
Yang aku mau sekali seumur hidup
Dan kamu lebih dari cukup untuk itu
Biar kita menua bersama hingga renta
Juga sampai terpisah kala jasad menjadi mayat
Hingga suatu saat hatiku hatimu kembali menyatu
Di surga yang kita pernah janjikan tuk kembali bersatu.
♡♡♡
Sebuah motor masuk ke halaman kediaman Fauzan. Itu Akbar, yang turun dari kuda besinya dengan wajah kecut. Perwujudan lelah, risau, juga kesal yang tercampur jadi satu.
Akbar menghela napas pelan kala menyimpan helmnya. Sejenak merapihkan rambut sambil melangkah menuju rumah.
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalaam.." Khopipah yang menjawab, sedang menyapu ruang tamu.
Akbar urung untuk masuk, kembali ke teras dan duduk di kursi. Membuat Khopipah ikut keluar tanpa menyelesaikan pekerjaannya.
"Tumben pulang lebih awal?"
"Bahkan aku pengennya lebih awal dari ini, Bu. Cape." jawab Akbar, nyengir setelah menyelesaikan ucapannya.
"Mbak Agni mana, Bu?"
Khopipah mengernyit, menatap curiga. "Aneh.. Tumben nanya?"
"Ibu.. jawab aja!" renggek Akbar. Menatap penuh mohon pada Ibunya yang juga senang bercanda.
Khopipah tersenyum tipis. "Belum pulang."
"Dari panti?"
"Iya."
"Oh.." Akbar mengangguk, kemudian bangkit. Namun alih-alih menuju rumah, Akbar berjalan menuju motornya.
"Lho! Kemana lagi?" tanya Khopipah, menatap Akbar yang kini sudah memasang helmnya kembali.
"Jemput Mbak Agni."
Khopipah mengernyit, lagi-lagi heran dengan bungsunya ini. "Katanya cape?"
"Lebih cape nunggu Ibu beres nyapu."
"Kamu ini!"
"Becanda, Bu." Akbar kembali tersenyum lebar. Seraya menunggangi motor kebanggaannya. "Aku jemput Mbak Agni dulu ya.." ucap Akbar dengan nada lembut.
"Boleh.. tapi.."
"Apa lagi, Ibu sayang..?"
"Telpon dulu! Jam segini gak mungkin masih di panti."
Akbar menganguk. Iya, Ya.. ia baru terpikirkan.
***
Salah satu dari dia ponsel yang di letakkan di atas meja bergetar, tanda panggilan masuk. Agnia, si pemiliknya langsung meraih ponsel itu.
__ADS_1
"Aku angkat telpon dulu, ya."
Silmi mengangguk. Meraih segelas teh manis pesanannya.
"Halo..." Agnia diam, menyimak beberapa saat. "Kenapa nanya?" "Di kedai mi ayam." "Gak usah. Mbak pulang sen.."
Tut..Tutt..Tuttt
"Dih!" Agnia terkekeh, selepas Akbar begitu saja memutuskan panggilan tak terima larangan.
"Siapa?" tanya Silmi, saat melihat kekehan kecil Agnia. Seraya meraih ponsel miliknya yang juga menyala berasal dari pemberitahuan.
"Adikku." jawab Agnia, tak lepas senyum dari bibirnya.
"Mau jemput, ya?" tanya Silmi lagi sedang matanya terpaku pada layar ponsel.
"Iya."
"Kalo gitu aku tunggu sampe adik kamu jemput, ya?"
"Gak usah. Duluan aja. Jemputan kamu udah di depan kan?"
"Iya. Baru aja. Katanya.."
"Duluan aja, Mi. Kasihan suami kamu.."
"Beneran?"
"Iya."
"Makasih.." Silmi tersenyum senang, segera bangkit dari duduknya. "Kalo gitu aku duluan.. Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalaam." jawab Agnia. Senyum kembali terbit dari bibir Agnia, melihat Silmi yang bahkan tidak menoleh lagi saat akan menemui suaminya.
Agnia yang pokus pada ponselnya pun sedikit terkejut saat Akbar duduk di hadapannya dengan tiba-tiba. Namun begitulah adiknya. Duduk saja tanpa berbasa-basi. Tak peduli jika yang ia salah orang.
"Ayo!"
"Bentar, Mbak. Tunggu aku makan dulu."
Tak lama sejak berucap seperti itu, pelayan kedai itu datang. Dan yang membuat Agnia sejenak terbengong adalah bukan hanya satu mangkok yang dipesan Akbar, tapi dua. Tentu saja itu memancing tanya.
"Dua? Mbak udah makan, lho."
Akbar mencebik, tangannya meraih mangkok pertama. "Siapa bilang buat Mbak?"
"Terus?"
"Buat aku." tegas Akbar. Menatap Agnia tanpa berkedip.
Agnia memutar bola matanya. Terserah! Demikian arti tatapannya.
Agnia hendak diam saja tak bertanya, Akbar sedang menyebalkan dari pengamatannya saat ini. Namun mulutnya tak kuat diam, beberapa saat kemudian sudah membuka mulut, tak sanggup hanya mernyaksikan Akbar yang makan dengab lahap.
"Tumben jemput?" tanya Agnia, memancing tatapan tajam Akbar ke arahnya. "Ada maunya, pasti."
"Ini tumben keempat. Eh, kelima kalinya di hari ini yang Ibu sama Mbak Agni ucapkan."
