
Bagaimana dua orang yang saling mencintai bisa berpisah dan kini menjadi masa lalu?
Pertanyaan itu bermain di kepala Agnia. Sayang sekali dirinya tak berani bertanya langsung pada Akmal, hanya mengira-ngira apa yang sebenarnya terjadi pada kisah cinta Akmal di masa lalu itu.
Agnia membuang napas kasar, jengkel sekali. Padahal dirinya sangat lelah namun matanya enggan terpejam. Sama sekali.
Demikian bagaimana seseorang bisa begitu saja merenggut tidurnya, membuat hati tak menentu, dalam kasusnya saat ini Agnia bimbang apakah itu disebabkan hatinya yang telah terlanjur jatuh atau disebabkan ketakutan yang sebenarnya masih tersisa di lubuk hatinya.
.
.
.
.
Akbar bersenandung ria seraya melangkah menuju dapur. Alisnya bertaut kala aroma mie memenuhi hidungnya. Hal yang tak pernah ia alami di jam tiga pagi biasanya.
Matanya langsung mengarah pada meja makan, dan tepat sekali perkiraannya. Agnia tengah duduk menyantap mie seorang diri di meja makan. Akbar mengendus pelan melihatnya.
"Tumben.. Ngapain jam segini udah makan?"
Agnia mendongakkan kepalanya, menatap dengan mata sayu, tampak lelah.
"Lapar.." singkatnya.
Akbar tersenyum lebar, duduk di kursi samping Agnia. Tertarik dengan mata kurang tidur kakak perempuannya.
"Mbak gak tidur ya?"
"Iya."
"Kenapa?"
Agnia mengendikkan bahunya, dirinyapun tak tahu mengapa. "Entahlah.."
"Emh.." Akbar mencebik, jiwa tengilnya sudah bangkit sepagi ini. "Gara-gara si sya.. Hmp.."
Agnia yang sudah menangkap gelagat adiknya sejak tadi, sudah bersiap dengan sendoknya. Langsung meluncurkan sendok itu ke mulut Akbar, saat mulut lancang Akbar mulai melantur.
Akbar mengunyah makanan di mulutnya dengan tatapan sebal pada Agnia, segera menelan makanannya untuk segera tersungut-sungut memprotes Agnia.
Belum sempat Akbar membuka mulut, Agnia sudah membungkamnya dengan kalimat lainnya.
"Ini masih terlalu pagi untuk membual, jangan ribut!" Agnia berucap datar, membuat Akbar menelan lagi ucapannya.
"Baiklah.." ucap Akbar pasrah, akhirnya hanya memandangi Agnia. Setengah mati menahan diri untuk tak bertanya.
"Pergilah!" ucap Agnia tak nyaman dengan tatapan Akbar. "Kecuali kamu kesini untuk makan."
"Jangan mengatur! For your information, aku setiap jam ini memang datang ke dapur untuk makan. Mbak yang tumben.." ucap Akbar, seraya bangkit dari duduknya. Hendak mewujudkan tujuannya mencari makan ke dapur.
"Emh.." Agnia mengangguk malas, tak peduli sebenarnya dengan ucapan Akbar. "Pantes aja.. dia susah kalo diajak sarapan."
__ADS_1
.
.
.
.
Agnia lanjut mandi sebelum subuh berkumandang, berupaya untuk menyegarkan tubuh dan pikirannya. Menghilangkan kantuk yang tak kunjung usai sebab enggan terpejamnya mata.
Subuh Agnia tak pergi ke mesjid, shalat sendiri di kamarnya seperti biasa. Membuka qur'an sejenak, membaca beberapa ayat lalu beranjak membersihkan kamarnya saat langit mulai terang.
Agnia terheran saat Akbar tak kunjung terlihat, padahal ia sudah selesai merapihkan sebagian rumah. Langkahnya kemudian naik menuju kamar Akbar. Curiga akan sesuatu.
Dan.. Helaan napas keluar dari mulut Agnia, benar sangkaannya. Akbar justru nyaman terlentang di atas ranjangnya. Masih memakai sarung dan kopiah, sepertinya langsung tidur setelah pulang dari mesjid.
Gorden ditarik, jendela dibuka, matahari yang mulai naik menyapukan hangatnya.
"Akbar.." panggil Agnia.
Tak kunjung bangun, Akbar memang sedikit susah untuk dibangunkan. Agnia keliru, malah teringat saat membangunkan Akmal. Saat itu Akmal hanya perlu dipanggil sekali untuk kemudian membuka matanya. Sedangkan Akbar berbeda.
Agnia duduk tepat di samping kepala Akbar, sejenak menatap wajah tidur adiknya. Heran apakah ini tujuannya bangun pukul tiga malam.
"Akbar.." Agnia menepuk-nepuk pelan pipi Akbar, membuat yang dibangunkan sedikit terusik. Namun itu tak cukup, Akbar masih betah memejam.
"Akbar.. Udah jam delapan tuh, kamu gak ngampus?" tanya Agnia, berbohong. Seraya tangannya menggenggam wajah Akbar, memainkan pipinya membuat bibir Akbar termanyun-manyun dibuatnya.
"Hemh?" Akbar membuka sebelah matanya.
Mendengar itu Akbar segera meloncat dari tempat tidurnya, matilah dirinya yang punya kelas pagi hari ini.
