
Kamar itu sudah lenggang, lampu dimatikan diganti temaramnya lampu tidur. Akmal sudah beringsut dibawah selimut, mulai memejamkan matanya.
Agnia yang baru kembali dari kamar mandi segera naik ke atas ranjang dengan semangat, sampai lupa dengan rutinitas perawatan kulitnya. Langsung menghampiri Akmal dengan wajah antusias hingga pria itu terheran, spontan membuka mata.
"Mau apa?" tanya Akmal, memundurkan tubuhnya saat Agnia makin dekat ke arahnya. Bak enggan untuk didekati.
"Mau apa?" Agnia membeo, menatap tak percaya dengan pertanyaan itu. "Mau tidur, peluk kamu gak boleh?"
"Jangan dong.. Aku masih gak enak badan, masih pilek. Nanti Mbak ketularan.." jelas Akmal, meski dalam cahaya yang minim namun bisa melihat ekspresi kesal istrinya.
Agnia mendengus pelan, lantas mengangguk cepat. "Gitu? Yaudah.. selamat tidur." ketusnya, cepat-cepat menenggelamkan dirinya ke bawah selimut.
Akmal ikut membaringkan tubuhnya, berbantal lengan. Terkekeh melihat tingkah ngambek Agnia, masih menunggu apa yang akan dilakukan istrinya itu dalam kemarahannya.
Tak berselang lama Agnia membua selimutnya, tanpa menoleh mengambil guling di sisinya untuk ia pindahkan ke tengah antara dirinya dan sang suami. "Biar gak ketularan." sindirnya, menoleh Akmal singkat lantas menyembunyikan wajahnya lagi.
Menggemaskan sekali, Akmal kembali tersenyum kecil. Tangannya terulur menarik turun selimut sang istri, ingin melihat wajah marah istrinya.
Agnia mendecak, menatap datar dan tai berselang lama kembali menarik selimut menutupi wajahnya. Sekali lagi Akmal mengulang perbuatannya, Agnia yang makin kesal karena tak dibujuk memutuskan memiringkan tubuhnya ke arah berlawanan.
"Mau kayak gitu?" tanya Akmal, mencebik tipis. "Gak baik, lho.. memunggungi suami. Nanti suaminya gak ikhlas.."
Belum selesai kalimat Akmal, Agnia sudah membalikkan kembali arah miringnya. Kembali menghadap sang suami dengan setengah tak ikhlas. Niat hati ingin dibujuk, kenapa dirinya yang harus mengalah.
Akmal menyungging senyum, berusaha menyentuh hati sang istri. Membelai puncak kepala Agnia lantas beralih mencubit pipi bulat menggemaskan istrinya itu. "Istriku yang manis." pujinya, berusaha meluluhkan senyum Agnia.
Agnia kembali tersenyum, bak diberi hati dengan tatapan dan belaian lembut sang suami. Mana terima ia diperingatkan, tak membuang waktu dan segera menghempas guling di tengah-tengah mereka. Bergeser mengganti guling itu dengan tibuhnya, ingin dekat dengan Akmal.
Tak bisa menolak atau melarang, ia bisa-bisa dipunggungi sepanjang malam jika mengusik keinginan hati Agnia. Akmal jadinya hanya bisa menghela. "Jangan bilang aku gak kasih tau, ya.."
Agnia mengendikkan bahunya, tak peduli. Justru lebih erat melingkarkan lengannya ke tubuh Akmal. Siapa suruh ngambek, dan membuatnya susah tidur. Ini sebagai ganti, dari setiap waktu yang terbuang sia-sia sebelumnya.
Hening sesaat, hanya detik jam dan suara tarikan napas yang terdengar. Dua orang itu sibuk dengan pikiran mereka semdiri dalam hangatnya dekapan masing-masing.
"Sayang.." Agnia memanggil lembut, berjaga-jaga jika Akmal sudah tertidur.
"Hem?"
Agnia memundurkan kepalanya, mendomggakkan pandangan. Siap mengatakan hal serius. "Apa sebaiknya aku berhenti ngajar?"
"Kenapa tiba-tiba nanya begitu?" tanya Akmal, setelah menghela singkat. "Aku gak maksa, kok. Kalo sebab permintaan aku waktu itu.. lupain aja."
"Bukan.." Agnia menjawab tak berselang lama, menyentuh pipi Akmal dengan satu tangannya. "Ini soal aku, masalahnya aku gak bisa mengandalkan orang lain setiap saat. Lagi pula gak setiap hari aku bisa ketemu orang yang berbaik hati." Agnia menjeda, menghela singkat. "Aku juga gak mau kayak hari itu, gak punya pilihan selain menerima bantuan dari Adi."
Akmal mendengarkan, tak melepas pandangannya dari sang istri. Sembari tangannya tak lepas, mengelus rambut Agnia dengan sayang.
"Aku belum cerita, kan.. kali hari itu Govin nemuin aku."
