
Aku menemukanmu,
Saat hatiku bersedih mendambakan seseorang.
Tak kupinta kamu, dia, atau siapapun.
Kupinta yang terbaik,
Lalu Dia kirimkan kamu untuk aku
Hati ini amat mendamba,
Hingga marahmu bagai pesona
Dan sinismu amat menggoda.
***
Tangan Agnia terulur untuk mengambil ponselnya yang bergetar di atas meja. Tangan satunya bergerak menyimpan segelas air yang baru saja ia teguk.
Baksonya baru saja tandas. Menyisakan rasa pedas yang masih betah di lidah.
"Aunty.. minum.." Zain mengangkat kepalanya, menatap sekilas pada Agnia.
Agnia yang sudah akan menjawab panggilan telpon kembali meletakan ponselnya setelah dilihat nama yang tertera di layar ponselnya.
Rizwan.
"Iya, Sebentar.." ucap Agnia pada Zain, tangannya meraih gelas kosong untuk diisi air. "Ini.. Pelan-pelan minumnya.."
Ponsel itu masih berdering, Agnia lalu menekan ikon jawab dan mendekatkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo.. Wa'alaikumsalaam.." Agnia tampak malas menjawab panggilan dari Rizwan, masih teringat ketika pria itu dengan tanpa dosa menyebut nama Alisya di hadapannya. Padahal Rizwan sendiri tahu seperti apa terpuruk nya ia kala itu. Padahal belum lama luka itu membaik, bahkan perihnya masih selalu terasa baru.
"Aku.. ada urusan, kenapa?"
Agnia spontan memijat pangkal hidungnya kala Rizwan menagih janji mengajaknya pergi. Pria itu benar-benar.. Agnia gemas, ingin rasanya menoyor kepala temannya itu.
"Gak bisa, Wan. Aku kan udah bilang, gak janji.. Dan lihat jam! Udah sore!"
Agnia mencebik, mendengar ucapan maaf dari lawan bicaranya ini. Berusaha memang boleh, tapi memaksa yang sudah tampak tak suka, itu menjengkelkan. Ia jadi berpikir, apa seharusnya janji jadi pemateri siswa-siswi sekolah Rizwan ia batalkan saja? Pria itu sangat menjengkelkan.
Puspa datang dengan laptopnya, duduk bersebrangan dengan Agnia. Melihat adik iparnya menyimpan ponsel sambil bergidik, Puspa tersenyum.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Serem.." singkat Agnia, menatap ponselnya seakan benar-benar takut. Meraih gelas, meneguk air.
"Akbar?" tebak Puspa, adik iparnya yang satu itu memang patut dicurigai.
"Bukan.. itu Rizwan.."
Puspa mengernyit, "Rizwan yang mana?" dirinya seakan mengenal nama itu. "Mantannya Alisya?"
Agnia mengangguk, tepat sekali tebakan istri kakaknya ini. "Yes, he is.."
"Dia minta aku ngisi acara sekolahnya minggu depan, tapi dia terus nelpon aku sejak kita ketemu.." jelas Agnia, kembali bergidik di akhir kalimatnya. Berusaha mengatakan jika kepalanya hampir pecah sebab ulah Rizwan.
"Wait?! sekolah dia?"
"Maksudnya, dia ngajar di sana... "
"Oh!.. Mbak pikir.." ucapan Puspa menggantung, timbul pertanyaan di pikirannya.
"Tapi.. Kok bisa dia akrab sama kamu? Maksud mbak, ada keterkaitan yang tidak menyenangkan di masa lalu kalian.."
"Gak tau deh, Mbak.. Aku hanya menghargai dia sebagai teman lama, tapi sayangnya dengan tanpa rasa bersalah dia kembali menyebut nama Alisya." Agnia menarik napas dalam-dalam, menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja. "Sangat tidak pengertian.." ucapnya lagi.
Mendengar ucapan Agnia, Puspa jadi terenyuh. Anggapan dirinya bahwa Agnia sudah sembuh ternyata salah besar, masih tersisa rasa sakit sebab pengalaman buruk itu di matanya.
***
Akbar menoleh, langkahnya terhenti. Menunggu. Baru ketika jarak mereka tersisa satu langkah lagi ia bertanya, meski Akbar sudah terlebih dulu menebak apa yang akan kawannya ini utatakan.
"Ada apa?"
Langkah keduanya spontan berlanjut, berjalan bersamaan. Akmal yang sudah siap dengan pertanyaannya kini jadi diam, bingung bagaimana ia harus bicara.
Alis kiri Akbar naik, sudah mengendus reaksi semacam ini. Seringai tengilnya muncul.
"Lo beneran tertarik sama kakak gue?" tanya Akbar santai, membuat Akmal langsung menoleh. Tak menyangka jika pertanyaan semacam itu bisa muncul secepat ini. Ia jadi belum siap dengan jawabannya.
Akbar nyengir, menatap lurus ke depan tanpa melihat reaksi Akmal. Namun diamnya Akmal membuatnya langsung mengerti.
