
Siapa tak ingin yang terbaik,
Sementara kita sang ahli keliru.
Demi apa bekerja hingga jungkir balik,
Jika bukan untuk impian yang diburu.
Tetapi sang ahli keliru,
Tak pernah lelah untuk mendelik.
Senantiasa marah dengan takdir yang menunggu.
Padahal srndiri tak pernah tahu arti terbaik.
Dia lah sang maha terbaik,
Selalu memberi takdir terbaik,
Meski si ahli keliru tak terima dengan baik,
Di akhir tampaklah takdirnya selalu terbaik.
♡♡♡
Hujan rintik yang turun di tengah pengajian menambah syahdu suasana penuh hikmah itu, Beberapa mendengar penuh khusyu yang lainnya hampir menyerah dengan kantuk.
Kontras dengan Zain yang asik becanda, hilir mudik tak mau diam. Tawanya sesekali terdengar, memancing tatapan gemas banyak jemaah. Gemas dalam artian sebenarnya, tawa Zain sedikit menjadi obat bagi mereka yang kalah oleh kantuk.
Agnia jadi harus membagi konsentrasinya, sebab sesekali harus mengawasi Zain di sela dirinya yang mendengarkan ceramah haus akan ilmu.
Zain bisa dengan mudah beralih dari satu orang ke orang lainnya, seakan tidak sah jika tidak mengelilingi seisi mesjid. Bocah empat tahun itu baru akan diam setelah diberi peringatan, untuk tak lama kemudian kembali berulah.
Puspa sudah memperingatkan sebelumnya, bahwa Zain luar biasa aktifnya hingga tidak akan bisa dilarang kecuali jika anak itu mengantuk. Tidur adalah satu-satunya waktu untuk siapapun yang menjaga Zain beristirahat. Akbar sendiri setuju dengan pernyataan ini.
"Mbak! Zain mau pergi ke Mas Akbar, katanya." Via yang berbicara, setelah satu persatu membisikan ucapan itu jauh dari tempat Zain bermain.
Agnia yang untuk beberapa saat tenang, mendengar tiap kata yang diucapkan ayahnya lantas mengalihkan tatapannya pada Zain, senyum tipis muncul saat dilihatnya Zain yang sudah setengah jalan, ragu-ragu melangkah. Tak sempat dilarang, Agnia pada akhirnya menunjukan wajah setuju.
Zain langsung berlari dengan girangnya setelah mendapat persetujuan, dengan catatan meski dilarangpun ia akan tetap pergi pada Akbar.
Zain berlari melewati beberapa orang tanpa permisi di jajaran jemaah pria. Diperhatikan oleh Aunty juga para murid Auntynya yang sudah ia anggap teman.
Namun kembali tingkah Zain membuat mata Agnia membesar, Zain berlari pada orang yang salah. Memancing gelengan takjub Agnia.
Via baru akan bertanya apakah Zain sangat Akrab dengan pria yang ia sebut ganteng itu sehingga Zain berlari ke arahnya, namun terjawab sudah dengan ekspresi yang ditunjukan Agnia. Itu jelas keliru.
"Ya Allah. Itu anak." gumam Agnia, terkekeh.
Akbar juga menyadari itu, ia yang duduk terhalang satu orang dengan Akmal langsung mengerti.
"Zain.." panggilnya pelan. Zain mana mendengar, terus saja memeluk Akmal dari belakang. Apalagi Akmal mengulurkan tangannya ke belakang seakan menggendong.
__ADS_1
Tak bisa menahan senyum, Akbar tadinya hendak membiarkan saja. Tapi lantas mencolek ponakannya itu dari belakang.
Zain menoleh, dan saat tahu yang Akbar bukan seseorang yang ia peluk, spontan tangannya melepas pelukan itu. Beralih menoleh seseorang yang ia peluk barusan.
Akmal tersenyum, menoleh ke belakang pada Zain yang sudah melepas pelukannya ketika tahu Akbar di tempat yang berbeda. Melangkah menuju Akbar segera setelah tahu kekeliruannya.
