
Agnia di hari minggu ini hendak kembali berangkat untuk berkumpul bersama para wali murid, sudah membereskan rumah sejak subuh. Khopipah bahkan tinggal makan saja pagi ini.
Basmallah diucapkan, Agnia berharap hari ini tak seperti harinya kemarin. Tak ingin hari yang penuh tatapan tajam dan rasa kesal. Sebab itu, untuk belajar dari hari kemarin, Agnia tak mengatakan apapun pada Akbar. Berjaga-jaga supaya adiknya itu tak menghubungi Akmal, harinya sendiri saja sudah melelahkan. Apalagi jika ditambah satu orang itu.
"Mau ke mana, Mbak?" Akbar bertanya, datang ke kamar Agnia saat pemilik kamar itu tengah bersiap.
Agnia yang sedang mematut dirinya di depan cermin menoleh sejenak, lantas kembali menatap pantulan dirinya.
"Gak usah kepo!"
Akbar mencebik, mulutnya sibuk mengunyah. Duduk menatap Agnia dari bibir kasur.
"Mau aku anter?"
"Gak usah.. Takutnya kamu tiba-tiba ada urusan mendadak." sindir Agnia, berucap santai.
"Gitu diamah.." ucapan santai Agnia ternyata berhasil membuat Akbar kesal sendiri.
"Apa?!" Agnia tak kalah galak, membulatkan matanya, menatap Akbar lewat cermin. Apa harus ia diktekan lagi kekesalannya?
"Maaf." Akbar langsung ciut. Menyadari kesalahannya. Faktanya tak semua niat baik bisa berguna dan diterima, oleh karena itu, mawas diri adalah terbaik. Pikir Akbar.
Agnia masih beberapa saat memasang pentul di kerudungnya, untuk beberapa saat kemudian bangkit. Menatap Akbar dengan tatapan malas.
"Udah selesai? Mbak harus pergi."
Akbar menghela napas dalam-dalam, untuk kemudian bangkit. Melangkah gontai. Sesaat ia melirik Agnia kembali. Entah apa yang dipikirkan.
Agnia mengendikkan bahunya. Siapa suruh menggganggunya, apalagi Akbar malah memasang wajah tanpa dosa. Sungguh mengganggu.
.
.
.
.
Hari minggu yang mendung ini, semua tetap berkumpul. Kegiatan merajut sedang dilakukan. Semua membawa peralatan masing-masing, sudah saling menghubungi sebelumnya.
Hanya Agnia yang tak membawa, lalu hanya duduk menatap semua orang. Ada seseorang yang paling menanti ingin berbincang dengan Agnia, terus memperhatikan Agnia tanpa diketahui.
Lima menit itu dihabiskan dengan demikian, belajar merajut dari nol. Hingga beberapa mereka sudah mulai bisa sendiri. Ada yang sudah bisa, mengajarkan yang lain.
"Emh.. Ini gimana, ya.." Alisya menunjukan kerjanya pada wali murid yang lain, paling buruk dari yang lain.
"Bu Agni.."
"Iya?"
"Ini, tolong bantu Mamanya Raina."
Agnia mengernyit sejenak, lantas mengendus pelan tanpa disadari yang lain. Seingatnya, Alisya pandai merajut. Dan bukan sekali mereka di jaman sekolah membuat kerajinan lalu menjualnya. Kepura-puraan itu, Agnia jadi penasaran apa tujuannya.
__ADS_1
"Apa yang salah, Mamanya Raina?" Agnia berjongkok di dekat Alisya, matanya menunduk hanya pada benda di tangan Alisya.
"Ini.. Emh.."
"Harusnya anda bersikap serius, bukan?" Agnia beralih mengambil rajutan milik Alisya. Yang unik, tak siapapun menyadari jika benang rajut yang dipakai Alisya berbeda dari yang lain. Tak seorang pun curiga jika Alisya sebenarnya pandai.
