
Akmal duduk di bibir ranjang tak tenang, hatinya terlanjur bahagia tanpa sebab. Sudah lebih dari siap untuk menimang bayi, harapannya besar pada hasil testpack sang istri, spontan berdiri tatkala Agnia keluar dari kamar mandi.
"Gimana?" tanya Akmal, matanya menyusuri sorot mata Agnia. Dibalas gelengan cepat, Agnia masih belum memeriksa benda kecil pipih itu. Sengaja supaya Akmal melihatnya sendiri. "Nih.."
Akmal memicing memastikan, tak lama menoleh Agnia datar sulit diterjemahkan. Seperdetik kemudian terpaku lagi pada testpack di tangannya. "Sayang.."
"Hemh? Apa? Gimana? Positif kan?"
"Kalo hamil itu garis dua, kan?" tanya Akmal. Langsung diiyakan oleh Agnia. "Gimana?" tanya Agnia lagi.
"Kalo gitu berarti.." Akmal menggantung kalimatnya, untuk tak lama tak bisa menahan bibirnya agar tak tersungging. "Ucapkan selamat! Aku akan jadi ayah." terangnya setelah memberikan pelukan singkat, dan kecupan ke kening Agnia.
"Oiya?" Agnia tak puas hanya dengan senyum senang Akmal, masih menjaga ekspresinya sembari memastikan hingga akhirnya tak bisa berkata-kata.
Pelukan hangat penuh syukur dan terima kasih Akmal berikan kembali pada sang istri. Ini kejutan besar, Allah memberinya hadiah terbesar dengan jalan rahim Agnia. Sesuatu yang ia do'akan sejak satu bulan terakhir, satu harapan yang sering ia bagi pada Agnia di sepanjang malam sebelum terlelap. Kehadiran seorang anak.
Akmal penuh haru, dalam pelukannya ia mentransferkan ribuan terimakasih pada Agnia. Telah hadir dan mau menerimanya, telah mau menjadi bagian besar dalam hidupnya.
Cepatlah besar, dan jadilah sempurna sebagai dirimu Nak. Datanglah dan sempurnakan kebahagiaan dan rasa syukur ini, kehadiran mu sungguh dinanti.
.
.
.
.
Akmal baru saja menutup panggilannya, lantas menoleh ke jok sebelahnya, pada Agnia sembari tersenyum. Senyum lebar penuh bahagia yang tak hilang sejak subuh tadi.
"Yakin mau anter?" tanya Agnia, memastikan sesaat sebelum mobil yang sudah mereka tumpangi itu benar-benar melaju.
"Gak papa, ini lebih penting." jawab Akmal sembari tersenyum simpul.
"Aku bisa pergi sama Yesa, lagi pula kita pergi ketemu Mbak Puspa kan? Jadi jangan khawatir." kata Agnia, meyakinkan. Menggenggam tangan Akmal singkat.
Akmal menggeleng, menarik kembali tangan Agnia untuk ia genggam. "Aku temenin, aku tetep khawatir."
Agnia tersenyum, tangan satunya terulur mencubit pipi Akmal gemas. "Manisnya.. suamiku." puji Agnia, jujur.
"Ehhem!"
Dua orang itu menoleh ke arah deheman, jelaslah bukan saja mereka di mobil itu. Yesa juga disana sejak awal, perlu diingat.. sejak awal! Kini dengan tangan terlipat di dada menatap kakak sepupu beserta suaminya itu dengan tatapan jijik. "Bagus, ya.. udah berani mesra di depan aku."
"Begini.." Agnia menyungging senyum manis, menoleh Yesa lama. "Karena kamu terus ngintilin Mbak setiap hari, jadi kamu harus terbiasa. Ya? Jangan protes."
__ADS_1
"Dih! Yaudah.." Yesa berpura-pura ngambek. "Kalo gitu.. kalo gitu aku pulang.. gak jadi ikut." ancamnya, sembari tak bergeser dari duduknya, sedikit pun. Membuat Agnia lantas terkekeh, tau kelakuan Yesa yang begini datangnya dari mana. Semakin mirip saja dengan Akbar, mungkin sebab beberapa hari ini gaulnya hanya dengan bocah itu.
