
Suara iqamat batubsaja terdengar, bersahutan dari tiap meski di wilayah kampung yang berbeda. Akmal untuk pertama kalinya merasakan dingin luar biasa, baju hangatnya bahkan tak cukup menahan dingin yang menerpa kulit. Hingga setelah shalat mereka selesai, Akmal tak berpikir dua kali untuk melempar tubuhnya ke atas ranjang.
Akmal menglega, ini rasanya lebih baik. Selimut ia tarik hingga leher. Sedang Agnia masih duduk di atas sejadah nya, berniat menunggu matahari menyingsing dengan melafalkan dzikir pagi seperti biasanya. Kebiasaan yang terbangun harusnya tak rusak dimana pun berada.
Betapa indahnya lisan yang tak lelah mengucapkan dzikir pada rabb-nya, serta bibir yang tak lelah menyungging senyum untuk saudaranya. Akmal memiringkan tubuhnya, memandangi wajah manis nan khusyuk itu dari tempatnya berbaring. Senyuman teduhnya mengarah pada wanita yang amat ia syukuri kehadirannya.
Ini masih baru, hubungan mereka masih begitu muda. Hingga Akmal hanya bisa berdo'a demi selamat dan tentramnya hubungan mereka. Bukan sebab Govin, terlepas dari ada atau tiadanya pria itu, Akmal selalu takut menyakiti dan membuat Agnia menyerah pada dirinya.
Seakan jadi beban, Akmal selalu merasa dirinya teramat kurang bagi Agnia. Sedang ia merasa diperlakukan dengan baik oleh Agnia di waktu yang bersamaan. Entah bagaimana ia harus bersikap demi membalas kasih sayang itu.
Agnia mengakhiri bacannya, setelah menoleh Akmal dan mendapati tatapan intens darinya. Membuka mukenanya, lantas bergabung ke atas ranjang. Bersila menghadap Akmal, ia punya sesuatu untuk ditunjukkan. "Perut aku makin besar, ya?" tanyanya sembari menunjukkan perutnya yang belum begitu terlihat perubahannya.
Akmal tersenyum, mengelus-elus perut Agnia sembari membisikkan "Selamat pagi, sayang.." pada janin yang ada di dalam sana, Agnia tergelitik melihat perilaku itu, tertawa kecil.
"Oiya.. mau sarapan apa?" Agnia menarik wajah Akmal untuk menatapnya.
"Apa aja."
"Emh.. tapi kita gak bawa apa-apa dari rumah nenek, masak mi aja?"
"Boleh.."
"Atau mau sama ikan? Kita bisa mancing di kolam itu."
"Enggak." tolak Akmal cepat, tak bisa memikirkan bagaimana ikan disana menyantap kotoran dan keringat manusia, lalu mereka makan. "Mi aja."
Agnia terkekeh pelan, tau betul pikiran Akmal. Memang begitu jika belum terbiasa dengan kehidupan di desa. "Yaudah.."
Akmal menahan tangan Agnia, mengernyit tipis. "Kemana?" tanyanya saat wanita itu sudah beranjak saja meski langit terlihat belum terang. Membuat sarapan di jam begini?
"Kok kemana, bikin sarapan dong.."
"Jam segini?"
"Ah.." Agnia baru teringat. "Maksudnya.. aku mau beres-beres dulu, baru nanti bikin sarapan. Jadi.. kamu istirahat aja, nanti aku panggil pas menu sarapannya beres."
Agnia tak langsung pergi setelah Akmal mengangguk dan melepaskan lengannya, tersenyum singkat untuk selang beberapa detik kembali mendekat dan memberikan kecupan.
...
Jendela dibuka, karpet dibersihkan, lantai disapu. Agnia melakukan kegiatan persis seperti di rumahnya. Ini memang terasa seperti rumah, meski jauh dari rumah mereka namun kebersamaan membuat seluruhnya terasa tak asing. Ini seakan bayangan, bagaimana jika mereka menua dan tinggal di kampung. Tentram, nyaman hingga menemui ajal. Agnia belum mengungkapkan pemikirannya ini pada sang suami, namun itu sudah ada sejak lama di pikirannya.
Jingga di timur langit muncul bak coretan warna pada lukisan, cantik memperindah pemandangan yang ditangkap mata. Berpadu dengan pegunungan dan terangnya cahaya yang menyibak gelap dengan perlahan.
Agnia terpaku untuk sesaat, tersenyum memandangi pemandangan indah itu.. bukankah menyenangkan hanya dengan memandanginya?
Ketentraman ini semoga selalu ada, tak peduli seberapa berat hidup dan seberapa rumit hiruk-pikuk kehidupan. Nyatanya diri memang perlu kedamaian, sesekali beristirahat tanpa melihat kurangnya diri, tanpa mendikte tuntutan kepada diri, tanpa hirau akan durjananya mulut orang lain.
