
"Kamu tetep pergi walau aku larang?" Adi bertanya lirih, ia dan Alisya tengah duduk bersebelahan di bibir ranjang dengan atmosfer kurang menyenangkan. Tampak kebimbangan di wajah Alisya saat pertanyaan itu disampaikan suaminya.
Sudah bersiap, bahkan Alisya memandikan dan mengganti baju Raina segera setelah dhuhur berkukandang demi datang ke resepsi pernikahan Agnia. Namun perangai Adi membuat semangat yang ada sebelumnya berubah keraguan.
Alisya menoleh Adi, mengambil tangan suaminya untuk ia genggam. "Kita diundang, Mas.. memenuhi undangan itu kewajiban."
"Tapi ini beda." sangkal Adi, seraya melepas genggaman tangan sang istri. Bagaimana harus ia tegaskan? Alisya benar-benar keras kepala meski telah ia ingatkan dengan segala resiko yang mungkin terjadi pada mereka nantinya. "Menurut kamu bagaimana tanggapan keluarga besar Agnia kalo lihat kita disana?"
Alisya menghela pelan, melirik jam yang sudah menunjukan pukul setengah satu. Suaminya terlalu banyak menimbang dan khawatir, padahal dirinya tak merisaukan apapun. "Aku udah pikirin ini, Mas.. aku sama Raina aja yang pergi."
"Lantas? Kamu mau mempermalukan diri kamu disana?" Adi meninggikan suaranya, kesalnya sudah di ubun-ubun. Satu sisi tak bisa membiarkan istrinya pergi sendiri, namun di sisi lainnya terus terang tak pergi yang jelas hanya akan menambah kekalutan hatinya.
"Agnia gak begitu, Mas.. keluarganya juga.. aku datang untuk memberi selamat, dan.." sanggah Alisya lirih. Menjeda beberapa saat, dirinya mulai emosional sebab satu hal ini. "Kamu tau aku menahan diri untuk gak pergi saat akad, meski aku mau."
Adi mengusap kasar wajahnya, frustasi. Namun demi melihat sang istri yang ingin sekali pergi ia juga tak tega. "Kalo begitu terserah.. silahkan pergi. Tapi aku gak ikut dan gak mau tau resiko yang kamu hadapi nanti." ketus Adi.
Bukannya keberatan, Alisya justru menyungging senyum dan memeluk Adi untuk beberapa saat. Mewujudkan rasa terimakasih atas izinnya, ini lebih melegakan. Mengabaikan Adi yang tak sungguh-sungguh memberi izin, dan wajahnya terlipat sempurna.
.
.
.
.
Tamu itu adalah Alisya, tamu yang mengejutkan seluruh keluarga besar Agnia. Bersama anak semata wayangnya datang menjadi salah satu tamu diantara segerombol keluarga besar PAUD dimana Agnia mengajar. Tak ada yang aneh bagi mereka yang tak tau menau, namun bagi keluarga besar Agnia, Akmal, bahkan teman-teman mereka itu cukup mengejutkan.
Agnia membalas tatapan Akmal dengan tatapan sama bingungnya, saat suaminya itu mengarahkan tatapan yang sulit diterjemahkan padanya.
"Mbak ngundang Alisya juga?"
"Ah! Itu.." Agnia menoleh keberadaan Alisya sekilas, kembali menatap Akmal. "Semua wali murid aku undang."
Akmal mengangguk paham, dengan tatapan masih terkejut. Ini sungguh diluar bayangannya, meski memaafkan namun mengundang ke pernikahan adalah hal yang berbeda.
Agnia memperhatikan ekspresi Akmal beberapa saat, untuk kemudian menyentuh lengan Akmal supaya menatapnya. "Jangan pasang wajah kayak gitu, nanti orang lain salah paham!"
...
Alisya tau, ada konsekuensi dari kedatangannya. Dan tatapan beberapa orang padanya memang menyiratkan sesuatu, keluarga Agnia tentu masih ingat dan akan selalu ingat dengan dirinya bukan?
__ADS_1
Rumah ini masih sama, namun situasinya sangat berbeda. Sesaat langkahnya masuk ke rumah luas itu hati Alisya bergetar, mengingat kehangatan yang pernah ia rasa di rumah ini. Tiga tahun sejak ia tak lagi akrab dengan lingkungan ini, dan kini ia kembali dalam situasi yang amat berbeda.
