dihari ini.


Namun lelah itu tak berarti saat Akmal datang dengan keributan, membuat Gian tak punya pilihan selain memastikan.


Sorot menantang antara keduanya kemarin kini menghilang, beralih penasaran dari wajah Gian. Segera memberi isyarat pada satpamnya untuk membiarkan Akmal masuk.


"Ada apa?" tanya Gian serius, bisa merasakan kegentingan dari wajah Akmal.


"Dimana Wildan?"


Gian mengernyit. "Wildan?"


"Mbak Agni hilang, jika sangkaan aku benar.. Wildan berada dibalik semua ini."


Gian mematung beberapa saat, sekilas ingat seringai adiknya kemarin. Dadanya spontan bergemuruh, membayangkan apa yang mungkin saja terjadi.


Akmal dibuat aneh, sebab Gian begitu saja percaya pada ucapannya. Tak marah ataupun membela adiknya lebih dulu.


"Ini bukan pertama kalinya?" tanya Akmal.


Gian menggeleng, mengusap kasar wajahnya. "Tapi kali ini dia marah sama saya."


Akmal menghela, mereka benar-benar tidak akur ternyata.


"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Gian, kini meninggikan suaranya. Sebal sebab Akmal malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Akmal menggeleng pelan, entahlah jika Gian saja tak tau apalagi dirinya. "Tapi.. untuk sekarang, kenapa gak telpon Wildan?"


...


Wildan menghela, melirik ponselnya yang bergetar. Tersenyum singkat seraya meluruskan punggungnya.


"Halo?"


"Kamu dimana?"


"Kenapa nanya? Tumben.."


"Kamu sama Agnia?"


Wildan terkekeh. "Agnia siapa? Cewek-cewek ku gak ada yang namanya itu."


"Jangan becanda!"


"Lo yang jangan becanda, Kak!"


"Okay." suara Gian merendah. "Kakaknya Akbar, ingat? dia yang gue maksud."


"Oh.." Wildan terkekeh, menoleh ke hadapannya dimana Agnia yang terikat di kursi sedang susah payah berupaya melepas salah satu ikatan di tangan dan kakinya. "Kalo cewek itu, emang sama gue."


"Lo gila? Sekarang lepasin dia! Atau lo bisa berurusan sama polisi."


"Gue emang gila, tapi tenang aja.. gue akan lepasin dia sebelum polisi mengendus kejadian ini, hanya saja.. setelah bersenang-senang terlebih dulu, gimana?"


"Dasar gak waras! Ini peringatan terakhir, kalo lo sampe nyentuh dia lo berurusan sama gue."


"Kalem! Apa dia seberarti itu buat lo? Sikap lo yang kayak gini justru membuat gue makin bersemangat.."


"Okay, gue minta maaf. Sekarang kasih tau lo dimana." Suara Gian terdengar melembut.


"Kalo mau kesini, silahkan datang. Tangkap gue kalo lo bisa."


"Bangs*t."


"Tenang.. mau denger suaranya?" Wildan bangkit, mendekat ke arah Agnia. Segera mengarahkan ponselnya pada tawanannya, setelah terlebih dulu membuka penutup mulutnya.


Namun Agnia tak menurut, tak mau menunjukan ketakutannya. Mengatupkan mulutnya rapat, balas menatap penuh tantangan.


"Ngomong!"


Melihat Agnia memalingkan wajahnya, Wildan mendengus. Segera kembali ke kursinya.

__ADS_1


"Kayaknya pacar lo ini gak mau ngomong, jadi.."


"Dengerin gue, kalo lo berani nyakitin dia. Gue gak akan nahan diri gue lagi.."


"Ah membosankan. Siapa juga mau nyakitin dia? Cewe cantik itu harus disayangi, kan? Dan.. ingat ucapan gue? Semua cewek itu bergoyang hanya dengan satu sentuhan, gue mau nunjukin itu sekarang.." ucapnya panjang lebar seraya terbahak. Untuk kemudian memutus panggilan itu.