"Hem?" wajah Akmal sedikit berubah tegang saat nama Govin disebutkan, belaian di rambut Agnia spontan berhenti.
"Iya.. hati itu. Dia menawarkan tumpangan, yang buat aku gak nyaman adalah.. dia bersikeras setelah aku tolak dengan baik-baik. Dia sampe menghadang dengan motornya." jelas Agnia sembari menerawang peristiwa itu. "Ah! Lupain.. itu juga salah aku, harusnya aku gak pulang terakhir hari itu."
Akmal mengerjap pelan, menatap lembut sang istri. Ia baru saja mendengar keseluruhan cerita ini, buruk sekali bagaimana ia termakan jebakan Govin. "Itu sebabnya Mbak terima tumpangan dari Adi?"
"Hem."
__ADS_1
Rasa bersalah menghantam diri Akmal, ia terlalu cepat menyimpulkan dan egois dengan perasaannya. Hingga tak mau tau perasaan dan posisi Agnia di masa sulitnya. Hatinya makin habis oleh rasa bersalah takkala wajah Agnia sama sekali tak menunjukkan kekecewaan atas perilaku buruknya kemarin, tampak benar-benar ikhlas dengan sikap diam nan egoisnya.
"Mau tau apa yang dia bilang?" Agnia bertanya, namun tak perlu jawaban sebab tetap akan menjelaskan. "Dia bilang 'Maaf, Mas pikir kamu sedang butuh bantuan.' dia bilang gitu."
Akmal mengangguk, menghela panjang. Dalam topik ini, pembahasan soal Adi sama sekali tak menyinggungnya. Pria itu memang bermaksud baik, bahkan sepenuhnya menghormati Agnia. Ia harus menghargai itu.
"Maaf karena baru bisa mendengarkan. Maaf karena sudah egois."
Agnia menghela, tak bergeming sama sekali. Balas meletakkan kepalanya di dada Akmal. Ia tak masalah hari ini, saat hubungan mereka baik-baik saja tak ada hal lain yang lebih penting. Keresahan hari lalu jadi tak masalah lagi. Lagi pula ia tak mau melihat kebelakang, tentang hal-hal yang menyakitinya di masa bahkan di detik lalu.
"Maaf."
Agnia tak bergeming, tampak sudah begitu mengantuk hingga napasnya terasa berubah berat. "Aku takut saat itu."
Akmal kembali menghela setelah mendengar lirih ucapan Agnia, yang mungkin juga adalah mengigau. Menyesal sekali sudah gegabah, hingga satu-satunya yang bisa ia lakukan hanyalah meminta maaf.
Sebenarnya Akmal paham jika Agnia pasti punya alasan dibalik keputusannya, kemarahannya kemarin tak lain sebab pikiranya yang kacau dan dihadapkan pada ketakutan pada keselamatan sang istri. Bukankah Adi adalah satu dari sekian banyak luka abadi yang dimiliki Agnia?
Walau begitu Akmal tak pernah menyangka jika alasan itu dipicu Govin. Pemuda itu ternyata bertingkah lagi. Sial! Kenapa otaknya lamban? Akmal merutuki dirinya sendiri. Keterlaluan. Harusnya ia tak termakan isu yang dibuat Govin, harusnya ia tau jika pria yang mengirim potret itu adalah satu-satunya orang yang membuat masalah.
Akmal kembali menghela, menyadari kekeliruannya yang membawa kesalahan setelah kesalahan terjadi. "Maaf." tuturnya lagi.
.
.
.
.
Agnia baru saja selesai menjemur pakaian, melangkah kembali ke rumahnya saat Akbar datang bersama kuda besinya.
"Udah baikan, tenang aja!"
"Oh.." Akbar mengangguk paham. "Gimana kalo kelakuannya? Masih sama resek nya?"
"Hem?"
"Dia masih marah apa enggak, kalo masih gak jelas kayak gitu biar aku hajar! Eh maksudnya aku ajar, aku ajarin."
Agnia menggeleng takjub terlebih dulu sebelum kemudian menjawab. "Masalahnya selesai, gak usah khawatir. Dan.. jangan diperpanjang." ujarnya dengan nada peringatan di kalimat terakhir.
"Syukur, deh."
"Iya. Tapi kamu ngapain kesini sepagi ini? Mencurigakan."
Akbar mengendikkan bahunya pelan. "Ya nengok Akmal, sama.. numpang sarapan." jawabnya santai, sembari melangkah masuk terlebih dulu.
Meja makan ramai lagi, Akmal sudah jauh lebih baik hingga bergabung di meja makan bersama Akbar adik iparnya. Agnia masih bolak-balik saat dua orang itu mulai lahap menyantap menu sarapan, masih mengurus urusan dapur.
"Makan dulu!" ujar Akmal, berbarengan dengan Akbar yang berkata sama. Saling pandang untuk sesaat.
"Iya.. duluan aja."