Tingkah Zain itu membuat semua yang melihat gemas, termasuk Akmal yang juga tidak bisa menolak pesona anak usia empat tahun itu.
***
Pertama kalinya bagi Akmal, ikut makan malam di kediaman Fauzan bersama kedua orang tuanya. Tepatnya pertama kali baginya makan malam di rumah seorang gadis.
Sidiq, ayahnya Akmal baru saja tiba dan saat ini sedang berbincang di ruang tamu bersama pemilik rumah juga Hafidz. Akmal ikut saja, berkumpul disana banyak mendengar dan hanya membuka suara ketika ditanya.
Sedangkan Khopipah, ibunya Akmal ikut mengurusi urusan perut di dapur. Memasak, tampak bahagia berbincang dengan sahabat lamanya yang rencananya akan jadi besannya nanti. InsyaAllah.
Usai peristiwa menggemaskan salah peluk itu, Zain jadi banyak cari perhatian pada Akmal. Berlarian dari ruang makan menuju ruang tamu hanya untuk mencolek Akmal, lalu kemudian berlari lagi. Puspa sampai menggeleng heran dengan tenaga Zain yang masih belum terkuras.
"Hati-hati, Zain!" peringatnya sesekali.
Agnia dengan kesibukannya, berkumul saja di kamar. Tidak berniat makan malam bersama, tengah menghadap laptop miliknya.
Gadis dengan tahi lalat di dagu itu baru keluar saat dipanggil Puspa, segera beringsut menanggalkan kaca matanya, berjalan menuju ruang makan.
"Ada apa, Mbak?"
"Ini, mbak nidurin Zain dulu. Itu Ibu coba tanya siapa tahu ada yang bisa dibantu."
Agnia langsung menolak, menggeleng. "Sini, aku aja yang nidurin Zain."
Berpikir apakah adik iparnya itu mencari alasan supaya tidak satu meja dengan calon suaminya?
Calon suami, Puspa sudah menamai Akmal dengan sebutan itu. Berbeda dari Akbar, ia dan Hafidz setuju-setuju saja.
***
Semilir angin yang menusuk tak cukup kuat bagi Akbar yang tanpa jaket duduk di teras rumahnya, sendirian. Duduk di kursi rotan bertemankan ponsel dan keresahan pada dirinya. Ia masih memproses semua yang terjadi di depan matanya ini.
Jujur saja, diatas fakta bahwa manusia tak ada yang sempurna, Akmal adalah seseorang dengan kepribadian paling baik yang pernah ia kenal.Tapi jika dihubungkan menjadi pasangan Agnia, ia rasa berlebihan. Semakin ia coba cerna semakin tak menentu ia rasa.
Entah apa dikata, Akmal datang berkunjung ke rumahnya tidak sebagai temannya melainkan sebagai calon kakak iparnya.
Akbar mengusap wajahnya gusar, teringat bagaimana tatapan suka Asma kepada Akmal, tatapan hangat keluarga besarnya pada Akmal, tatapan suka dari teman-teman kampus pada Akmal, dan barusan tatapan suka Zain pada Akmal. Semua membuat satu sudut di hatinya terisi rasa iri.
Takut jika Akmal akan mencuri hati Agnia juga, dan bagaimana dengannya?
Akbar menghela napas pelan, kembali mengusap wajahnya. Beristighfar. Tak tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Bahkan baginya saat ini Akmal hanya terlihat penuh kepalsuan.
Pantas saja dengki menghanguskan amal bagai api melahap kayu, perlahan dengki membawa kita pada prasangka buruk dan mendorong diri untuk mengedepankan kebencian.
Sekali lagi Akmal menghela napas, bangkit. Beranjak masuk ke dalam rumah. Melewati empat orang yang tengah berbincang.
"Akbar.." Fauzan menatap Akbar, bertanya saat sudut matanya menangkap sosok putra bungsunya itu. "Kamu dan Akbar.. kalian berteman kan?"
__ADS_1
Akbar mengangguk, setelah sekilas melirik Akmal. "Iya, Yah. Kenapa?"