"Pantesan aja gue gak pernah liat lo deketin cewe, seleranya lebih tua ternyata.." ucap Akbar, mencairkan suasana. Apa-apaan?! Pertanyaan itu muncul dari mulut Akbar, bukan dari mulut calon mertua. Belum saja Akmal ditanya langsung oleh Fauzan, ayah dari Agnia dan Akbar.
Akmal tersenyum, tahu jika sekarang Akbar tidak sensi seperti hari-hari sebelumnya.
"Gue gak akan ikut campur mulai sekarang.." ucap Akbar, tegas. "Itu pilihan kakak gue.. kesempatan tersedia untuk semua orang.. " ucapnya dengan senyum sumringah, beda saja aura Akbar hari ini.
"Jadi.. lampu hijau?" tanya Akmal, menoleh dengan sunggingan lebar.
__ADS_1
"Ya. katakan seperti itu.. But, lampu hijau sesungguhnya ada di Mbak Agni.. Just try harder! "
Rasa senang tak henti datang ke relung hati Akmal, sempurna sudah alasannya untuk mencoba mengetuk hati Agnia. Ini mungkin jawaban dari do'anya, ia yang ragu sebelumnya apakah harus berusaha atau lebih baik mundur kini bak mendapat hembusan angin segar. Kini ia dapatkan dukungan terbesar untuk mengambil langkah selanjutnya.
"Tapi bukan berarti gue mau dukung lo!" ralat Akbar tiba-tiba, tak mau temannya ini salah paham. Dan Agnia akan marah besar jika tahu tentang ini, membayangkan kemarahan kakaknya saja membuat Akbar takut. Bukan takut di mana Agnia akan berteriak memarahinya, namun takut jika Agnia kesal dan tak mau berbicara dengannya.
Apa yang lebih menakutkan dari didiamkan orang tersayang? Apalagi jika orang itu adalah seseorang yang paling peduli.
Namun bagi Akmal ini bentuk lain dari dukungan dari Akbar. Akmal senang, menganggukkan kepalanya pelan seraya mengulas senyuman tipisnya, lucu sekali bagaimana sebelumnya Akbar penuh emosi sebab dilandasi kasih sayangnya, kini dia justru tenang namun mengancam dilandasi rasa takut akan kakak perempuannya. Lucu sekali..
.
.
.
.
.
"Ente harusnya.. Wow!" ucapan yang tadinya ditujukan penuh nasihat untuk Fiki kini tergantung dan terdengar konyol kala dari jauh dilihatnya Akmal dan Akbar berjalan bersama. Spontan Ardi menepuk bahu Fiki.
Fiki tak kalah terkejut melihat pemandangan itu, sebenarnya tidak akan aneh jika kebersamaan mereka berdua terjadi sebelum-sebelumnya. Namun setelah rumor Akmal dan Agnia yang dijodohkan membuat pemandangan itu sangat istimewa.
"Lampu ijo kayaknya.." ujar Fiki, nyengir. Selalu senang jika punya topik baru untuk mengganggu teman-temannya. "Kita samperin.." ujar Fiki seraya menepuk bahu Ardi, lupa jika ia sedang meminta saran pada Ardi.
Ardi mengekor saja, ia sebagai satu-satunya yang paling kalem diantara persahabatan tiga orang itu ikut saja ketengilan Fiki. Ya, Ardi, Akbar dan Fiki.
"Wah.. akur nih.." goda Fiki, menerobos di tengah-tengah Akmal dan Akbar. "Ya gak?" Fiki menaik turunkan alis kirinya, menatap Akbar.
Akbar menurunkan tanga Fiki dari bahunya dengan kasar, mulai lagi si tengil Fiki mengganggu dirinya.
"Lampu hijau, kan?" tanya Fiki tak bosan mencari celah mengganggu Akbar yang mudah tersulut marah. Seakan suka jika berhasil membuat sahabatnya itu naik darah. "Iya dong?"
"Gak usah dibahas!" peringat Akbar, menoyor pelan kepala Fiki.
Akmal dan Ardi hanya tersenyum melihat keributan keduanya yang bak tom and Jerry itu. Sudah tidak aneh dengan keributan tak penting dia orang itu.
Perasaan hangat kembali memenuhi hati Akmal, batu paling keras di jalannya kini takluk sudah. Namun masih dini untuk mengatakan langkahnya akan mudah nanti, sebab ini baru permulaan. Untuk meminang Agnia ia masih harus sepandai-pandainya mencari cara meluluhkan hati gadis itu. Akan sulit memang, Namun rasa sulit itu pantas.
Sebab demi mendapat mutiara yang paling bersinar, nelayan harus siap mempertaruhkan nyawanya di lautan.
Ini baru permulaan, untuk mendapat hati Agnia sepenuhnya ia harus mau berusaha lebih keras mengenyampingkan kesulitan yang akan menghadang nantinya.
Satu hal yang pasti, Akmal menyingkirkan hambatan terbesar juga mendapat dukungan terbesar.
__ADS_1
Dan banyak hal yang tak pasti salah satunya.. Bisakan Akmal meyakinkan Agnia menuju lembaran baru kehidupan yang menjanjikan?
Masa lalu yang menyakitkan serta memalukan bagi Agnia itu, bisakah terganti dengan memori baru yang lebih indah?