Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
74. pelipur lara


__ADS_3

"Ayo!" Agnia mengulang ucapannya, menatap tajam Akmal yang malah sengaja mematung. Sedegik kemudian mendekcak saat Akmal hanya mengulas senyum. "Apa ada yang salah?" Agnia bertanya, tatapannya berubah jengkel.


Sadar tatapannya mengganggu, Akmal segera tersenyum lebar. Menggeleng singkat.


"Ish!" Agnia dibuat menghela pelan oleh kelakuan tak jelas pria di hadapannya.


"Jadi kita mau kemana?" tanya Akmal santai, yang langsung membuat alis Agnia tertaut. Belum selesai keherannannya, Agnia malah kembali dibuat bingung oleh pertanyaan yang dilontarkan Akmal. Dan pria itu dengan santainya mengenakan helm ke kepalanya.


Tatapan maut Agnia belum selesai hingga Akmal selesai dengan helmnya, siap meluncur. Kemudian hanya tersenyum dari balik helm, saat sadar tatapan itu. Matanya menyipit sesaat.


"Becanda.."


Dua orang dengan tensi yang berbeda itu bertahan dengan karakternya masing-masing. Agnia yang bodo amat dengan tatapan mematikannya, dan Akmal yang pantang menyerah dengan senyum mempesonanya. Dua orang itu tak tau saja, jika dari dalam kamarnya, Akbar memperhatikan pemandangan itu seraya mencebik.


"Lumayan menarik.. mari kita saksikan bagaimana akhir kisah penuh drama ini." gukam Akbar, berucap dan mengangguk sendiri.


.


.


.


.


Akmal sudah tiba membawa Agnia ke sebuah rumah mewah dengan halaman luas penuh ragam bunga, Agnia susah payah mengontrol eksresinya, sebab bukan sembarang bunga yang ada di tempat itu, melainkan bunga-bunga harga fantastis. Dewasa ini, memang sedang tren merawat bunga yang bukan saja cantik namun bisa jadi bahan investasi.


Hal yang membuat Agnia paling bertanya-tanya adalah kenapa Akmal santai sekali masuk ke rumah seseorang yang dihormati banyak orang ini. Namun tiap langkah ada saja hal menakjubkan, hingga Agnia tak sempat mengungkapkan keraguan di hatinya sebab terkagum dengan rumah itu.


"Mbak mau rumah seperti ini?" tanya Akmal, tau ketakjuban Agnia saat ini.


Agnia menggeleng cepat, matanya masih sibuk melihat sekitar. "Saya.. gak suka rumah yang luas."


"Bagus, soalnya mimpiku juga membangun rumah sederhana untuk kita tempati." Akmal


"Berisik!" Agnia langsung menghalau ucapan halu Akmal, mendelik sesaat. Bocah itu mulai lagi meluncurkan gombalan payah dengan senyum tengilnya.


Akmal tersenyum, mulai sangat terbiasa dari biasanya dengan tanggapan Agnia.


"Tadi Mbak mau bilang apa?" Akmal bertanya lagi, saat langkah mereka tiba di teras rumah megah nan luas itu.


"Emh?" Agnia mengerjap, baru sadar jika terlalu larut dalam kemegahan di matanya. "Ah! Itu.. Saya cuman heran kenapa kamu bisa santai sekali menerobos rumah ini. " ucap Agnia diikuti langkahnya yang ragu-ragu.


Akmal tak menanggapi, hanya tersenyum lagi. "Ayo!' ajaknya, seraya melangkah menuju pintu utama rumah itu.


"Tapi.." Agnia yang bahkan belum selesai dengan pertanyaannya hanya bisa menghela, melihat Akmal yang sengaja mengabaikan ucapannya. Mengekor saja pada akhirnya.


Akmal sudah menekan bel rumah itu, kini menunggu. Seraya memperhatikan wajah Agnia seakan itu tontonan pelipur lara selagi menunggu, tangannya ia masukan ke saku celananya. Agnia berusaha tidak peduli saja, melirik banyak hal di sana. Sibuk memuji dalam hati, betapa kaya profesor semasa kuliahnya itu.


Cukup lama menunggu akhirnya seorang pelayan berseragam datang membukakan pintu, langsung mengangguk sopan.


"Silahkan.. sudah ditunggu Bapak." ucapnya lembut, membuat Agnia kembali terpana. Bertambah lagi daftar hal menakjubkan dari rumah ini.


Agnia masih bingung juga ragu-ragu. Mulai berpikir apakah Akmal memang seakrab itu dengan profesor mereka ini. Melirik Akmal kembali seakan menagih jawaban tanpa bertanya.