"Kenapa? Katanya gak jadi ikut? Kenapa gak turun?" tanya Agnia.
Yesa menghela, berdehem. "Gak jadi, demi ponakan baru." jawabnya.
Spesial, Agnia ditangani langsung oleh Puspa yang perutnya sudah mulai membesar. dalam lelahnya selepas lembur, perempuan itu seketika semangat setelah tau tujuan kedatangan Agnia ke rumahnya.
Cuaca pagi ini cerah, langit bersih hampir tanpa awan. Udara Jakarta yang panas sepanjang saatnya, berbeda dengan udara yang dirasakan dalam rumah hijau asri milik Hafidz.
Agnia dan Akmal duduk bersebalahan, dimana pria itu sudah kembali disasar Zain. Minta ditemani main ini itu. Mungkin di mata Zain sosok Akmal terlihat pandai dan serba bisa. Hingga bocah kecil itu suka sekali mengganggu uncle barunya.
"Kamu sama sekali gak punya keluhan? Mual atau.."
"Gak ada, Mbak. Cuman akhir-akhir ini istriku emosian." Akmal yang menjawab, dengan santainya sembari duduk memangku Zain. Tingkah itu langsung dihadiahi cubitan pelan Agnia ke perutnya.
Agnia mendelik tipis, sedang Puspa terkekeh melihat pasangan baru ini. Serasa balik ke beberapa tahun lalu saat dirinya dan Hafidz juga dalam masa pengantin baru, meski hari ini tetap sama harmonisnya, namun masa pengantin baru memiliki getaran berbeda. Ia mengakui itu, dan dua orang di hadapannya ini memang menggemaskan. "Kalo itu bukan keluhan bagi si ibu hamil, tapi bagi suami si ibu hamil. Kamunya yang harus sabar."
Kabar baik itu cepat sekali menyebar, datang dari Retno kebahagiaan paling besar. Cucu pertama dari anak laki-laki satu-satunya itu adalah hal paling dinanti.
Siang itu ramai, Retno datang demi mendengar langsung kabar itu. Wajahnya berbinar mendengar setiap penjelasan Agnia. Mengelus sayang perut rata sang menantu.
"Jaga kesehatan, ya?"
"Iya, Bun.." itu iya nya Agnia kesekian kalinya, setelah Retno berkali-kali menasihatinya. Terkikik saja ia, Retno memberitahu ini itu seakan kandungannya sudah membesar.
...
"Sayang.. mau apa?" itu pertanyaan pertama Akmal setelah kembali dari kamar mandi sehabis membersihkan diri, duduk bersila di atas ranjang sebelah Agnia yang terbaring nyaman. Tangannya tak lepas memegangi tangan mulus Agnia, mengusapkan jempolnya ke punggung tangan sang istri.
"Mau apa? Aku gak mau apa-apa."
"Gak ngidam?"
Akmal bersama rasa penasarannya pada ngidam. Agnia dibuat terkekeh sebab itu. "Kamu itu, ya.. orang lain itu menghindari istrinya ngidam. Kamu kok seakan minta aku ngidam. Kamu mau aku nyuruh kamu yang aneh-aneh, gitu?"
"Akan lebih aneh kalo Mbak gak ngidam."
"Tapi ngidam itu gak ada, sayang.. jadi jangan terlalu antusias, hemh? Masih banyak hal yang bisa terjadi, selain rasa syukur.. kita gak boleh membesarkan ini."
Akmal tersenyum, menatap Agnia dalam. Mengusap lembut wajah manis itu. Ini salah satu keindahan menikah, ada seseorang yang memberi hati dan juga mengingatkan. Hidup memang penuh kejutan, demi selamatnya hati dari kecewa maka diri kita sendirilah yang harus mengendalikan perasaan itu.
Karena sebelum terbitnya kecewa, ada harapan tinggi yang abai menyadari hakikat.
"Maha suci Allah.. kehidupan kecil tumbuh di dalam sini." Akmal menghela, mengelus perut rata Agnia yang terhalang selimut. Matanya menerawang entah kemana, jelas terlihat takjub.
__ADS_1
"Lucu ya?" Agnia terkikik, berucap antusias. "Gak nyangka kita juga pernah di posisi ini."
