
Agnia sudah bersiap, melirik jam sekilas. Pukul setengah empat sore. Duduk di bibir ranjang, menanti. Senyum terlukis di wajahnya. Heran sekali pada dirinya yang seakan bersemangat untuk bertemu Akmal.
Sebuah pesan datang, memberitahu jika Akmal sudah menunggu. Agnia segera bangkit, menatap wajahnya sekilas lewat cermin, lalu beranjak untuk keluar.
Akmal menunjukkan senyumnya kala Agnia muncul. Langsung menyerahkan helm untuk Agnia gunakan.
"Kamu mau bawa saya kemana?" tanya Agnia, belum mengenakan helm di tangannya.
"Emh.. Terserah.."
"Kalo gitu di sini aja. Lebih nyaman, dan lebih pantas."
"Tapi Mbak udah cantik, sayang kalo cuma di rumah.." ucap Akmal, seraya menaiki motornya.
Agnia mendengus, terserah apanya.
"Ayok Mbak.. Aku ajak ke tempat yang pasti Mbak suka.."
.
.
.
.
Sebuah danau dengan suasana bak pasar malam, ramai sekali tersuguh di mata Agnia. Apalagi Akmal mengajaknya duduk di bawah rindang pohon dimana tak hanya mereka yang berteduh di sana, beberapa bahkan membawa serta anak mereka.
Agnia menghela napas, tak tahan dengan hilir mudik orang di hadapannya. Menoleh Akmal.
"Jadi ini tempat yang kamu bilang akan saya sukai?"
Akmal mengangguk, tersenyum lebar. Sementara Agnia mendengus pelan, tak sedikitpun dari tempat ini yang ia sukai.
"Saya lebih suka tempat sepi." gumam Agnia pelan, tapi masih terdengar oleh Akmal. Membuat Akmal sekonying-konyong salah paham dengan kalimat itu.
"Emh.. Maksudnya.. Mbak mau kita cuma berduaan?" tanya Akmal, matanya membesar tampak tertarik menggoda Agnia.
"Gak gitu!" pelotot Agnia, setengah berteriak. Membuat beberapa orang spontan menengok ke arahnya. "Jangan salah paham!" ucap Agnia lagi, memelankan suaranya.
Hening antara keduanya, Akmal sibuk memperhatikan wajah manyun Agnia dari samping. Sementara Agnia sebal sekali kenapa harus di tempat seperti ini, dan heran juga kenapa orang-orang suka berkumpul di sana pada petang seperti ini.
"Katakan.. Apa yang mau kamu jelaskan.."
"Semuanya. Aku akan katakan semua yang Mbak mau tau dari aku.."
Mendengar jawaban Akmal yang terkesan beda dari apa yang tadi siang ia ingin katakan, membuat Agnia makin menekuk wajahnya. "Kamu ngajak saya kesini untuk becanda?" Mana ada ia penasaran dengan kehidupan Akmal.
Akmal menggeleng cepat. "Enggak. Aku gak ngajak becanda. Tapi.."
__ADS_1
"Aku hanya akan katakan apa yang Mbak mau tau dari aku. Itu saja.."
Agnia menatap Akmal tak percaya. Sungguh.. Perlu diakui Akmal memang pandai membuat orang lain mengikuti apa maunya.
"Kalo Mbak gak penasaran sama sekali tentang aku, berarti aku gak perlu katakan apapun..." ucap Akmal lagi, tersenyum meski lawan bicaranya selalu memalingkan pandangan.
"Kamu memang berniat bercanda.." keluh Agnia, pelan.
"Itu tergantung Mbak.. Mbak mau buat moment ini sia-sia atu tidak.."
"Okay.. Katakan.."
"Apa?"
Agnia mengulum bibirnya sejenak, benci di situasi seperti ini. Dan Akmal untuk kesekian kalinya membuat dirinya lagi dan lagi mengalami perasaan tertekan semacam ini.
"Katakan masa lalu yang kamu bilang perlu untuk saya ketahui.."
"Mbak penasaran dengan itu?"
Agnia mendengus sebal, mendelik tajam. Membuat Akmal menyeringai lebar.
"Aku akan jelaskan, tapi.. Syaratnya Mbak harus berusaha natap mataku sepanjang ucapanku nanti."
"Wah.." Agnia kesal sekali, merotasikan matanya. enggan memenuhi permintaan Akmal yang makin ngawur saja ia rasa. Geram sekali, ingin rasanya menoyor kepala bocah tengil ini.
Akmal tersenyum, menikmati wajah sebal Agnia.
Agnia menatap Akmal datar. Tak terbayang jika waktunya sia-sia begitu saja. "Baiklah.." ucap Agnia akhirnya.
"Senyum.."
