
Kemarilah..
Kuajarkan lagi cara jatuh cinta,
Mungkin kamu lupa..
Tapi aku tak keberatan mencontohkannya.
Asal berjanjilah..
Untuk jatuh cinta hanya padaku saja.
***
Akmal meminta anak-anak mengeluarkan alat tulis mereka masing-masing. Membisikkan sesuatu untuk kemudian dibalas anggukan kompak oleh mereka. Agnia hanya memperhatikan dari jauh, tak pergi meski ingin. Tak juga niat bergabung, enggan menunjukan kedekatan dengan Akmal. Duduk lebih jauh, di teras yang sama. Dengan tangan bersilang di depan dada.
Salah satu anak laki-laki, bernama Jadi berlari saat Akmal kembali membisikan sesuatu. Bukan bisikan sebenarnya, hanya saja tak terdengar oleh telinga Agnia. ia hanya sibuk memperhatikan dari jauh dengan seksama. Akmal menoleh ke arah Agnia sesekali, lantas tersenyum kala Agnia memalingkan wajah tiap kali bersitatap.
Cukup lama Jaidi pergi, di sela itu anak-anak yang lain justru tampak bahagia entah membicarakan apa dengan Akmal. Agnia kecewa akan itu, harusnya ia yang berada di posisi Akmal.
Jaidi akhirnya kembali setengah berlari, bersama satu kantong kresek besar di tangannya yang entah berisi apa, Agnia menghela, mengira-ngira apa yang dibawa anak itu.
Semua semakin antusias, kala Akmal mengeluarkan beberapa bungkus kertas origami, benang, juga peralatan tulis lainnya. Semua dibagi rata, sudah memegang kertas origami masing-masing, siap berkarya.
Beberapa sudah berkreasi sendiri, membuat apa saja yang pernah mereka coba buat. Membual pada yang lainnya tentang mereka yang sudah bisa membuat burung dan bunga dari kertas warna-warni itu.
Beberapa yang tak tahu hendak diapakan, memperhatikan Akmal. Berusaha mencerna kala dicontohkan membuat replika burung. Senyum tipis tanpa sadar tersungging di wajah Agnia, hampir tak terlihat. Senang saja ia melihat kebersamaan semacam itu. Jarang sekali yang bisa menangani anak-anak. Tapi Akmal diluar ekspektasi, ternyata dia mampu.
Agnia menghela lagi, cukup bosan berdiam saja sepuluh menit ini. Tak bergeser dari tempatnya atau sebatas mengeluarkan suara.
"Bu Agni.. Ayo gabung.." pinta Jaidi si murid paling bawel di sini, melirik Agnia. disuruh Akmal sebenarnya.
Agnia menggeleng, makin merapatkan tangannya. Tak berselera.
Akmal tersenyum kembali melihat penolakan Agnia, sungguh menggemaskan di matanya. Terlihat jika gadis itu berusaha menahan dirinya untuk tidak kepo.
Sungguh menyebalkan di posisi seperti ini, Agnia mendengus pelan. Melirik jam dari ponselnya, berharap jam segera berlalu. Ia ingin sekali pulang.
Entah kenapa ia masih tetap di sana, meski tak ada yang memintanya tinggal.
***
"Subhaanallah." pekik Asma, merentangkan tubuhnya, bangkit dari bangku kecil yang ia duduki. Lega sekali ia rasakan.. Sejenak ia berdiri, meluruskan punggungnya yang sejak dua puluh menit lalu berdiam dengan posisi yang sama. Asma menghela napas dalam-dalam, seakan baru bisa bernapas saat itu saja.
Setelah tubuhnya merasa lebih baik, Asma kembali mendudukan bokongnya di bangku kecil itu. Memasang kembali kaos tangan, meraih sebilah pisau. Tangan satunya meraih satu dari sekian banyaknya singkong yang bertumpuk.
Di hadapan Asma saat ini tersaji dua keranjang singkong yang menunggu dikupas, juga satu baskom besar yang masih kosong menunggu diisi singkong yang sudah terlepas dari kulitnya.
Tangannya cekatan, mengupas satu persatu singkong itu. Masih terlihat amatiran dan terlalu hati-hati, tapi lumayan. Untuk dirinya yang tak terbiasa.
__ADS_1
"Cape?" seorang wanita paruh baya datang, berjongkok di hadapan Asma. Meraih pisau lainnya. "Kalo cape, udah aja. Istirahat.."
Asma menyungging senyum kaku, menatap ibunya. Tentu saja tangannya lelah, namun malu jika ia katakan lelah sedang ibunya pantang mengatakan lelah dengan semua rutinitas ini.
"Udah, biar ibu yang lanjutin.."
Asma menggeleng, menolak bergeser akan desakan ibunya. "Enggak. Gak cape."
"Cape.. Pergi istirahat sana.."
"Kalo gitu ibu juga cape, kan?"
"Enggak lah.. Ibu udah biasa.."
Asma manyun, benar juga. Tapi tujuannya pulang langsung dari kampus tanpa pergi kemanapun adalah untuk membantu. Jarang sekali ia miliki waktu seperti ini.
"Yasudah.. Lanjutkan, tapi hati-hati.."
Nah, jika begini Asma senang. Mengangguk, menunjukan senyum semangat. Tangannya memang tak terbiasa, namun dirinya pun harus belajar. Bisnis kecil-kecilan milik ibunya ini tidak mungkin harus hilang eksistensinya. Minimal ia tahu bagaimana proses yang terjadi sebelum nantinya dijual.
"Kak.. Tadi yang nganterin kakak siapa namanya?"
"Hah?! Sebentar, Bu.." Asma mengernyit sejenak mendengar pertanyaan dari sang ibu, mencerna pertanyaan itu sejenak. ia tak bisa multi tasking. Fokusnya tak bisa terbagi dua. "Oh.. Akbar itu.." ucapnya kemudian.
