Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
202. End--


__ADS_3

Begitulah bagaimana semuanya membaik, masalah paling mengganggu di hati Akmal berakhir begitu cepat tanpa disangka. Tak ada yang tau, jika Govin terenyuh bukan saja sebab kalimat Agnia namun juga sebab pertemuannya dengan ibu mendiang Ulya. Banyak yang ia tau, banyak yang ia dengar tentang Akmal meski tak bertanya.


Perempuan paruh baya yang kini tak punya siapapun itu dengan senyum tanpa beban menceritakan kebaikan Akmal. Hal-hal besar abai ia lihat, bahwa Akmal seterpuruk itu di beberapa tahun ke belakang. Ternyata ia terlalu terbakar emosi saat melihat Akmal dengan kehidupan barunya, seakan dirinya berhak untuk marah.


Govin menghela panjang, masih duduk beberapa saat di cafe itu selepas Akmal pergi. Mulai hari ini ia putuskan berhenti mengenang Ulya, seperti Akmal ia harus memulai lembaran baru. Meski tampak sulit namun waktu tentu juga akan menyembuhkan lukanya.


.


.


.


.


Masih banyak rintangan hidup yang akan ditemui nantinya, apa lagi tentang rumah tangga yang menyatukan dua kepala dengan isi berbeda. Namun selama bersama, menyerahkan segalanya pada yang kuasa, harusnya tak ada yang perlu dikhawatirkan.


Agnia begitu bangga dengan keputusannya menerima Akmal, tak ada penyesalan dan keluhan. Akmal sempurna jadi seseorang yang ia cintai. Pria itu jadi penyembuh, dan jadi satu-satunya muara kasih yang ia miliki. Pun Agnia bisa merasakan kasih sayang serta pengorbanan suaminya, yang selalu berusaha memberi yang terbaik demi menyenangkannya.


Yang semula terabaikan kini kembali diperhatikan. Agnia kembali meneruskan tulisannya, juga kembali mengajar dengan dedikasi yang sempurna. Anak-anak panti juga kembali ceria dengan kehadirannya yang tak terbatas waktu, semua kembali ke titik awal. Kehilangan membuatnya merasa tertampar untuk jadi lebih baik, dan memperbaiki semua yang sempat terabaikan.


Sebab hidup tak selalu tentang bahagia, sering kali tentang melakukan terbaik namun tak berhasil, melakukan kesalahan untuk diberi teguran dan memperbaiki, juga tentang rintangan-rintangan kecil hingga rintangan besar yang dengan lapang dada mesti dihadapi.


Agnia paham kesulitan-kesulitan itu sejak pernah sangat patah hati, hingga hari ini saat membersamai seseorang yang luar biasa, ia merasa sempurna dan sepenuh hati menghargai kebahagiaan itu. Bahkan kesedihan yang silih berganti datang di hari ini tak membuatnya panik dan gelap mata untuk merasa putus asa.


Sebab hikmah ada di setiap proses kehidupan, perjalanan yang berliku sejatinya tak hanya menyimpankan kebahagiaan di akhir, namun juga menyimpan pesan berharga yang jadi bekal sepanjang perjalanan berliku itu. Hingga nanti bermuara di negeri akhirat, yang semua menuju ke sana.


Ini tentang janji sehidup sesurga, yang akad telah menegaskan ikrar itu dalam ikatan pernikahan. Ini tentang perjuangan, antara dua orang yang saling membersamai hingga surga-Nya kelak.


Enam bulan selanjutnya dilalui Agnia dan Akmal dengan hari-hari bak pengantin baru yang awet, keduanya sibuk dengan mengurusi segala hal yang mungkin akan terabaikan saat dianugerahi momongan lagi. Akmal membantu Agnia menulis buku pertamanya, juga menemani perilisannya. Hingga Agnia menyertakan nama suaminya di lembar terakhir biodata dan dengan bangga menyebut Akmal suaminya. Begitu juga Agnia, membantu Akmal menyusun skripsinya dan menemani suaminya itu menerima gelar sarjananya.


