Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
Kecewa sebanyak rasa percaya


__ADS_3

...Tak ada yang pasti di dunia ini,...


...Yang kemarin jadi obat terbaik...


...bisa jadi luka terbesar di hari ini....


Tapi luka yang tak terduga..


Datang dari orang yang tak terduga pula.


yang paling kamu sayang memberi paling banyak luka.


♡♡♡


Menjadi lebih kuat setelah satu kisah terendah hidup adalah hak setiap jiwa. Di atas fakta bahwa kehidupan membuat semua mahluk merasakan suka dan dukanya perputaran roda kehidupan.


Terjadi pada Agnia juga, kisah yang menjadi luka abadi di hidupnya. yang hari ini masih terpatri bahkan makin dalam, sebuah luka yang masih belum ia temukan hikmahnya.


Agnia berada di tahun ke tiga masa kuliahnya saat itu, saat Adi melamarnya. Dan kurang dari satu bulan sejak acara lamaran, pernikahan direncanakan segera dilaksanakan.


Adi yang hanya dua tahun di atas Agnia tak perlu waktu lama memutuskan untuk melamar gadis yang dicintainya, apalagi setelah Hafidz yang adalah teman sebayanya lebih dulu menikah. Apalagi Adi dan Agnia sudah delapan tahun bersama, tak ada yang perlu di pertanyakan lagi dalam hubungan mereka.


Tak ada perasaan berarti bagi Agnia saat itu, ketika rumahnya mulai sibuk dengan persiapan pernikahan dan ramainya sanak saudara yang berkumpul. Keluarga besar ayahnya dari tasikmalaya juga keluarga besar ibunya dari solo sudah satu persatu datang.


Senang sudah pasti, menikahi seseorang yang dicintai juga mencintai kita adalah bagian terbaik dalam jalan cinta. Selebihnya Agnia terlalu sibuk pada kegiatan yang sudah terjadwal di beberapa hari setelah pernikahan hingga tak ada lahan untuk merasa tegang di tiga hari menjelang hari-H.


Seorang gadis dengan bergo hitam berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar paling besar di rumah milik Fauzan. Gadis itu membawa tiga bingkai foto di tangannya, tampak antusias, hampir menabrak beberapa orang di jalannya. langkahnya semakin cepat, menuju kamar milik anak gadis satu-satunya di rumah itu.


"Tara.." ucapnya.. lebih dulu menunjukan wajah dari balik pintu.


Agnia mengangkat kepalanya dari laptop, menggeleng heran. "Yesa! Hati-hati.." ucapnya, menatap penuh peringatan pada adik sepupu dari pihak ayahnya itu.


Yang ditatap nyengir, langsung menutup pintu dengan kakinya. Yesa seumuran dengan Akbar, hingga tak heran jika antara keduanya ada kesamaan iseng pun ceroboh.


Ada dua orang di kamar itu saat Yesa masuk, Agnia sicalon pengantin, juga Alisya satu-satunya sahabat Agnia yang ikut menemani di saat penting menyiapkan detail kecil pernikahan.


"Kak Alisya, sini!" ucap Yesa.


Alisya segera bangkit dari duduknya, beranjak menuju Yesa. Ikut menghadap tiga foto berpigura yang diletakan di atas kasur. Satu foto diantaranya adalah potret Agnia bergaun putih serta kerudung hitam berpose manis menghadap kamera. Dua foto lainnya adalah potret Agnia bersama Adi yang serasi, Adi mengenakan kemeja putih berdiri di samping Agnia.


Tiga foto yang sedang Yesa perhatikan bergantian tanpa berkedip itu adalah potret yang diambil di malam lamaran. Sengaja di cetak untuk hari spesial nanti.


"Dipajang di ruang tengah bagus loh, Mbak. Kita pajang satu, ya?"


Agnia mengangguk, sementara matanya tidak beralih dari laptop. Tidak ada kesibukan khusus baginya sebagai calon pengantin yang tinggal beberapa jam menuju akad, kesibukan seperti memilih baju, berhias, tidak ada dalam jadwalnya. Karena itulah yang ia lakukan saat itu hanya melakukan semua kegiatan yang setiap harinya dilakukan. mempersiapkan materi untuk talk show yang diadakan kampus dimana ia sebagai moderator. "Hemm.. boleh."


"Yang mana?" tanya Yesa.

__ADS_1


"Yang mana aja boleh."


"Ih, gak bener dia mah!" protes Yesa. Membuat Agnia mendongak, tersenyum dengan reaksi sepupunya itu. Yesa beralih menatap Alisya yang di matanya lebih bisa di ajak bicara. "Menurut Mbak Alisya bagusan mana?"


