
Kriteria?
Semua bertaruh demi itu
Namun cinta tak saja mengenai kriteria
Apa yang dirasa hati, yang diri condong akannya..
Itulah pemenang sejatinya.
♡♡♡
Kesedihan masih terlihat dari sorot mata Agnia, duduk di sebelah Zain yang sedang menyantap semangkuk kecil sup hangat ditemani ibunya.
Ketiganya, sedang melingkari meja makan. Menunggu Zain yang melompat-lompat senang saat tahu neneknya memasak sup ayam. Sudah meminta bahkan sebelum supnya matang.
"Makannya pelan-pelan, Zain!" ucap Agnia, mengingatkan. Tersenyum tipis memandangi keponakannya itu.
Zain mengangguk, menyendok lagi sup di hadapannya.
"Kamu kenapa?" Puspa yang sejak tadi tak melepas tatapannya dari Agnia bertanya. Lekat memperhatikan adik iparnya dibanding memperhatikan Zain anaknya. Sambil nyaman menopang dagu.
"Mbak yang kenapa! Dari tadi liatin aku kaya gitu." jawab Agnia, melempar kembali pertanyaan kakak iparnya.
Puspa menghela napas pelan, membenarkan posisi duduknya. Mulai menebak apa yang sekiranya di pikirkan Agnia.
"Dia itu hebat loh, Agni... Nih ya.." Puspa mengangkat tangan kanannya bagai siap berhitung. "Masih muda, soleh, berprestasi, pembicara juga, bibit sama bobotnya jelas, dan yang paling penting.. ganteng. Kurang apa lagi coba?"
Demi apapun Agnia tidak tertarik dengan apa yang dikatakan Puspa, mendelik tipis. Agnia menatap kakak ipar yang hanya terpaut dua tahun darinya itu dengan gemas, sebal. Kenapa semua orang salah sangka tentang apa yang sedang ia pikirkan?
"Yakan?" bukannya berhenti, Puspa justru meminta persetujuan. Agnia menghela pelan dalam hati menjerit geram.
"Astaghfirullah.." gumam Agnia pelan, namun masih terdengar oleh Puspa.
"Kok istighfar si, harusnya Maasya Allah.. gitu."
"Mbak! Aku gak lagi mikirin itu, dan gak mau ngobrolin itu." renggek Agnia, mulai lelah. kakak iparnya sama saja dengan yang lainnya, tak pengertian. "Please.."
Melihat wajah memohon Agnia, Puspa malah terkekeh tak berperasaan. Menyeringai iseng. "Kamu kok sensi.." tanya Puspa tanpa menghilangkan seringainya. Senang saja ia rasa melihat wajah jengkel Agnia yang sebenarnya jarang muncul ini. Membuatnya terpikir untuk menggoda lebih lagi. "Ah.. mbak tau nih, calon pengantin emang biasanya kaya gini.. sensi."
Agnia menatap Puspa penuh peringatan sekali lagi. Benar-benar kakak iparnya ini, suka sekali mengganggunya. "Mbak!"
__ADS_1
"Iya maaf. Becanda ah!" Puspa tersenyum, menatap Agnia yang sedang dalam mode -jangan ganggu. Kali ini, benar-benar mengakhiri gangguannya.
Agnia mendengus sebal, becanda apanya. apa itu lucu? tak tau saja Puspa jika keresahan pada dirinya bukan datang dari perjodohan yang tak jelas itu, melainkan datang dari pertemuannya dengan Alisya. ya, masih hal itu baginya.
...
Hening sejenak, suara sendok beradu mangkuk yang terdengar. Zain belum selesai dengan makannya. Sekarang perhatian Puspa akhirnya jatuh pada Zain.
Agnia yang sudah lupa dengan kejengkelannya pada Puspa kini menengok jam, segera ingat aktivitas lain dari jadwal rutinitasnya.
"Aku mau ke mesjid, pengajian." lapor Agnia. "Mbak mau ikut?"
Puspa menggeleng setelah sesaat pura-pura berpikir. "Mbak di rumah aja, mau bantuin ibu nyiapin makan malam spesial." jelasnya dengan senyum di akhir kalimat, sengaja menyentil lagi kekesalan Agnia.
"Terserah.." singkat Agnia. Maksudnya, terserah dengan makan malam spesial apapun yang Puspa maksud. Tanpa menoleh Puspa yang memasang cengiran, Agnia bangkit. Yang spontan menarik Zain untuk beringsut segera, tak mau ditinggal.
"Ikut.."
.
.
.
