Mau Sehidup Sesurga

Mau Sehidup Sesurga
162. Mual-mual nya ibu hamil?!


__ADS_3

Malam masih hening, kantuk sebenarnya masih menggelayut di mata. Namun Akmal terpaksa bangun demi kedatangan Akbar di jam tiga ini. Duduk bersebrangan dengan adik iparnya itu. Herannya dari pengamatannya, Akbar justru tampak segar, tak terlihat mengantuk sama sekali.


"Mal.." panggil Akbar, sorot matanya menyiratkan keseriusan dan penasaran di waktu yang bersamaan.


Akmal menghela, mengusap wajahnya singkat. Terganggu sekali dirinya, setengah jam yang ia pakai menghadap Akbar saat ini adalah setengah jam yang biasa ia pakai tidur lebih lama. Entah apa yang membawa adik iparnya ini datang tanpa angin tanpa hujan di waktu yang kurang tepat. "Apa?"


"Lo.." Akbar mengernyit, abai dengan muka sebal Akmal. "Lo.. hamilin kakak gue?"


Pertanyaan itu menakjubkan, Akmal dibuat tak bisa berkata-kata akannya. Alisnya terangkat sebelah, menandakan keheranan. Belum ia jawab, Agnia yang juga mendengar pertanyaan itu mengarahkan tangannya ke telinga Akbar. Jeweran cukup keras diberikan Agnia.


"Kamu kesini cuma buat nanya itu?" tanya Agnia gemas, mendelik tajam. Saat Akbar mengaduh dan menolehnya.


Akbar nyengir, masih mengusap telinganya yang panas. "Bukan dong.. mau ikut sahur aku. Boleh, kan?"


Agnia menghela, belum duduk di kursinya. Berdiri di dekat Akbar dengan tatapan takjub. "Sahur di jam tiga?" tanyanya sembari menengok jam dinding, memberi kode supaya Akbar melihat ke arah sama. L


Aneh sekali memang Akbar ini, padahal waktu sahur itu masih pukul empat nanti, imsak pukul setengah lima. Gila saja adiknya ini datang jam tiga dan memencet bel bak orang kesetanan.


Siapa tak kesal, Agnia yang sudah bangun saat itu dan tengah membaca Qur'an dibuat takut dan meloncat kaget ke atas ranjang. Segera membangunkan Akmal yang masih nyaman dalam buaian mimpi, takut jika ada orang iseng yang mengganggu mereka.


Akmal yang paling kesal. Sudah dibangunkan dengan paksa hingga kepalanya pening, kedatangan Akbar yang dengan tujuan tak jelas itu membuatnya kesal luar biasa.


Akbar menghela, menoleh Agnia dengan tatapan menantang khasnya. Tak mau kalah dengan sang kakak yang masih betah mendeliknya. "Iya deh. Aku ngaku. Aku gak bisa tidur karena kabar kehamilan Mbak." jawabnya.


"Dih!" Agnia mengusapkan tangannya yang basah pada wajah Akbar, berharap adiknya itu bangun dan berhenti bersikap aneh. "Yang hamil itu Mbak, kenapa kamu yang gak bisa tidur?"


"Itu karena aku excited. Mbak tau sendiri aku susah tidur anaknya.. bayangkan.. dua ponakan dalam waktu bersamaan, gimana aku gak kepikiran?"


Omong kosong! Agnia memberi tatapan datar. Ia tau bujang jomblo yang adalah adiknya ini hanya mencari alasan yang tepat dalam kesusahan tidurnya. "A.. la.. san."


.


.


.


.


Langit masih gelap, berjamaah subuh tampaknya baru saja selesai. Sebab Agnia saja sudah selesai dengan shalat subuhnya, kini duduk di atas sejadah sembari membaca Qur'an.


Saat itu Akmal datang dengan gontainya, langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang tanpa basa-basi pada sang istri. Agnia segera memutus bacannya dengan sadaqallah, langsung menghampiri Akmal. Pasalnya pulang cepatnya Akmal itu tak biasa, pria itu di setiap harinya tak pernah cepat pulang dari mesjid sebelum fajar menyingsing. Agnia mengusap rambut Akmal pelan, mengecup pelan kening pria yang terlelap itu. "Kenapa?"


