Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
100.


__ADS_3

Kupilih sebab terbaik,


Memisahkan diri dengan kamu, wahai yang tersayang.


Memberimu hidup sempurna itu harapannya, meski melalui pedih susah perpisahan.


Namun nihil, bertahun sudah baru kusadari..


Ternyata berpisah, merupakan kiamat bagi kita.


Bak dikubur hidup-hidup, demikian kita tanpa satu sama lain.


...


Pria yang khas dengan tatapan penuh emosi itu terdiam sendirian, duduk di kursi sudut kamarnya seraya menatap kosong ke arah jendela. Tak satu kata pun terucap dari bibirnya, hanya helaan napas teratur yang mengiringi tatapan kosong penuh kesedihan itu.


Siapa yang bisa menebak dalamnya hati seseorang? Wildan yang biasanya agresif kini hilang semangat untuk berontak, ternyata kini dirinya berada pada fase sadar bahwa segala upayanya hanya akan berujung sia-sia. Toh kini ia sudah dibuang oleh ayahnya, dirinya kini tak memiliki siapapun.


Pintu kamarnya terbuka, Wildan menoleh sekilas untuk kemudian kembali memaku tatapannya pada arah semula.


Wiryo yang datang, demi sesuatu yang ingin ia sampaikan pada anak bungsunya. Sudah berjanji pada Gian, akan mengatakan semua yang sejak lama buram bagi Wildan.


Melihat Wildan yang sengaja tak menggubris, Wiryo melangkah mengikis jarak. Tatapannya melembut, duduk di kursi yang bersebrangan dengan Wildan.


Wildan membuang napas gusar, benar-benar tak siap jika harus dimarahi lagi. "Apa lagi sekarang?" tanyanya datar, menoleh malas sang ayah. "Aku udah sarapan, juga mandi seperti perintah Ayah. Dan aku gak buat keributan."


Wiryo menghela, masih menatap lembut anak bungsunya. Tau betul jika dua hari dikurung sudah cukup menguras tenaga Wildan, anaknya itu tak menunjukkan tatapan berapi-apinya dan bahkan dari intonasinya bukan tersnegat sinis ataupun sebal, melainkan lelah.


"Sudah saatnya kamu keluar, masalahnya sudah berakhir."


Wildan mendengus. "Buat apa? Aku keluar pun akan kembali nyari masalah, kan?"


"Maaf soal ucapan ayah saat itu."


"Kenapa minta maaf? Itu fakta. Aku gak seperti Gian, dan gak akan pernah sama."


"Sudahlah, dengar.. keluar lah dari kamar ini dan pergi minta maaf pada gadis itu, juga berterima kasih."


"Aku gak mau." jawab Wildan segera. "Aku gak mau menerima ataupun mengakui kebaikan mereka. Ayah katakan saja pada mereka, kalo aku lebih baik di penjara, sekarang juga."


Wiryo menghela kembali, diam beberapa saat untuk memikirkan kata apa yang harus ia gunakan pada anak bungsunya. "Itu memang kebaikan mereka, karena itu kita harus menghargai. Dan jangan sombong dengan mengatakan siap dipenjara. Masuk penjara bukan hal yang mudah, ayah tau persis rasanya."


Wildan untuk sesaat menoleh, penasaran dengan ungkapan ayahnya. Tau persis rasanya dipenjara?


"Lupakan." ucap Wiryo lagi, seakan tak mau anaknya penasaran dengan hal itu. "Sekarang akan ayah katakan sesuatu yang selalu kamu ingin tau.."


Wildan menoleh malas, menatap lama. "Tentang apa? Ibu? Aku sekarang gak tertarik."


"Dengarkan saja.." Gian datang, kini bergabung bersama ayah dan adiknya di kamar itu. Melangkah menuju arah jendela, berdiri tepat di dekat Wildan.


Wildan merotasikan matanya, tak punya ide dengan apa yang direncanakan dua orang di hadapannya.


"Semua ini akan menjawab pertanyaan lo.. tentang kenapa gue selalu membela ibu." jelas Gian, seraya menghela menatap lembut adiknya.