Agnia menghela napas dalam, menurut saja. Menatap Akmal dengan senyum setulus mungkin yang ia bisa.
Mendapat tatapan seperti itu dari Agnia, sontak membuat Akmal gugup sendiri. "Emh.. Kalo gini.." Akmal menatap Agnia dengan senyum khasnya. "Aku jadi lupa apa yang mau aku katakan.."
Agnia mendengus kesal. Ingin rasanya berteriak, geram sekali. Merasa dipermainkan oleh Akmal. Tak ada senyum atau menatap langsung mata ke mata setelah ini, Agnia benar-benar marah.
***
Akmal dengan seragam putih abunya tersenyum penuh semangat, keluar dari kelasnya dengan langkah cepat.
Seorang gadis yang juga mengenakan seragam putih abu tampak menunggu. Tersenyum, melambai kala melihat Akmal dari jauh.
"Lama nunggunya?" tanya Akmal, pada gadis pemilik gigi kelinci yang menatapnya penuh perhatian.
Gadis itu menggeleng. "Aku juga baru bubar.."
"Yaudah... Ayok.." Akmal meraih tangan gadis itu, menggenggamnya erat.
__ADS_1
Gadis itu menoleh sekitar, malu sekali jika orang lain memperhatikan mereka.
"Gak ada yang lihat.. Semua fokus pada diri mereka masing-masing.."
"Baiklah.. Tapi.." Gadis itu mengangkat tangannya yang bersatu dengan tangan Akmal, tangan lainnya merogoh saku bajunya. Mengeluarkan dua buah gelang.
Akmal mengernyit, menatap gadis itu penuh pertanyaan.
"Ini gelang couple. Ada inisial A&U. Satu untuk kamu, satu untuk aku."
Akmal spontan melepaskan genggaman tangannya kala gadis itu hendak memasangkan gelang ke tangannya. Membuat gadis itu mengerucutkan bibirnya.
"Kamu gak suka?"
Akmal tentu saja menggeleng. Pria manapun ia rasa pasti tak suka dengan gelang inisial seperti itu.
"Tapi pasti tetep aku pake.." Akmal berucap lagi, tak ingin gadis di hadapannya kecewa.
"Janji ya.."
Akmal mengangguk.
"Lihat dong.. A dan U. Akmal dan Ulya." gadis itu berujar dengan riangnya, mendongak sambil tersenyum pada Akmal. Akmal balas tersenyum, mengacap puncak kepala gadis bernama Ulya itu.
***
"Jadi dimana pacar kamu itu berada sekarang?" Agnia bertanya ragu, menatap mata Akmal yang seperti hilang semangatnya setelah bercerita panjang lebar.
Akmal mendongak, membalas tatapan Agnia. "Ada. Disini.." ucapnya, menunjuk ke arah dadanya.
Agnia mendengus pelan, benci dengan senyum tengil Akmal. Tak lama mengangguk. "Emh.. Lalu apa tujuan kamu ngasih tau saya hal itu?"
Tatapan Akmal berubah ceria kembali, mendadak penuh semangat setelah pertanyaan sinis Agnia. Seakan satu hal lain bisa dipastikan. Agnia.. Cemburu?
"Mbak cemburu? Tenang saja.. dia cuma masa lalu."
"Terserah.." Agnia mengalihkan pandangannya, menyesali pertanyaannya barusan. Lelah sekali diganggu Akmal seperti itu.
Tak lelah Akmal menyunggingkan senyuman di wajahnya, puas saja memandangi Agnia. Membuat Agnia tak nyaman dibuatnya.
"Apa sesi ceritanya sudah selesai? Saya mau pulang.."
"Baiklah.. Kita pulang, tugas aku memastikan Mbak untuk pulang dengan selamat."
Agnia bangkit dari duduknya, menatap Akmal sebelum mereka pergi dari tempat itu.
"Sebenarnya.. Saya sama sekali tidak merasa harus mengetahui masa lalu kamu. I wonder why. Tapi.. Setelah saya pikirkan, ternyata saya memang tidak pernah punya harapan untuk hubungan ini.."
"Dan.. Maaf.. Kalo kamu merasa terbebani dengan perjodohan ini."
__ADS_1
Kalimat Agnia lebih terdengar seperti keraguan dibanding penolakan. Akmal menghela napas pelan, menatap Agnia yang melangkah semakin jauh. Ia bukan belum tiba pada kisah utamanya, namun Agnia sudah menyimpulkan sendiri. Jujur saja, sebagaimana berharganya Ulya bagi Akmal, Akmal tak menutupi jika dirinya sudah jatuh cinta pada sosok Agnia, seseorang yang sangat berbeda karakternya dari Ulya. Keduanya memiliki tempat masing-masing di hati Akmal.