Hening antara keduanya untuk sejenak, Alisya mengulum bibirnya. Menimbang yang ingin dikatakan.
"Bukankah ini mengingatkan sesuatu di masa lalu?" Alisya akhirnya membuka mulut.
Mendengar itu tangan Agnia spontan berhenti, helaan napas pelan keluar dari mulutnya. Agnia mengangkat kepalanya, menatap Alisya.
"Bagian masa lalu yang mana, yang Anda maksud?"
Alisya bosan sekali dengan kata-kata formal yang Agnia tujukan padanya, padahal satu-satunya tujuan ia datang ke kumpulan yang membosankan ini adalah untuk kembali akrab dengan Agnia.
"Kamu masih marah akan itu?"
Masih marah? Agnia mendengus pelan. Pertanyaan macam apa yang sedang berusaha Alisya tanyakan.
"Marah akan apa?" tanya Agnia lembut, persis kala berbicara dengan Raina.
Alisya kembali mengulum bibirnya, tentu tak mungkin dirinya mengungkit kesalahan yang baginya sudah berlalu itu, seakan ia membongkar aibnya sendiri.
"Dulu kita sahabat.." ucap Alisya, terdengar ragu.
Agnia kesal bukan main, ia kira Alisya akan diam tak berbual lagi setelah melihat reaksinya. Tapi Alisya setidak pengertian itu ternyata.
"Oh! Anda mau membahas masa lalu? Biar saya ingatkan.." Agnia menghela napas sejenak, tangannya sibuk menangani jarum dan benang rajut. "Dulu, setelah saya katakan anda untuk pergi, dengan baik-baik.. Anda datang lagi tak lama dari itu." ucap Agnia, mengangkat wajahnya. "Anda ingat apa yang anda katakan saat itu?"
Agnia kembali menyerahkan rajutan di tangannya pada Alisya, sekali lagi menatap Alisya.
"Tolong berikan yang terbaik.. Dan jangan mencari alasan untuk berbicara dengan saya." ucap Agnia. "Tolong.. Sebab itu akan sangat membantu untuk saya."
Ucapan Agnia tinggal di kepala Alisya untuk waktu yang lama, hal itu membuat tangannya gugup tak karuan. Menatap Agnia yang pergi setelah mengucapkan hal itu.
Agnia menghela napas panjang, pergi agak jauh dari keramaian. Sungguh pagi menjelang siang yang bukan saja mendung di luar sana, namun membangkitkan mendung di dalam hatinya.
.
.
*flashback.
Agnia tetap pergi meski dirinya malu sekali menghadapi orang-orang sekitarnya. Diam-diam pergi untuk menemui seseorang yang sebenarnya hatinya tak lagi ingin berdamai dengan seseorang itu. Kalinya ia langkahkan menuju sebuah cafe.
Sejenak menoleh kiri-kanan, sebelum akhirnya tak lama melihat sosok Alisya, Agnia beranjak menghampiri salah satu meja itu dan langsung duduk tanpa dipersilahkan.
Yang menunggu tak terkejut, menatap Agnia di matanya.
"Kamu datang?" tanya Alisya. Canggung, kontras dengan beberapa hari sebelnya yang penuh kehangatan.
"Seseorang mintaku datang, aku harus datang. Demi masa lalu." ucap Agnia.
__ADS_1
Alisya mengangguk, selepas apapun yang terjadi dan meretakan hubungan keduanya, masa lalu yang baik-baik saja tetap ada di kenangan mereka.
"Mau pesan sesuatu?"
Agnia mendengus. "Yang benar saja.. Cepat katakan.." Di situasi seperti ini bisa-bisanya Alisya berbasa-basi
"Emh.." Alisya tampak bingung, matanya seakan mencari hal apa yang sebenarnya ingin ia katakan. "Sejujurnya.." Alisya menatap Agnia. "Aku sadar kesalahanku, Agnia.. Karena itu, aku minta maaf. Tapi.."
Agnia masih mendengarkan, meski muak sekali dengan apapun ucapan Alisya.