Wiryo mengangguk, untuk kemudian menghela napas panjang seraya melirik dua anaknya bergantian. Setelah dirasa siap baik dirinya maupun kedua putranya, pria kawakan itu mulai bicara.


"Semua salah ayah, yang membuat hidup kalian seperti ini itu ayah." Wiryo mengarahkan tatapannya pada Wildan. "Seandainya ayah, tidak mencintai wanita miskin itu.. kita tidak akan berakhir seperti ini."


Wildan menoleh, wanita miskin?


"Ya. Wanita miskin itu, ibu kalian. Ayah sudah bersalah dengan mencintai wanita itu, gadis dengan tutur lembut yang menjadi incaran semua orang."


Untuk sesaat Wiryo menjeda, menatap dalam mata putra bungsunya. "Apa itu cukup untuk menjelaskan bagaimana baiknya dia?"


"Apa yang kamu dengar dari kakek nenekmu, semuanya tidak benar. Bukan ibumu yang kotor, tapi mereka lah yang kotor."


"Ayah salah, ayah pikir setelah melapas ibu kalian, mereka akan berhenti. Tapi ternyata tidak." Wiryo mengendus pelan, terhanyut suasana. Sesaat suaranya lembut, kemudian kesal penuh penekanan.


"Dengar, tentang ayah yang tidak mencintai ibumu.. itu salah. Saat itu, meski pernikahan kita ditentang keluarga besar Ayah juga meski ibu kalian menyerah.. ayah yang bersikeras, hingga kita tetap menikah dan bahagia.. setidaknya untuk beberapa tahun yang berharga."


"Saat itu.. ayah tidak tau, jika menikahi ibu kalian adalah kesalahan besar. Dan jadi kesulitan tersendiri bagi ibumu." Wiryo kembali menjeda, kini menunduk dalam. "Ayah tidak pernah tau jika sesulit itu yang ibumu alami. Itu, menjadi kesalahan pertama ayah."


"Hingga beberapa tahun kemudian, setelah Wildan lahi.. Untuk pertama kalinya keluarga kita mengalami kesulitan.. usaha ayah bangkrut, ayah dipolisikan karena tidak bisa membayar gaji karyawan."


"Saat itu, untuk pertama kalinya juga kakek kalian datang menemui ibumu. Hanya saja bukan untuk memberi restu, tapi.. membantu dengan syarat."


"Setelah itu kalian pasti tau kelanjutannya." tutup Wiryo segera, mengakhiri haru yang terasa di hati kedua putranya. Terlebih dirinya yang menghadapi itu.


"Kesalahan ayah kedua, ayah mengiyakan saat ibumu ingin berpisah. Ayah pikir itu akan baik bagi dia juga kalian.."


"Tapi lihat hari ini! perpisahan kita, tidak membawa kebaikan sedikit pun baik untuk ibu kalian.. atau pun kita. Mereka, kakek dan nenek kalian itu.. juga paman dan bibi kalian.. mereka tetap mengganggu ibumu bahkan menghasut Wildan."


Wiryo menghela napas panjang, tak mau lebih lama mengungkit masa lalu itu. Matanya tertuju pada Wildan yang tak bergeming, kepalanya tertunduk.


"Karena itu, berhenti menghukum dirimu dengan bersikap bodoh. Kamu terlahir dari wanita luar biasa, hanya saja kita ataupun ibumu.. tidak beruntung dengan dikaruniai keluarga yang buruk."


Wildan masih tak bergeming, kepalanya menunduk sepanjang cerita itu terasa gejolaknya. Kepalanya sibuk mencerna, menyesap tiap proses yang seakan terbayang di depan matanya. Hingga setelah beberapa saat hening, wajahnya terangkat. Matanya menatap nanar, sorotnya kosong.


"Kenapa.. ayah gak pernah katakan semuanya?" tanyanya dengan suara bergetar, menoleh sang ayah perlahan. "Apa aku tidak lebih layak untuk tau dibanding kak Gian?"


Diam, Wiryo tak bisa menjawab. Bahkan matanya tak bisa membalas tatapan Wildan, ia terlalu malu untuk itu.