Zain langsung menjadi pusat perhatian ibu-ibu jemaah ketika masuk ke mesjid bersama Agnia. Langsung berbaur dengan anak-anak yang menjadi murid mengaji Agnia, memang sudah biasa demikian.
Via yang duduk paling depan dekat pintu tersenyum. "Duduk disini, Mbak." ucapnya.
Agnia balas tersenyum, lekas duduk di sebelah Via salah satu muridnya. Itu memang tempat terbaik untuk mengawasi Zain, bocah yang baru masuk saja sudah kegirangan bertemu banyak orang.
Tak butuh lama, Agnia juga jemaah lain sudah terhanyut pada pembahasan penuh makna dari Fauzan. Pembawaannya yang tenang tampak jelas dari posisi Agnia saat ini. Sebab hijab atau penghalang antara jemaah pria dan wanita dibuka. Menampakan pemandangan bebas di depan sana.
"Allah سبحانه وتعالى berfirman,
إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ
“Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)."
"Tapi pertanyaannya, kenapa banyak yang shalat sedangkan mereka masih kental perbuatan keji dan mungkar nya?"
"Dalam tafsir Al Karimir Rahman karya syaijh As Sa'di, Perbuatan fahisyah atau keji yang dimaksud pada ayat di atas adalah perbuatan jelek yang disukai oleh jiwa."
__ADS_1
"Semacam apa, Bu? Semacam zina, liwath yaitu homoseks lewat jalan belakang, dan lain sebagainya."
"Sedangkan yang namanya mungkar adalah perbuatan selain fahisyah yang diingkari oleh akal dan fitrah."
"Jadi sebenarnya shalatnya seseorang bisa mencegah fahisyah dan mungkar itu, ketika shalat yang ia laksanakan sesuai dengan makna shalat sesungguhnya."
"Kita gimana, Bu? Shalat aja udah kayak dikejar setoran.. buru-buru. Jadi bagaimana kita bisa meresapi setiap do'a yang dibaca dalam shalat? Bagaimana dengan kita? Shalat aja buru-buru? Bacaan surat di rakaat pertama aja kita lupa, jumlah rakaatnya aja suka keliru.."
"Makanya itulah pentingnya menghadirkan hati dalam shalat. Ikhlas dimunculkan, rindu dipupuk.. apa, Bu kata Dilan? Jangan rindu, berat. Biar aku saja."
"Rindu itu berat, tapi rindu berjumpa setiap saat dengan Allah dalam shalat adalah luar biasa indahnya.."
"Itulah yang menghapus kecenderungan kita pada maksiat. Jadi khusyu itu dihadirkan, rindu dihadirkan, ikhlas dihadirkan. Dengan itu, semoga shalat kita benar-benar bisa mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Insyaallah.."
Agnia memperhatikan tiap penjelasan yang dibawakan Fauzan, ia jadi ingat salah satu hadits yang cukup sering ayahnya katakan hingga membuatnya hafal.
...إِنَّ الصَّلاَةَ لاَ تَنْفَعُ إِلاَّ مَنْ أَطَاعَهَا...
...“Shalat tidaklah bermanfaat kecuali jika shalat tersebut membuat seseorang menjadi taat.” ¹...
"Mbak!"
seruan lembut Via membuat Agnia langsung menoleh, alisnya terangkat tanda bertanya. Apakah gerangan yang membuat Via tak ada kerjaan , mengalihkan konsentrasinya di tengah penjelasan yang disampaikan Fauzan.
Via tersenyum lebar, sedikit malu-malu untuk bertanya. "Itu.. yang pake kemeja abu, saudara mbak Agni, bukan?"
Agnia menilik dengan cepat, tidak ada orang baru yang shalat di mesjid ini kecuali.. Akmal.
"Mbak!" Via kembali menyeru, saat Agnia justru diam dan bukan menjawabnya.
"Hemh? itu.." Agnia mengulum bibirnya sesaat, harus apa ia katakan? jika salah bicara habislah ia. "Bukan. Itu.. temennya Akbar."
"Oh.." Via mengangguk, nyengir. "Ganteng."
Agnia mendengus, ikut tersenyum dengan gaya malu-malu Via dalam memuji Akmal.
"Sekarang sudah terjawab, jadi fokus!"
Via menyeringai lebar sekali lagi, setelah kembali mendapat tatapan peringatan dari guru mengajinya itu. Ia hanya tak paham, dimana letak kesalahnya? Matanya hanya pandai mengenali sesuatu yang mencolok, itu saja.
...
__ADS_1
¹. (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, hal. 159 dengan sanad shahih dan Ibnu Abi Syaibah dalam Al Mushonnaf 13: 298 dengan sanad hasan dari jalur Syaqiq dari Ibnu Mas’ud).