Agnia menghela, rasa syukurnya tak terkira meski tak pandai mengungkapkan itu. Tak terbilang nikmat Allah ia rasa, bahkan lebih dari yang ia lihat, akui dan rasakan, nikmat Allah jauh lebih besar dari itu. Jelaslah fakta bahwa diri sejatinya lemah dalam bersyukur.
"Maa Shaa Allah.. allahumma Bika ashbahna wabika amsaina.. wabika nahya wabika namutu wa'ilaikannusyur.." (1)
Beberapa saat Agnia bertahan di tempatnya sembari lirih mengucap do'a, hingga langit mulai terang sempurna. Ayam berkokok bersahutan, diiringi suara air yang mengalir bebas mencipta kesegaran.
Keindahan itu berakhir seiring terang yang tercipta. Agnia sekali lagi menghela, memang tak ada yang abadi di dunia ini termasuk keindahan yang baru beberapa detik lalu ia nikmati. Sebagai tamparan diri, bahwa tak ada yang abadi. Bahwa tak ada kesenangan yang abadi. Dunia itu fana, hingga tak perlu mengharapkan begahagiaan abadi di tempat ini.
__ADS_1
Selang cukup lama, Akmal pun tak keluar dari kamar. Agnia pergi menengok. Benar saja, pria itu tertidur. Agnia tersenyum kecil, tampaknya harus benar-benar menyelesaikan masaknya dan membiarkan saja si kelelawar itu tidur lebih lama.
"Aku gak salah.."
Agnia mengurungkan langkahnya, mendekat. Akmal mengigau lirih dengan kernyitan di dahinya. Tangan nya bergerak, bak mencari pegangan. Itu membuat Agnia terenyuh untuk sesaat, lekas meraih tangan itu. Mengelus pelan dan mengecup punggung tangan itu singkat, hingga Akmal kembali tenang dalam tidurnya.
Agnia tau itu tentang apa, tentang sesuatu yang jadi sebab Akmal membawanya jauh. Ia bisa menyimpulkan, Akmal punya rasa bersalah di hatinya. Itu yang mungkin jadi pemantik rasa takut dan khawatir sebab kehadiran Govin.
...
Mentari mulai naik, Akmal terbangun dengan sendirinya sebab hangatnya sapuan sinar mentari ditambah tubuhnya yang berkeringat dari dalam selimut.
Pria itu menghela, bangkit dan duduk di bibir ranjang untuk beberapa saat, membaca do'a sembari mengusap wajahnya tiga kali. Tak baik, sungguh wajahnya bisa menafsirkan itu. Mimpinya barusan melelahkan. Itulah kenapa lebih baik tak tidur setelah subuh.
Sudah jam setengah tujuh, Akmal paham kenapa kepalanya jadi berat setelah bangun. Ia tertidur cukup lama, Agnia benar-benar membiarkanmya istirahat tanpa membangunkan.
Aroma mi tercium sesaat pintu kamar dibuka, Akmal bergegas menuju dapur.
"Eh! Pagi.." sapa Agnia, tersenyum cerha. "Baru aja mau aku bangunin." katanya, masih menyiapkan piring untuk mereka sarapan.
Akmal tak bergeming, beranjak untuk duduk dan mengambil segelas air. "Airnya udah bener lagi?" tanyanya, mendapati beberapa hidangan yang semula tak adal kini ramai melingkar di atas meja. Tak tau dari mana datangnya dan bagaimana istrinya itu menyiapkan semuanya.
"Udah, tadi dibenerin Wa Solih."
"Uwa yang kemarin?"
"Iya."
Agnia beranjak duduk, menilik wajah Akmal lama. "Kenapa? Gak nyaman tidurnya?"
"Siapa suruh tidur setelah subuh?" cibir Agnia.
"Ketiduran, sayang."
"Yaudah, cuci muka dulu. Biar segeran wajahnya." titah Agnia yang lantas dituruti Akmal, pria itu bangkit dan pergi menghilang membasuh muka. Tak berselang lama kembali dengan wajah lebih segar, kembali duduk.
Agnia menunggu, langsung mengisi piring dengan nasi dan lauk pauk. "Ini.. kamu makannya yang kenyang, bekel di perjalanan pulang nanti. Aku sampe repotin Wa Solih untuk beli menu sarapan ini, jadi makan yang kenyang."
Akmal menoleh Agnia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Emh.. Mbak tau soal itu?"
"Ya tau, lah.." Agnia memotong cepat, matanya spontan membulat tak percaya. "Kamu berencana gak cerita?"
"Bukan gitu.. kan aku belum cerita, makanya.."
Agnia menghela. "Aku baca pesan kamu sama Bunda tadi, makanya tau.. tapi kamu bilang mau beberapa hari disini, kok sekarang langsung pulang?"
"Bukan kita." Akmal menggeleng. "Aku, cuma aku yang pulang."