"Badanku tiba-tiba gak enak." jawab Akmal, masih memejamkan matanya. Terlihat menahan semacam enek di perutnya, Agnia sedikit bisa menebak yang dirasa suaminya saat ini.


"Pusing?"

__ADS_1


"Iya. Terus perutku juga gak enak, Kayaknya.. asam lambungku naik." terang Akmal, terdengar dipaksakan.


Agnia mengulurkan tangan, memeriksa dahi Akmal. "Gak demam tapi, apa karena pas sahur makannya kurang?"


Akmal tak menjawab, wajahnya tampak menahan mual. Agnia jadi khawatir, bahkan keringat dingin muncul di leher pria itu.


"Buka aja, ya.. puasanya.. habis itu kita ke dokter.."


Akmal menggeleng, bangkit dari tidurnya. Bergeser menuju bibir ranjang. Masih tak berucap apapun. Hingga saat Agnia mendekat dan hendak menyentuh bahunya, ia terbirit lari menuju kamar mandi.


"Sayang.." Agnia segera membuka mukenanya, menyusul Akmal yang terdengar mengeluarkan suara "Hoek.."


Akmal tak lama keluar, membuat Agnia urung masuk dan kembali mengekor dengan sorot khawatir. Wajah pria itu tampak lemas, tanpa berlama-lama naik lagi ke atas ranjang.


Agnia menghela, meraih minyak kayu putih dari atas meja riasnya. "Sini.. aku angetin badannya." ucap Agnia, yang langsung dituruti Akmal.


"Tadi muntahnya keluar gak?" tanya Agnia, menaikkan baju Akmal. Hendak membaluri punggungnya dengan cairan hangat yang dibawanya. Namun baru saja botol minyak itu dibuka tutupnya, belum Agnia tuangkan sama sekali, Akmal menginterupsi.


"Sebentar, sayang.." Akmal menoleh Agnia tak nyaman, bergeser menjauh lantas berlari lagi menuju kamar mandi. Mengulang hal yang sama, kini Agnia menunggu saja dengan tatapan heran.


"Sayang.. itu.. aku gak suka bau itu, tolong jauhin." kata Akmal, segera setelah keluar dari kamar mandi.


Agnia tak jadi membaluri tubuh Akmal, benda di tangannya ia letakan ke atas nakas. "Iya.. udah kan? Kalo gitu sini.. kamu stirahat aja."


Kepayahan sekali Akmal di mata Agnia, membuat untuk kesekian kalinya perempuan yang tengah mengandung itu menghela khawatir. Mengelus kepala suaminya pelan. "Kuat gak? Kalo gak kuat gak papa buka aja.. Hemh?" tawar Agnia lembut.


Agnia menghela lagi, membelai wajah Akmal sayang. Menghapus keringat dingin disana dengan tangan kosong. "Kayaknya.. kamu morning sickness deh.."


"Hemh?" Akmal membuka matanya, demi istilah itu alisnya terangkat penasaran.


"Iya, mualnya ibu hamil. Tiap pagi hari."


Akmal terkekeh singkat. "Tapi yang hamil itu Mbak.." katanya lemas, namun menyempatkan mencubit pelan dagu sang istri.


"Dan kamu pernah janji buat bantuin kehamilanku, kan? Ini karena kamu orangnya baik, Jadi dikabul ucapan asalnya." kata Agnia, yang disambut senyum tipis Akmal. Mana ingat ia pernah berucap begitu, dan terlalu lelah memikirkannya.


"Aku tidur gak papa, ya.."


Agnia mengangguk, menarik selimut ke tubuh Akmal. Meski bukan gaya Akmal tidur di subuh begini saat puasa, namun pria itu jelas sedang dalam situasi berbeda.


.


.


.

__ADS_1


.


Yesa setia, menemani Agnia tiap harinya. Memanfaatkan hari-hari liburnya. Gadis itu bangga sekali, menelpon orang tuanya memberi tau kehamilan Agnia dengan menyebut dirinya sebagai yang pertama menyadari kehamilan itu. Seakan dirinya melakukan hal yang besar.


