
Sudah fitrah
Setelah diri saling menjauh
Hati berontak butuh satu sama lain.
Hingga ego memutuskan mengalah
Menuntut jarak untuk hilang,
Dan hati saling memaafkan.
...
"Udah gak demam, kok.." ujar Agnia, setelah membolak-balik tangannya di dahi dan leher Akmal. Berbeda dengan kemarin, Agnia tak pergi kemanapun sepagi ini. Betah menunggui Akmal di ranjang sembari membicarakan hal-hal bodoh dengannya, menghindari topik berat demi hubungan mereka yang baru saja kembali membaik. "Harusnya sekarang mandi, sih.. soalnya kamu bau."
Mana mungkin tak bau, sudah kemarin tak mandi. Ia diberi obat dan dikubur dalam selimut hingga berkeringat, Akmal terima saja dikatakan begitu. Agnia justru menyeringai saat memperhatikan Akmal. "Kamu jadi dekil, gak ada ganteng-gantengnya."
"Gitu?"
"Hem.."
"Kalo gitu mandiin.. biar ganteng lagi."
"Jangan dong.. nanti demam lagi.."
"Kata siapa?" Akmal mencebik tipis, meledek istrinya yang berujar begitu serius menanggapi ucapannya.
"Kata aku." Agnia mencubit pipi suaminya pelan. "Kalo lagi panas dingin gini, jangan dulu mandi.." katanya sembari membelai puncak kepala Akmal. "Aku spon aja, ya?"
Spon? Oleh Agnia? Akmal mengernyit sesaat, pikirannya sudah traveling jauh. "Tapi.."
"Sebentar.." Agnia melangkah cepat, keluar kamar untuk waktu yang cukup lama. Lalu kembali dengan satu wadah air hangat dengan handuk kecil di dalamnya.
Akmal menghela pelan, memperhatikan gerak-gerik sang istri yang kini beranjak naik ke atas ranjang dan duduk di hadapannya dengan senyum lebar. "Siap, bayi besar ku?" godanya, diiringi tersenyum gemas seakan benar-benar akan memandikan bayi.
Akmal hanya tersenyum, mengikuti gerakan Agnia yang kini membukakan bajunya dengan terburu-buru. "Dingin!" pria itu menggelinjang selepasnya baju dari tubuhnya, mengundang cebikan dari Agnia.
"Diem sayang!" Agnia memperingatkan, menahan bahu Akmal supaya tak menghindari gerakan tangannya. Pertama handuk itu memberi salam pembukaan pada wajah Akmal, diselingi gangguan kecil yang diberikan Agnia.
Akmal tersenyum, menikmati saat intim ini. Hatinya penuh dengan rasa tenang dan bahagia, menghargai waktu bersama dengan sang istri. Rasanya sudah lama sejak mereka bercengkrama begini dengan jarak yang begitu dekat.
"Jangan senyum!" ujar Agnia, memelototi Akmal untuk sekilas. Tak nyaman dengan tatapan intens sang suami, bisa merasakan tatapan suaminya yang seakan menelanjanginya. Mata dengan sorot tajam itu tak berselang lama kembali terpaku pada leher Akmal, membersihkan area sana hingga buah jakun yang bergerak naik turun memancing perhatiannya. Agnia tersenyum tipis, menyentuhkan handuk basah di tangannya ke jakun milik Akmal beberapa kali.
Akmal spontan jadi tak nyaman, menelan salivanya susah. Jarak mereka dekat sekali hingga ia bisa merasakan napas sang istri di lehernya. Untuk dalam hitungan detik, Akmal menahan tangan Agnia hingga sang empunya menatap bingung. "Kenapa?"
Akmal menghela panjang, menglega luar biasa. "Peraturan pertama untuk tidak diterkam, jangan bermain-main dengan tombol ini." katanya, menunjuk jakunnya.
"Ah.." Agnia mengangguk. Mengerjap beberapa saat, baru tau jika itu bisa memancing hasrat suaminya. Hampir saja. Buru-buru ia mundur sembari berdehem, mencelupkan handuk kecil ke wadah berisi air hangat tadi. Akmal sampai terkekeh menyadari sikap waspada yang tiba-tiba ada pada diri istrinya. "Mbak takut kalo aku.."
"Enggak!" jawab Agnia cepat, memotong kalimat Akmal yang masih ambigu sebenarnya.
"Memangnya aku mau tanya apa?"