Hingga saat pembahasan tentang anak tak lagi diperbincangkan, ketika semuanya terbiasa dengan kegiatan sederhana sebagai umumnya pasangan menikah, Agnia kembali tak mendapat menstruasi. Tepat dua hari selepas wisuda Akmal, Agnia memberanikan diri memastikan prasangkanya. Memutuskan memeriksa tanpa diketahui siapapun, sebab rasa takutnya yang masih tersisa.


Namun Allah maha baik, bergetar hatinya kala dua garis tanda positif hamil terpampang di depan mata. Agnia menangis haru dalam pelukan Akmal. Allah maha baik memberi ganti dengan begitu cepat, saat mereka diam-diam mengharapkan kembali kehadiran bayi.


Keduanya tak bisa menafikan jika mereka juga ingin segera memiliki momongan, Agnia bahagia namun juga merasa pahit saat dua bulan lalu Puspa melahirkan. Teringat janin yang gugur dan tak sempat ia lahirkan, harusnya lahir tak lama dari bayi cantik milik kakaknya. Apa lagi saat menengok Silmi yang juga melahirkan anak perempuan nan cantik pula, hatinya membisikkan keinginan dan tak ragu mengajak Akmal untuk segera memiliki momongan kembali.

__ADS_1


Anak perempuan mengisi keluarga Hafidz, sedang Agnia masih berjuang untuk sembuh dan siap secara mental dan jasmani untuk memiliki anak. Sebab Allah akan memberi saat siap, akan merenggut saat tak melihat kesiapan. Namun kini semuanya terjawab, Agnia hanya bisa berdoa demi kebaikan dalam kehamilannya saat ini.


Bulan-bulan yang indah, Agnia tak rewel di kehamilannya. Akmal pun tak membatasi istrinya mengajar, sebab kehamilan itu terpantau baik. Juga mereka belajar dari peristiwa sebelumnya, bahwa yang dijaga seketat mungkin belum tentu Allah ijinkan untuk berhasil. Keduanya berusaha untuk tak jadi berlebihan.


Semakin indah malam-malam itu, Agnia merasakan sendiri sedang Akmal melihat langsung bagaimana perut yang semula datar membesar tiap bulannya. Bahkan Akmal tak pernah bosan memperdengarkan ayat-ayat indah Al-Qur'an sebelum tidur, juga mengelus perut istrinya sembari mengajak bicara calon anaknya.


Inilah yang dimaksud kesiapan, Akmal tak lagi diributkan dengan kuliah hingga bisa khusyuk dengan kehamilan istrinya. Melihat langsung bagaimana bayi di perut sang istri merespon ucapannya, menendang-nendang di usia kehamilan yang makin tua. Tak terkira rasanya. Akmal yang kurang waktu tidurnya bisa berguna begitu kehamilan sang istri membesar. Di waktu-waktu Agnia merasa geli di dalam perutnya hingga tanpa sadar tak tahan menggaruk perut juga pahanya, Akmal yang bisa tak tidur hanya dengan menanti tendangan dari perut Agnia sigap membantu.


"Jangan digaruk, sayang.." ingat Akmal, sembari memberi elusan lembut sebagai gantinya.


Sigap sekali memang, bahkan saat Agnia mulai mendekati hari-H melahirkan dan mendadak beser, Akmal dengan berbesar hati membantu istrinya ke kamar mandi hingga menggantikan pakaian.


Bukan orang sakit, namun ibu hamil nyatanya memang sepayah itu. Butuh orang-orang terdekat untuk mengurus dirinya. Akmal berulang kali mengatakan supaya istrinya tak khawatir dan tak merasa bersalah, sebab semua wanita tentu pernah di posisi begini.


Juga dengan kesigapan itu, Akmal segera membawa istrinya ke rumah sakit saat tengah malam kontraksi yang dirasa Agnia semakin sering frekuensinya.