"Gak papa." Akmal segera tau yang dibimbangkan Agnia, memberi tatapan meyakinkan. "Ayo Mbak.." ajaknya sembari menarik lengan Agnia, membuat gadis yang gamang itu ikut melangkah masuk.


Isi rumah mewah itu benar-benar membuat Agnia takjub, tak bisa berkata-kata. Definisi kesempurnaan, dalam hati berandai jika bisa menunjukkan rumah ini pada ibunya yang penggila perintilan furnitur rumah. Namun Agnia mencubit pahanya sekuat tenaga, sebisa mungkin mengontrol dirinya untuk tak bereaksi berlebihan yang bisa membuat harga dirinya jatuh.


Pelayan dengan pakaian cantik itu membawa keduanya ke sebuah ruangan yang tak kalah mengejutkan bagi Agnia. Ruang kerja bak kantor pribadi di salah satu ruangan rumah itu.


Luas sekali, ruangan yang di dominasi warna hitam itu terbagi dua area. Satu tempat bersantai dan para tamu mungkin datang, ruangan lainnya tampak penuh buku dan berkas. Agnia hanya bisa melihat sekilas.


"Pak, ini tamunya." pelayan itu melapor, berdiri di ambang pintu antara ruangan utama dengan ruangan dimana Agnia dan Akmal berada saat ini.


Seseorang yang mereka tuju tak lama muncul, dengan setelan yang kontras dari ruangan misteriusnya. Sesaat Agnia terkejut, setelan piyama bermotif macan itu mengalihkan atensinya.


Untung saja tak ada yang sadar dengan reaksi Agnia, apalagi pelayan itu segera undur diri sesaat Wiryo menemui dua tamunya.


"Kamu sampai.." pria yang ubannya sudah banyak, hampir menghitam di seluruh rambut itu melangkah mendekat. Matanya tertuju pada Akmal. "Dan siapa yang bersama kamu?" tanyanya lagi, seraya beranjak duduk ke kursinya.


Agnia hanya tersenyum, sedangkan Akmal belum menjawab menunggu apakah profesor yang adalah teman baik ayahnya itu mengenali Agnia atau tidak.


Benar saja, pria yang sudah berkepala lima itu langsung tersenyum setelah menilik dengan benar sosok di hadapannya. "Agnia ternyata.. lho! Kalian saling mengenal?"


"Ayo! Silahkan duduk dengan nyaman." Wiryo kembali berucap, memotong Akmal yang sudah hendak menjawab pertanyaan tadi.


Dua orang yang sempat saling lirik itu beranjak duduk, cukup berjauhan.


"Sudah lama sejak kamu kesini, apa kabar?" Wiryo dengan cara bicaranya yang lembut bertanya pada Akmal, perhatiannya tak terbagi. Memang sedang tidak sibuk dengan kegiatannya.


"Alhamdulillah, sehat Om."

__ADS_1


Agnia spontan melirik Akmal saat panggilan Om disematkan pria itu pada seseorang yang baginya luar biasa. Kini ia tau kenapa Akmal begitu santai masuk ke rumah ini, tampaknya bukan pertama kali sebab mereka terlihat sangat akrab satu sama lain.


Wiryo mengangguk. "Syukurlah.. dan pertanyaan tadi, bagaimana kalian bisa saling kenal?"


"Emh.. sebenarnya Om, Mbak Agnia ini.. kakaknya Akbar."


"Akbar? Wiryo mengernyit sesaat, seakan mengingat. "Oh.. iya." Beralih menatan Agnia "jadi dia adikmu?"


Agnia mengangguk.


"Mengejutkan.." Wiryo terkekeh kecil. "Kalian sama sekali tidak mirip." ucapnya. "Jadi katakan, apa kesibukanmu setelah lulus kuliah?"


"Saya.. saya sekarang mengajar, Pak."


"Mengajar? Di?"


"Di.. salah satu Pendidikan Anak Usia Dini."


Wiryo tampak terkejut mendengar jawaban Agnia, punggungnya yang sejak tadi bersandar ia tegakkan.


"Di PAUD? Ah! Maaf. Ini karena bapak berharap lebih dari seorang Agnia."


Agnia tersenyum canggung, tak nyaman saja dengan reaksi itu. Memang apa salahnya mengajar di Sekolah anak-anak?


"Emh.. apa itu sebabnya kamu menolak tawaran bekerja dari Bapak?"


"Itu.." Agnia mengulum bibirnya, entah kenapa tiba-tiba gugup oleh pertanyaan itu. Sesaat kemudian kembali mengangkat kepalanya, tersenyum tipis. "Saat itu saya memiliki alasan lain."