"Apapun itu, pokonya aku gak takut!" jawab Agnia. "Diem!" potongnya saat Akmal hendak kembali membuka mulutnya. Setelah membasahi handuk kecil di tangannya, kembali melanjutkan kegiatannya. Beralih membersihkan dada dan perut Akmal bergantian ditemani tatapan penasaran Akmal.
__ADS_1
Akmal memperhatikan wajah serius itu, ia jadi penasaran apa yang dirasakan istrinya melihatnya begini? Apakah sama seperti saat pria melihat tubuh wanita?
Agnia tak peduli untuk yang satu ini, mengabaikan tatapan suaminya. Namun tak lama spontan menoleh Akmal, begitu sampai di pusar sang suami. Tangannya berhenti untuk semakin turun, enggan.
"Kenapa? Gak sampe bawah?" tanya Akmal, dengan seringai menggoda. Menyadari sang istri tampak gugup dan menelan salivanya.
Tak mau melakukan hal yang beresiko, Agnia tak melanjutkan kegiatannya sampai jauh. Balas mencubit pelan perut telanjang sang suami.
"Kenapa?" tanya Akmal, tak kapok.
Agnia mendelik tipis, bisa-bisanya di saat sakit begini sikap mesumnya masih menggila. "Jangan becanda terus, sayang.. berbalik!" katanya sembari mendorong bahu Akmal untuk berbalik.
"Tapi kenapa?"
Agnia mendengus pelan. "Diem!" peringatnya, mengabaikan cengiran dan pertanyaan menjurus dari sang suami. Memilih membasahi lagi handuk tadi, lantas mengusapkan pada punggung Akmal dengan sempurna tanpa gangguan.
"Sayang.." panggil Akmal setelah Agnia selesai dengan tugasnya, sudah membuang handuk basah dan satu wadah air barusan ke tempat yang tak terjangkau. Pria itu memutar kembali badannya menghadap sang istri.
"Apa?!" tanya Agnia sebal, palingan Akmal hanya membuang waktunya dengan pembahasan yang sama.
"Kenapa?"
Agnia mendecih, benar saja apa yang dipikirkannya. Lihatlah wajah senang Akmal atas delikannya saat ini. "Jangan becanda! Nanti ke dengeran orang malu, masa bahas.."
"Orang siapa?" potong Akmal segera, mengendikkan bahunya. "Cuma ada kita."
"Iya, sekarang.. tapi kalo kamu begini terus nanti jadi kebiasaan dan kebawa waktu ngobrol sama orang lain.. gak pantes, Ah!"
Akmal tersenyum, mengangguk. Untuk yang satu ini tak akan mendepab, ia sepenuhnya paham jika urusan kamar bukan sesuatu yang harus diobrolkan. Bukan juga sesuatu yang harus dipelajari, sebab semua berjalan dengan fitrah dan naluri.
Agnia menghela, mengelus wajah Akmal lembut. "Yaudah, karena sekarang udah gak dikil lagi.. aku mau masak dulu. Emh.. tadi kamu nanya kenapa aku gak bersihin sampe bawah kan? Itu.. karena sisanya tugas kamu sendiri." terangnya dengan senyuman tipis. "Puas dengan jawabannya?"
Bel berbunyi, tepat saat Agnia tiba di lantai bawah. Baru saja turun hendak menuju dapur. Namun langkahnya urung ketika bel , segera beranjak menuju pintu. Tampaknya seseorang yang ditunggunya telah tiba.
"Assalamu'alaikum.." ucap Retno, tersenyum lebar saat mendapati sang menantu membukakan pintu.
"Wa'alaikumsalam, Bunda.." Agnia segera meraih dan mengecup punggung tangan Retno, lantas menyambut pelukan hangat dari mertuanya itu.
"Apa kabar, sayang.." tanya Retno setelah melepas pelukannya, beberapa kotak makanan dijinjingnya dalam satu kantong belanjaan.
"Alhamdulillah, baik Bun."
"Kandunganmu gimana?" tanya Retno, membelai perut menantunya yang mulai membesar. Keduanya melangkah berdampingan, berhenti di sofa ruang tengah.
"Alhamdulillah gak ada keluhan, Bunda. Si bayi anteng, gak bikin rewel mamanya."
Retno mengangguk. "Kalo ibunya gak rewel, anteng.. shalihah.. pasti anaknya juga gak akan rewel. Jadi terimakasih untuk dirimu sendiri."
Agnia mengangguk, tersenyum.
"Gimana Akmal? Ini Bunda bawain sarapan kesukaan dia." Retno menunjukkan beberapa wadah yang tersusun rapih. "Bunda juga bawa salad, sama sayur bayam untuk kamu."