Alisya menghela napas, menilik kembali foto-foto itu. Merapatkan bibirnya, menunjukkan lesung pipit manis di pipinya. Tampak berpikir. "Semuanya bagus." ujar Alisya. Tangannya kemudian meraih satu foto paling kanan. "Tapi yang ini top sih." ucapnya sambil melirik Yesa, meminta pendapat. "Serasi gitu, cakep. Ada vibes couple goalsnya."


Yesa mengangguk setuju. "Setuju akumah, menurut Mbak, gimana?" tanya Yesa pada Agnia. "Kita pajang yang ini aja, ya?"


Menimbang, Agnia diam sejenak. "Gak usah, lah." ucapnya kemudian. "Yang itu pajang di sini aja."


"Dih! Diamah.." Yesa menatap Agnia heran. "Tadi katanya yang mana aja, giliran dipilihin yang itu jangan."


"Yang menurut kalian paling bagus, lebih baik dipajang disini. Jadi koleksi pribadi, gak usah dipamerin."


Demi mendengar kalimat itu Yesa dan Alisya langsung bersitatap, saling melempar senyum.


"Manis banget sih calon pengantin!" Alisya tersenyum menatap Agnia dengan tatapan sepenuh hati.


****


Bayangan senyum tulus terakhir Alisya yang Agnia lihat beberapa tahun silam kini berganti dengan bayangan wajah Alisya yang baru saja Agnia lihat tadi, wajah yang mengguratkan keterkejutan. Selain itu Agnia tidak bisa membaca atau pun menebak apa yang tersirat dari ekspresi spontan Alisya. Sudah hampir empat tahun sejak terakhir kali pertemuan mereka. Jika sebelumnya mereka begitu dekat, hari ini mereka asing bagai tak pernah ada sayang antara keduanya di masa lalu.


Agnia melangkah pelan menapaki tangga, menuju lantai dua rumahnya yang sebenarnya jarang ia datangi. Kecuali jika akan menuju kamar Akbar, atau menuju kamar kedua orang tuanya.


Kali ini berbeda, langkahnya berbelok menuju kamar paling kanan. Kamar paling besar di rumah itu, kamar yang sejak lama tidak lagi ia tinggali.


Ini pertama kalinya ia berani mendekati kamar itu sejak tiga tahun berlalu. Kali ini ada sesuatu yang menggerakan hatinya untuk datang, sesuatu yang tidak disadari Agnia merupakan proses penerimaan diri atas kesakitan hari lalu.


"Pergi dari sini, Alisya!" itulah kalimat terakhir yang dilontarkan Agnia pada Alisya, Tepat di kamar yang saat ini Agnia masuki. Bayangan peristiwa itu begitu saja muncul di pikirannya ketika kamar itu dibuka. Seakan bayangan Alisya yang pergi dengan tangis nyata terulang di depan matanya.


Agnia menatap sekeliling, menyadari suasana sama sejak beberapa tahun lalu ia tinggalkan. Kamar itu tetap sama, tampak rapih dan bersih, tidak terlihat tak berpenghuni. Kamar itu memang dikosongkan, tapi selalu dipakai jika Hafidz dan Puspa menginap.


Agnia tidak pernah lagi masuk ke kamar itu, meski hanya untuk merapihkan. Jika harus membersihkan seisi rumah, maka kamar itu jadi pengecualian. Semua benda di kamar itu memiliki traumatis tersendiri bagi Agnia, yang hanya akan mengingatkannya pada kisah pilu.


Namun saat ini Agnia mengamati setiap sudut kamar itu, seakan mencari bagian mana ruangan ini yang membuatnya sesak. Mata berkaca-kacanya berhenti pada satu-satunya foto yang tersisa dari kenangannya bersama Adi. Foto dirinya sendiri. Potret dirinya bergaun putih, potret yang diambil di malam lamaran. Mata Agnia turun, melihat pada foto itu, ada cin-cin yang terpasang di jarinya.


Foto itu membuat ada rasa sakit yang menusuk untuk sesaat, lihatlah ia hari itu sebagai perempuan paling bahagia dengan senyuman paling tulus. Sementara hari ini, ia yang berdiri menatap potret itu sebagai perempuan patah hati yang tak lagi memiliki senyum bahagia itu. Untuk sesaat getir Agnia rasakan. TakdirNya memang tak bisa ditebak, pun tak boleh dipertanyakan dihari ini.