"Kalo gitu kenapa gak ajak Akmal keliling?"
"Keliling, ya?" Akbar membeo. "Lain kali aja, aku ada tugas soalnya. Gak masalah kan, Mal?"
Akmal mengangguk, tersenyum.
Dengan langkah besarnya, Akbar yang hilang senyum dari wajahnya itu lantas pergi, tak tertarik bergabung dengan obrolan empat orang itu.
Obron yang tak henti membuat Fauzan tersenyum, Akbar bisa melihat kebahagiaan di setiap kata yang ayahnya ucap barusan.
Tak ingin ambil pusing, Akbar meneruskan tujuannya menuju kamar kakak perempuan satu-satunya. Agnia.
***
Tok..Tok..Tok..
"Mbak.."
Agnia menoleh dari laptopnya, mengeluh untuk sesaat karena lagi-lagi kegiatannya terganggu.
"Iya, sebentar.." melangkah malas menuju pintu.
Akbar langsung menerobos ketika pintu kamar Agnia terbuka, membuat pemilik kamar yang tak sempat protes terbengong. Lalu memilih membiarkan Akbar sesuka hati.
"Ada apa?" tanya Agnia tajam, menatap Akbar hingga adiknya itu duduk di kursi nyaman tempatnya bersantai mengerjakan banyak hal.
Helaan napas pelan ditunjukan Akbar, sambil punggungnya disandarkan dengan nyaman. "Aku harus jawab apa? Mbak yang dijodohin aku yang galau."
Agnia terkekeh, tak bisa untuk tidak tertawa melihat wajah Akbar yang serius bukan main namun jawabannya iseng sekali.
"Lucu? Aku galau lucu? Mbak dijodohin sama berondong lucu?"
"Ya Allah.." Agnia menggeleng heran. Masih tersenyum dengan ekspresi Akbar yang tak biasanya resah. "Gak ada yang pasti, Akbar. Ini cuma pertemuan, bukan lamaran."
"Iya, cuma pertemuan keluarga. Nanti cuma lamaran, terus nantinya cuma nikah dan nantinya lagi cuma punya anak."
Agnia tak bisa menjawab, kali ini menatap datar adik tengilnya itu. "Terserah. Keluar!"
Akbar memutar bola matanya. "Ok!" Bangkit dari duduknya dengan malas. "Tapi satu pertanyaan, Mbak." Akbar menggantung, menatap tepat di mata kakak perempuannya ini. "Apa yang Mbak rasain sekarang?"
Apa yang ia rasakan? Setelah semua yang terjadi di hari ini apa yang ia rasakan? Setelah bertemu Alisya dan pertemuan keluarga mendadak ini apa yang ia rasakan? Agnia mengendus, pertanyaan macam apa yang Akbar lontarkan, tidak biasanya adik satu-satunya ini memberikannya pertanyaan dalam semacam ini.
"Keresahan yang sama, seperti yang kamu rasakan." jawab Agnia.
"Jadi untuk sekarang kenapa kita gak lupain masalah ini? Pernikahan itu masih jauh loh, ada rentang waktu di tengahnya yang kita gak tau apa yang akan terjadi saat itu." Agnia menghela napas, sekarang justru ia yang menenangkan akbar dan bukan sebaliknya.
"Jadi sekarang, biarin mbak bernapas. Karena untuk mencerna semua ini mbak juga butuh waktu. Ok?"
Hening sejenak, Akbar mengangguk pelan. Paham sepenuhnya sekarang.
"Pokoknya, Mbak.. kalaupun Mbak mau nolak perjodohan ini, aku pastiin aku jadi orang pertama yang dukung Mbak. Karena aku mau yang terbaik buat Mbak, dan aku harap semoga seseorang terbaik buat Mbak itu bukan Akmal."
__ADS_1
Agnia mengangguk, heran dengan satu hal. Kenapa Akbar seperti tidak suka dengan Akmal yang katanya mahasiswa populer dan reputasinya baik di kampus?