
"Tapi, bukankah kamu sudah menikah? Saya rasa pertanyaan kamu ini bisa saja membuat istrimu salah paham."
Adi bergerak gusar di ranjangnya, berbalik kanan kiri menyamankan posisi tidurnya. Helaan napas jelas terdengar. Langsung mengundang tatapan penasaran dari Alisya yang tengah duduk di depan meja rias, memakaikan krim pelembab ke wajahnya.
"Kenapa, Mas?" tanya Alisya, menatap lama dari tempatnya duduk. Tangannya masih teratur bergerak memoles dua pipinya, meratakan sana sini.
Adi menoleh, matanya bertemu dengan mata sang istri. Lantas menggeleng, tak mungkin mengatakan jika ucapan dan reaksi Fauzan terhadapnya barusan menjadi sebab. Jangankan mengatakan itu, Alisya saja tidak tau jika suaminya sehabis kajian tadi.
Alisya mencebik ragu, hanya saja tak mau banyak mempertanyakan yang kemudian akan memancing perdebatan antara mereka. Ia memilih berbalik menghadap cermin, dan melanjutkan aktivitasnya.
"Oiya Mas.." Alisya bangkit, beranjak menuju ranjang sembari membuka obrolan baru. "Hari ini Agnia gak masuk, loh.."
Adi mendengarkan, bereaksi seadanya. Namun dalam hati tak heran, sebab sudah mendengar sakitnya Agnia dengan telinganya sendiri.
"Kayaknya sakit, deh.." terka Alisya.
"Sakit?"
"Kayaknya, soalnya pengajar yang lain kedengerannya lagi diskusi nunjuk guru sementara buat kelas Raina." papar Alisya, namun terdengar ragu.
"Atau jangan-jangan dia mau nikah, kali ya?" celetuknya lagi, berbincang sendiri. Setelah berucap demikian entah kenapa Alisya tampak berbinar, menoleh Adi dari posisinya yang duduk.
Adi mendengus pelan. "Kenapa jadi kamu yang keliatan bahagia?" tanyanya lembut.
"Hemh?"
"Kenapa kamu keliatan bahagia?" ulang Adi.
Alisya mengulum senyumnya, menatap Adi gemas. "Ya bahagia, lah Mas.. dia sahabat aku, terlepas dari masalah antara kita." ungkapnya seraya mencubit pelan pipi Adi.
"Oiya? Bukan karena kamu senang.. sebab aku bener-bener gak ada kesempatan buat deketin dia?"
Deg.
Pertanyaan itu membuat Alisya terpaku, tak sangka suaminya bertanya demikian. Matanya menyorot penuh tanya pada Adi.
.
.
.
.
Siang ini Agnia sudah siap untuk pulang, duduk diatas brankar dengan kaki terjun bebas menyentuh lantai. Seorang suster yang sejak kemarin menemaninya kini sedang membuka plester yang bertengger di pelipis kirinya, hendak membersihkan luka disana. Sedangkan Agnia fokus pada ponselnya, menggunakan media sosialnya untuk mencari informasi terkini.
"Apa penyebab luka ini?" suster dengan wajah imut itu bertanya tiba-tiba, penasaran bahkan sejak hari kemarin.
Tangan Agnia spontan berhenti dari aktivitasnya, bola matanya bergerak kiri kanan bak mencari alibi yang kuat. "Emh.. jatuh, Sus. Kena.. pecahan kaca, kayaknya."
"Bukan karena pisau?"
Bodoh! Agnia merutuki dirinya sesaat kemudian, ia membuat alibi palsu pada orang yang salah. Toh, Para perawat sudah tentu sering menangani macam jenis luka. Kenapa juga Agnia menjawab asal.
"Itu.. entahlah, saya gak yakin Sus." jawab Agnia kemudian, tersenyum canggung.
Suster itu mengangguk, sembari tersenyum tipis. Paham jika pasien yang satu ini ingin menyembunyikan penyebab lukanya, demi satu atau dua alasan.
"Sudah."
Agnia tersenyum, menatap perawat cantik itu penuh penghargaan. "Terima kasih, Sus."
Sesaat hening, Agnia kembali mengalihkan matanya pada layar ponsel. Sedangkan perawat cantik yang mencolok itu, sibuk merapihkan peralatan medis yang dibawanya.
...
"Meskipun disini hanya dua hari, tapi Mbak Agnia sudah menjadi buah bibir di kalangan staf rumah sakit." ungkap perawat itu.
