Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
145. Ciuman pertama part 2


__ADS_3

Dalam posisi yang membuat Agnia sulit bernapas itu, Akmal menjatuhkan tatapannya pada bibir sang istri. "Aku punya satu pertanyaan.." ucap Akmal tanpa mengalihkan tatapannya dari bibir yang terlihat minta di lahap itu.


"A.. apa?" tanya Agnia tergagap, masih berusaha menahan napasnya.


Tatapan Akmal beralih dalam sekejap, kini berubah dalam mengarah pada mata Agnia. "Kapan aku dapat ciuman pertamaku?" tanyanya, diiringi senyum tipis menggoda.


Agnia mengerjap beberapa saat, ia hanya tak paham kenapa Akmal mesti bertanya. Apa yang harus ia jawab sebagai izin? Kenapa suaminya itu tidak langsung saja menuntut? Agnia benci ditanya dan mengambil sikap.


Akmal tak masalah jika lebih lama begini, wajah bingung Agnia menyenangkan saja baginya. Senyumnya lama tersungging. Haruskah ia menuntut kali ini? Berinisiatif?


"Aku gak akan pergi sebelum mendapat yang aku mau." imbuh Akmal pada akhirnya, mengakhiri kebingungan sang istri. Sesuai dengan bayangan Agnia, itulah yang dinamakan menuntut.


Agnia ketar-ketir, meringis dalam hati. Kenapa harus ia alami situasi mendebarkan seperti ini?


"Aku menunggu.." ujar Akmal, makin tak sabar saat Agnia justru mengigit bibirnya tanda kebingungan.


Helaan pelan keluar dari mulut Agnia, setelah beberapa saat memejamkan matanya, menimbang. Pada akhirnya ia memang tak bisa kabur dari kewajiban memenuhi keinginan suaminya, pada akhirnya ia mengumpulkan keberanian untuk menjatuhkan bibirnya pada pipi Akmal.


Itu cukup manis, Akmal tak bisa menyembunyikan senyumnya sebab kecupan singkat itu. Hanya saja itu belum cukup untuk membuatnya pergi, Akmal menagih sesuatu yang lebih.


"Ke..napa?" Agnia kembali tergagap, panik dengan Akmal yang tak kunjung melepaskan dirinya. Ia tau suaminya ini menginginkan hal lebih, namun ia tentu tak siap. Sukakah Akmal membuatnya tersudut dan salah tingkah seperti ini? Bisakah suaminya itu meloloskannya sekali ini saja?


"Bukan disini." tunjuk Akmal pada pipinya. "Tapi.." tatapan Akmal beralih pada bibir Agnia sebagai jawaban.


Agnia tak mau tau, saat satu tangan Akmal terlepas dari tubuhnya ia sudah mau mengeluarkan jurus kaburnya. Namun Akmal sudah tau dan lebih cepat darinya. Tak sulit untuk membuat Agnia terjebak dalam kungkungannya dalam satu gerakan. "Mbak gak bisa pergi, sebelum memenuhi permintaan aku." tegas Akmal.


Masih enggan, Agnia berusaha mendorong dada Akmal. "Bukanya kita mau pergi? Ini.. membuang waktu."


"Justru itu.." Akmal menahan tangan Agnia, tersenyum miring. "Cepat atau lambatnya tergantung Mbak.."


Ah! Agnia mendesah pelan, mengulum bibirnya untuk sesaat. Deru mobil terdengar, Agnia yakin itu mobil jemputan dari keluarga Akmal.


"Waktu berjalan, Mbak yang menentukan." ucap Akmal, mengalihkan fokus Agnia hanya padanya.


Akmal berhasil membuatnya tersudut seperti biasa, tak ada pilihan lagi. Setelah memejamkan matanya beberapa saat dan menghela napas dalam, keputusan sudah diambil. Agnia membalas tatapan Akmal, mulai mendekatkan wajahnya.


Dua orang itu dalam sekejap sudah larut dalam suasana mendebarkan, keduanya sudah memejamkan mata masing-masing. Bersiap menghadapi satu dari sekian langkah menjadi utuh satu sama lain. Detik yang terasa lama itu membawa wajah keduanya untuk tak berjarak, hingga saat hidung mereka mulai bersentuhan..


"Mbak, itu jem..putan.."


Dua orang itu spontan menoleh ke arah pintu, wajah mereka menjauh tanpa diminta. Yesa yang mendorong pintu kamar kakaknya tanpa permisi, dibuat menyesal dan malu hingga ubun-ubun. Segera membalikan tubuhnya. "Maaf, Mbak.. emh.. itu jemputan di depan." terang Yesa tanpa kembali menoleh, dan segera menutup pintu dan berlari.


Gagal, Akmal menghela pelan saat istrinya sudah berhasil keluar dari kungkungannya. Jelas lah keinginannya belum mendapat izin Allah, Yesa datang di waktu yang tidak tepat.


...