Alisya yang berada di tengah wali murid lainnya tak henti diperhatikan, beberapa terdengar berbisik memastikan jika ia memang orang yang sama. Ini sungguh tak nyaman, namun ini adalah konsekuensi yang Adi bicarakan sebelumnya.
Alisya mengambil langkah berani, bersama Raina yang bergelayut di tangannya. Rasa malu yang teramat sangat tak bisa Alisya sembunyikan di hadapan Fauzan dan Khopipah, kesadaran atas kesalahannya hari itu membawa dirinya pada situasi canggung ini.
Fauzan mungkin bisa bersikap bodo amat, namun tidak dengan Khopipah yang tak langsung menyambut sodoran tangan Alisya. Ia lebih dulu menoleh Agnia, dan demi Agnia yang mengangguk samar seakan memberi isyarat untuk menyambut tamunya dengan sama, Khopipah menyalami Alisya dengan senyum tipis. Ia hanya tak paham mengapa Alisya harus dilibatkan, tak tau bagaimana tanggapan keluarga besarnya nanti.
Hingga tiba saat Alisya berhadapan dengan Agnia, senyumnya membuncah diiringi haru dan rasa bersalah yang tak bisa dijelaskan. Alisya menggenggam erat tangan Agnia untuk beberapa saat, matanya berkaca-kaca sembari berkata lirih. "Selamat, Agni.."
Agnia menyungging senyum, diluar ekspektasi ia memajukan tubuhnya untuk sekilas memeluk Alisya. "Makasih udah dateng."
Sesaat pelukan itu dilepaskan, Alisya dibuat mematung tak percaya. Senyum dan pelukan itu sulit dipercaya, padahal sebelum ini tak pernah sekalipun Agnia mau bersikap hangat padanya. Pelukan itu memperbaiki perasannya hari ini.
Helaan datang dari Gian, pemuda itu menyaksikan peristiwa itu dengan hati sedikit kecewa. Kecewa, diatas kagum pada sosok Agnia yang setiap harinya menjadi lebih baik dan semakin bijaksana. "Ah!" desahnya pelan, dengan tangan dimasukkan kedalam saku. "Harusnya aku yang disana." gumamnya pelan.
Giliran pemuda berjas dan jadi satu yang paling menarik perhatian di acara hari ini. Sekembalinya dari kantor segera menyempatkan diri untuk datang, demi memenuhi undangan Agnia.
Senyum Agnia merekah kala Gian menampakan wajahnya. "Selamat menempuh hidup baru.. hemh?"
Agnia mengangguk, sedang Akmal di sebelahnya hanya bisa memperhatikan perangai satu-satunya orang yang pernah membuatnya cemburu.
"Kak.." Alisya merasa lebih baik sebab bertemu Gian, segera menyapa saat punya kesempatan.
"Alisya.." Gian ikut bergabung duduk di meja Alisya, perhatiannya terpaku pada Raina yang tengah menikmati hidangan. "Ah, waktu itu belum sempat ketemu anak kamu. Siapa namanya?"
"Raina."
Gian mengangguk. "Hai Raina.." sapanya, tak lama beralih menatap Alisya kembali. "Kamu gak datang saat akad?"
Alisya menggeleng pelan. "Aku gak mau mengejutkan semua dengan datang di waktu yang salah." terangnya, sembari menegaskan jika tatapan semua padanya saat ini menyiratkan sesuatu. "Ah! Kakak gimana?" Alisya mengalihkan topik pembicaraan dengan membalikan pertanyaan Gian. "Gak datang waktu ijab qabul?"
Gian tak langsung menjawab, menghela pelan untuk kemudian menggeleng samar. "Enggak, saya gak sanggup." gumamnya pelan, tak bermaksud supaya didengar Alisya.
"Hemh?"
"Lupakan.." singkat Gian, tersenyum tipis. "Kamu mau langsung pulang? Biar saya antar.. suasana disini kayaknya gak baik untuk kamu maupun saya."
.
.
__ADS_1
.
.