"Selamat, Mbak.. puasa kali ini Mbak gak akan punya hutang." ujar Yesa, begitu saja berucap setelah melihat tontonan sinetron di layar televisi yang menampilkan seorang ibu hamil.


Agnia tersenyum kecil, mengangguk. "Hemh.." gumamnya pelan. Masih terkesan dengan yang terjadi pada dirinya saat ini. Kehamilan masih jadi sesuatu yang membuatnya tersipu, senang sekali hatinya hingga tak bisa mengatakan kebahagiannya itu selain syukur yang ia panjatkan.


Ia mengandung, dan itu buah cintanya bersama Akmal. Adakah yang kebihs sempurna dan membahagiakan lebih dari itu?


"Oiya Mbak.." Yesa memandangi setoples kacang salut, menoleh Agnia dengan cengiran. "Mas Akmal mana?" tanyanya.


"Ada di kamar. Sakit dia.."


"Oh.." Yesa mengangguk, pantas saja mobil juga motor pria itu terparkir lengkap di bagasinya. "Sakit apa, Mbak?"


"Asam lambungnya naik, jadi muak gitu lho.. Mbak sebelumnya pikir setelah istirahat dia bakal baikan.. tapi ternyata masih.. malah makin gak bisa Mbak deketin. Nyium bau parfum Mbak aja dia mual." terang Agnia, sebal. Heran, kasihan namun juga kesal. padahal sebelumnya wangi parfum miliknya selalu Akmal sukai, tapi kali ini..


"Mbak.. kalo kata orang ngidam kan bisa ibunya bisa juga bapaknya, Mas Akmal kaya gitu kali.. kan Mbaknya gak apa-apa, tapi dianya yang mual-mual.." kata Yesa, terkikik di akhir kalimatnya.


Agnia mengendik, ia juga tak paham. Entah begitu atau memang perutnya sedang tak sehat. Yang jelas Akmal tak mau ia ajak ke dokter, sama sekali.


"Suruh buka aja, Mbak.. kasian." kata Yesa, saat ini kacang salut di atas meja beralih ke pangkuannya. Sudah tak ragu, tak hawatir ke-gap kakak iparnya.


"Dia nya gak mau." Agnia menegaskan. "Kamu itu.. gampang banget nyuruh orang buka, kenapa? Supaya ada temen makan?"


...


"Sayang.. ayo buka. Mau aku bawa nasinya kesini? Kita makan disini?"


Akmal menggeleng, bangkit dari tidunya. Meraih segelas air hangat dari tangan Agnia. "Enggak, aku masih bisa turun kok. Mbak jangan naik turun tangga terus, ya? Nanti kecapean."


"Iya. Gak usah khawatir." jawab Agnia, meyakinkan.


Adzan berkumandang, Akmal membuka puasanya yang sulit itu dengan segelas air hangat. Seketika perutnya jadi lebih nyaman. Agnia juga meneguk minumnya, untuk tak lama bangkit mengambil sekeping obat dari dalam laci nakas. "Minum obat maghnya."


Kasihan sekali, ini pertama kalinya Agnia melihat Akmal payah. Iya juga heran, jadi merasa kecolongan sebab lalai memastikan keteraturan makan sang suami. Kepalanya memutar kembali, apakah gerangan yang dimakan Akmal hingga qadarullah jadi begini.


"Kenapa?" Akmal tersenyum kecil, membuyarkan wajah serius Agnia kala sibuk melamun. "Aku gak papa. Mungkin.. karena pas buka kemarin, aku makannya gak bener."


"Sekarang gimana? Udah enakan?"


Akmal mengangguk, menggenggam tangan Agnia. "Ini karena anak kita. Karena terlalu bahagia aku jadi lupa kebutuhan diri aku sendiri."


Agnia mencebik. "Kamu itu.. yaudah, kita shalat dulu? Supaya nanti aku gak banyak naik turun tangga lagi."

__ADS_1


Akmal mengangguk. Setelah meminum obat pereda nyeri itu, ia jadi lebih baik. Hingga di malam itu, untuk kesekian kalinya mereka bersatu dalam berjamaah yang syahdu. Akmal menjadi imam, membacakan ayat-ayat indah nah merdu suaranya.


__ADS_2