"Aku sangat mencintai Mas Adi."
Deg.
Tak sesuai bayangannya, Agnia tak tahu jika Alisya berani mengatakan hal semacam itu, apa baginya hari ini hal semacam itu penting? Tak pentingkah perasaannya?
"Karena itu, Aku gak mau nyerah di hubungan ini. Tolong maafin aku, kalo kamu bisa."
Agnia mengalihkan pandangannya, matanya mulai terasa hangat. Meski semalaman sudah mengalir, air di sana tetap saja memberontak ingin kembali keluar.
"Apa Mas Adi.. Emh.. Maksudku.. Kalian saling mencintai?"
Saling mencintai? Alisya terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu. Lalu setelah beberapa saat menimbang akhirnya menganggukkan kepalanya. Terkesan ragu, namun pasti.
"Ya.. Selama kamu menghilang dari hadapan Mas Adi."
"Hah?!" Agnia mengernyit, menatap tak percaya pada Alisya. Tak mengerti dengan setiap kalimatnya yang terkesan gamang.
"Aku selalu menjadi nomor dua, dan aku menahan itu untuk sekian lama. Karena itu.. Sebab kamu sudah memutuskan hubungan sama Mas Adi, ijinkan aku untuk memiliki dia sepenuhnya."
Getir yang Agnia rasa, seharusnya hari ini ia sah menikah dengan Adi. Tapi semuanya kacau dan dirinya berakhir penuh tangis. Namun permintaan maaf tulus yang ia harap dengar dari Alisya hari ini justru membawanya pada rasa sakit yang ribuan kali lebih menyayat. Agnia mengusap wajahnya, terdengar isak beberapa saat.
"Kamu sadar apa yang kamu ucapkan?"
Alisya yang sama sebabnya menoleh. "Kenapa? Aku gak berhak bahagia? Aku sadar kesalahanku, semua yang aku lakukan tidak bisa dibenarkan, dan aku menyakiti kamu, tapi.. Aku mohon, Agni.. Sebab semua sudah berakhir.."
"Bukan itu yang aku maksud." Agnia berucap setengah berteriak, menatap tajam Alisya. "Aku gak ngerti, apa yang sebenarnya kamu mau sampaikan. Kenapa kamu bersikap.. Seakan aku orang ketiga di hubungan kalian. Orang harus bersikap sebagaimana posisinya, dan kamu gak berhak menyuruh aku pergi." Agnia menjeda, menghela napas dalam. "Kalianlah yang harus pergi."
"Itu yang benar." Agnia mengangkat wajahnya, tak berniat memperlihatkan sisi lemahnya. "Sudah aku bilang... Pergi dan jangan kembali ke hadapanku! Apa yang terjadi dengan hubungan kalian, bahagia ataupun sedih kalian, bukan urusanku. Mengerti?"
Agnia bangkit dari duduknya, berdiam di sana bersama Alisya hanya membuat dadanya sesak. Berakhirlah semua persangkaan, mereka tak kan lagi saling menghubungi. Agnia sejenak mematung dalam langkahnya, lalu kembali menoleh pada Alisya. "Setelah ini berusahalah tidak menyapa meski bertemu. Itu.. Akan sangat membantu." tandas Agnia, sebelum kemudian benar-benar melangkah pergi.
Alisya mengusap wajahnya seperginya Agnia, meratapi keadaan dirinya yang begitu kacau. Setelah ini, akan ada banyak hal yang kurang dan berubah dalam hidupnya. Hal itu juga, yang membuatnya tak tahu malu menemui Agnia untuk terakhir kalinya.
*** flashback off
.
.
.
Agnia masih berdiam sendiri, berdiri bersandar pada tembok. Menatap jauh, entah apa yang dipikirkan. Tak lama mendengus pelan.
__ADS_1
"Entah kenapa dia masih sama.. Meski aku yang dipermainkan, tapi selalu dia yang terlihat lebih kacau." lirihnya.