Agnia menoleh lama, berpikir sejenak. Lantas mengangguk, bukan hal penting. Pasti mengenai ia yang adalah adik ipar salah satu dokter yang bertugas di rumah sakit ini.
"Mbak tau alasannya?"
"Emh.. karena Mbak Puspa?"
Perawat bernama Dona itu menggeleng, hari ini lebih nyaman mengajak Agnia berbincang setelah kemarin sibuk mengamati perangainya. "Bukan itu saja, tapi karena pria-pria tampan yang datang ke ruangan ini."
Pria-pria tampan? Siapa? Agnia mengernyit. Akmal dan Akbar? Tapi Gian juga sempat kemari. Tiga orang itu saja sudah bikin geger, Apa jadinya jika kawan-kawan Akbar diijinkan menjenguknya kemari? Bisa lebih gempar, pikir Agnia.
Perawat itu kembali tersenyum, memperhatikan wajah berpikir Agnia. "Kami jadi penasaran, mana diantara mereka yang calon suaminya Mbak Agnia."
What?! Agnia tak tau harus bereaksi bagai mana, hanya bisa tersenyum canggung. "Pria tampan, yah? Mungkin maksudnya kakak dan adik saya?"
"Kami tau suami dan adik ipar Dokter Puspa." sangkal Dona segera. "Maksud kami, antara dua orang lainnya."
Agnia dibuat mati kutu lagi, tak tau harus berekasi apa pada orang baru di hadapannya. apa itu penting? kisah cintanya penting?
Heran sendiri dirinya, kenapa ia jadi buah bibir para staf rumah sakit? Seistimewa itu kah menjadi anggota keluarga salah satu dokter rumah sakit?
"Apa semua staf di rumah sakit ini suka sekali bergosip?" batin Agnia.
...
Akbar bersenandung riang seiring langkahnya di koridor rumah sakit, berjalan dengan langkah santai menuju ruang inap dimana Agnia berada. Jangan tanya kenapa ia bahagia? Sebab kepulangan Agnia lebih dari berita baik baginya, tandanya rutinitasnya akan normal kembali setelah ini.
__ADS_1
"Mari pulang.." seru Akbar senang, memasang senyum lebar. "Marilah pulang.. Marilah pulang.. bersama-sama.."
Agnia yang memang sedang menunggu lantas berdiri, sedikit risi dengan Akbar yang malah bernyanyi dengan percaya dirinya.
"Oh! Halo suster.." Akbar menyapa sopan, tersenyum. "Sayonara.."
Perawat itu tersenyum, balas mengangguk sopan. Untuk sesaat kemudian lanjut merapihkan brankar yang akan ditinggal Agnia. Bersiap menyambut pasien lain.
Agnia menggeleng takjub, heran pada kelakuan adiknya yang sok akrab itu.
.
.
.
.
"Lo suka sama Mbak Agni?" tanya Akbar.
Gian langsung mematung begitu ditanya, tak menyangka jika bocah di hadapannya mengajak berbincang demi bertanya hal ini.
"Emh.."
"Iya atau enggak?"
Gian menghela pelan, seperdetik kemudian mengangguk. Lagi pun bagaimana, menutupi sesuatu yang padahal sudah jelas jawabannya.
"Ya, sangat suka bahkan."
Akbar justru menoleh Gian lama setelah mendapat jawaban, menunjukkan tatapan yang sulit diartikan.
"Kenapa? Saya gak boleh suka sama kakak kamu?"
Akbar menggeleng cepat, tentu saja bukan. Jika iya pun, apa alasannya? Cinta adalah hal berharga paling gratis yang dimiliki manusia, mana bisa ia merenggut hak sederhana namun luar biasa itu?
"Bukan, tapi.. gue heran aja kak."
"Apa?"
"Waktu Mbak Agni sendiri, bener-bener sendiri.. kalian kemana? Kenapa setelah dia dijodohkan.. satu persatu kalian muncul?"
...
Obrolannya bersama Akbar kemarin kembali terlintas, Gian mengusap wajahnya pelan begitu pertanyaan Akbar terngiang di telinganya. Ia masih mencari jawabannya, dalam satu sisi merutuki diri. Kenapa tidak sejak dulu mendekati Agnia? Kenapa saat Agnia terlihat nyaman bersama orang lain, perasaan ingin memiliki makin kuat?
Sekali lagi, Gian menyayangkan. Akmal sempurna di matanya, tak punya celah untuk dikoreksi. Bahkan jika dibandingkan dengan dirinya, Akmal lebih pantas bersama Agnia.
