
Hari ini tiba, hari yang semua tak menyangka terjadinya. Agnia tak tau ia akan luluh, dan Akmal tak tau jika secepat ini masa bujangnya berakhir.
Dua orang yang dipertemukan dengan jalan perjodohan itu kini tiba pada puncak menuju bersatunya mereka, dalam waktu yang singkat putus lah segala jarak. Menjadi suami istri tandanya menghilangkan setiap jarak dan meluruhkan batas yang tercipta secara fitrah.
Yang sebelumnya asing, jadi hak satu sama lain setelah akad.
Semua akan berbeda nanti, setelah akad terucap status dan tanggung jawab mereka berbeda. Khususnya Akmal, pemuda itu tengah menghitung detik di jam dinding kamarnya. Duduk di bibir ranjang sembari memikirkan banyak hal.
Dalam balutan jas hitam Akmal memejamkan matanya lama, tak hanya sedang menata hatinya yang berdebar namun juga terus membisikan dirinya bahwa setelah ini hidupnya tak lagi tentang diri sendiri.
Ini keputusan besar. Akmal tak menyesal namun buncahan bahagia, antusias, juga gugup itu menghasilkan perasaan lainnya yang tercetak sempurna di wajahnya. Ia kini tegang luar biasa.
Apa wajar bagi calon pengantin pria merasakan hal seperti ini? Akmal merasa dirinya aneh, padahal ia bukan seseorang yang gampang ciut dalam hal apapun. Tapi hari ini untuk pertama kalinya, bocah yang sejak kecil terbiasa tampil di muka umum itu, merasa gugup.
Akmal menghela panjang, membuka matanya perlahan. Menggeleng pelan, menghempaskan lamunan di kepalanya. Ini bukan saatnya memikirkan hal tak penting, ini saatnya mengambil langkah.
Ceklek..
Suara dorongan di pintu kamarnya membuat Akmal segera menoleh, dari sana muncul Retno, sang bunda yang dengan senyum mengembang berjalan mendekat.
Menyaksikan anak satu-satunya tumbuh hingga hari ini akan meminang seorang gadis menimbulkan haru pada diri Retno, dan apa yang lebih membahagiakan selain fakta bahwa calon menantu yang akan ia dapat adalah gadis yang ia harapkan?
Terlebih tak ada paksaan pada Akmal juga Agnia, mereka memutuskan bersama dengan keinginan mereka sendiri. Dan bagi Retno juga Sidiq, kebahagiaan yang terlihat dari wajah anak mereka adalah yang paling penting.
Kedua tangannya ia jatuhkan pada bahu Akmal, Retno berdiri tepat di hadapan putranya. Pelukan hangat sesaat ia berikan, lantas matanya menilik intens wajah Akmal yang dipaksakan tersenyum. "Siap?" tanyanya lembut.
Akmal hanya bergeming pelan sembari mempertahankan senyumannya. Ternyata benar, semua yang mengatakan seberani apapun pria dia tetap akan dilanda gugup saat dihadapkan akad. Ini soal tanggung jawab besar dunia akhirat yang ia terima, bukan hanya menafkahi namun menjamin membawa keluarganya nanti selalu dalam kebaikan hingga nantinya tak hanya sehidup namun juga sesurga.
Akmal sedang di fase itu, perasannya berkecamuk hebat.
"Yasudah.." Retno mengelus pelan puncak kepala Akmal, kopiah hitam di sisi ranjang ia ambil dan pasangkan di kepala anaknga. "Ayo berangkat! Bunda gak sabar bawa pulang menantu Bunda." tandas Retno, dengan senyuman menggoda.
Akmal balas mengangguk samar, tersenyum. Apapun yang diucapkan padanya saat ini sama sekali tak meredakan kegugupannya.
"Bude.." seorang gadis muncul, meloloskan wajahnya pada pintu kamar Akmal yang terbuka. Itu salah satu saudari sepupu jauh Akmal, usianya masih dua belas tahun.
"Kenapa, sayang?"
"Dipanggil Pakde, katanya.. cepetan turun!" ucap gadis yang sudah berkebaya rapih itu, persis dengan kebaya yang dikenakan Retno.
__ADS_1
Retno mengangguk, setelah menepuk pelan bahu Akmal lantas berlalu lebih dulu, masih banyak yang harus ia pastikan sebelum pergi.
Gadis itu mendekat, meneruskan langkahnya. Lantas duduk bersila di sebelah Akmal. Tatapannya menunjukan penasaran, membuat Akmal yang ditatap begitu spontan terkekeh disela kegugupannya.
"Kenapa? Kakak ganteng?"
"Ish.. kalo itu pasti!" seru gadis itu sembari mengangkat kedua jempolnya tinggi-tinggi. "Tapi Kak, calon istri Kakak cantik kan?"
"Kamu nanya nya.." Akmal tak menjawab, tangannya ia arahkan pada adik sepupunya itu, mencubit gemas.
"Cantik atau enggak?" ulang gadis itu, menghempas pelan lengan Akmal dari hidungnya.
"Apa pentingnya cantik? Hemh? Pokoknya dia baik, calon istri sempurna."
Gadis itu masih mencerna, dari jawaban Akmal yang menegaskan jika calon istrinya baik. Ia rasa jawaban dari cantik atau tidaknya, berarti biasa saja.
"Kenapa?" Akmal menaikan alisnya, memperhatikan tiap gerak-gerik sepupunya itu.
Gadis cantik berhijab itu menggeleng, lantas berangsur turun dari ranjang milik Akmal. "Aku duluan ya Kak, bye.."
