
"Soal.. ucapan aku kemarin, aku minta maaf."
Akbar tak mengharapkan permintaan maaf dari Asma, hingga yang didengarnya kali ini mengejutkan. Sekian kali ia ditolak dengan cara yang sama oleh gadis di hadapannya ini, tak sekalipun membuatnya kecewa. Entah terlalu sayang atau ia yang terlalu bodo amat, penolakan Asma ia anggap hal biasa yang tak sedikit pun mengurungkan semangatnya.
Setelah penolakan halus Asma, Akbar biasanya bersikap seakan tak terjadi apapun. Kembali tebar senyum dan jadi dirinya sendiri. Namun kali ini berbeda, untuk pertama kali Asma meminta maaf.
Meski sedikit tak tega, namun Akbar merasa ini hal ini bisa membawa kemajuan. Yang tak berbeda, tatapannya tak bisa berubah. Tetap melimpahi gadis itu dengan tatapan suka, meski hingga kini masih tak dihargai.
Asma mengulum bibirnya sesaat, ******* bibirnya sekilas. Bingung ia rasa, Akbar yang jadi tak banyak bicara padanya membuat Asma merasa sedang berhadapan dengan orang lain. "Emh.. kayaknya aku terlalu berlebihan menanggapi perasaan kamu, setelah dipikir-pikir.. itu keterlaluan."
Akbar tersenyum, membalas tatapan Asma dengan tatapan lembut. "Kamu tau aku gak bisa marah sama kamu, jadi gak perlu minta maaf. Tidak balas menyukai bukan sebuah kesalahan."
Asma malu sekali dengan jawaban Akbar, ia jadi tak tau harus bereaksi seperti apa. Setelah diingat kembali perilakunya kemarin mencerminkan dirinya yang terlalu percaya diri, bukankah menyukai itu hak semua orang? Bagaimana ia memukul mundur seseorang, padahal perasaan Akbar padanya pun tak tentu sebesar itu.
Akbar menghela, senyuman tipis ia tujukan pada Asma. Ia tak tega, namun demi mendengar apa kata Akmal ia harus bersabar bersikap begini. "Jadi jangan terbebani dengan rasa bersalah, aku sama sekali gak tersinggung.. Kamu tau aku gak pernah kecewa sama kamu."
Benarkah? Asma membatin demikian, jika tidak tersinggung.. namun kenapa rasanya Akbar bersikap berbeda? Pemuda itu paling baik dan tak pernah menjaga jarak dengannya, namun kali ini berbeda.
Asma dilanda kegelisahan menyadari perbedaan sikap Akbar.
...
Akbar mengulum senyumnya, bukan hal yang besar memang. Namun ada kemajuan besar dari tanggapan Asma padanya. Bukankah itu luar biasa? Akbar kini bisa menghela lega. Senyumnya lama sekali tersungging kala ingat tentang Asma, tunggu saja setelah ia mendapatkan hati gadis itu.
Senyum Akbar kontras sekali dengan wajah Agnia, kakaknya itu baru saja masuk ke dalam rumah dengan wajah tak karuan, entah memikirkan apa hingga Akbar yang mengajak tersenyum dari jauh tak dihiruakannya.
Akbar yang duduk di sofa memutar tubuhnya mengikuti kebaradaan Agnia. Hingga saat senyumnya tak terbalas, perlahan wajah itu berubah datar. "Mbak.." panggilnya dengan nada datar.
"Hemh?" Agnia menoleh, bukan taksadar kehadiran Akbar. Namun ia pikir adiknya itu sedang fokus pada televisi.
"Dari mana?"
"Mbak janjian.. sama Akmal, ngobrol soal kemarin.. yang kamu bilang itu." jawab Agnia jujur, segera diterangkan tak mau memberi celah Akbar untuk menggodanya.
"Oh.. soal pria itu?"
Agnia mengangguk samar, untuk kemudian bergegas menuju kamarnya mengabaikan Akbar yang sebenarnya masih ingin bertanya. Melihat itu, Akbar menautkan alisnya. Merasa ada yang salah dengan kakak perempuannya itu.
Sesaat pintu ditutup, Agnia mendudukkan bokongnya di atas ranjang. Akmal berhasil meyakinkan dan membuatnya tenang, namun tak butuh waktu lama pemuda itu kembali membawa hatinya berkecamuk.
...
Agnia menolak diantar pulang, tak mau lebih lama bersama Akmal yang nantinya akan jadi tanya bahkan bahan obrolan banyak orang. Jika bukan diri sendiri yang melindungi, siapa lagi yang bisa?
Akmal tak punya pilihan, sepenuhnya setuju. Kali ini menghela pelan menghadap Agnia yang berdiri tak jauh darinya, mereka tengah menanti tumpangan yang dipesan Agnia.
Sesaat pemuda itu menilik wajah Agnia, sedang yang ditatap lurus menghadap jalanan yang ramai. Ada yang menarik perhatian Akmal sejak tadi, bahkan sejak beberapa hari ke belakang.
__ADS_1
"Mbak.. aku punya satu permintaan." ucap Akmal kemudian, tatapannya jatuh pada jemari Agnia.
"Boleh, asal permintaan yang mudah." balas Agnia, menoleh sekilas. Meniru kalimat Akmal sebelumnya.
Akmal tersenyum. "Ini permidtaan mudah sebenarnya.. tapi aku gak yakin menurut Mbak.."
"Katakan.." Agnia menghadap Akmal, membalas tatapan pemuda itu. Siap mendengarkan.
"Mbak bisa gak jangan pake saya kamu?"