__ADS_1


Wildan mengendus saat tak mendapat jawaban, entah harus bereaksi apa. Hatinya yang sudah sejak lama mati, hingga tak mampu menangis kini merasakan gemuruh berbeda. Jika selama ini hanya kemarahan yang bisa ia keluarkan, hari ini lebih dari itu. Kini ia kesal, marah, juga ingin sekali menangis.


Wildan bangkit dari duduknya, mendekat ke arah Gian yang tinggal satu langkah dari kursinya. Tatapannya sulit diartikan, tangannya cepat sekali menyambar kerah baju kakaknya itu.


Gian tak mengelak, membalas tatapan tajam Wildan dengan penuh sabar. Kemarahan Wildan saat ini, sangat beralasan.


Wildan mengerjapkan matanya beberapa kali sebel bicara, menghalau air mata yang menghangat di ujung matanya. Tatapan pilu begitu kentara dari sorot matanya, seakan meminta tolong. Perasaan ini, begitu sakit ia ras.


"Lo tau seberapa lelahnya gue hidup dalam kebencian ini?" tanya Wildan penuh penekanan. "Kenapa lo gak pernah ngomong, kalo tau semuanya? Lo sengaja, hah?!" Wildan menarik kerah baju kakaknya makin erat. "Lo mau gue.. selamanya hidup dengan kebencian ini?"


Gian tak mengalihkan tatapannya dari sang adik, siap mendengar beban yang sedang berusaha adiknya keluarkan.


"Setiap saat.. gue benci dengan kehidupan gue, gue selalu bertanya kenapa kehidupan gue gak seperti orang diluar sana. Gue bertanya kenapa gue dibuang? Kenapa gue.. kenapa gue lahir dari wanita kejam?"


"Dan gue bertanya kenapa gue gak bisa kayak lo, lo yang bisa seikhlas itu menerima kenyataan. Tapi ternyata, gue salah. lo bahagia karena lo tau kisah ini sejak awal, sedangkan gue? gue membenci segala hal dalam diri gue yang mengingatkan gue sama ibu."


"Seburuk itu.." Wildan menjeda, memalingkan wajahnya serata tangannya melepas kasar kerah baju Gian. "Seburuk itu gue menilai ibu gue sendiri."


"Lo tau rasanya? Enggak, lo gak akan pernah ngerti. Dan lo sama Ayah berhasil, berhasil membuat gue merasa gak berguna sepanjang hidup."


Gian masih sama, diam. Begitupun Wiryo. Tak bisa mencegah saat Wildan benar-benar pergi dengan marahnya tanpa mengatakan hal apapun lagi.


Wiryo menghela, jelas ini kesalahannya. Ia tak pernah tau, jika diamnya membawa akibat buruk. Sama seperti saat ia melepas mendiang sang istri, diamnya juga kesalahan yang besar.


.


.


.


.


Suasana kediaman Fauzan kembali ramai, Agnia disambut senang kedua orang tuanya juga Zain. Fauzan terhusus, mengosongkan waktu ceramahnya demi anak gadis kesayangannya.


Agnia sudah tersenyum sedari jauh, bahkan sebelum turun dari mobil Akmal. Sebab melihat Zain yang antusias bukan main, dirinya pun amat merindukan keponakannya itu.


Akbar membukakan pintu, dan Agnia sudah kembali menyentuhkan ujung sendalnya ke tanah.


"Aku bantu?"


"Gak usah."


Akbar mengangguk, langsung mengambil tas besar bawaannya tadi ke dalam rumah.


Agnia masih disana, menoleh Akmal yang masih dalam mobil di jok kemudi dan fokus pada ponselnya.


"Kamu gak masuk?" tanya Agnia.


"Emh.. enggak deh, Mbak. Aku ada urusan mendadak."


Klise sekali jawaban Akmal, Agnia sesaat hampir saja membuka mulutnya bertanya urusan apa. Namun langsung ingat, jika ia tak punya hak kepo pada Akmal.


"Yasudah, terima kasih ya.." ujar Agnia, langsung diangguki Akmal seraya tersenyum.


"Oiya.." Agnia mengurungkan langkahnya, kembali menghadap Akmal yang tadinya sudah akan menyalakan mobilnya kembali.