Yesa segera berlari menuruni tangga, wajahnya panik sekali. Yang ia lihat mengejutkan, ada rasa malu juga bersalah. Dua orang itu pasti terganggu dengan kedatangannya tadi.


"Kenapa?"


Yesa menggeleng, menatap Khopipah dengan menormalkan ekspresinya. "Bukan apa-apa, Uwa."


"Udah siap, mereka?"


Yesa mengangguk cepat, mengiyakan. Sembari meringis dalam hati tentang kekeliruannya membuka pintu tanpa mengetuk lebih dulu.


Tak lama Agnia muncul, dibarengi Akmal yang menyeret koper bersamanya.


Agnia langsung mencium punggung tangan sang ibu, begitu pun sang ayah serta om dan tantenya. Diakhiri memeluk Yesa sesaat.

__ADS_1


"Ayah titip Agnia, ya.. jaga dan bimbing." demikian kata Fauzan, saat sang menantu mencium punggung tangannya. Sejak awal ia memang paling pasrah saja dengan siapapun calon suami anak gadisnya, termasuk Akmal yang memang dibidik sang istri. Namun ia tak kecewa, toh pemuda ini memang unggul setelah makin ia kenal.


Akmal mengangguk. "Iya, yah.." singkat sekali, namun menyiratkan kesungguhan. Tak perlu diulang lagi, toh akad sudah mencakup tanggung jawab, janji seumur hidup dan kasih sayang tak terbatas dirinya atas sang istri.


Khopipah tak mengucapkan apapun, rasa percayanya terwujud sebab menitipkan Agnia pada keluarga yang tepat.


Om dan Tantenya Agnia juga memberi sedikit wejangan, singkat. Tentang harus selalu bersama, dan banyak berkomunikasi. Akmal hanya tersenyum saat disinggung soal segera punya momongan, melirik Agnia sesaat.


Bagaimana, ya.. jangan kan soal anak, istrinya itu bahkan sulit dimintai ciuman pertama. Akmal tampaknya harus bersabar dan lebih giat berusaha.


.


.


.


.


Rumah megah Akmal di depan mata, Agnia turun dari mobil sembari percaya tak percaya dengan datangnya ia ke rumah itu sebagai seorang istri. Terakhir kali kesana, statusnya masih sebagai tamu.


Akmal mengeluarkan koper Agnia, menyeret koper itu sedang tangan lainnya menggenggam tangan Agnia.


Meski sedikit terkejut, Agnia tak menarik kembali tangannya. Demi terbiasa untuk mengikuti alur, mengikuti kemanapun Akmal membawanya.


Sambutan sederhana di rumah megah itu, Retno juga Sidiq, Bude Maryam dan suaminya, semua tak sabaran menyambut menantu mereka.


Pelukan hangat diarahkan Bude Maryam pada sang keponakan, belain tak pulang lebih awal demi menyambut Akmal dan Agnia. Meski kerjaan sang suami sudah menanti.


Akmal membawa Agnia menuju kamarnya, mungkin ruangan yang belum pernah istrinya lihat saat main ke rumah ini sebelumnya. Sesaat kamar itu dibuka, Agnia terkejut bukan main. Tatapannya beralih pada Akmal.


"Kenapa? Berantakan, ya?" tanya Akmal, sembari melengos masuk terlebih dulu. "Padahal terakhir kali aku.."


Dan jelaslah bukan berantakan yang membuat istrinya melongo, Akmal menggantung ucapannya. Tersenyum ke arah sang istri, ternyata ranjang yang dihias sedemikian rupa itu yang mengejutkan.


...


Untuk kamar seorang pria, Agnia takjub. Rapih dan tertata, semua disimpan pada tempatnya dan disusun dengan sempurna.


Akmal memang tak sama dengan Akbar. Agnia mengakui itu sepenuhnya sekarang. Kekanak-kanakan yang ia lihat pada diri Akbar, tak ia lihat pada diri Akmal.


Akmal tengah membersihkan dirinya kembali, tak sempat berganti pakaian di rumah Agnia sebab tak membawa baju ganti. Mendapat kesempatan itu, Agnia sibuk mengedarkan pandangannya. Bergerak menilik kamar sang suami, memperhatikan tiap detail kecil disana.


Foto-foto hingga piagam tak luput dari perhatian Agnia, beranjak menuju lemari dan mendapati rapihnya susunan pakaian di dalam sana. Itu mengangumkan.


Agnia memilihkan baju untuk Akmal, memilah satu dari banyaknya baju pria itu. Kebingungan ia rasa, tak tau baju mana yang harus ia ambil.


Saat anteng begitu, Agnia dikagetkan dengan pelukan Akmal dari arah belakang. Terkejut luar biasa, hingga menarik asal baju suaminya dari dalam lemari. Gerakan Akmal yang tak diperkirakan itu Membuat Agnia tak sempat berontak, seakan pria itu sudah belajar dari peristiwa sebelumnya. Tak memberi kesempatan untuk dirinya bergerak. Yang mengejutkan Akmal memeluknya begitu dengan bertelanjang dada.