Agnia beranjak menuju ranjang, duduk menghadap jendela besar yang menuju balkon. Melihat angit biru yang tampak dari tempatnya duduk, namun menerawang lebih jauh dari langit yang tampak biru itu.


Akbar berdiri di ambang pintu, menatap lega ketika sosok yang dicarinya ada. Sejak tadi ia memang mencari Agnia, ia takut saja jika kakak perempuan satu-satunya ini kembali terpuruk, yang ingin ia lakukan dan yang bisa ia lakukan saat ini hanyalah menemani saat sulit Agnia.


"Mbak!"


Agnia menoleh, melihat Akbar yang ikut masuk dan berdiri tak jauh darinya.


"Ngapain di sini?" tanya Akbar lembut. Sama seperti Agnia, dirinya pun tak tau apa hendak dikata. Pertemuan tak diharapkan tadi membuat segala hal menjadi rumit.

__ADS_1


"Iseng." ujar Agnia asal. "Siapa tahu mbak nemuin sesuatu. Seusuatu seperti.. keikhlasan?" Tandas Agnia.


"Ketemu?"


"Ya pasti.. " Agnia menjeda, menatap Akbar. "enggaklah. Keikhlasan tidak ditempuh dengan seperti ini." jawab Agnia jujur.


Agnia menghela napas, menatap langit yang terlihat biru. "Tempo hari mbak bilang.. mbak lihat mereka tapi gak papasan. Terus mbak bilang kalo aja kita papasan mungkin kisahnya akan beda. Tapi nyatanya gak ada yang berbeda setelah mbak ketemu Alisya, gak ada yang bisa mba lakukan bahkan untuk diri mbak sendiri."


Akbar menyimak.


"Kamu tau kenapa mbak gak mau lagi nempatin kamar ini?"


"Bukan karena mbak sudah membayangkan hidup satu ruang bersama Adi, tapi.." Agnia menjeda, mengatur napas. Tanpa dilihat Akbar, air mata menetes di pipi Agnia. "Ada banyak kenangan sama Alisya di kamar ini." ucapnya dengan suara bergetar. "Mbak.. mbak ribuan kali lebih kecewa pada Alisya dibanding pada Adi. mbak selalu bertanya kenapa dia bisa berpikir untuk menyakiti mbak saat dia adalah orang terdekat mbak."


Hening, hanya isakan yang terdengar. Ada rasa sakit luar biasa yang ditunjukan Agnia lewat tangisnya. Akbar diam, kininia mengerti kalimat;


...yang paling kamu sayang memberi paling banyak luka....


Rasa percaya dan kecewa lah yang menjadi sumber luka dalam itu.


***


"Tumben Akbar langsung pulang." ucap Ardi, duduk berselonjor bersama lima orang lainnya di ruang MBI. menyantap kudapan ringan bersama kopi yang masih mengepul.


"Biasa.. ada panggilan." jawab Fiki.


Ardi mengangguk, menyeruput kopinya. "Eh, Akmal. ente gak ngopi?"


Akmal menggeleng. "Enggak. kenyang gue"


"Ngopimah gak harus nunggu lapar kali, justru pelengkap saat kenyang." potong Fiki, menatap Akmal.


"Yeh.. itumah ente aja, Ki"


Fiki nyengir, iya juga. "Ngomongin kopi, gue jadi inget." ujar Fiki, menarik perhatian semua orang. "Kalo aja Mbak Agni gak setuju jadi pembicara nanti, bukannya kopi yang kita seruput sekarang..."


"Tapi?"


"Omelan Habib." jawab Fiki. "Enak pasti tuh, Pak Habib marahin kita. jangankan salah, bener aja dia cari terus kesalahan kita."


"Itu dia, satu-satunya cara supaya dia gak cari gara-gara, kita harus lebih dulu bungkam mulut dia." tambah yang lain, tau persis permasalahan utama dalam organisasinya itu.


Akmal mengernyit, terpokus pada hal lain. Mbak Agni? segera ia membuka ponselnya, mencari desain spanduk yang dikirim Kaivan. penasaran dengan sesuatu.


"Akmal, kenapa lagi ente?" tanya Ardi, yang sadar kernyitan di dahi akbar semakin kentara setelah melihat ponsel.


Akmal mengerjap, menggeleng. "Enggak, gak papa." Akmal tersenyum, kembali menatap layar ponselnya. ia baru tahu jika Mbak Agni yang pernah ia dengar dari Akbar, Fiki dan Ardi sama dengan Agnia yang fotonya pernah orangtuanya tunjukan tempo hari.

__ADS_1


__ADS_2