"Akbar? Oh! Teman kamu sejak SMA berarti.."
"Iya.."
"Apa?"
"Kamu mau dianter pulang.."
Asma menghela napas pelan, dirinya juga heran. Tak biasanya Akbar memaksa ingin mengantarkan dirinya pulang. "Akbar yang maksa, Bu.." ujar Asma, tangannya mengambil singkong lain untuk dikupas.
"Suka sama kamu kali, dia.."
Ucapan asal sang ibu membuat tangan Asma spontan berhenti. Pisau bahkan belum sempat menggores kulit singkong di tangannya itu. Memikirkan kemungkinan itu, sesaat kemudian menggeleng. Menggerakan kembali tangannya supaya produktif membuahkan hasil.
"Gak mungkin.." cicit Asma pelan, tanpa sadar menjadikan senyuman terbit di wajahnya sang Ibu.
"Kenapa gak mungkin?"
Asma mendengus pelan, tahu diri saja. Siapa ia dan siapa Akbar. Lagi pun bertahun-tahun mereka berteman, tak sekali pun Akbar menunjukan rasa suka padanya. Asma menggeleng, mengenyahkan pikiran tak jelas itu.
"Ibu tau ustadz Fauzan?" tanya Asma, menatap ibunya kali ini. "Yang beberapa tahun yang lalu anaknya batal menikah.." jelas Asma saat ibunya diam tak menjawab.
"Oh.. tau.." Ibu dari tiga anak perempuan itu mengangguk, berbeda dari anak sulungnya yang tidak bisa multi tasking, ia menjawab seraya tangannya tak berhenti dari kegiatannya.
"Yang batal nikahnya karena calonnya ketahuan selingkuh, kan?"
__ADS_1
"Ibu.." Asma menatap heran Ibunya.. "Gak usah dipertegas.."
"Iya.. Maaf. Kenapa emangnya?"
Asma kembali menghela napas pelan, untuk kesekian kalinya tangan itu berhenti beroperasi. Tega sekali, dari sekian banyak yang bisa dikaitkan pada Ustadz Fauzan, peristiwa itulah yang justru membekas di ingatan. Jika Akbar tahu tentu tak akan menyenangkan ia rasakan.
"Ya itu.. Orang tuanya Akbar.."
"Hah?!"
****
Bukan sesuatu yang spesial, namun suatu kemajuan bagi Akmal. Agnia mau berjalan bersebelahan dengannya. Menapaki jalan kecil dari madrasah itu, menuju rumah Agnia
Kegiatan menyenangkan tadi Akmal akhiri beberapa menit sebelum adzan ashar berkumandang. Semua alat tulis yang dibeli dari uangnya diberikan sukarela pada anak-anak.
.
.
"Kok bisa kamu ke sini?" tanya Agnia. Memecah hening antara mereka.
Akmal menoleh, memastikan. Sayang sekali, pertanyaan itu Agnia lontarkan tanpa melirik nya sama sekali.
"Emh.. Bunda yang ngajak aku ke sini.."
Agnia mengendus pelan. "Gak heran.. Yang mengherankan kenapa kamu bisa sampe ke madrasah?" ujar Agnia, terdengar sinis. Masih sebal dengan Akmal yang mengaku sebagai calon suaminya. Memangnya kapan ia katakan setuju? Sungguh mengganggu.
"Aku dikasih tau kalo Mbak ngajar, jadi aku ijin untuk keliling.."
"Apa harus?"
Akmal mengedikkan bahunya. "Enggak. Itu.. Kemauan aku.." ujar Akmal, melirik Agnia yang tingginya kurang lebih sebahu darinya. Tak pasti, hanya mengira-ngira dari jauh. "Aku cuma pengen ketemu Mbak.."
Agnia mendelik, bukan itu yang ia maksud. "Bukan itu.." geramnya, sesaat mata mereka bertemu. Agnia kembali memalingkan pandangannya. "Masud saya.. itu.." Agnia ragi-ragu berucap, bingung sekali memilih kalimat. "Kenapa kamu ngaku sebagai calon suami saya di depan anak-anak?" tanya Agnia, persis omelan. Memelankan suaranya ketika menyinggung kata calon suami.
Oh! Akmal keliru, mengenai hal itu ternyata.. Senyum tak sanggup ia sembunyikan, menggemaskan sekali. Rasanya ia sanggup jika nantinya harus menghadapi omelan semacam ini dari Agnia sepanjang hari.
"Jadi bukan soal aku mau ketemu sama Mbak?" Akmal tersenyum lebar, punya ide untuk menggoda Agnia.
"Bukan." jawab Agnia, tegas. "Lain kali jangan pernah ungkit soak calon-calon apapun itu.."
Akmal mengangguk, senyum makin mereka di wajahnya. "Berarti kalo soal aku mau ketemu Mbak, boleh dong?"
"Terserah.. Asal.." Agnia menoleh seketika, sadar jika dirinya salah berucap. Celakalah dirinya kali ini. Bocah ambisius ini bisa tak terhentikan jika merasa diberi hati.
Akmal tersenyum puas, mendapat jawaban yang ia inginkan. "Kalo gitu aku ke sini tiap hari deh, supaya ketemu Mbak.." ujarnya seraya mengeluarkan senyum teduhnya.
Ahh! Agnia gemas sekali, dalam hati merutuki kesalahannya. Menatap Akmal yang sudah melangkah lebih dulu saat ini, setelah berhasil membuat Agnia ketar-ketir akibat ucapannya sendiri.
__ADS_1
"Bocah jaman sekarang.. benar-benar menakutkan" keluh Agnia.