
Akmal benar-benar tak melepas pelukannya hingga Agnia benar-benar tertidur. Bahkan saat Agnia tampak bergerak dari tidurnya, kembali mengelus sayang kepala sang istri sembari dirinya fokus pada layar laptop.
Tak ada satupun yang bisa membuatnya ragu memiliki momongan. Bahkan kesibukan yang dimilikinya saat ini.
Bagaimana menjadi hamil ia tak tau, namun memiliki istri yang sedang hamil kini ia belajar untuk itu. Agnia memang tak rewel, tak banyak mengeluh soal makanan atau menyuruhnya ini itu. Namun emosinya yang tak bisa ditebak, jadi satu-satunya keluhan yang Akmal rasa.
Pria itu hingga tertidur sembari memangku laptopnya, Agnia yang terbangun langsung terenyuh. Bak hilang kantuknya seketika, beranjak duduk dan memperhatikan wajah Akmal.
Apa ia sudah keterlaluan? Agnia tak paham. Jika semalam Akmal menyebalkan di matanya, kini ia justru merasa bersalah. Padahal pria itu baik sekali, ia harusnya tak perlu meragukannya. Agnia menghela, memutuskan beranjak dari ranjang. Laptop dari pangkuan Akmal ia simpan ke atas meja.
Dapur itu kembali penuh dengan aroma masakan seperti setiap malam menjelang sahurnya, tak banyak yang Agnia masak. Hanya dua menu wajib yaitu sop ceker ayam, bersama tempe orek garing pedas manis.
Agnia baru saja selesai menyajikan hidangan ke atas meja, berniat kembali ke kamarnya untuk membangunkan sang suami saat pria itu justru sudah menuruni tangga dengan wajah yang segar, tak nampak kantuk khas bangun tidur.
"Udah lama bangunnya?" tanya Agnia, sembari menyambut Akmal dengan pelukan.
Akmal tak bergeming, wajahnya sudah pasti menjawab pertanyaan itu. Mendekat, mengecup singkat puncak kepala sang istri. Perilaku manis itu tentu saja membuat Agnia senang, senyumnya meninggi.
"Maaf, ya.. karena sikap ku." kata Agnia kemudian, setelah beberapa saat menimbang untuk mengatakan itu.
"Apa yang salah? Mbak menagih sesuatu yang adalah hak Mbak. Perhatian aku, kasih sayang aku.."
"Tapi kamu terbebani kan?" potong Agnia, mendongakkan wajahnya menatap mata Akmal dalam.
Akmal menghela, balas menatap Agnia lama. Tangannya membelai rambut hitam Agnia perlahan. "Jangan over thingking.. hemh? Aku gak suka Mbak melihat hubungan kita aneh."
"Aku gak bilang hubungan kita aneh."
"Kalo gitu jangan lakukan hal yang sama. Jangan minta maaf untuk hal sederhana. I'm your home, you're my home.. kita tempat untuk mencari kebahagiaan satu sama lain, tempat berkeluh-kesah satu sama lain.. jangan ragu atas diriku, aku sudah berjanji untuk melalui segalanya sama Mbak. Aku udah janji untuk satu surga, sama-sama menuju tempat itu. Hemh?"
Agnia mengangguk samar, memeluk Akmal sekali lagi. Harus bagaimana ia katakan? Ia hanya takut, dalam hubungan ini dirinya tak mau jadi beban. Cinta bisa berkurang, perasaan bisa berubah. Bagaimana jika Akmal yang tengah berada dalam usia penuh gejolak ini memiliki sesal akan pernikahan mereka?
__ADS_1
"Jangan over thingking.. ya?"
.
.
.
.
"Apa semalam ada sesuatu yang terjadi antara kalian berdua?" tanya Yesa, bertanya dengan wajah serius. Tangannya spontan berhenti bergerak demi mengingat pertanyaan yang ingin sekali ia lontarkan itu.
"Sesuatu seperti apa?" tanya Agnia, turut menghentikan gerakan tangannya. Adonan kue yang setengah jadi dibiarkan beberapa saat.
"Emh.." Yesa nyengir, perlahan menggerakkan kembali tangannya, mengaduk adonan basah dengan mikser yang tidak dinyalakan. "Sebenernya Mbak, semalem aku sama Akbar kesini."
"Jam?"
"Emh.. pokoknya pas Mbak nangis di teras, kita udah dateng."
"Kita gak denger apapun, cuman Akbar.." potong Yesa panik, menjeda. "Aku gak yakin dia akan membebaskan suamimu dengan mudah." tandasnya diiringi cengiran.