Agnia hampir meledakkan kekesalannya saat semua sibuk mempertanyakan kedatangan Alisya, mengabaikan perasannya. Satu atau dua orang yang bertanya bisa dimengerti, namun saat keluarga besarnya bergantian bertanya itu mengganggu juga.
Seakan mereka menghakimi Alisya sesuka hati sedang mereka saja paling besar pengaruhnya dalam trauma masa lalunya. Agnia jika bukan karena Akmal ia tak akan mau melibatkan keluarga besarnya dalam pernikahan ini.
Helaan napas keluar dari mulut Agnia, setelah beberapa saat menangani hatinya, tangannya kembali melanjutkan kegiatan. Mengusapkan kapas yang dibubuhi micellar water ke wajahnya.
Ceklek
Sesaat suara pintu dibuka terdengar, Agnia spontan menoleh ke arah pintu. Ia masih belum biasa dengan kehadiran Akmal di ruangan pribadinya, dan ini cukup untuk membuat jantungnya berdetak cepat.
Akmal hanya tersenyum tipis, meletakan sejadah di tempatnya terlebih dulu untuk kemudian beranjak mendekati istrinya yang duduk di depan cermin.
Acara selesai hingga sore, kesempatan bersantai tiba sesaat setelah adzan Maghrib berkumandang. Itu pun Akmal yang lelah tak bisa langsung pergi dari mesjid sebab para tetangga berlomba ingin mengenalnya. Mesjid dijadikan ajang diskusi dan tempat Fauzan mengenalkan menantunya.
Sepanjang itu, Agnia menunggu di rumah dengan hati tak tenang. Debar yang menggila kembali menyerangnya, tak tau harus apa saat Akmal datang nanti. Jadi bingung, rutinitas sebelum tidurnya hancur dan terasa asing. Merasa aneh dengan gerak-geriknya sendiri.
Namun kala Akmal datang dan kini mendekat, Agnia semakin tak bisa menyembunyikan kegugupannya. Tubuhnya ia condongkan lebih jauh saat Akmal berada tepat di sebelahnya.
Akmal menyungging senyum, gemas dengan malu-malunya Agnia setiap saat. "Mbak siap?" tanyanya, ambigu.
"Emh.." Agnia menelan salivanya, menoleh Akmal ragu-ragu. Semampunya berusaha menyembunyikan kegugupan. "Siap? Siap apa?"
Akmal terkekeh, bergerak untuk berjongkok di depan Agnia. "Mbak gak ngerti maksud aku? Harus aku terangkan?"
Agnia takut sekali, menghadapi suaminya ini. Pertanyaan Akmal yang ambigu membuat ketakutannya tertuju pada satu hal yang jadi wujud kehalalan suami istri. Agnia seketika merinding saat Akmal tanpa peringatan mengulurkan tangannya, membenarkan anak rambutnya dengan menyentuh sedikit pipinya.
Rambut lurus Agnia dengan anak rambut yang terurai manis di pipinya membuat Akmal makin mengagumi istrinya itu, ia tak membayangkan Agnia akan semenarik ini baginya. Seakan bonus dari baktinya menikahi pilihan orang tua, Agnia lebih dari sempurna di matanya.
Melihat wajah Agnia yang terlihat tak nyaman itu, Akmal memilih menghentikan godannya. Kini tersenyum. "Aku lelah, bisa kita tidur?" tanyanya sembari bangkit dan menarik tangan Agnia.
Agnia masih duduk di tempatnya, menatap Akmal tak berkedip. Ajakan Akmal terdengar lucu dan kurang ajar dalam waktu bersamaan. Kenapa juga mengajaknya? Ranjang tersedia, suaminya ini bisa pergi sendiri.
"Ayo..."
Agnia berdehem, menarik tangannya dari genggaman Akmal. "Duluan aja, aku.. aku mau ngambil minum." ucapnya, tak lama bangkit dan berjalan keluar kamar dengan berkerudung handuk.
Akmal melihat itu hanya terkekeh, menggemaskan saja di matanya. Apa malam pertama semenakutkan itu bagi para gadis? Padahal Akmal sama sekali tak berpikir hingga kesana, bisa menggenggam tangan istrinya semalaman saja sudah sempurna baginya.
__ADS_1