"Mbak gak bangunin aku dari tadi, ah.." keluh Akbar, heboh sendiri melepas sarungnya dan meraih handuk.
Agnia terkekeh melihat itu, memberi kode pada Akbar supaya melihat jam dinding.
"Apa?" pelotot Akbar, sebal. Dirinya panik sekali dan Agnia justru tertawa.
"Lihat jam!"
Akbar menoleh jam di kamarnya, wajah panik berganti kesal segera tersaji saat dirinya tahu jarum jam menunjukkan pukul enam lewat lika belas menit. Matanya berkilat menatap Agnia tajam. Yang ditatap hanya mengendikkan bahunya.
"Demi kebaikan.."
Akbar mendengus pelan, kembali melemparkan bokongnya ke atas ranjang. Dirinya memang paling tak bisa memprotes kakak perempuannya.
"Ish.. Aku udah panik juga.." keluh Akbar pada akhirnya, gemas sekali pada Agnia yang justru tak henti menertawakan wajah kesalnya.
"Yaudah.. Cepet mandi! Mbak mau beresin kamar kamu.."
Akbar menghela napas pelan, kepalanya masih pusing sebab bangun dengan terburu-buru. Tapi kemudian menurut, beranjak menuju kamar mandi.
.
__ADS_1
.
.
.
"Kayaknya kita harus regenerasi deh.." ucap Ardi, setelah menyesap minumannya. "Udah waktunya kita pensiun." tambah Ardi, diiringi kekehan. Ia dan tiga orang kawannya sedang duduk berbincang di meja kantin.
Akmal mengangguk, mengerti arah pembicaraan Ardi. Fiki, satu-satunya yang menyantap sarapan di meja itu tak ikut bicara, hanya menyimak bahkan sejak suapan pertamanya dimulai.
"Apa harus?" tanya Akbar.
"Ya harus. Skripsi didepan mata. Ana gak mau berlama-lama di kampus ini."
"Bodoh! Lo pikir organisasi ini dibuat cuma untuk main-main?" ucap Fiki, mengarah pada Akbar.
"Dih! Makan-makan aja.. Jangan bacot!" ucap Akbar, kesal dipotong Fiki saat hendak berbicara.
Fiki mencebik, entah kenapa ingin saja nimbrung jika Akbar yang berbicara. Itu spontanitas.
"Maksud gue.. Cara kita membuat organisasi ini diterima aja susahnya luar biasa, dan sekarang meski diterima dengan baik gue masih lihat temen-temen kita cenderung gak peduli dengan apa yang kita lakukan. So, gue pikir organisasi ini akan hilang seperginya kita dari kampus."
Ardi mengangguk, setuju dengan ucapan Akbar. Tak punya alibi untuk mendebat, sebab demikian yang terjadi.
"Tapi kita masih punya generasi setelah kita, gue rasa organisasi ini gak akan sepenuhnya hilang. Cuman.." Akmal menjeda, menatap ketiga temannya. "Begitu juga kita gak bisa sepenuhnya berharap organisasi ini bisa menjangkau lebih banyak orang. Minat dan keinginan setiap orang berbeda.."
"Ente bener.. Kesimpulannya.. Yang lebih utama harus kita pikirkan adalah siapa yang sudah ada di lingkup kita, jangan sampai kita fokus membesarkan organisasi tapi abai dengan visi yang sudah kita buat."
"Berakhlak baik, dan membawa kebaikan untuk sekitar." Akmal menambahkan.
Ardi mengangguk. "Iya. Itu.."
Obrolan keempat orang itu berlanjut lebih dalam, membicarakan hal-hal receh yang diselingi tawa hingga hal-hal pribadi yang membuat semua saling menggoda.
"Ngomong-ngomong soal wisuda, gue rasa Akmal kayaknya udah sah ni sebelum wisuda." ujar Fiki yang paling semangat jika urusan menggoda. Menatap Akmal sambil menaik turunkan alisnya.
"Iya lah.. Nikah dulu baru sarjana." sahut Ardi, ikut tersenyum.
"In shaa Allah.." ucap Akmal, bingung sebenarnya jika sudah digoda perihal ini. Canggung sebab ada Akbar yang tentunya punya sangkut paut dengan hubungan antara dirinya dan Agnia.
Sama bagi Akbar yang berada di sebelah Ardi. Hanya diam, tak ingin menambahkan. Entahlah soal yang satu ini dirinya tak punya hasrat untuk bicara. Aneh saja jika menggoda Akmal sedangkan dirinya yang paling tahu progres hubungan Akmal dan Agnia.
"Akmal yang nikah lo yang deg-degan.." ledek Fiki, menatap Akbar dengan seringainya.
"Untuk yang satu ini gue gak ikutan.. Awas aja ngomong aneh-aneh lo.." peringat Akbar.
"Dih.. Akmal nya aja santai, lo yang repot perasaan.." Fiki mencebik, seakan tak puas membuat Akbar kesal.
"Apa lo! Sirik Akmal mau nikah?! Jangan ngomong sama gue lo.."
Ardi menggeleng takjub melihat pemandangan itu, memikirkan hal lain.
"Untung aja ente yang dijodohin sama Mbak Agni, kalo Fiki.. Bisa ribut kaya gitu mereka.. Setiap hari." Ardi terkekeh, mengungkapkan sesuatu yang terlintas di pikirannya saat itu.
__ADS_1
Akmal mengendikkan bahunya, hanya tersenyum.