"Hemh?" Agnia menaikkan alisnya, menghadapkan tubuhnya pada Yesa. "Maksudnya?"
"Bukan hal yang besar.. tapi dia kayaknya marah." jawab Yesa, kembali mengulang lagi peristiwa semalam di kepalanya saat Akbar kalang kabut ingin menghantam Akmal begitu saja setelah melihat tangis Agnia. Cukup sulit, Yesa sampai bersusah-payah menahan Akbar dan membujuknya pulang. Tak tau soal hari ini, entah bagaimana Akbar akan melampiaskan kekesalannya pada Akmal.
Agnia menghela pelan, menggigit bibirnya. Mulai berpikir kekacauan apa yang mungkin terjadi akibat kesalah pahaman adiknya.
...
Hari ini hari terakhir diadakan kajian oleh anggota MBI sebelum lebaran dan istirahat dari kesibukan organisasi untuk beberapa hari, semua anggota MBI berkumpul meramaikan kajian itu. Termasuk Akmal yang baru saja tiba dan langsung ditodong para gadis, mereka menunjukkan urutan acara pada Akmal yang akan ikut menjadi pembicara bersama Ardi.
__ADS_1
Akbar baru selesai mengatakan keluhannya pada Fiki, berkacak pinggang sembari terus mengomeli Akmal yang tak ada di hadapannya. Fiki sampai menghela untuk kesekian kalinya. "Namanya rumah tangga, biasa kayak gitu.. orang semalem mereka baik-baik aja datang ke kedai."
"Lo gak paham, Fik!" kata Akbar. Lagi, mengulang kalimat sama. Baru saat matanya menangkap sosok Akmal, ia beranjak pergi. Meninggalkan Fiki begitu saja.
"Allahu Akbar.. Akbar! Gue ngomong malah.."
Pemuda itu lurus fokus pada tujuannya, menerobos para gadis dan menarik tangan Akmal menjauh. Hingga semua saling pandang saking bingungnya. "Sini, Lo.."
Akmal menarik tangannya, apa-apaan Akbar ini. Mereka jadi pusat perhatian sebab Akbar menarik tangannya begitu, entah akan dianggap apa mereka nantinya. "Apa sih?!"
"Seneng lo di kerubunin cewek!"
"Lo cemburu?"
"Ya kali, gila!" Akbar melotot, merinding juga jika Akmal berpikiran ia begitu. "Semalem lo apain kakak gue, hah?!"
"Semalem apa? Gue gak.." Akmal mengernyit, kalimatnya menggantung. "Maksud apain disini apa nih? Apa sekarang lo mulai ngurusin ranjang kakak lo sendiri?"
Akbar mendengus, gila saja kakak iparnya ini. Kemana otaknya yang biasanya waras, sepertinya sekarang ditinggal begitu saja disuatu tempat. "Mulut lo! Heh.. biarpun gue tengil, gue gak peduli ya urusan itu. Gila lo!"
"Ya terus apa?"
"Gue liat ya semalem lo bikin nangis Mbak Agni."
"Oiya.. kalo gitu harunya tau dong, apa yang terjadi."
Akbar mengernyit, keinginan marahnya tiba-tiba lebur setelah Akmal justru mengungkit soal ranjang. Dan makin heran dengan tanggapan santai Akmal, seakan tak terjadi apapun antara ia dan Agnia semalam. "Mana gue tau.. yang gue liat, Mbak Agni nangis sesenggukan karena lo."
Akmal menghela, kenapa juga Akbar melihat peristiwa itu. Haruskah ia jelaskan? "Gini, sebenarnya ini bukan hak lo untuk tau. Tapi biar gue jelasin.. Kakak lo itu lagi hamil, emosinya gak bisa ditebak. Semalem nangis nih, tadi subuh dia minta maaf. Tadi pagi? Dia marahin gue."
"Bener?" Akbar percaya, namun sudah terlanjur menuduh harus bertahan dengan prasangkanya. "Awas aja lo kalo sampe nyakitin kakak gue."
__ADS_1
"Chill! kakak lo itu istri gue.. tanggung jawab atas diri dia ada sama gue sekarang, jangan khawatir. Dan.. dua hari lagi lebaran, gue ingetin jangan buat dosa baru saat dosa lama aja belum hangus."
Akbar tak bergeming, kini jatuhnya malah ia yang dimarahi. Ini salah besar, harusnya ia memastikan dulu sebelum menodong seseorang dengan tuduhan. "Sorry!" ujarnya kemudian, dengan nada datar lebih ke sangar.