Membuat Agnia merinding seketika, takut sekali. Ia lebih baik disiksa dari pada harus..


"Apa salah saya?"


Wildan tersenyum miring, akhirnya tawanan cantiknya itu bicara juga. Kembali bangkit, mendekat ke arah Agnia.


"Gak ada, tapi adik juga calon suami lo.. gue mau ngasih mereka pelajaran. Dan jangan lupa soal Gian, karena lo buat dia jatuh cinta jadi gue terpaksa.." terang Wildan, berlagak penuh penyesalan.


"Kamu pikir tindakan kamu ini benar?"


"Stt! Gue tau lo putri satu-satunya dari seorang ustadz. Tapi gue sekarang lagi gak perlu ceramah, jadi cukup dengerin gue baik-baik."


"Mari buat tiga orang itu panik terlebih dulu, setelah itu.." Wildan menyeringai. "Kita bicarakan nanti, apa mau bersenang-senang atau.. perlu satu paksaan."


Agnia mendengus, tangannya tak henti mencoba melepas ikatan erat itu. "Akbar ternyata benar, dia memberi pelajaran pada orang yang tepat."


"Apa? Ucapkan lagi! Itu hanya akan menambah keinginan gue untuk membuat lo menderita." balas Wildan santai, seraya mengendikkan bahunya. "Dengar.. tenang lah, gue gak akan nyakitin lo."


Agnia ingin sekali berteriak, namun itu sia-sia sebab Wildan siap kapan saja membungkamnya. Kini, ia hanya bisa memalingkan wajah kala Wildan mencoba menyentuh pipinya.


Wildan terkekeh, suka sekali membuat wanita di depannya tersudut. Tangannya justru lebih berani, mengarah pada bibir Agnia. Hanya saja dalam hitungan detik Agnia berhasil menggigit lengan kurang ajar itu, bak singa mendapatkan buruannya. Tak tanggung-tanggung gigitan itu berhasil membuat tangan Wildan berdarah, bahkan Agnia bisa merasakan asin di mulutnya.


"Aw!" Wildan memekik sakit, hingga saat tangannya dilepaskan. Tangannya spontan menampar Agnia.


Keras sekali, hingga Agnia merasa perih luar biasa. Telinganya untuk sesaat berdengung.


Wildan mengangkat dagu Agnia, membuat gadis itu menatap ke arahnya. Menatap tajam penuh dendam, untuk kemudian mengarahkan pukulan keras ke wajah Agnia.


Agnia bisa merasakan darah mengalir di hidungnya, pipinya satunya juga berdenyut. Pening luar biasa ia rasakan, untuk pukulan bagi seorang wanita itu sudah keterlaluan. Yang paling menyebalkan, dirinya disiksa dalam kondisi terikat


Wildan meringis sendiri, perih di tangannya menciptakan kesal luar biasa. Satu gerakan tangan, menarik rambut yang tertutup itu kebelakamg. Membuat Agnia mendongak dengan mata sayu.


"Lihatlah wajah cantik ini, gak seharusnya diperlakukan seperti ini. Harusnya lo dengerin gue.. biar gue tanya sekali lagi. Mau minta maaf dan datang sama gue, atau.."


"Siksa saya sepuas kamu, demi Allah saya gak sudi memohon pada orang sebrengsek kamu." ucap Agnia lirih, dengan napas yang mulai tersenggal.


Wildan mendengus. "Okay. Lo juga gak terlalu cantik sampe gue harus mengemis. Sekarang.. ada hal lain yang lebih gue mau."


"Aaa." Agnia memekik pelan, menahan saat rambutnya ditarik lebih keras.


Wildan sudah akan mengarahkan tinjunya, namun ponselnya yang berdering menghentikannya. Membuatnya mengendus sebal, namun tetap menjawab panggilan dari kakaknya itu.


