
Luka itu butuh lebih banyak waktu...
Masih harus diobati,
Masih harus terus dibiasakan..
Hingga di mana pun luka itu terletak,
Hati ini menjadi kebal akan nya.
***
Agnia kembali ke ruang kelasnya, duduk di kursinya dengan wajah resah. Di hatinya berkecamuk saat ini. Bukan rasa iri atau rasa benci yang bertahta, namun fakta bahwa hubungan mereka tak lagi sama sungguh menyakitkan.
Harus bagaimana dirinya bersikap? Bahkan hanya dengan melihat Raina, sudah cukup membuat ingatan menyakitkan itu kembali ke permukaan. Agnia bisa melihat mata Adi dan senyum Alisya di anak itu.
Yang paling menyakitkan bagi Agnia, adalah kenyataan bahwa Adi dan Alisya, mereka hidup bahagia bersama bahkan setelah meninggalkan luka abadi baginya.
Agnia mengambil napas dalam-dalam, berusaha menguatkan dirinya. Sebab mulai saat ini, ia harus kembali terbiasa bertemu dengan orang-orang di masa lalunya. Bahkan mungkin juga Adi.
Keresahan yang tak berbeda dirasakan pula oleh Alisya. Ada rasa rindu, baginya Agnia tetap jadi satu-satunya sahabat. Ada pula rasa bersalah, dirinya sadar pernah sangat menyakiti Agnia. Ada pula rasa sakit, teringat Adi yang di meja tadi pagi menawarkan anak mereka sekolah di tempat lain.
Ternyata Agnia, itu alasannya.
*
*
*
Akbar berangkat ke kampus dibonceng ojeg online, turun dari motor itu dengan wajah lesu. Bukan sebab gengsi naik ojeg, namun pagi ini dirinya sudah diceramahi sebab 'tidak berhati-hati'. Dan Akbar tak bisa banyak membela dirinya sendiri, hati kecilnya mengaku salah.
Akmal yang lebih dulu datang, hanya beberapa menit lebih awal tersenyum, menunggu Akbar mendekat. Sedangkan Akbar, tertunduk lesu. Abai akan keberadaan Akmal.
"Harusnya lo telpon gue.. Gue bisa jemput."
Akbar mendongak akhirnya, balas menatap Akmal.
"Jangan sok akrab!" ucap Akbar, bercanda. "Orang bisa salah paham!"
"Siapa?"
Akbar menoleh ke sekumpulan gadis yang tengah memperhatikan mereka berdua dari koridor kampus. Akmal mengikuti arah tatapan Akbar, tersenyum. Itu ternyata.
__ADS_1
"Jangan senyum!" pelotot Akbar, bisa melihat antusias para mahasiswi setelah mendapat senyum dari Akmal. "Mereka bilang senyum lo meresahkan." tambah Akbar, mencebik di akhir ucapannya. Tak setuju, merasa lebih manis senyumnya dibanding senyum Akmal.
"Itu.. Spontanitas."
"Hih.. Sok ganteng.."
Para mahasiswi yang melihat pemandangan itu takjub, dua orang dengan reputasi paling baik di kampus berjalan bersama. Bak bintang idola, mereka jadi pusat perhatian.
"Oiya.. Lo hubungin Mbak Agni gak akhir-akhir ini?"
Akmal menggeleng. "Kenapa?"
"Cuman nanya.. Tapi harusnya lo usaha dong.. Kalo serius.." ucap Akbar, mengendikkan bahunya. Menekankan kata 'kalo serius'.
"Masalahnya.. Kakak lo gak mempan dengan hal-hal kayak gitu.. Harus pelan-pelan, ditarik hatinya perlahan. Setelah itu, biar dia yang memutuskan." jawab Akmal. Lantas menghela pelan. "Untuk beberapa perempuan, mereka lebih suka diberi tunjuk sikap cuek. Bukan begitu?"
"Entahlah.." Akbar mengendikkan bahunya, tak paham, tak ingin paham, tak tahu, dan tak ingin tahu. "Gue bukan cewek, gue gak ngerti perasaan mereka."
"Ya.. Begitu, memahami perasan kaum hawa butuh waktu lebih dari seumur hidup. Hanya perempuan yang bisa memahami perasaan perempuan lainnya."
Akbar mendengus, tersenyum getir. Teringat hal lain. "Meski begitu, perempuan juga bisa menjadi yang paling menyakiti untuk perempuan lainnya."
Akmal mengangguk, paham apa yang terlintas di kepala Akbar hingga kalimat itu terlontar dari mulutnya.
.
.
.