Agnia tersenyum, ia baru sadar sudah mengatakan tumben pada Akbar sebanyak dua kali hari ini. "Itu karena hari ini kamu memang aneh!"
"Enggak ah. B-aja."
Agnia menghela napass pelan. "Kamu menghindari teman kamu itu?"
"Iya. Calon suami Mbak." jawab Akbar santai, tanpa menatap lawan bicaranya yang kesal dengan kalimat itu. Pokus menyuapkan mi ayam dari mangkuk pertamanya.
__ADS_1
Agnia diam, jadi tidak berselera mengobrol dengan Akbar. Yang paling benar baginya adalah diam, menunggu Akbar menyelesaikan makannya.
Satu mangkok tandas, Akbar menatap Agnia dengan senyum tipis saat meraih mangkok keduanya. Dibalas cebikan oleh Agnia.
***
Adzan ashar baru saja berkumandang, tepat sekali ketika Akmal tiba di rumahnya. Di dalam rumah, Sidiq yang sudah bersiap menuju mesjid langsung bangkit saat terdengar bunyi motor memasuki halaman rumahnya.
Hari ini Sidiq memang sengaja mengosongkan jadwalnya. Sejak semalam sudah memilah pekerjaan mana saja yang bisa dilakukan di rumah.
Akmal mendorong pintu rumahnya perlahan. "Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalaam.. warahmatullah.." terdengar jawaban dari ruang tengah, tak lama Sidiq muncul, berjalan menuju ruang tamu.
"Duduk sebentar, Mal." ucapnya, seraya duduk di sopa. Menepuk sopa lainnya supaya Akmal duduk di sopa itu.
Akmal manut, duduk di sopa satunya tentu setelah lebih dulu meraih tangan Sidiq. Mencium punggung tangan ayahnya itu.
Akmal siap untuk menyimak, menunjukan senyuman tipis juga tatapan teduh khas ia dan ayahnya.
Sidiq balas tersenyum, tangannya naik mengusap lembut kepala anak satu-satunya itu. Sikap yang sebenarnya jarang ditunjukan Sidiq.
"Karena beberapa alasan, ayah selalu merasa kamu itu masih kecil. Masih nakal, masih labil. Gak sadar kalo kamu sudah berkumis, sudah lewat masa puber." Sidiq terkekeh di akhir ucapannya.
Akmal menyimak, balas tersenyum. Lagi-lagi ia terheran, sebab kalimat seperti ini juga jarang diucapkan oleh ayahnya.
"Akhir-akhir ini ayah jadi sadar, kalo kamu cepat atau lambat pasti akan berkeluarga, pasti jadi pemimpin."
"Dan ayah harap kamu bisa jadi permimpin yang baik nantinya. Pemimpin yang selalu taat agama, yang bisa membimbing keluarganya, juga pemimpin yang bisa merekatkan dua keluarga yang memiliki visi dan misi berbeda."
Sidiq menjeda, menatap Akmal dengan senyum.
"Kamu sudah bertemu anak gadis yang ayah maksud kan?"
Akmal mengangguk. Tersenyum. Tentu saja, anak gadis yang tempo hari ia bilang seumuran dengan Akmal namun sebenarnya fiktif. Bukan gadis melainkan si bujang, Akbar.
"Gimana pendapat kamu tentang dia?"
Akmal diam. Apa yang hendak dikatakan? Agnia sempurna di mata semua orang. Jangankan bagi pemuda sepertinya, bagi para calon mertua pun Agnia tampak ideal. Apa lagi yang ingin ayahnya dengar? Hanya saja..
"Kamu keberatan dengan perbedaan umur?" tanya Sidiq saat Akmal tak kunjung menjawab.
"Bukan begitu, Yah.. tapi.."
"Karena masa lalunya?" tukas Sidiq.
Akmal menggeleng. Ia cukup hanya dengan melihat hari ini pada diri seseorang tanpa perlu melihat masa lalu yang sudah jauh di belakang. Dan ada apa dengan masa lalu Agnia? Apakah dengan tidak jadi menikah menjadi aib?
"Kamu mikirin pendapat dia?"
Akmal tak menjawab. Itulah yang menjadi masalah terbesar, siapa yang tak mau menikahi gadis cantik yang juga baik-baik? Bahkan Fiki dan Ardi pasti melongo atau mungkin saja iri saat tahu kabar perjodohan ini.
Sidiq tersenyum. "Sejak kapan kamu gak percaya diri?"
"Menjadi lelaki berarti kita harus siap dengan dua kemungkinan. Diterima, atau juga ditolak. Tapi bukan berarti kita harus pesimis. Kalo Allah sudah berkehendak, ditolak bagaimanapun yang harusnya jodoh pasti akan bersama."
"Dan untuk memetik bunga paling harum di taman, kita harus rela berjuang. Harus siap bersaing. Dan siap tahan banting. Tolak? Coba lagi! Tolak lagi? Coba lagi! Apalagi seorang wanita sholehah tidak akan bisa menolak kecuali dia menemukan laki-laki lain yang lebih baik agamanya."
"Karena itu, kamu gak perlu pesimis! Memangnya siapa yang bisa lebih baik dari anak ayah ini?" goda Sidiq.
Akmal tersenyum, mengangguk paham.
"Jadi kapanpun kamu siap, bilang sama ayah! Ayah pasti langsung lamarkan. Iya?"
"Iya. InsyaAllah, Yah."
__ADS_1