Gian menghela napas dalam, menghembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan hatinya yang bergejolak luar biasa, membisikkan pada hatinya jika semua akan baik-baik saja meski tak memiliki gadis pujaannya itu.
Hanya soal waktu, dan orang baru pasti bisa menggantikan posisi itu di hatinya. Entahlah, Gian kembali ragu. Bahkan Sila tidak cukup menarik baginya, tak seperti Agnia yang sejak pandangan pertama memikat dengan kepolosannya.
Suara pintu terbuka, mengundang tolehan Gian. Membuat lamunannya buyar seketika.
Ia yang tengah memandangi pandangan kota dari ruangannya kini berbalik, melihat siapa yang datang.
"Ayah.."
Wiryo yang datang, segera mengambil tempat di sopa panjang di ruangan anaknya itu. Matanya memberi isyarat supaya Gian bergabung untuk duduk disana.
Gian menurut, segera beranjak. Dalam hati sudah menerka apa gerangan yang akan dibicarakan sang ayah, sebab tak mungkin ayahnya itu menyempatkan diri datang demi hal-hal receh disela kesibukannya.
"Kamu bertemu Sila kemarin?" tanya Wiryo langsung.
Gian menghela pelan sebelum menjawab, tak jauh dari prasangkanya ternyata. Sila lagi dan lagi.
"Ketemu, yah." jawabnya, membeo singkat.
"Ngobrol?"
Gian mengangguk, kembali membeo pertanyaan sang ayah. "Ngobrol."
"Bagus.." Wiryo mengangguk, sesaat ucapannya terpotong saat asisten Gian masuk dan menyuguhkan minuman.
"Silahkan, Pak."
Secangkir kopi juga segelas air disuguhkan, seperti permintaan biasa Wiryo setiap datang ke sana.
"Terima kasih."
Sesaat hening hingga asisten itu keluar, Wiryo lantas menoleh Gian seperti semula. "Gimana? Setelah bertukar pikiran dengan Sila, apa pendapat kamu?"
Gian menaikkan alisnya, kembali mengulang pertanyaan itu dalam hati. "Membosankan." gumamnya pelan, tak bermaksud mengatakan itu pada Wiryo.
"Apa?"
"Dia.. agak membosankan." jelas Gian, entah apa yang membuatnya menjawab seperti itu. Seakan lupa dengan betaoa sensitifnya Wiryo, kala membahas calon menantu pilihannya itu.
Wiryo menghela, menatap Gian lekat. "Itu karena pertemuan kalian masih baru, tunggu beberapa pertemuan lagi dan kalian akan merasa cocok." ungkap Wiryo kemudian.
Demi mendengar kalimat lembut sang ayah, Gian langsung menoleh heran. Menatap lama sang ayah, tak tau angin apa yang membuat pria berperangai kasar itu kini melembut.
Sisi lembut yang biasanya hanya muncul kala mengajar, atau saat berbincang dengan orang-orang penting.
__ADS_1
"Dengar nasihat ayah, cobalah untuk menyukai dia. Mulai dari menerima dia apa adanya.."
"Ingat baik-baik satu hal ini, jika kamu terus mencari seseorang yang mirip dengan ibumu.. itu akan sulit. Menurut kamu kenapa ayah tidak pernah tertarik dengan perempuan manapun?"
"Tak ada yang sebaik ibumu, sebab tak ada yang sebaik dia bagi ayah." tandas Wiryo.
Deg.
Ungkapan jujur sang ayah membuat Gian berdesir sesaat, ada letupan kecil di hatinya. Semacam sakit yang kemudian berganti hangat. Pengakuan itu, tak pernah ia dengar sebelumnya.
Gian tak tau, jika sedalam itu perasaan ayahnya pada mendiang istrinya.
Tiba-tiba rasa bersalah menjalar, Gian terenyuh. Selama ini ia selalu merendahkan cinta yang memayungi orang tuanya, hanya berpikir jika ibunya saja yang mencintai tanpa sarat.
Tak butuh ungkapan lainnya, Gian tau ucapan itu tulus dari hati sang ayah. Sungguh, Gian merasa bersalah. Dengan kebencian pada ayahnya ia abai melihat kesepian sama yang juga ada pada sorot mata ayahnya.
Gian terenyuh, kenapa baru sekarang ia melihatnya?
Wiryo menghela kembali, menyibak hening antara keduanya dengan bangkit.