Akmal memperhatikan tingkah istrinya, menunggu sang istri untuk duduk dan bergabung makan. Ini terasa canggung sebab datarnya sikap Akbar, hingga sarapan jadi tak ada nikmatnya kecuali ada Agnia yang bisa mencairkan suasana.
__ADS_1
Agnia membawa semangkuk sup ayam bersamanya, menu terakhir yang sempat ia masak di waktu yang mepet. Tak lama beranjak duduk tak jauh dari Akmal, setelah mengambil nasi ke atas piringnya.
"Sepi banget, lagi marahan kalian?" tanya Agnia, menoleh Akmal dan Akbar bergantian.
Akbar mengendik pelan, jelas ia marah. Akmal membuat kakaknya bersedih sebelum ini, dan Agnia.. kenapa kakaknya itu mudah sekali luluh? Seakan jika suaminya bersikap semena-mena adalah layak dan wajar. Akbar sebal sendiri. Tak suka disuruh jangan memperpanjang masalah, padahal ia paling tak mau kalah dan mudah memaafkan.
Tak mendapat jawaban, Agnia lantas menghela. Mulai menyuap dengan senyum tipis sambil memperhatikan suami juga adiknya yang seperti remaja tanggung sedang marahan, lucu sekali.
...
Mentari bersama sinarnya,
Air bersama segarnya,
Api bersama hangatnya.
Seakan lengkap satu sama lain,
Persis kita yang jadi sempurna dan berharga saat bersama.
Ingatan hari itu membuat Agnia tak nyaman, ia tak bisa mempertaruhkan dirinya menghadapi sesuatu yang ia takuti. Bukan kah itu tak baik untuk kehamilannya? Namun satu sisi ia tak bisa seenaknya hengkang dari tempat yang sudah ia perjuangkan bertahun-tahun.
Agnia duduk di depan meja rias, tengah memasang kerudungnya. Setelah bertanya haruskah ia berhenti mengajar, Agnia memutuskan tetap pergi di hari ini. Tak bisa semudah itu berhenti setelah kemarin izin tak masuk.
Dalam hati Agnia hanya berharap supaya dirinya tak lagi menemui pemuda itu bagaimanapun caranya.
Agnia menghela sembari memejamkan matanya beberapa saat, hingga satu sentuhan memaksa matanya kembali terbuka. Menoleh pemilik tangan yang selalu jadi alasan kembalinya diri dari lamunan juga kenangan buruk masa lalu.
Akmal tersenyum teduh, mengelus bahu sang istri lembut. Berjongkok mengsejajarkan kepalanya dengan wajah Agnia. Ia tau ketegangan tak bagus untuk istrinya saat ini, ia harus jadi seorang yang bisa diandalkan dengan memahami dan memberi tenang. "Kenapa?" tanyanya, sembari mengelus pipi menggemaskan di depannya.
Agnia menghela, lantas menggeleng cepat untuk kemudian menyungging senyum meyakinkan.
"Kalo gak siap pergi, gak usah dipaksain.. anak-anak pasti tau kondisi Mbak sekarang." tutur Akmal lembut, sudah tau hak ini yang dirisaukan istrinya.
Agnia menggeleng, meraih tangan Akmal untuk diletakkan di pipinya. Hidup berjalan, kewajiban mesti dilaksanakan. Saat ini Agnia hanya perlu dikuatkan, kasih lembut Akmal cukup baginya.
"Bener? Tapi kayaknya Mbak gak siap untuk pergi."
"Bener.."
Akmal mengangguk, untuk sesaat menilik wajah dan mata Agnia sembari memikkirkan cara yang baik untuk menjelaskan. "Em.. Mau dengar satu fakta menarik?"
"Apa?"
"Ketakutan lebih membunuh dari kematian. Ketakutan ebih menyiksa dari perundungan. Dan ketakutan lebih menjerumuskan dari asumsi tanpa pemikiran."
"Maksudnya?"
Akmal tersenyum, mana mungkin istrinya ini tak paham maksudnya. Mencubit sayang pipi sang istri. "Ketakutan itu gak baik, yang paling benar untuk saat ini.. adalah Mbak harusnya memberi waktu bagi diri, dari pada terus melawan perasaan itu."
"Hem.. aku pikirkan soal itu lagi nanti, untuk saat ini aku harus pergi. Udah terlanjur dandan, terlanjur cantik."
Akmal terkekeh, mengangguk setuju dengan Agnia yang menyebut dirinya sendiri cantik secara tidak langsung. "Yasudah, karena itu jangan khawatir. Aku antar ke sekolah, nanti pulangnya aku jemput. Hem?"
"Iya." Agnia mengangguk lagi, tersenyum. Memainkan dagu berjenggot tipis sang suami.
__ADS_1
Akmal mengecup telapak tangan Agnia yang tak jauh dari wajahnya, beralih mengecup perut istrinya itu, lantas bangkit dan memberi kecupan lama di kening. Diakhiri dengan pelukan hangat. "Jangan khawatir, aku disini sayang.." lirihnya.
...