"Hemh?" Agnia mengernyit. "Maksudnya?"
Akmal menghela pelan. "Aku, kamu. Aku mau itu.."
Agnia dibuat tak bisa berkata-kata dengan permintaan Akmal, itu memang bukan hal besar namun entah kenapa tak bisa semudah itu Agnia iyakan.
Dalam kebingungan yang disebabkan rasa gengsi Agnia, dua orang itu terlibat saling tatap. Terpaku untuk beberapa detik yang terasa lama, keduanya jatuh pada kolam pemikiran masing-masing.
...
Agnia menghela frustasi, tentu saja itu tak mudah. Aku kamu? Apa itu tidak terlalu dini? Mari jangan bicarakan setelah pernikahan, itu memiliki waktu dan cara adaptasi berbeda. Namun sekarang? Ah! Agnia sudah dibuat tersipu hanya dengan membayangkan itu.
Bukankah itu berlebihan? Atau semua yang tidak melewati masa pacaran juga turut mengalami?
Pemuda itu berhasil membuatnya ketar-ketir hanya karena permintaan sederhananya.
Tok..tok..tok..
"Mbak!!"
"Ah!" Akbar, bocah itu tumben sekali mengetuk pintu. "Apa?"
"Aku mau ngobrol sebentar.."
"Masuk aja.."
Sosok menyebalkan itu muncul, memasang senyum mencurigakan di wajahnya. Mengambil tempat di kursi milik Agnia, menghadap kakaknya itu. "Mbak.." ucapnya lembut, yang tentu semakin membuat kerutan heran di kening Agnia makin kentara.
"Apa?"
"Ceitain kesan Mbak sama Akmal.."
"Tiba-tiba? Kenapa?"
Akbar menaikkan bahunya samar. "Penasaran.."
"Dih! Sejak kapan kamu peduli sama perasaan Mbak, Hah?!" semprot Agnia, tentu saja tak percaya. Ia merasa yakin ada motif sendiri yang Akbar punya.
__ADS_1
Akbar mendecak pelan, tak tau apa yang menyerang kakaknya ini hingga ditanya begitu saja sudah mengeluarkan taringnya. Padahal apa? Ia hanya ingin belajar dari kegigihan Akmal mengetuk hati kakaknya ini, yang sebelas dua belas dengan kejutekan Asma bahkan lebih.
"Aku tau.. Mbak sekesel itu sama Akmal, sampe ditanya gitu aja udah marah." sangka Akbar, senyum dan tatapan lembutnya sudah hilang.
"Mbak gak kesel sama Akmal, ya.. Mbak sebel sama kamu!"
Akbar mencebik, lantas bangkit dari duduknya. Jika sudah seperti ini, biasanya kakaknya sudah dalam masa period. Hanya menstruasi yang membuat kakaknya sensitif ini. "Terserah!" imbuh Akbar, untuk kemudian pergi dari kamar Agnia. Cari aman.
...
Benar saja, Agnia mendapat jadwal menstruasinya. Pantas selepas bertemu Akmal ia pulang dengan kesal sekali, jengkel luar biasa pada Akbar. Tubuhnya yang terasa ringkih juga nyeri di perut benar-benar beralasan. Apalagi saat mengajar tadi, tak tau kenapa anak-anak terasa lebih menyebalkan dari biasanya.
Dan tamu merah itu, adalah jawabannya.
Setelah membersihkan dirinya, Agnia beranjak keluar dari kamarnya dan pergi menuju dapur. Makanan manis terbaik untuk menormalkan perasannya, terlebih rasa begah namun lapar yang ia rasa harus dibereskan dengan suapan.
Akbar keluar dari kamarnya dengan pakaian rapih, aroma parfum menguar dari tubuhnya. Agnia yang sudah melangkah ke ambang pintu dapur batal meneruskan langkahnya, kembali mundur beberapa langkah menghampiri adiknya itu dengan sorot penuh curiga.
"Mau kemana?" tanya Agnia, masih mempertahankan sorot curiganya. Sore begini mau kemana Akbar dengan bergaya demikian.
"Kenaoa? Ganteng ya?" tunjuk Akbar dengan percaya diri. "Aku mau ke rumah Akmal."
"Oiya?"
"Gak percaya?"
Agnia mencebik, sesaat menatap tak percaya. "Beneran? Memang ada siapa di rumah Akmal, hem? Kok rapih kayak gitu.."
"Ada Asma."
"Hah?!"
"Iya, maksudnya kita ada acara di rumah Akmal. Anak-anak kumpul disana."
"Oh.. Yaudah.."
Agnia sudah akan pergi, ia sudah cukup bertanya dan terjawab. Namun Akmal yang menyungging senyum miring menarik perhatiannya. "Sekarang apa?"
"Tadi Mbak mikir apa? Kaget ya waktu aku bilanga da Asma? Cemburu?"
"Mbak cemburu? Sama Asma? Yang ada kamu yang cemburu sama Akmal, dasar gak jelas!"
"Dih! Sok gak peduli.. tapi tenang aja, Mbak. Akmal gak akan suka sama Asma, dia mah sukanya sama yang udah berumur."
"Hey!!" Agnia mendelik setelah mendengar kalimat Akbar, mau bersikap acuh namun untuk yang satu ini ia tak terima.
Akbar nyengir, dari pada kena marah permuda itu langsung beranjak menuju pintu. "Bye, aku berangkat sekarang."
__ADS_1
"Heh!"
Agnia menghela pelan, seperti itulah adiknya. Senang sekali tampaknya mengganggunya, hanya saja ini resiko. Resiko punya calon suami yang adalah teman sang adik.