Jawaban Agnia membuat Akmal khawatir tiba-tiba. Sudah mengira ada sesuatu dibalik jawaban canggung itu.


"Apa karena pernikahan kamu itu? Tapi Bapak dengar kamu tidak jadi menikah."


Deg.


Agnia spontan menoleh Akmal saat itu, seakan meminta pertolongan. Ragu menatap Wiryo. "Emh.. ya, pernikahan itu memang tidak terjadi. Tapi.. itu bukan menjadi alasan."


Wiryo mengangguk. "Itu bisa terjadi, tapi tetap saja. Bapak masih kecewa dengan penolakan kamu. Tidak banyak yang seperti kamu, dan kamu satu-satunya yang menolak tanpa pikir tepat panjang. Kalo saja saat itu kamu siap bergabung, tentu kamu jadi salah satu terbaik dari angkatan kamu."


Agnia mengangguk, tersenyum.


Wiryo kembali mengangguk, menoleh Akmal kemudian. Mengakhiri atensinya pada Agnia. "Kalau begitu, katakan.. apa tujuan kalian jauh-jauh datang kesini? Saya.." Wiryo menjeda, menoleh jam dinding di kamarnya. "Hanya punya lima menit untuk mendengarkan."


Akmal mengangguk. "Sebelumnya saya minta maaf Om.. tujuan saya kesini untuk menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi antara saya, teman saya, dan Wildan."


Wiryo mendengarkan, mengangguk pelan. Pelayan datang saat itu, membawa tiga gelas air. Membuat baik Wiryo juga Akmal tak berucap, masih menunggu hingga pelayan itu pergi.


Helaan napas dalam terdengar, Wiryo menimbang sejenak untuk kemudian kbali menatap Akmal. "Jadi.. intinya kalian kesini untuk mengeluhkan Wildan kepada saya?"


Akmal menggeleng cepat. "Bukan Om, hanya saja.. kami berusaha untuk meluruskan permasalahan yang terjadi saat ini, dan semoga Om bisa membantu teman saya terbebas dari hukamannya."


"Saya tau.." Wildan mengangguk, senyumnya kembali muncul. "Wildan sudah bercerita semuanya. Dan.. masalahnya, saya justru lebih kecewa dengan perilakumu dari pada anak itu."


Akmal menaikkan alisnya, bingung dengan apa yang berusaha dikatakan Wiryo.


"Entah apa yang sedang kamu bela, tapi.."


"Maaf Om, sebelumnya.." Akmal langsung memotong ucapan Wiryo, membuat pria berkepala putih itu tak punya pilihan selain mendengarkan. "Apa cerita yang Om dengar dari Wildan sama dengan cerita sebenarnya? Atau.. Om juga termakan postingan Wildan?"


Wiryo mendengus pelan, kemudian melirik Agnia. "Bisa berikan kami waktu sebentar?"


Akmal kini sudah berdiri menghadap Wiryo yang duduk di mejanya, berada di are lain ruangan itu. Sementara Agnia duduk di tempat semula dengan tidak tenang. Bokongnya bergeser berusaha mencari tempat paling dekat untuk menguping.


"Kamu sadar ucapan kamu? Kalimat kamu seakan meragukan didikan saya terhadap anak saya."


Akmal menunduk. "Maaf, Om. Saya bukan bermaksud ke arah sana."


"Lalu? Kalo begitu apa kamu meragukan karakter anak saya?"


"Bukan begitu juga, Om. Tapi saat saya mendengar ancaman dari Wildan, saya jadi ragu. Saya rasa Wildan sudah mengambil keuntungan dari permasalahan yang sudah terjadi."


"Keuntungan seperti apa yang kamu maksud?"


"Wildan, seakan sengaja ingin menjatuhkan organisasi kami dengan potongan rekaman yang dia sebar."


Wiryo menghela kembali, menilik Akmal. "Dengar, apa semua yang ada di rekaman itu rekayasa?"


Akmal menggeleng.


"Kalo begitu dimana kesalahannya? Itu bukan fitnah, dan semua yang ada di rekaman itu bukan rekayasa atau jebakan. Karena itu, semua yang kalian hadapi adalah resiko."


"Bagaiman kalo saya punya rekaman utuhnya? Dan apa Om setuju kalo saya hanya memposting bagian saat Wildan merundung salah satu teman saya?"

__ADS_1


.


.


.


.


Ternyata lebih dari lima menit obrolan itu berlangsung, Akmal keluar di menit ke lima belas. Segera menggeleng saat mendapat tatapan Agnia.


