Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
176. Rahasia setelah rahasia


__ADS_3

Dalam serba-serbi kepalsuan ini,


Aku hanya miliki kamu


Dalam berlikunya jalan ini,


Tanganku hanya punya jemarimu


Dalam sedu sedannya kehiduan ini,


Aku hanya memiliki bahumu tuk meluapkan tangis.


...


Panas sedang terik-teriknya, hilir mudik orang menambah sesak kota dan bisingnya tiap sudut jalan. Akmal berada di salah satu Cafe, meredam semua kebisingan dan sesak itu dengan secangkir kopi di salah satu meja dengan spot terbaik.


Tak bermaksud mencari tempat untuk melamun dan meningkatkan prasangka buruk, namun Akmal sungguh tak bisa biasa saja dengan ucapan Govin.


"Belajarlah dari masa lalu!"


Helaan napas keluar dari mulut Akmal, setiap mengingat ucapan itu kepalanya serasa akan pecah. Kapan Agnia bertemu Govin? Apa terjadi obrolan antara mereka? Dan jika ada, obrolan apa yang mereka lakukan? Kenapa Agnia tak jujur? Jika belum sempat, kenapa menunda untuk mengatakan? Tak taukah Agnia jika nama Govin sedang sensitif baginya saat ini? Atau.. apakah sebab itu? Sebab Agnia merasa yang terbaik baginya adalah diam?


Akmal kembali menghela panjang, tak bisa menahan diri untuk terus memikirkan itu. Muncul pertanyaan baru dari pertanyaan yang berusaha ia selesaikan sendiri.


Namun bukankah itu keterlaluan? Kenapa ia seakan merendahkan Agnia, padahal jika istrinya itu tau, sudah tentu ia akan tersinggung dan bersedih.


Agnia tak begitu, ia tak sama dengan..


Akmal menggelengkan kepalanya cepat, menghalau pikiran gila yang mulai lagi merambat di pikirannya. Tepat sekali dengan getaran halus di sakunya.


Agnia. Demi nama itu Akmal memperbaiki ekspresinya, menyungging senyum tulus sebelum menampakkan wajahnya lewat panggilan video.


"Assalamu'alaikum.." Akmal menunjukkan wajahnya, tak tampak risau yang semula ada di wajah itu. Melihat Agnia perasaannya kembali membaik.


[Wa'alaikumsalam.. lagi dimana?]


"Di Cafe, baru selesai ketemu dosen." jawab Akmal. "Aku lagi nunggu temen."


[Emh..] Agnia tampak menganggukkan kepalanya samar. [Kalo sekarang sama siapa?]


"Sendiri.. yang aku tunggu belum dateng."


[Kasian nya..] Agnia menjeda sesaat, menoleh entah kemana. [Yaudah, aku tutup telponnya ya.. aku lagi ada kerjaan sama Yesa soalnya.]


"Iya tapi.. apa gitu aja?"


[Iya, cuma mau liat wajah kamu. Take care.. bye..]


"Tapi.."


Tutt.. tutt.. tutt


Akmal menghela, istrinya memang tak akan berubah soal kaku sekali di telpon. Ia bahkan belum sempat menanyakan istrinya itu sudah makan, sedang apa, pergi kemana. Tega sekali, memang. Bahkan pertanyaan yang paling mengganggu hatinya sama sekali tak bisa ia ajukan, hal itu kembali mengganggu kepalanya.


"Akmal.."


Akmal menoleh, yang ditunggunya akhirnya tiba. "Sampai juga, duduk!"


Itu Ripda, yang datang disela senggang demi memenuhi ajakan bertemu Akmal. Segera beranjak duduk, tatapannya masih penuh penasaran. "Ada apa? Kenapa ngajak ketemu?"


"Santai.. pesen minum dulu aja?"

__ADS_1


"Gak bisa! Aku buru-buru.." kata Ripda. "Emang kenapa sih? Waktu itu Mbak Agni, sekarang kamu.. eh, bukannya kalian lagi gak di Jakarta ya."


Akmal mengangguk. "Iya.. kamu tau soal itu juga ternyata."


"Tau.. Govin.. eh.." Ripda merapatkan bibirnya begitu sadar ucapannya. Dalam hati mengutuk dirinya yang begitu saja menyebut Govin saat pria di hadapannya ini sedang panas-panasnya bersitegang dengan Govin.


"Terusin.." ujar Akmal santai.