"Hem? Maksudnya aku ditinggal?" tanya Agnia tak suka.
"Bukan gitu.. Mbak tinggal disini dulu, nanti pulangnya bareng sama ayah sama Ibu. Ya?"
"Enggak. Aku gak mau ditinggal."
"Aku liat Mbak nyaman disini, jadi aku pikir lebih baik Mbak nikmati beberapa hari lagi disini."
__ADS_1
"Alasan yang bagus. Tapi aku mau ikut." kata Agnia, terdengar sebal. Tak mau di bujuk untuk tinggal, aneh sekali suaminya ini.
Akmal terkekeh, mengusap puncak kepala Agnia. "Lucu, dulu Mbak berusaha menolak aku. Tapi sekarang.. gak mau jauh dari aku?"
Agnia menoleh dengan tatapan malas. "Bukannya aneh kalo aku mau jauh dari kamu saat ini, setelah menikah?"
"Dengerin aku.. beberapa hari ini aku sibuk, aku gak tega ninggalin Mbak di rumah sendirian."
"Memangnya kenapa? Aku bisa ke rumah Bunda."
"Tapi disana beda. Disini Mbak sama Yesa, Akbar sama yang lainnya. Sedangkan di rumah Bunda, Mbak pasti kesepian tanpa aku."
Agnia menghela, menimbang sesaat. Benar juga apa kaya Akmal, hingga untuk tak berselang lama mengangguk setelah menghela berat. "Yaudah.. tapi kamu jaga diri baik-baik, ya? Jangan sampe gak ngabarin aku."
"Yang harusnya bilang kalimat itu aku, Mbak yang paling susah dihubungi."
...
Agnia dengan berat hati setuju untuk ditinggal, meski ia sedang butuh sekali pria itu namun tak bisa memaksa ikut sebab ia juga ingin menghabiskan waktunya bersama sang nenek.
Saat ini mobil Akmal melaju membelah jalanan desa yang menyuguhkan pemandangan indah, Agnia diantar menuju rumah sang nenek. Untuk nantinya ditinggal, tentu saja.
Akmal teringat satu hal, mimpinya tadi. Itu mimpi yang buruk, Akmal ingat sekali bagaimana mimpi itu membangunkan rasa takutnya kembali.
Bayangan saat dirinya bersama Ulya, lalu bayangan saat jasad Ulya terbujur kaku tepat di hadapannya bergantian datang dalam mimpinya tadi. Hingga disaat itu, bak mengulang masa sulitnya. Saat terpuruk dan tak punya siapapun.. saat ia ingin mengemis tolong namun tak siapapun bisa ia pintai bantian, seseorang memberi uluran tangannya.
"Sayang.." Agnia membawa Akmal kembali dari lamunannya. "Kenapa?"
"Hem?"
"Aku lagi ngomong.." kata Agnia, setengah melotot. Antara gemas dan geram.
"Oh.. maaf, cerita lagi.."
Agnia menghela. "Gak mau."
"Maaf, jangan marah.."
"Enggak, aku hak marah. Bukan hal penting juga.. yang penting sekarang adalah, apa yang kamu pikirin? Jangan sampe kamu nyetir sendiri terus ngelamun kayak gini nanti." kata Agnia, diteruskan dengan omelan.
"Aku keinget kerjaan, sebelum kesini belum sempat laporan sama ayah. Itu aja."
"Emh.." Agnia mengangguk, percaya saja. Meski tau itu bohong sekali. Agnia mengalihkan pandangannya ke jalanan, sembari mengeluarkan ponsel dan memotret beberapa objek.
"Makasih, ya Mbak.." Akmal berucap lembut, setelah hening antara mereka beberapa saat.
"Apa? Tiba-tiba?" Agnia mengernyit curiga.
Akmal mengangguk, tersenyum tipis. Menatap tangan Agnia yang sudah ia genggam. "Makasih, karena meraih tangan ku. Mau berjuang bersama, mau belajar memahami aku. Dan selalu membuat perasaanku lebih baik."
Lucu, itu kesan yang didengar Agnia. Anggukan ia berikan. Sembari menarik tangan Akmal untuk ia cium.
Akmal menghela lega, ia bisa mengatakan itu. Kata terimakasih, yang sebenarnya timbul dari mimpinya tadi. Dalam bayangannya, Agnia mengulurkan tangan dan meluknya hangat. Memberi kekuatan dan tak pergi dari sisinya, berbisik halus. "Aku disini, kamu gak sendirian."
.......
__ADS_1
(1) Ya Allah.. dengan Rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu pagi, dan dengan Rahmat dan pertolongan-Mu kami memasuki waktu sore. Dengan Rahmat dan kehendak-Mu kami hidup dan dengan Rahmat dan kehendak-Mu kami mati. Dan kepada-Mu kebangkitan (bagi semua mahluk)