Peluh berjatuhan, wajah Agnia pucat pasi sesekali kontraksi itu datang. Dan Akmal? hanya bisa memberikan genggaman tangannya memberi kekuatan. Saat itu juga Akmal melihat sendiri bagaimana sulit dan penuh resikonya perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya, sepenuh hati dirinya takjub dan terenyuh. Tak bisa mengungkapkan bagaimana sedihnya dirinya mengingat pengorbanan sama yang pasti dilakukan sang Bunda. Terlebih saat ini ingin rasanya memeluk sang istri dan mengucap jutaan terimakasih sebab bersedia bersusah-payah demi melahirkan buah cinta mereka.


Hingga akhirnya proses kelahiran normal itu memberi mereka bayi perempuan nan cantik, suara tangis bayi memecah di seisi ruang. Akmal yang ikut tegang mengusap peluhnya dan berganti mengusap wajah Agnia lantas memberi kecupan lama tanda terimakasih yang tak terkira.


Akmal bergetar memandangi bayi mungil yang ia masih kagok menggendongnya. Menakjubkan, hampir tak percaya ini cepat terjadi. Ia sudah jadi seorang ayah di usianya saat ini. Retno juga begitu bahagia, menangis haru di pelukan Akmal. Segera datang setelah diberitahu kelahiran cucu pertamanya, dan tak sanggup menahan air mata.


Jangan tanya soal Akbar dan keluarga besarnya, mereka sama bahagia hingga Akbar senang sekali mendapat keponakan perempuan.


Agnia tersenyum kecil melihat itu, tak kalah bahagia. Bahwa anaknya begitu dinanti dan disyukuri kehadirannya. Syukur luar biasa membuncah di hatinya.


.


.


.


.


Agnia tengah mengayun bayinya dalam gendongan, selesai memberi asi. Dengan perlahan menidurkan kembali bayinya di sampingnya. Akmal menghela di ambang pintu, berjalan mendekat dengan senyum teduhnya, duduk di bibir ranjang. Melihat bayi nya dan beralih menatap istrinya. Lagi-lagi perasaan menakjubkan melanda hatinya, senyum simpulnya terbit.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Agnia diiringi tawa kecil, masih tersipu dengan tatapan Akmal yang begitu.


Akmal mempertahankan senyumnya, mengambil tangan Agnia ke dalam genggamannya. Mengelus tangan itu penuh kasih sayang, sedang matanya tak lepas dari kedua mata cantik milik Agnia. "Aku masih takjub. kita sampai di titik ini, bersama bayi cantik kita yang Mbak lahirkan."


"Hem.." Agnia mengangguk, masih mendengarkan sembari tersenyum. Bahagia membuncah di hatinya setiap Akmal mengatakan hal manis, rasanya moodnya semakin membaik setiap suaminya ini menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya.


"Dan ada yang belum aku katakan sejak kembali dari rumah sakit."


"Apa?"


"Terimakasih."


"Karena sudah melahirkan anak yang cantik?"


"Ish! Itu dialogku, tanya.."


Agnia terkekeh. "Okay.. Terimakasih untuk apa, sayang?"


"Terimakasih karena membersamai aku, memberi bayi yang lucu, dan.. terimakasih karena jadi kuat dan sabar tiap harinya."


"Emh.." Agnia mengangguk. "Jadi kuat dan sabar.. aku setuju. Tapi.. memberi bayi? Apa aku melakukannya sendiri?" tanyanya sembari terkekeh, menertawakan ucapannya sendiri.


"Jasaku ada, tapi gak sebanyak Mbak."


Agnia balas tersenyum, menatap aneh.


"Aku serius.."


"Aku gak kelihatan serius?"


"Memang. Kenapa senyum begitu?!"


"Enggak, aku bingung. Apa ini ucapan tulus, atau.. sebab saran dokter supaya kamu menyenangkan aku di masa pemberian ASI ini?"


Akmal menghela, menatap datar wajah istrinya yang kini justru tersenyum lebar. Memang sengaja mengajaknya bercanda sepertinya. "Aku serius, bukan karena mau diberi ASI." jawabnya datar, kembali ke mode jahilnya.

__ADS_1


"Ih!" seperti tebakan, Agnia berubah melebarkan matanya. Terkejut, tak menyangka jawaban seperti itu yang keluar dari mulut suaminya. Mengarahkan cubitan ke perut Akmal.


__ADS_2