Agnia membalas dengan senyuman. "It's okay.." sebenarnya sudah tau apa yang terjadi, mendengar keseluruhan onrolan. Agnia benar-benar meletakan telinganya sangat dekat di ambang pintu itu, demi menguping. Untuk kemudian segera kembali ke tempat duduknya semula saat Akmal kembali.


"Mari, saya antar ke depan." pelayan yang tadi kembali, sigap datang.


Akmal mengangguk ramah, sorot kecewa begitu kentara. Mengekor pelayan itu dibarengi Agnia yang sudah berusaha memikirkan hal lain. Ikhtiar macam apa yang bisa mereka lakukan?


Saat itu mata Agnia melihat apa yang sebelumnya tak ia perhatikan. Sebuah foto keluarga dimana Wiryo tanpa kehadiran istrinya, tersenyum lebar bersama dua orang yang adalah anaknya. Tiga orang itu tersenyum bahagia memamerkan deretan gigi rapih yang persis sekali.


.


.


.


.


Akmal mengajak Agnia tanpa bicara ke suatu tempat, danau yang sebelumnya pernah mereka datangi. Namun Agnia tak banyak protes saat ini, demi melihat Akmal yang tampak frustasi.


"Harusnya saya tau, kamu nyulik saya ke tempat ini lagi." ucap Agnia, pelan. Matanya lurus menatap ke depan sedang langkahnya seirama dengan langkah kaki Akmal.


Akmal tersenyum tipis, yang ia butuhkan saat ini adalah kedamaian juga Agnia di sisinya. Itu saja.


"Semuanya gak berhasil, kita harus apa?" gumam Agnia kecewa, yang kemudian diapatahkan oleh dirinya sendiri dengan senyum sembari menoleh Akmal. "Tapi gak papa, pasti ada jalan lain."


"Jalan apa?"


Agnia mengendik. "Entahlah, tapi pasti ada."


Akmal mengangguk.


"Tapi.. saya minta maaf."


"Minta maaf untuk?"


"Untuk diri saya yang sama sekali tidak membantu tadi. Sebelumnya saya pikir akan bisa membantu karena mengenal profesor. Tapi.." Agnia mendengus, terkekeh kecil. "Seperti yang kamu dengar, dia justru merendahkan saya secara halus."


"Ya, itu karena dia pikir dia lebih baik. Bangga sekali dengan didikan dan anak-anaknya."


Agnia mengangguk, setuju.


"Ngomong-ngomong.. Mbak memangnya pernah ditawarkan kerja atau.. mengajar sama orang itu?"


Agnia terkekeh. "Orang itu?" Mengulang sebutan yang disematkan Akmal, seraya bokongnya bergerak menduduki rumput tanpa alas. "Ya.. Pernah, tapi memang saya tolak saat itu." jelas Agnia.


"Kenapa?" tanya Akmal, yang juga bergabung di sebelah Agnia. Menatap penasaran.


"Karena.. saya gagal menikah." jawab Agnia santai, menoleh dengan senyum.


"Apa.. waktu itu memang sesulit itu?"


"Ya." Agnia tanpa ragu menjawab, sesaat terdiam seakan mengukur apakah sesulit itu yang ia rasa dahulu. Sesaat kemudian kembali menghela napas dalam, lantas menghembuskannya dengan perlahan. Menikmati angin yang bertiup pelan, membelai dengan lembutnya. "Memang sesulit itu hingga saya benci siapapun yang mulai bertanya tentang hari itu."


"Hemh?"


"Termasuk kamu!" Agnia kembali ke mode galaknya, menatap tajam. "Jangan tanya tentang masa lalu saya. Cukup ketahui yang saya sampaikan dan jangan mencoba mencari tau."


"Baiklah.." Akmal segera menjawab, menatap Agnia dari sisi kirinya. Memperhatikan Agnia yang memang cantik dari segala sisi, membuat Akmal tak bisa tak tersenyum gemas dibuatnya.


Agnia mendelik saat sadar tatapan itu. "Apa? Kenapa ketawa?"


"Bukan ketawa, tapi senyum."


"Apa pernah saya bilang soal senyum? Jangan gampangan senyum! Orang bisa salah paham dengan senyum kamu."


"Senyum yang mempesona ini?"


"Ish! mempesona apanya, padahal lebih mirip Joker."


"Oiya? Emangnya ada Joker seganteng aku?"


"Terserah, ya.."

__ADS_1


Akmal kembali tersenyum lebar, Agnia kali ini benar-benar jadi definisi pelipur lara baginya. Tatapan sinis juga jawaban malas Agnia seperti biasa selalu berhasil membuat Akmal gemas sendiri. Hingga Akmal tak bosan untuk kembali menggodanya dengan segala cara, di setiap saat.


__ADS_2