"Makasih, Bunda.." Agnia hendak meraih bekal yang dibawa mertuanya, namun segera ditolak Retno. "Jangan! Biar bunda aja, kamu panggilin Akmal turun.."
.
__ADS_1
.
.
.
Hangat sekali, melihat bagaimana Akmal diperhatikan oleh Retno. Disuapi hingga diberi wejangan untuk menjaga diri dan istrinya dengan baik. Agnia hanya tersenyum kecil memperhatikan wajah Akmal sembari menikmati sayur bayam yang dibawa khusus untuknya oleh Retno. Selalu sayur bayam, katanya bagus untuk bayi yang dikandungnya.
Selang hampir satu jam, Retno menengok jam dan beralih menatap Agnia. Tak terasa, dari menu sarapan utuh hingga tandas dan setelahnya asik berbincang tanpa bergeser dari meja makan. Ia teringat hal lain untuk dikerjakan. "Kamu jangan lupa makan, ya?" ujar Retno pada Agnia. Langsung dibalas anggukan. "Jaga diri lebih baik."
"Iya, Bun."
Retno menghela, mengelus bahu Agnia sayang. "Bunda pulang sekarang, kalian akur-akur.."
Agnia mengangguk lagi, tersenyum. Perasaannya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Tampaknya hal ini yang ia rindukan akhir-akhir ini, kehangatan berkumpulnya keluarga besar. "Makasih karena selalu berbesar hati untuk Akmal." kata Retno sekali lagi.
...
"Bunda udah pulang?" itu pertanyaan pertama Akmal saat Agnia masuk ke dalam kamar, sudah ditunggu sejak lama namun Agnia seperti punya obrolan lain dengan Bundanya hingga begitu lama.
"Udah.." jawab Agnia, sembari naik ke atas ranjang. Duduk menghadap Akmal dengan satu piring buah-buahan yang sudah dipotong dadu, juga satu wadah salad.
Akmal menggeleng, tatkala Agnia mengarahkan potongan mangga muda yang tampak asam ke arahnya. Menolak suapan Agnia, jika matanya saja sudah merasa asam apa lagi lidahnya. "Mbak aja."
Agnia mengendikkan bahunya, syukur Akmal tak mau. "Ini aja, buat kamu." katanya seraya menyodorkan salad. Namun sekali lagi ditolak dengan gelengan oleh pria itu.
"Ih!" Agnia menatap heran. "Ini gak mau, itu gak mau.."
"Mbak aja yang makan.. aku kenyang dengan ngeliatin Mbak makan."
Agnia menghela, kasihan sekali suaminya yang sudah terlihat kurusan meski sakitnya baru dua hari ini. Akmal balas tersenyum, ia suka sekali memperhatikan wajah istrinya kala makan. Pipinya mengembang menggemaskan.
"Tadi Bunda bicara apa?" tanya Akmal, mengelus pipi Agnia.
"Emh.." wanita yang tampak lahap itu tak langsung menjawab, mengunyah makanan di mulutnya terlebih dahulu. "Katanya harus maklum, soalnya.. anaknya memang resek."
Akmal terkekeh, mengangguk pelan. "Okay.. jadi di maklum gak?"
Agnia menggeleng, menunggu menelan habis kunyahannya. "Enggak, ah.."
"Kenapa?"
"Kamu mau dimaklum? Maklum itu, untuk seseorang yang sudah tidak bisa dimaafkan kesalahannya, gak bisa diajak bicara, gak mau mendengarkan saran orang lain, sampe kita gak punya jalan lain selain sabar dan maklum. Kamu kan gak gitu, masa mau jadi satu diantaranya?!"
Akmal tersenyum, menatap lembut sang istri. Memperhatikan Agnia yang masih lahap menyantap buah-buahan hingga ia ngilu sendiri. "Enak?"
"Mau coba?"
"Boleh.."
"Buka mulutnya!"
Sesaat satu potong mangga dengan daging berwarna oren masuk ke mulut Akmal, pria itu spontan meringis. Ia baru tau jika mangga yang disuapkan Agnia dengan lahaonya sejak tadi itu ternyata asam sekali. Sebagai gantinya cepat-cepat menyuapkan apel untuk menganti rasa masam itu.
Agnia terkekeh. "Payah!" cibirnya, menyuapkan mangga yang katanya masam tadi. Baginya tidak masalah, jadi penetral mual yang sering kali muncul
__ADS_1