"Lepasin, Akmal.." Agnia bergerak tak nyaman, sembari berusaha melepas tautan lengan Akmal di pinggangnya. Yang tentu saja tak digubris dan balas dieratkan oleh suaminya itu, malah kepalanya ia jatuhkan pada leher jenjang harum milik sang istri. "Lepasin, yaa.. nanti ada orang masuk ke kamar lagi kayak tadi.." bujuk Agnia, mengingatkan situasi canggung saat Yesa masuk ke kamarnya tadi.


"Akmal.. lepasin, gak? Saya mau beresin baju.." ucap Agnia gemas, masih berusaha untuk bebas. Ia tak bohong soal takut ada orang lain yang mendapati mereka begini.


"Saya?" Akmal mengangkat kepalanya, menyudahi kegiatannya. membalikan tubuh Agnia hingga menghadapnya. Terdapat kerutan di keningnya. "Saya?"


"Aku." ralat Agnia segera. "Aku mau beresin baju." tandasnya sembari melangkah pergi. Akmal tak segampang itu, masih betah menahannya lebih lama, pria itu kini masih dengan tatapan heran menahan lengan sang istri. "Kenapa Mbak setakut itu sama aku? Hem?"


"Bukan takut, tapi.. kamu buat aku gak nyaman dengan begini." jawab Agnia, jujur. "Lepasin, ya.."


"Gak nyaman kenapa? Apa karena lagi ada tamu?"

__ADS_1


Agnia mengulum bibirnya sesaat, masak iya harus dijelaskan jika kegiatan yang Akmal lakukan itu membuat seluruh tubuhnya meremang tak nyaman. Lantas memilih mengiyakan saja, supaya pria di hadapannya ini segera melepaskannya. "Iya, itu salah-satu alasannya. Jadi lebih baik jauh-jauh." usirnya, dengan nada ketus khasnya.


Akmal tak langsung melepas cengkramannya dari lengan Agnia, meski mengangguk paham. "Baiklah.. menustruasi itu pasti sakit, Hem? Kalo gitu aku gak akan melakukan kejutan lainnya. Mbak cukup istirahat.." Akmal mengelus puncak kepala Agnia, lantas tersenyum miring. "Aku tunggu sampe tamunya pergi."


Agnia bukannya lega, ia justru dibuat makin pusing. Ucapan Akmal malah membuatnya merinding.


"Jangan banyak pikiran, cukup jalani." ucap Akmal diselingi kekehan, respon dari wajah Agnia yang terlipat kini. "Hari ini aku pergi ke toko sama Ayah, Mbak baik-baik di rumah.. kalo ada apa-apa ada Bunda sama Bude, hemh?"


Agnia menghela pelan, lantas mengangguk. Akmal balas tersenyum, mengusak pipi Agnia hingga dagu mencubit gemas.


"Jadi gak mau, nih?"


"Apa?"


"Ngasih ciuman pertama."


"Ish! Udah ah sana.. pake baju. Jangan aneh-aneh.." Agnia melempar baju yang sejak tadi berada di tangannya ke dada terbuka Akmal.


"Gak mau?"


"Enggak."


"Bener?"


"Iya."


Akmal tak segera memakai bajunya, sengaja menggoda istrinya yang tak nyaman dengan tampilannya saat ini. "Kalo aku minta setelah tamu Mbak pergi, Mbak mau, ya?"


"Terserah, tapi pake dulu baju kamu.. eh.."


Akmal tersenyum puas. "Bener, ya? Kalo gitu aku pegang janjinya."


Agnia mendesah frustasi, bukan saja ciuman. Setelah masa haidnya berlalu nanti Akmal mungkin minta hal lebih, terserah saja. Ia hanya harus bersiap bukan?


.


.


.


.


"Gimana kabar pengantin baru?" Ardi bertanya, tiga sekawan itu tengah duduk di cafe langganan mereka.


"Gak terlalu baik." jawab Akbar.


"Gak terlalu baik, maksdunya?"


"Mbak Agni menstruasi di malam pertama." jawab Akbar, diiringi tawa kecil.


"Bagus dong. Mereka bisa cepet punya anak kalo gitu, setelah haid itu masa suburnya perempuan." ujar Ardi.


"Tapi kok lo tau?" selidik Fiki, mencebik ke arah Akbar. "Jangan bilang lo gangguin Akmal, lagi."


Akbar nyengir. "Gak kayak gitu, tadi gue liat Mbak Agni nyuci sprei. Ya gue pikir itu sebab pertempuran mereka, ternyata bukan." jelasnya sambil terkikik, menertawakan dirinya yang berpikiran terlalu jauh.


Fiki mencebik. "Pertempuran lo bilang. Tapi bukannya darah di malam pertama itu mitos?"


"Katanya gitu.. tergantung ketebalan selaput dara masing-masing." timpal Ardi.

__ADS_1


"Kok lo tau, si?" Akbar memicing curiga, menyeringai lebar. "Jangan-jangan.."


...


__ADS_2