Akmal mengernyitkan dahinya melihat Agnia yang justru diam, tampak malu-malu dan mengulum bibirnya untuk sesaat.


"Emh.. hati-hati.."


Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat Agnia tersipu saat mengatakannya, juga Akmal tak bisa menutupi senyum gemas di wajahnya.


"Iya, Mbak."


...


Zain senang sekali, langsung berlari saat deru mobil terdengar masuk ke halaman rumah luas itu. Namun wajahnya tak sesenang sebelumnya, kala melihat wajah Agnia yang masih lebam di beberapa tempat.


"Kenapa?" Agnia yang bertanya, saat Zain tak jadi memeluknya.


"Aunty wajahnya kenapa?"


Agnia balas tersenyum, menarik Zain ke pelukannya. Tak berniat menjawab, tak mau juga berbohong. Sesaat seperti itu, Agnia rindu sekali pada ponakannya.


Zain segera lupa, kakinya ikut saja saat dibawa masuk menuju rumah. Tak sempat melihat uncle barunya yang sedang memperhatikan di dalam mobil, Akmal terkekeh melihat pemandangan itu.


"Alhamdulillah.." Agnia memekik pelan, lega sekali. tau-tau sudah tiba di rumahnya dan sudah bersantai lagi di atas sopa, matanya melirik kiri kanan seakan meninggalkan rumah itu dalam waktu lama.


Zain berdiri menghadap tantenya dengan alis yang bertaut, bukan soal luka di wajah Agnia melainkan hal lain. Mana? ia tak melihat oleh-oleh khas pantai dibawa Auntynya.


"Aunty, mana oleh-olehnya?" tanya Zain.


"Oleh-oleh?" dahi Agnia berkerut, tak paham arti pertanyaan Zain yang diiringi tatapan serius itu. "Maksudnya oleh-oleh.."


"Zain taunya kamu ke pantai." sela Khopipah, datang dari dapur membawa segelas air untuk Agnia. "Akbar yang bilang." tandasnya seraya meletakkan segelas air itu di atas meja.


"Oh!" Agnia terkekeh, tak heran kenapa Zain senang sekali kala melihatnya. "Makasih, Bu."


Agnia tak menjawab, lagi-lagi tak mau melanjutkan kebohongan Akbar. Tangannya justru terulur meraih segelas air itu, meneguknya perlahan.


"Mana?" tagih Zain, masih menatapnya serius. Bahkan menunggu hingga Agnia selesai dengan minumnya.

__ADS_1


Akbar pas sekali turun dari kamarnya, hendak kembali ke depan. Lupa, tak sempat mengajak Akmal masuk.


"Mbak, Akmal udah cabut?"


"Udah, kayaknya.." jawab Agnia singkat, sesaat kemudian Agnia tersenyum. Melirik Akbar dan Zain bergantian.


"Oleh-oleh, ya? Tuh ada sama Uncle." tunjuk Agnia pada Akbar. "Minta sama Uncle."


"Hemh?" Akbar mengernyit, sama bingungnya dengan ia tadi. "Apa?"


"Mana oleh-oleh?"


"Oleh-oleh?" Akbar masoh mengernyit, menoleh Agnia yang menatap ke arahnya dari sopa.


"Oleh-oleh dari pantai, kamu lupa?" sindir Agnia.


"Ah!" Akbar mengangguk, wajahnya setengah panik seraya jarinya menggaruk tengkuknya tak gatal. "Itu.." Yang berasal dari mulutnya kembali pada dirinya, benar saja kalimat itu. Akbar dibuat bingung sebab kebohongannya sendiri. "Oleh-olehnya masih di jalan."


...


"Lain kali bohong lagi sama Zain! biar tau rasa kamu." ucap Agnia, setelah Zain pergi dibawa Khopipah.


Akbar mengendik, mana tau jika Zain sepintar itu dan akan ingat dengan ucapan asalnya yang sudah dua hari? Ah! bahkan itu tiga hari lalu.


"Oiya, kamu belum jawab pertanyaan Mbak." Agnia ingat akan hal lain, mengalihkan obrolan segera.


"Soal Gian?"


