Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
141. ijab Qabul part2


__ADS_3

Istri, Akmal mengulum senyum kala bergantian menanda tangan buku nikah. Melihat Agnia dari sudut pandangnya saat ini begitu menakjubkan, istrinya lebih dari cantik.


Pernikahan berarti batas-batas yang terbangun secara alami runtuh, berganti kata halal. Setelah ini meski seharian memandangi istrinya begini, dua orang yang selalu rese yaitu Akbar dan Hafidz tak kan bisa melarangnya.


Jika sebelumnya hanya dengan menatap biasa saja bisa jadi salah di mata dua orang itu, maka setelah ini tak ada alasan untuk mereka menegurnya


Mahar berupa kalung emas 47 gram diserahkan Akmal pada Agnia, malu-malu Agnia menatap Akmal sembari formalitas menerima mahar dengan kamera mengarah pada keduanya. Semua melihat itu dengan gemas, tidak dengan Agnia yang malu sekali saat ini.


Tak habis sampai sana, setelah Agnia mengecup punggung tangan suaminya, giliran fotografer yang menyuruh Akmal menciumnya. Mendengar itu Agnia sontak ketar-ketir sendiri. Meski tak terlihat namun dirinya panik, ragu-ragu menyerahkan tangannya untuk digenggam Akmal. Maklum, mereka tak disatukan dalam hubungan pacaran sebelumnya. Lagi pula saat bersama Adi, dirinya pun tak pernah melakukan physical touch. Ini pertama kalinya.


Akmal menyungging senyum tipis, tangan Agnia yang sejak lama ingin sekali ia genggam kini ia raih. Ditariknya tangan itu hingga keduanya mengikis jarak. Yang paling penting adalah.. tak siapapun bisa melarangnya saat ini.


Lupakan soal malu dan gengsi, Agnia memejamkan matanya sesaat untuk kemudian ikut dengan apa yang dilakukan Akmal. Ditengah riuh semua yang menggoda keduanya, Akmal memutus ragu dan mendaratkan bibirnya di kening Agnia.


Desiran aneh melanda Agnia, kecupan itu singkat namun tubuhnya yang asing dengan sentuhan spontan menegang. Andai bukan karena mengingat jika pria di hadapannya ini adalah suami sahnya, maka rasanya Agnia sudah ingin menendang habis ke arah Akmal.


Namun status yang baru didapatnya ini kembali mengingatkan. Ini bukan mimpi, ini nyata. Seseorang yang menatapnya lekat saat ini adalah suaminya. Akmal adalah suaminya.


...


Satu tahap terlewati dengan aman. Meski dengan jantungnya tak baik-baik saja sebab keberadaan Akmal, setidaknya Agnia bisa bersikap normal sepanjang acara. Kali ini helaan panjang keluar dari mulut Agnia, repot sekali serba-serbi pernikahan. Akad mungkin singkat, ijab Qabul juga tak butuh waktu lama. Namun resepsi yang paling menyedot tenaga. Bertemu banyak orang dengan menyungging senyum sepanjang waktu itu melelahkan.


Ini baju kedua, Agnia berganti dengan gaun biru nan cantik. Polesan diperbaiki di beberapa tempat, Agnia memejamkan matanya sepanjang tangan perias bermain di wajahnya. Satu hal lagi yang menyebalkan menurut Agnia, wajahnya terasa tebal luar biasa.


"Mbak.."


Agnia langsung membuka lebar matanya kala panggilan Yesa terdengar. Menoleh melalui cermin. "Hemhh?"


Yesa terkekeh, menertawakan dirinya sendiri. "HeHe.. Aku pikir tidur." ucapnya sembari mendekat dan berdiri tak jauh dari Agnia. Bukan tanpa alasan ia bertanya demikian, Napas Agnia terlihat tenang dan beraturan persis seseorang yang sedang tidur tadi.


Agnia mendelik tipis, mana mungkin ia tidur di situasi begini. Bahkan jika dirinya lelah pun.. perasaan haru biru, bahagia, juga degup yang naik turun saja sudah cukup mengembalikan warasnya. Yang sebenarnya Agnia hanya butuh waktu mencerna seluruh rangkaian peristiwa besar penuh kebahagiaan ini.