Agnia tak bisa menahan tangisnya kini, bahkan ia tak tau dimana dirinya berada. Isakannya tipis terdengar seirama dengan suara Adzan yang berkumandang.


"Apa lagi?" Wildan bertanya datar.


"Kita buat kesepakatan. Lo kasih tau dimana kalian, dan kita gak akan bawa urusan ini ke polisi."


"Polisi-polisi.. gue gak peduli!" teriak Wildan, marah sekali. "Lakuin apapun yang lo mau, gue gak takut." ujarnya percaya diri, segera memutus panggilan itu.


Mata Wildan menusuk tajam, seakan siap membantai Agnia tanpa ampun. Mengambil napas panjang sebelum menghampiri Agnia, yang mulai terlihat takut itu.


Sekali lagi panggilan itu datang lagi, Wildan dengan terpaksa dan emosi yang memuncak kembali menjawab panggilan itu.


"Sebaiknya kali ini penting." desisnya.


"Apa yang lo mau?"


"Gue mau baik lo, Akmal, juga Akbar merasakan kesal dan kecewa seperti yang gue rasain. Gue gak peduli kalo setelah ini harus masuk bui, asal cewek ini mampus." ucapnya penuh penekanan.


"Kalo gitu, biarin gue ngomong sama dia.."


Wildan menghela, mengarahkan ponselnya pada Agnia.


"Agni.."


"Kak.." Agnia dengan bibir bergetar ya menjawab pelan, berusaha sekuat mungkin menahan isakan takutnya. Namun isakan itu pecah begitu saja.


"Tunggu sebentar lagi, dan selama itu jaga dirimu baik-baik."


Tangis Agnia makin pecah, tentu paham arti ucapan Gian. Hanya saja, bagaimana dengan dirinya yang tak bisa melakukan apapun?


Wildan puas, merasa berhasil membuat kakaknya ketar-ketir. Panik bukan main. Segera memutuskan panggilan itu, juga mematikan ponselnya. Tak mau Gian mengganggunya lagi.


.


.


.


Hal pertama yang Akbar lakukan, adalah menemui Fiki. Meski terlihat kacau, slengean juga emosian, ada fakta lain yang tak banyak diketahui orang.


Fiki, memiliki relasi yang baik dengan geng berandal. Bukan geng biasa, bukan berandal biasa. Mereka terlatih dan sangat cekatan.


Fiki sudah siap menyerang Akbar dengan mulut nakalnya saat musuh bebuyutannya itu memaksa untuk bertemu, hingga Fiki dengan terpaksa menurut sebab Akbar malah membentaknya di telpon tadi.


Sebab itu, Fiki bersumpah untuk membalas Akbar kala bertemu. Namun itu hanya rencana, toh Fiki segera dihadapkan kebingungan melihat wajah Akbar.


Dan saat Akbar menjelaskan semuanya, rahang Fiki spontan mengeras. Balas menatap tajam Akbar.


"Kenapa lo gak ngasih tau gue sejak awal?"


"Semuanya berjalan sangat cepat, gue bahkan gak sempet ngasih tau kakak gue sendiri. Sekarang, lo yang harus bantu gue."


Mendengar jawaban lirih Akbar, juga sendunya wajah itu membuat Fiki tak tega. Namun bukan dirinya jika bersikap manis, akhirnya berdehem.


"Iyalah, minta tolong sama siapa lagi kalo bukan sama gue."


Akbar mendengus, tersenyum kecil. Dalam hati lega sekali. Fiki memang langka, menyebalkan juga sangat berguna di saat yang bersamaan.


"Tapi gue butuh persetujuan lo dulu."


"Apa?"


"Wildan, anak itu boleh gue apain aja?"


Akbar mengangguk ragu, berpikir apakah ia berhak menyetujui itu atau tidak. "Terserah, tapi.. kita temuin dia dulu."


Fiki tersenyum lebar entah kenapa, mengangkat bahunya. "Itu gampang."

__ADS_1


__ADS_2