Ripda menghela, tak tau kenapa dan sejak kapan ia jadi orang ke empat setelah Akbar dalam hubungan Agnia dan Akmal. Yang bahkan dirinya saja punya banyak urusan dan masalah untuk dipikirkan. "Gini, pertama aku mau bilang.. please.. jangan terpengaruh sama Govin, demi Mbak Agni. Aku jamin seratus persen dia gak akan macam-macam. Dan.."


"Satu hal.." Akmal memotong ucapan Ripda, seakan bersikeras melihat Govin salah. "Kenapa dia bisa tau soal itu? Kalo aku dan istriku gak di rumah?"


"Itu gampang.. dia datang ke rumah kalian, karena kalian gak ada.. dia udah bisa tau itu kalo kalian pergi, ayolah.. bahkan anak kecil bisa langsung paham tentang itu."


Akmal mengangguk, memang dirinya yang terlalu over thingking dalam hal ini. Tapi kali ini ia setuju saja. "Okay, paham. Tapi apa kamu tau kenapa dia berusaha mengganggu aku? Apa dia merasakan kepuasan sendiri dengan itu?"


Ripda menghela, kini ia paham kenapa Agnia bilang sulit membuat Akmal paham. Pantas saja Agnia datang dan menemuinya untuk mencari saran.


.


.


.


.


"Gitu aja, Mbak?"


"Hem?" Agnia menutup ponselnya, meletakkan lagi ke atas meja. Menaikkan alisnya ke arah Akbar yang tengah bersila dengan mikser dan semangkuk adonan di tangan. Mereka tengah berkumpul di dapur, memanfaatkan waktu untuk membuat beberapa jenis bolu.


Akbar yang paling tak bisa diajak kompromi kini duduk dengan ilhlasnya, tentu saja setelah dirayu Agnia. Jelas sekali tak bisa menolak sebab kasihan dengan kehamilan sang kakak.


"Gak gitu karena ada kita." timpal Yesa, menarik telinga Akbar singkat sembari melewati sepupunya itu. Mendekat menuju Agnia.


"Iya juga. Tapi buat gue gak masalah tuh, santai.. suami istri mah bebas."


"Iya.. kalo kamu." cibir Yesa, memberi tatapan meledek. "Malah kepoin urusan orang, bukannya lanjutin pekerjaannya."


"Apa?!" Akbar tak terima. "Heh! Harusnya aku gak disini, ini pekerjaan cewek! Masih untuk mau dibantu."


"Yaudah sih, nikmati aja! Itu resiko kalo jadi cowok sendirian nyangkut di antara para cewek!"


Agnia menghela, memperhatikan dua orang yang bergantian membuat argumen. Memijit alisnya singkat, untuk kemudian tak tahan. "Ah.. kalian itu.." Agnia bangkit dari duduknya, jengkel. "Mbak pergi ke kamar nenek dulu. Kalian.. jangan ribut, tapi lanjutin.."


"Berantemnya?" tanya Akbar dengan wajah tanpa dosa.


"Ish! bukan dong!" Agnia melotot. "Malah becanda! Pokoknya selagi Mbak pergi terus balik lagi nanti.. adonannya harus siap? BB paham?"


Akbar mengendikkan bahunya pelan, bukan ia jika tak jahil dan menyebalkan. Ia tak berniat mendengar kelanjutan ucapan Agnia, mikser mati yang ia pegang sejak tadi ia nyalakan dengan kekuatan penuh.


Membuat suara bising terdengar, menghalau Agnia untuk bicara. Yang akhirnya hanya menghela pelan, begitulah adiknya.


..


"Agni sini.." wanita tua itu tengah duduk membaca Qur'an, saat Jung matanya menangkap seseorang dari arah pintu. Menoleh lantas menemukan sang cucu di ambang pintu.


Agnia segera mendekat, urung berbalik setelah dipanggil. Beranjak duduk disamping sang nenek dengan senyuman, dan tatapan lembut.


Wajah itu teduh sekali, Agnia memperhatikan wajah sang nenek sembari membiarkan perutnya dielus-elus perlahan oleh sang nenek.


L"Ada keluhan selama hamil?"

__ADS_1


Agnia tersenyum, menggeleng pelan.


"Alhamdulillah.. ya begitu, kalau ikhlas, tidak terbebani dengan kehamilannya.. pasti gak akan ada keluhan. Karena kuncinya ikhlas dan harus menikmati setiap prosesnya." jelas sang nenek yang kangsung diangguki Agnia. "Tapi.. jangan keenakan, harus tetep jaga makan! Asupannya diperbaiki, juga harus banyak gerak. Nenek gak sabar mau lihat cucu nenek.."