"Iya."


Akbar mendecak. "Emang kenapa si Mbak, penasaran?"


"Ya mau tau, lah.. Obrolan urusan cowok seperti apa yang kamu maksud."


Akbar mendesah pelan, sebal. Kakaknya itu masih saja ingat dengan pelesetan asalnya kemarin, persis Akbar. Jelaslah Akbar bukan saja mewarisi gen kedua orang tuanya, tapi juga tantenya Agnia ikut serta memberi pengaruh khusus.


Akbar menghela. "Obrolan itu, ya?"


...


"Waktu Mbak Agni sendiri, bener-bener sendiri.. kalian kemana? Kenapa setelah dia dijodohkan.. satu persatu kalian muncul?" tanya Akbar, kali ini benar-benar mengeluarkan pertanyaan yang sejak lama ia simpan.


Gian tak langsung menjawab, sesaat tampak mencerna pertanyaan itu. Bak mengulang lagi pertanyaan itu di kepalanya.


"Kenapa?" Gian membeo, bertanya pada dirinya sendiri. "Mungkin itu yang dinamakan tak berjodoh? Meskipun saya sudah memperhatikan kakak kamu sejak lama, kenyataannya.. lagi dan lagi saya kurang beruntung."


Akbar memasang wajah geli, jijik saja di telinganya ucapan Gian itu terdengar. Merasa jika Gian terlalu berlebihan, bahkan jika pun cinta. Apa harus merasa tak beruntung? Perempuan itu banyak! demikian di pikiran Akbar.


"Saya serius, jangan menatap saya seperti itu."


Akbar nyengir. "I know.. tapi apa Lo gak ngerasa terlalu berlebihan, kak? maksud gue.. cewek itu banyak lho! Dan cowok sehebat lo.."


"Bukan berlebihan." potong Gian. "Sudahlah, kamu hanya akan mengerti kalo sudah menemukan seseorang yang seperti Agnia bagi saya."


Akbar menghela, mungkin. Namun tak tau apakah ia akan sebucin itu, untuk hari ini ia masih yakin jika Gian terlalu berlebihan.


Sesaat hening, Akbar berpikir sejenak. "Jadi setelah ini gimana?"


"Apanya?"


"Masih mau usaha atau.."


"Berhenti."


Akbar mengernyit, ucapan Gian berbanding terbalik dengan tekadnya? perasaan macam apa itu!


"Maunya saya usaha, tapi situasinya berbeda. Seperti yang kamu katakan, saya datang saat Agnia sudah bersama orang lain. Sialnya.." Gian menoleh Akbar, menyeringai tipis. "Teman kamu sangat sempurna untuk Agnia, saya gak bisa memposisikan diri diantara mereka." papar Gian.


Lagi dan lagi ucapan Gian membuat Akbar tak bisa berkata-kata, tatapan yang sulit diartikan kembali muncul.


"Kenapa? Saya pengecut kah?" tanya Gian.


Akbar menggeleng. "Bukan, justru gue heran. Gue bingung, kenapa orang sehebat lo bisa mencintai seperti itu?"


...


"Astaghfirullah.." Agnia beristighfar seraya menggeleng takjub, spontan itu memancing tatapan kesal adiknya yang bahkan masih awal menjelaskan.


"Apa?" pelotot Akbar. "Pake istighfar segala.." keluhnya.


"Kamu beneran nanya kayak gitu? Gila ya.. gimana kalo dia pikir itu suruhan Mbak? Mau ditaruh dimana muka mbak."


"Gak akan." jawab Akbar yakin sekali. "Tenang aja.. jadi muka Mbak aman, tetap pada tempatnya."


Agnia mendengus sebal, Akbar menjengkelkan. Kenapa juga bertanya hal aneh pada Gian?


"Mau kemana? Aku belum beres cerita." Akbar menatap bingung, saat Agnia malah bangkit.


"Cerita aja sama tembok! Mbak gak tertarik lagi!"


Akbar menghela, kembali ingat ucapan Akmal tentang dirinya yang sama ambekannya dengan Agnia. Soal Agnia ia setuju, tapi dirinya?

__ADS_1


__ADS_2