Kelas untuk anak usia dini sudah dimulai, Agnia layaknya hari pertama sekolah pada tiap tahunnya, membantu anak-anak mengenali benda-benda di sekitar terlebih dulu.
Dalam kelas bermain, belum diajarkan bagaimana membaca dan menulis. Mereka masih sangat kecil, lebih banyak tak mengerti nya dibanding fokus. Beberapa saat menangis, beberapa saat bertengkar.. Itulah proses paling mendatangkan dalam prodesi ini.
.
.
Alisya menunggu, duduk bersama wali murid yang lain di halaman. Mereka sibuk berbincang, satu dua membawa produk jualan baju hingga makanan. Alisya cepat sekali berbaur, ikut bergabung pada setiap obrolan. Di bibirnya tersungging senyuman, namun hatinya sama berkecamuk seperti yang dirasakan Agnia.
"Si Ade berarti di ajarnya sama Mis. Agnia, ya.." ucap salah satu wali murid, bertanya pada Alisya.
Alisya mengangguk. "Iya. Raina baru masuk tahun ini, baru masuk hari ini malah.."
__ADS_1
"Memangnya umurnya berapa?"
"Tiga setengah tahun.."
"Oh.. Masih kecil, seumuran anaknya Bu Tami. Indra namanya.."
Alisya kembali mengangguk, untuk di beberapa topik selanjutnya juga hanya mengangguk dan tersenyum. Namun kala obrolan ibu-ibu wali murid ini tiba membahas Agnia, Alisya spontan menatap tanpa berkedip. Sekian lama dirinya tak mendengar kabar Agnia, di sini ia tahu setidaknya sedikit hal yang berkaitan dengan sahabatnya itu. Atau.. Jika lancang, mungkin mantan sahabat?
"Tapi, yang saya denger.. Katanya Mis Agnia itu dulu pernah gagal nikah. Makanya sampe sekarang masih sendiri.."
Alisya menghela, ibu-ibu ini benar-benar..
"Apa hubungannya?" timpal yang lain. "Gagal ya ikhtiar lagi.."
"Siapa tahu seberapa dalam luka seseorang? Mungkin ada rasa trauma.. Siapa tahu?
"Pantas aja.."
"Pantas memang.. Yang gak pantas itu mulut kita. Gimana kalo Bu Agnia denger?"
Ibu-ibu itu akhirnya diam, mengangguk. Masing-masing berpikir topik obrolan apa yang tepat untuk mereka mulai. Begitupun Alisya yang hatinya sama tak tenang. Mendengar obrolan ibu-ibu di depannya ini membuat satu sudut di hatinya juga teriris.
.
.
.
"Halo.." Agnia mendekat, menatap gadis berkuncir kuda dengan senyum. "Raina.. Mau, ya.. Kedepan? Kita perkenalkan diri." ucap Agnia, meyakinkan gadis berpipi gembul itu supaya berhenti manyun.
"Kan kalo tak kenal maka tak sayang.. Nanti supaya temen-temennya kenal. Dan Raina punya banyak teman.." bujuk Agnia, mencoba selembut mungkin pada Raina yang menyembunyikan wajahnya.
"Gimana?"
Anak itu bangkit, menerima uluran tangan gurunya. Berjalan bersama Agnia menuju depan kelas. Tampaknya Raina tak berbeda dari Alisya, selalu bisa ditaklukan dengan ucapan-ucapan lembut.
Alisya diam-diam melihat itu dari balik kaca, teringat bagaimana Agnia setiap kali membujuknya. hatinya lebih sakit lagi ketika dilihatnya Agnia tersenyum tanpa beban, memperlakukan Raina sama dengan yang lainnya. Padahal ia pun tahu, tak mudah bagi Agnia menghadapinya. Dan Raina, adalah cerminan dirinya dan Adi. Tak terbayang seberapa kerasnya Agnia menahan diri.
Agnia, meski hatinya teriris setiap melihat Raina yang memiliki mata Adi dan senyum Alisya, tetap tersenyum. Memberi dukungan pada Raina. Tak sedikit pun di hatinya rasa kecewa, dan jika pun ada, maka Raina tidak seharusnya mendapat imbas kekecewaan itu.
Untuk dirinya yang sudah kuat, berbesar hati, dan penuh kasih sayang, Agnia bersyukur. Memberikan penghargaan terbaik pada dirinya sendiri.
"You did it, Agnia.." seakan dirinya berbicara pada dirinya yang lain. Suara hati dari datu-satunya orang yang paling peduli. Dia itu, adalah dirinya sendiri.
__ADS_1