Agnia mengangguk, tersenyum. Selalu bahagia setiap dekat neneknya ini. "Iya, Nek, aku pasti dengerin nasihat nenek."


"Iya.. pokoknya kamu sehat-sehat, dan.. semoga nenek masih ada kesempatan buat ketemu sama cicit nenek ini.."


Agnia mematung, menoleh neneknya lama. Meraih tangan keriput itu untuk ia genggam. "Kenapa nenek bilang gitu?" tanyanya, menatap kedua bola mata sayu itu bergantian. "Aku gak suka."


Wanita tua itu tersenyum, mengelus puncak kepala Agnia. "Nenek seneng kamu tinggal lama disini. Tapi.. Gak ada yang tau umur, Agnia.. Nenek bilang gitu bukan untuk bikin kamu khawatir, tapi berdo'a.. mengharapkan umur yang panjang disertai keberkahan dan kesempatan menikmati waktu lebih lama sama anak cucu, dan cicit nenek."


Agnia menghela, mengecup punggung tangan sang nenek singkat. Bukankah pembahasan tentang ini selalu emosional? Siapa yang siap ditinggal saat diri belum memberikan yang terbaik untuk yang disayang. "Iya, Nek.. semoga."


...


Sore itu, obrolan bersama sang nenek membuat Agnia teringat Akmal. Tak tenang, yang katanya membuat kue tapi sibuk dengan ponselnya. Hingga akhirnya kegiatan sederhana itu selesai, Agnia buru-buru beringsut menuju sofa. Hendak sekali lagi mencoba menghubungi sang suami. "Awas, ya.. kalo sampe gak diangkat lagi sekarang." ujarnya penuh penekanan.


Untuk sesaat Agnia memegangi ponselnya dengan wajah kusut, duduk tak tenang di atas sofa. Hingga panggilan itu pada akhirnya mendapat jawaban. [Halo?!]


"Lagi dimana?"


...


Akmal mengernyit, baru saja membuka ponselnya dan disuguhkan banyak panggilan tak terjawab dari Agnia. Dan kini.. apa arti tatapan menuntut itu saat panggilannya sudah terhubung.


[Lagi dimana?]


"Kenapa? Kangen aku?" Akmal menyamankan dirinya, mencari tempat paling tentram yang tak terganggu bisingnya di luar sana.


[Iya..] jawab Agnia setengah berbisik, sembari berjaga-jaga jika tak ada siapapun di dekatnya. Akmal sampai terkekeh melihat itu. [Kamu kemana aja?!]


"Tumben.. aku di toko, Mbak.. kenapa memangnya?"


[Belum pulang?]


"Sebentar lagi, nunggu closing."


[Emh..] Agnia tampak mengangguk, ekspresi menuntutnya berangsur hilang.


"Kenapa?"


[Ya gak papa, nelpon suami sendiri emangnya gak boleh?]


"Bukan gitu.."


[Yaudah, aku cuma mastiin. Nanti pulangnya hati-hati, ya? Assalamu'alaikum..]


Akmal menghela, begitu lagi alurnya. Jawaban salamnya sudah didahului bunyi panggilan terputus. Tutt.. Tut.. Tut..


"Wa'alaikumsalam.."


Akmal kembali menghela, mengusap wajahnya. Ucapan Ripda terngiang kembali di kepalanya.


"Mbak Agni bener, kamu terlalu over thingking. Jaga-jaga.. Akmal, apa itu karena rasa bersalah atau justru.. ada sesuatu yang gak bisa kamu katakan dan kamu sembunyikan sendiri."


Beberapa terlalu menyakitkan untuk diingat dan diakui, Akmal mungkin sedang berusaha membodohi dirinya. Hanya saja fakta yang terjadi.. sebab perasaannya yang masih sakit sampai hari ini, apa sebab dan asal muasalnya tak pernah mau ia perdengarkan pada siapapun bahkan pada dirinya sendiri.


Namun ini, ternyata masih sama menyiksanya, makin mengganggunya entah ia jelaskan atau tidak. Sekarang timbul kegalauan baru, haruskah fakta itu ia munculkan ke permukaan? Bisakah dengan menerima itu sepenuh hatinya akan membuat bebannya jadi lebih ringan?


Akmal menghela lagi, tak tau helaan beratnya ke berapa kali. Tak tau, ia tak paham.. kenapa ia bisa sesakit ini sebab kepergian Ulya? Bahkan setelah cinta dan sedihnya hilang, rasa sakitnya masih tertinggal hingga hari ini.

__ADS_1


__ADS_2