"Pikirkan itu, ayah menunggu jawaban kamu."
Gian untuk beberapa saat masih mencerna, hingga saat Wiryo sudah hampir meraih gagang pintu, ia kembali membuka suara.
"Tunggu, Yah.."
Wiryo kembali menoleh, menatap anaknya dari tempatnya berdiri.
"Apa.. ayah merasa bersalah sama Ibu?"
Wiryo menelan salivanya sebelum menjawab, tak pernah berpikir mengatakan hal mengenai mendiang istrinya sebelum ini. Hanya saja tatapan Gian yang jelas menagih penjelasan, menjadikan Wiryo tak bisa diam lagi.
"Apa hal itu tidak pernah terlihat dari wajah ayah, sebelumnya?"
...
Akmal menunggu dengan sabar di lobi rumah sakit, matanya melirik jam tangan yang melingkar di lengannya. Waktu belum menunjukkan pukul satu, tandanya ia punya waktu banyak untuk ikut ke rumah Agnia.
Ah! senang rasanya, demikian batin Akmal jika bisa didengar. Tak terbilang rasa syukur yang ia rasa setelah peristiwa demi peristiwa terjadi di depan matanya, semua ketakutannya kemarin pada akhirnya hanya menambah syukur.
Agnia muncul tak lama, bersama Akbar yang menenteng satu tas besar di tangannya. Tak tampak kerepotan, namun spontan saja ingin membantu.
Akmal sudah akan menawarkan diri membawakan tas itu, namun Agnia lebih dulu mencegahnya.
"Ngapain?" tanya Agnia datar, saat tangan Akmal terulur pada Akbar.
"Mau.. bantu.." jawab Akmal sedikit ragu, sebab tatapan Agnia sama menyeramkan seperti saat berbicara pada Akbar.
"Apa kamu itu asisten saya?"
Akmal menggeleng, tentu bukan.
"Atau.. kamu itu asisten Akbar?"
Akmal kembali menggeleng.
"Kalo begitu biarkan Akbar melakukan tugasnya." ujar Agnia, setengah ketus. Tak mau menampakan wujud perhatiannya, dilain sisi sebal sungguhan sebab Akmal yang terlalu baik.
Bagaimana jika orang lain lebih melihatnya sebagai asistennya, dari pada calon suaminya?
Agnia menghela, kenapa juga meresahkan hal itu.
Akmal mengangguk, ujung bibirnya terangkat membentuk senyum. Kebalikan dengan Akbar yang menarik ujung bibirnya ke bawah, membentuk kecewa.
Belum menikah saja seperti ini, apa kabar dirinya jika Kakaknya dan Akmal sudah menikah?
...
Sesaat setelah masuk ke mobil Akmal, Akbar tak henti bicara. Bilang ingin mobil seperti inilah, bilang Hafidz pelit lah, apa saja yang terlintas di kepala ia ungkapkan sepertinya.
Agnia di jok belakang hanya bisa menghela napas pelan, memegangi dahinya. Sudah malu sebab menumpang mobil Akmal, ditambah malu oleh Akbar yang tak tahu malu dengan terus membual.
Akmal hanya terkekeh pelan, sadar reaksi Agnia demikian. Melihat lewat pantulan kaca spion.
Spontan Akbar menengok ke belakang, penasaran apa yang membuat temannya itu terkekeh.
"Lho!" Akbar sebaliknya, justru panik. "Mbak! Kenapa?" tanyanya.
"Apa?" Agnia mengangkat kepalanya malas, menatap Akbar sebal.
Melihat itu Akbar tambah panik, kewaspadaannya meningkat mengingat Agnia masih dalam masa penyembuhan. "Pusing kepalanya? Harus ke rumah sakit lagi?"
Agnia menghela gusar. "Ya, pusing."
"Tapi bukan pusing yang harus ke rumah sakit lagi, pusing karena mulut kamu yang gak bisa diem itu."
"Oh!" Akbar mengangguk, tak tersinggung. justru mengendik acuh tak acuh, bingung apa yang harus dipusingkan dari sikapnya.
Padahal dari yang ia rasa, tak ada perilakunya tertentu yang menyebalkan. emh.. atau hanya perasannya saja?
Akbar kini diam, membuat Agnia lega. Berpikir jika adiknya itu mendengarkan, padahal..
Tidak sama sekali, Akbar hanya sedang berpikir. Mencari tau, Apakah dirinya benar-benar menyebalkan atau tidak.
__ADS_1