Rasanya baru kemarin Agnia bertemu pemuda itu, pemuda yang mengaku seseorang dari masa depan. Pemuda yang dengan percaya diri mengenalkan diri sebagai calon suaminya pada semua orang.


Sebal luar biasa saat itu, hingga tanpa sadar pemuda itu berhasil memecah konsentrasinya. Tak tau sejak kapan Akmal dengan kesederhanaannya berhasil menciptakan kenangan indah yang perlahan mengganti seluruh sedih dari kisah masa lalunya.


Pemuda itulah orangnya. Seseorang yang menjadi suaminya kini. Pemuda dengan kepribadian menawan yang ternyata bukan saja menarik perhatian orang lain, tapi juga dirinya.

__ADS_1


Agnia menghela panjang, menatap pantulan dirinya di cermin. Entah ungkapan syukur seperti apa yang harus ia tunjukan, hatinya penuh kebahagiaan kini. Tak ada penyesalan stelah menerima pinangan Akmal. Kini bisa ia simpulkan, jika hatinya tak hanya memilih Akmal namun dirinya sudah jatuh cinta pada sosok menawan itu.


"De.. tolong panggilin pengantin prianya, suruh kesini.." Teteh perias menoleh Yesa, meminta tolong.


Yesa yang tadinya hendak bertanya arti lamunan Agnia, menyalakan mode sigap seperti biasa saat disuruh. Langsung menatap antusias. "Mau ganti kostum, ya teh?" tanyanya semangat, yang langsung diangguki Teteh perias sembari terkekeh. "Siap.. tunggu sebentar, aku meluncur.." tandas Yesa, lantas benar-benar meluncur dan hilang dari kamar itu.


"Dia memang selalu penuh semangat seperti itu, atau gimana?" tanya Teteh perias, sehilangnya Yesa dari balik pintu.


Agnia tersenyum tipis, mengingat bagaimana Yesa justru terlihat lebih bahagia dari dirinya saat ini. "Dari sananya begitu, Teh.."


...


Akmal baru saja selesai shalat saat Yesa datang mencarinya, setelah menanggalkan jasnya di atas lengan pria yang sudah bertitel suami itu beranjak menuju kamar yang ditunjuk Yesa. Sementara Yesa pergi ke dapur setelah dipanggil Ibunya.


Ceklek


Sesaat pintu terbuka, tampaklah Agnia dengan keanggunannya dalam balutan gaun tengah duduk di bibir ranjang. Sesaat mata mereka bertemu, Agnia mengingat beberapa saat lalu, saat tamu satu persatu menyalami mereka. ketika Akmal berbisik tepat di telinganya.


"Apa ini waktu yang tepat?"


"Hemh?" Agnia menoleh sekilas.


Agnia mengalihkan tatapannya, persis yang dilakukannya tadi. Ini terlalu canggung bahkan setelah fakta jika mereka bukan lagi sepasang asing.


"Ayo, a.. sini.. kita ganti baju dulu.." seru Perias, segera bangkit dari duduknya.


Akmal menyungging senyum tipis, meneruskan langkahnya. Tak sempat menanggapi reaksi Agnia yang begitu. Langsung meraih baju yang diserahkan perias, lantas bergegas berganti.


Agnia tak bergeming untuk beberapa saat, membawa dirinya dengan gaun dan segala riasan di wajahnya saja sudah berat. Tak ada selera untuk memikirkan hal lain selain Akmal yang terlihat menakjubkan dengan kemeja tanpa jas di tubuhnya. Agnia menggeleng samar, mengenyahkan pikirannya yang sudah terlalu jauh. Ini terlalu dini, jauh dari jam malam dimana hal-hal gila wajar berseliweran di kepala.


Agnia memilih meraih ponselnya, tak lama berlarut dalam pesan-pesan beruntun yang datang dari banyak orang untuk mengucapkan selamat.


Tak berselang lama Yesa datang, membuat perhatian semua yang berada di kamar itu mengarah padanya. Dua piring nasi bersama lauk lengkap dibawa Yesa, dua-duanya diletakan begitu saja di atas ranjang tepat di sebelah Agnia.


"Buat Mbak, sama Mas Akmal." terang Yesa sembari tersenyum, menjelaskan pada Agnia yang menatapnya dengan kernyitan. Beralih menoleh Akmal yang tengah dirapihkan pakaiannya. "Ayo, Mas.."