"Dih!" Akmal menggeleng takjub, terkekeh pelan. "Dasar gak jelas!" cibirnya.
Langkah ini akan membawanya pada situasi dengan keputusan paling krusial dari hidupnya, langkahnya kali ini demi menyatukan hidupnya dengan gadis yang ia sukai. Dan dengan ini Akmal sudah menandai Agnia sebagai perempuan yang ia pilih menemaninya dunia akhirat.
.
.
.
.
Sama saja dengan Agnia, ia yang masih tak dijauhi perias kini harap-harap cemas sembari dirapihkan beberapa riasannya. Siger khas pengantin Sunda sudah terpasang di atas kepalanya, dengan uraian bunga melati yang melengkapi hiasan itu.
"Sudah, Teh?" tanya seseorang di belakang mereka, Agnia spontan membuka matanya menatap lewat cermin. Senyumnya begitu saja mengembang saat seseorang itu menghampiri dan menepuk pelan bahunya.
Perias itu segera mengangguk, menoleh pada perempuan yang sejak semalam ikut bawel mengatur cara kerjanya. "Sudah, tinggal akadnya."
Perpuan itu adalah Indri, yang khusus datang untuk hari spesial Agnia. Bahkan memberi baju buatan tangannya sendiri untuk dipakai temannya itu. Pemilik butik yang super sibuk itu menyempatkan diri datang bahkan ikut mengambil bagian di pernikahan Agnia.
__ADS_1
"Teteh belum sarapan kan?" Agnia yang kini bertanya, pada perias yang tampak lelah itu. "Sarapan dulu, ya.. bentar, aku suruh anak-anak temenin Teteh." Agnia mengedarkan pandangannya, Yesa tengah duduk di bibir ranjang sembari tersenyum lebar.
Yesa sejak tadi menyimak, bahkan dari pagi buta tak lepas memperhatikan proses merias. Ingin tahu dan belajar merias dengan melihat secara langsung. Gadis itu segera paham, lantas berdiri dari duduknya.
"Ayo, Teh.. aku juga belum sarapan. Kita sarapan bareng." ucap Yesa, untuk kemudian mereka menghilang dari balik pintu meninggalkan Agnia dan Indri berdua di kamar luas itu.
Agnia menghela pelan, beralih menatap Indri yang mengambil alih tempat duduk perias tadi. "Udah sarapan?" tanyanya.
Indri terkekeh, merasa jika Agnia mengajukan pertanyaan sama pada semua orang. Lantas mengangguk. "Sudah."
Tak paham apa yang ditertawakan Indri, Agnia hanya menghela.
"Deg-degan?" tanya Indri sembari tangannya meraih tangan Agnia, menggenggam erat tangan itu.
Agnia mengangguk. "Hemh.."
"Wajar.." balas Indri, bisa merasakan keresahan Agnia dari tangannya yang dingin. "Pokoknya setelah ini harus happy, jangan lagi pendam sesuatu sendiri.. Hem? Nanti ada suami, kamu bisa percaya sama dia."
Tulus. Itu yang bisa Agnia nilai dari tatapan Indri saat ini, sekali lagi rasa syukur memenuhi hatinya, Agnia merasa dilimpahi kasih sayang.
"Makasih.."
"Permisi.." Akbar datang, menginterupsi. Setelah memastikan siapa yang ada di kamar kakaknya begitu saja masuk. "Hai, kak.." sapanya pada Indri.
Indri balas tersenyum, lantas dua orang itu memerhatikan Akbar yang beranjak dudur di bibir ranjang. Hingga Akbar menghela panjang, dengan wajah risau. "Aku bingung lho, Mbak.." ucapnya tanpa perlu ditanya.
"Kenapa?"
"Ya bingung, aku mending disini atau pergi ikut rombongan pengantin pria aja gitu?" tanya Akbar, dengan senyum miring di akhir kalimatnya.
Agnia sekilas menoleh Indri, untuk kemudian mendelik tajam pada Akbar. Di situasi begini saja tetap berselera mengganggunya, sengaja sekali sepertinya menegaskan jika calon suami kakaknya seusia dengannya. Memang menyebalkan.
"Jangan melotot! Nanti softlens nya keluar sendiri, Mbak.."
"Dih!" Agnia sekali lagi mendelik Akbar, untuk kemudian mematung saat suara petasan tanda sambutan rombongan pengantin pria terdengar. Tubuhnya menegang seketika, tolehan ia arahkan pada Indri yang makin mengeratkan genggaman tangannya.
Tanpa disadari, Akbar yang sudah mengakhiri senyumnya balas menatap Agnia penuh haru. Tak menyangka jika kakak perempuan satu-satunya ini tak lama lagi akan menyandang status istri. Hal yang semula Akbar rasa tak mungkin, hal yang Agnia selalu benci dan membuatnya menangis semalaman saat diingatkan akannya.
Ya, segaka tentang pernikahan yang pernah Agnia benci dan takuti. Segala tentang pria yang sempat ia lihat dari sudut pandang berbeda, juga segala tentang hubungan dan persahabatan yang sempat dihindarinya, hari ini semua itu runtuh.
__ADS_1
Hanya ada harapan supaya kebaikan menyertai, hanya ada bismillah yang bernafaskan keberserahan diri. Akbar sungguh terharu, senyumnya tersungging lama memperhatikan Agnia. Seperdetik kemudian pemuda itu bangkit dari duduknya, mengakhiri tatapannya. Bersikap seakan tak pernah menunjukkan tatapan hangat itu sebelumnya. Berlalu begitu saja tanpa berucap apapun