"Hemh.. tau apa yang paling menakjubkan? Jodoh, mati, juga rizki seseorang sudah ditetapkan sejak hari ditiupkan ruh ke janin di usia empat bulan. Aku jadi penasaran.." Akmal menatap Agnia. "Apa jodoh anak kita sudah lahir?"
"Dih!" Agnia mencebik, dari banyak hal yang lebih menakjubkan kenapa suaminya ini mengungkit soal jodoh. "Sayang.. jangan karena waktu aku umur tiga tahun, saat itu jodohku yaitu kamu baru lahir.. kamu jadi bahas soal itu." ujar Agnia. "Kamu sengaja ngingetin perbedaan usia kita?"
Akmal menghela, terjadi lagi. "Kan.. salah lagi aku. Kalo Mbak ngambek terus kayak gini, anaknya cewek deh pasti."
"Ya abisnya.."
"Sst.." Akmal mengarahkan kecupan singkat ke bibir Agnia, membuat istri cantiknya itu diam seketika. Tak mengijinkan istrinya itu berbicara lagi, Akmal masuk ke bawah selimut yang sama dan memeluk Agnia. "Udah, jangan ngambek terus. Nanti cantiknya ilang." ucap Akmal malas, sembari menaikkan lengannya ke atas kepala Agnia.
Agnia paham, mengangkat kepalanya supaya jadi bantal seperti biasanya. "Oiya sayang.. Kamu maunya anak pertama cewek atau cowok?"
Akmal mengernyit. "Anak pertama, maksudnya.. kamu mau punya anak lebih dari satu?" tanyanya, yang langsung diangguki Agnia.
Si bumil baru itu mendongakkan matanya, menatap Akmal. "Minimal dua deh. Aku gak mau anak kita nantinya kayak kamu. Gak punya saudara, gak punya temen becanda. Kamu setuju?"
"Emh.." Akmal berlama-lama berlagak berpikir. "Gimana ya? Setuju deh.. bikinnya seru soalnya."
"Ish!" Agnia mencubit pinggang Akmal, melotot singkat. "Kamu kalo ngomong.. udah gak jawab pertanyaan aku lagi."
"Becanda, sayang.. hemh? Jangan terlalu kaku." kata Akmal, balas mencubit pelan pipi Agnia. "Tadi pertanyaanya.. cewek apa cowok dulu kan? Emh.. aku sih.. apa aja, sedikasihnya sama yang diatas."
"Tapi kan bisa dikhtiarin sayang.."
"Gimana?"
"Kalo mau cewek berarti aku harus feminim dong, kalo cowok.. aku harus cenderung bersikap tegas khas laki-laki."
"Kata siapa?"
"Emh.. katanya."
"Katanya? siapa itu katanya.." tanya Akmal datar, sembari mengernyit. Ditujukan untuk menggoda Agnia yang sedikit-sedikit ngambek ini. "Tapi aku mau cowok deh.."
"Kenapa?" tanya Agnia terdengar kecewa. "Aku maunya cewek dulu."
"Cowok, supaya bisa jaga Mbak, nantinya." jawab Akmal tulus, berucap lembut.
"Yang jaga aku kan kamu." kata Agnia tak terima. "Dan kalo kita punya anak pertama cewek. Nantinya dia bisa nemenin kita di masa tua."
"Tapi dia dibawa orang lain nanti." sangkal Akmal. Seketika membuat Agnia terdiam dan memikirkan itu. "Pokoknya yang terbaik aja, ya? Minta sama Allah." katanya kemudian, melembut.
Akmal tersenyum, mengelus kepala Agnia dengan sayang. "Lagi pula bagaimana nasib kita di hari tua nanti, tidak tergantung dari jenis kelamin. Bagaimana didikan kita, kasih sayang kita, rasanya itu yang paling penting. Itupun.. kita gak bisa sepenuhnya menaruh percaya diri atas semua itu. Jadi yang paling penting, serahkan semuanya sama Allah.."
__ADS_1
Agnia tersenyum bersuara, mengeratkan pelukannya pada Akmal. "Suamiku yang bijaksana.." pujinya.