Akmal mengangguk samar, menoleh Agnia sekilas. Sepertinya akan indah jika mereka tak dihadapkan dalam kecanggungan, di masa seperti ini mereka bisa saling lempar candaan dan istrinya bisa tanpa beban memperhatikannya. Sayangnya itu tak terjadi, mereka masih butuh waktu untuk saling nyaman satu sama lain.

__ADS_1


Yesa kembali menatap kakak sepupunya, memperhatikan Agnia yang tak kunjung menyentuh makanannya. Dua orang itu saling tatap untuk sejenak, hingga Yesa paham dan berinisiatif mengambil satu piring.


"Ah! Aku suapin, ya.."


Agnia menggeleng, dirinya diam bukan karena ingin disuapi namun memang tak lapar. Tak ingat sama sekali untuk mengisi perutnya dalam kesibukan ini.


"Dih! Kenapa?" Yesa yang sudah mengangkat sendok namun ditolak, memajukan bibirnya kecewa. "Atau mau Mas Akmal yang suapin?" godanya, kemudian.


Tatapan itu, Agnia tau. Yesa sengaja sekali berucap demikian, sengaja supaya didengar Akmal. Dan lihatlah seringai di wajah adik sepupunya itu, tau sekali kelemahannya.


Agnia menajamkan tatapannya sesaat, menelan salivanya untuk kemudian membuka mulut menerima suapan Yesa.


"Pinter.." puji Yesa, masih dengan senyum menggodanya. Tak gentar dengan tatapan peringatan dari Agnia.


Akmal dari tempatnya berdiri hanya tersenyum, gemas sekali dengan sikap malu-malu istrinya itu. Tak ayal ingin sekali untuk segera membawa mahluk cantik itu ke pelukannya.


"Emh.. kalo boleh tau, Aa sama Teteh ketemu dimana?" Si perias yang bertanya, menoleh pada Agnia.


Agnia tak langsung menjawab, masih mengunyah pelan. Lagi pula tak tau harus menjelaskan seperti apa, justru menatap Yesa kini.


"Ta'aruf." jawab Akmal kemudian, memancing tatapan semua orang. "Dikenalkan orang tua." terangnya.


"Oh.." Senyum Teteh perias terbit, bergantian melirik Agnia dan Akmal. "Gak heran, kalian berdua terlihat.. malu-malu."


"Malu-malu karena ada orang lain aja, Teh.. kalo berdua mah mana tau.." sela Yesa, dengan wajah tanpa dosa. Membuat Agnia untuk kesekian kalinya menajamkan sorotnya.


Melihat itu Yesa mengeluarkan cengiran andalannya, memilih mengalihkan pelototan Agnia dengan mengangkat sendok. "Hehe.. Buka mulutnya lagi! Aaa.."


...


Pernikahan ini sebenarnya dikehendaki sederhana oleh Agnia, namun mengingat Akmal anak satu-satunya juga kekerabatan dan relasi keluarga Akmal yang luas Agnia mengikut saja saat pihak keluarga suaminya menginginkan perayaan yang cukup layak.


Jika tamu saat akad hingga sebelum dhuhur tadi didominasi keluarga dan teman dekat, maka siang ini kenalan ayahnya Akmal hingga wali murid anak didik Agnia yang akan datang. Semua diberi kesempatan dan tempat untuk memberi do'a dan ucapan selamat.


Dua orang itu sudah duduk di pelaminan seperti semula, menebar senyum sembari menikmati lantunan gambus yang berdendang merdu.


Tamu yang asing bagi Agnia, yang asing bagi Akmal bergantian datang. Juga Gian yang baru terlihat siang ini. Ada satu tamu yang jadi perhatian semua, setidaknya bagi mereka yang mengenal dan mengingat masa sulit Agnia.

__ADS_1


Sosok itu memancing perhatian, tak terkecuali Akmal yang spontan menoleh ke arah istrinya saat melihat sosok tak asing tak jauh dari mereka. Dari tempat mereka duduk saat ini, semua orang terlihat jelas. Akmal memasang tatapan penuh pertanyaan, menatap lekat Agnia yang balas menoleh dengan tatapan bingung sebab tatapan suaminya saat ini.


__ADS_2